Melulu di Ilmu, Lupa Hakikat dan Akibat

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas, 10 Nov 2017

Kebanyakan saya diundang untuk berceramah, mengajar dan mengupas seputar penyakit, gaya hidup dan pola makan orang.

Begitu gregetnya orang haus akan kebenaran ilmu, rasa ingin tahu dan pastinya: jurus jitu keluar dari masalah kesehatan.

Tak jarang apa yang saya paparkan secara usil dibenturkan dengan perilaku ‘kekinian’ dan konflik kepentingan – yang katanya melumpuhkan industri pangan dan usaha kuliner kecil-kecilan.

Anehnya, di sisi lain, para peserta seminar dan orang-orang yang mengikuti paparan saya juga mengamini, bahwa makin hari dagangan yang disebut makanan itu makin meningkatkan risiko timbulnya penyakit ketimbang sekadar mengenyangkan perut.

Racikan yang semakin jauh dari bentuk aslinya di alam, bahkan tidak pernah terdapat di alam, menjadi bahan dasar pemicu kenikmatan lidah.

Mungkin amat jarang orang Indonesia yang paham misalnya, bahwa keju yang bertaburan di atas pizza atau dijejali sebagai isian roti, bahkan meleleh bagai saus di atas mi dan ayam goreng sebagai kudapan ‘anti mainstream’ ternyata….bukan keju sungguhan. Pantas dijual murah dan rasanya ‘pas’ di lidah Indonesia.

Keju imitasi atau analog diam-diam membanjiri pasar dengan promosi berlebihan di negeri kita. Sementara, di Amerika Serikat pada tahun 1992 ocehan omong kosong produsen keju itu sudah dibungkam oleh Federal Trade Commission.

Berandai-andai keju yang dikonsumsi adalah protein asli kasein susu yang dikultur oleh enzim dan bakteri sehat, membuat begitu banyak konsumen keju di negeri ini termakan pepesan kosong.

Ilustrasi di atas hanya sebagian kecil contoh akibat ilmu pangan hanya diutak-atik sebatas ilmu saja, asyik berkutat di epistemologi.

Sama seperti untuk diversifikasi pangan katanya, agar cocok dengan lidah zaman sekarang tapi tidak mengkhianati produk sendiri, tempe dipaksakan jadi nugget. Donat terbuat dari singkong. Sisi asal usul, hakikat, ontologi kebaikan tempe dan singkong tidak lagi penting.

Bahwa singkong sehat yang dimakan, cukup setelah dikukus dengan teman makan lauk lainnya, menjadi amburadul bahkan menjadi petaka saat minyak goreng mulai melumuri singkong lumat berbentuk donat yang pastinya diberi gula rafinasi dan campuran lainnya.

Ke depannya, generasi pecinta nugget dan donat pun tetap menuai masalah kegemukan dan sindroma metabolik karena aspek aksiologis, yaitu baik-buruk benar-salahnya suatu temuan, ilmu atau teknologi tidak dipikirkan apalagi dikaji secara bijak.

Seperti lelehan keju imitasi, coklat sarat gula, dan seribu satu panganan yang seratus tahun yang lalu saja tidak ada.

Padahal, sel hingga DNA manusia tidak ada sedikit pun yang berubah dibanding leluhurnya sekian ribu tahun yang lalu.

Lalu, muncul pertanyaan seperti di lokakarya yang saya isi hari ini,”Bagaimana dong membuat generasi sekarang bisa menikmati makanan asli kita, yang sebetulnya secara turun temurun terbukti sehat?”

Jawabannya sederhana: Makanan itu disukai bukan karena rasanya ‘enak’, melainkan karena proses pembelajaran dan pembiasaan.

Beberapa puluh tahun yang lalu, akses pangan dan variasinya tidak sebrutal hari ini. Bahkan, bisnis yang paling diincar orang sekarang justru seputar makanan. Yang menciptakan kecanduan. Yang bisa direka-rasa dan olah-rupa, sehingga memberi istilah ‘signature dish’ – tiada duanya di tempat mana pun.

Negeri ini kaya dengan soto, sementara orang bule paling banter cuma punya sup ayam dan sup buntut.

Mengapa soto-soto tradisional itu sudah hilang dari meja anak-anak generasi masa kini? Diganti kuah manis bernama dessert dengan taburan biji impor, buah impor, dan rasa impor.

Negeri ini juga kaya dengan olahan ayam. Tapi karena diasuh ibu yang pendek pikir dan benaknya masih tertinggal di kantor, generasi milenial ke bawah hanya kenal ayam goreng bersalut tepung.

Padahal ayam itu semakin enak jika dibuat garang asem, dipanggang beralas daun seperti taliwang atau betutu, dijadikan pepes, hingga diberi rempah menjadi opor atau kari.

Kawan-kawan anak saya boleh dijamin makan tempe sebatas mendoan atau tempe goreng. Lidah mereka tidak diajar mengunyah pepes tempe berisi pete dan teri. Padahal, proteinnya setengah mati saratnya.

Sedih melihat generasi baru tumbuh itu mengonsumsi sayur lalap berkiblat bule. Bicara makan sayur lalap sebetulnya tidak sama dengan salad berlumur krim alias dressing yang sekali lagi berisi emulsifier, pengental dan perasa yang sama sekali di alam tidak ada – bahkan potensial menyebabkan penyakit baru.

Masalahnya, kegiatan makan bersama yang belakangan ini merebak di sekolah-sekolah akhirnya membuat kepala sekolah menyodorkan deretan makanan yang dianggap ‘memudahkan para ibu’ untuk membuatnya. Makan bersama hanyalah program formalitas. Bukan pendidikan pangan sehat.

Alhasil daftar menu yang pernah mendarat di meja saya membuat dahi ini kian berkerut: bakso goreng, spageti, makaroni skotel, fish and chips, donat dan susu, pisang goreng keju coklat, mie goreng bakso sapi. Astaga.

Jangan pernah berasumsi anak sulit diajar makan sehat. Masalahnya, sang ibu dan ayah tidak cukup telaten menjadi contoh dan sungguh-sungguh memilih berbagai sayur enak yang tumbuh di negeri ini untuk dimakan bersama lauk yang tepat.

Saya masih ingat ada seorang anak yang ‘katanya susah makan’ – begitu dibuatkan gulungan selada romain berisi ayam betutu dan potongan ketimun, dia makan seperti orang belum diberi makan sehari.

Secara ontologis, tidak ada anak yang menolak pangan alamiah. Mereka punya hubungan erat antara kebutuhan gizi dan tubuhnya.

Ontologi tubuh manusia sesuai dengan hukum kodrat, sementara teknologi bekerja dengan pakem andalannya: cepat, tepat, akurat, efisien, praktis. Jadi amat sangat kacau jika tubuh diberi pangan menurut hukum teknologi.

Salah kaprah memberi makan anak dengan cara praktis, menjadikan tubuhnya hanya sekadar mendapat asupan seperti hitungan di atas kertas, padahal mereka butuh lebih dari itu.

Secara epistemologi, anak butuh antioksidan sekaligus protein dan serat, bukan hanya energi dari karbohidrat – untuk membuatnya bebas dari tubuh pendek dan otak telat mikir.

Secara aksiologis, pola makan sehat sejak dini bukan hanya menunjukkan soal ketahanan pangan dan identitas bangsanya, tapi juga ketahanan tubuhnya terhadap pelbagai perubahan jaman.

Memberi kebaikan bagi banyak orang, memberkahi petani dengan rezeki – selama tidak ada kartel dan mafia sepanjang garis perjalanan dari kebun ke atas meja makan.

Semoga pendidikan para penyehat bangsa ini masih peduli dengan tiga tiang keilmuan tadi, demi masa depan yang lebih baik – bukan untuk segelintir orang – tapi demi semua anak bangsa.

Advertisement

Manajemen Sampah di Rumah dengan Cegah – Pilah – Olah

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/09/100306120/manajemen-sampah-di-rumah-dengan-cegah-pilah-olah-ini-caranya

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ini mungkin bisa jadi pemacu semangat bagi mereka yang ingin berperan dalam mendorong perubahan, salah satunya dalam hal menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan “ramah”.

Cegah – Pilah – Olah Sampah

Ketiga cara ini bisa mengurangi volume sampah yang ada di lingkungan kita.

Bagaimana penerapannya?

1. CEGAH SAMPAH

Mencegah sampah dengan belajar zero waste adalah salah satu langkah awal yang bisa diterapkan di rumah.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan:

1. Menolak penggunaan wadah plastik atau kresek saat berbelanja. Sebagai alternatifnya, kamu bisa menggunakan tas kain, kardus, atau wadah lain.

Misalnya, saat membeli kentang di supermarket, gunakan wadah plastik dari rumah sebagai tempatnya. Hal ini dapat mengurangi penggunaan kantong plastik.

2. Menggunakan wadah sendiri ketika membeli makanan di luar rumah. Saat membeli makanan berkuah, dapat menggunakan rantang.

3. Membawa botol minum sendiri. Hal ini dapat diterapkan untuk mengurangi penggunaan botol atau gelas minuman yang berbahan dasar plastik.

4. Jangan membeli sesuatu yang tidak perlu. Membedakan dengan jelas sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan.

6. Menolak wadah yang berbahan dasar styrofoam. Styrofoam merupakan salah satu bahan yang tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat terurai.

7. Menggunakan wadah yang dapat digunakan berulang kami untuk menyimpan sesuatu, misalnya menyimpan sayuran menggunakan wadah plastik.

8. Memilih jajanan tanpa plastik, misalnya pilih jajanan yang menggunakan daun pisang sebagai bungkusnya.

9. Mengganti penggunaan tisu dengan sapu tangan, hal ini dapat mengurangi jumlah sampah.

2. PILAH SAMPAH

Langkah berikutnya adalah melakukan pemilahan sampah di rumah. Pemilahan sampah yang sudah telanjur ada di rumah dapat dilakukan dengan membagi tempat sampah berdasarkan kategorinya.

Cara ini juga bagian dari upaya mengenalkan jenis sampah kepada anak-anak.

Tempat sampah berdasarkan kategori dibagi menjadi sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), sampah daur ulang campuran, sampah kertas dan kardus, sampah kompos, dan sampah lain-lain.

Sampah kategori daur ulang campuran, seperti botol plastik dan kresek dapat disumbangkan kepada pemulung atau bank sampah terdekat.

Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan setelah tidak ada sampah di rumah, kamu bisa menolak barang yang dapat berpotensi menjadi sampah seperti sedotan, botol plastik sekali pakai masuk ke dalam rumah.

Untuk tempat sampah dalam kategori kertas dan kardus, pastikan sampah kertas dan kardus dalam kondisi kering dan bersih dari sisa makanan.

Sementara, tempat sampah kompos berisi sampah dari daun pembungkus makanan, sisa sayuran dan buah-buahan, termasuk kulit buah dan biji.

Tempat sampah dengan kategori lain-lain berisi sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berupa sampah yang tidak diterima oleh bank sampah seperti tissue, label botol plastik, selotip, stiker, dan lain-lain.

Tempat sampah kategori B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) berisi sampah berupa beterai, kabel, obat kadaluarsa, dan bahan-bahan kimia lainnya.

3. OLAH SAMPAH

Mengolah sampah yang sudah dipilah dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya mendaftarkan ke bank sampah terdekat atau memberikan sampah kertas bekas, plastik, logam, kaca, dan lain-lain ke pemulung. Selain itu, kamu bisa membuat ecobrick untuk aneka plastik yang tidak diterima oleh bank sampah.

Ecobrick merupakan botol plastik yang dipenuhi dengan padat segala sampah yang tidak terurai.

Komposkan sisa sayur dan kulit buah. Kamu dapat menggunakan alat bantu berupa komposter.

Selain itu, kamu dapat membuat biopori untuk sisa organik hewani seperti duri, tulang, dan lain-lain.

Mengurangi Sampah Makanan

Food recovery merupakan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah dari sisa makanan. Setiap harinya, pasti ada sampah yang berasal dari sisa makanan.

Terkait untuk mengurangi sampah makanan tersebut, beberapa saran yang dapat diterapkan, antara lain:

1. Mempersiapkan menu makanan yang akan diolah. Hal ini dapat dilakukan dengan merencanakan saat belanja sehingga saat belanja sesuai dengan kebutuhan.

2. Makan secukupnya, tidak perlu berlebihan. Hal yang terpenting adalah menghabiskan makanan yang telah kami ambil.

3. Jika memasak dalam jumlah berlebih, masakan tersebut dapat dikirim ke tetangga atau orang yang membutuhkan.

4. Sebelum membuang sampah makanan ke TPA, sisa makanan dapat digunakan untuk pakan ayam, kucing, atau untuk pakan ikan lele komposkan.

Indonesia Membutuhkan Revolusi Toilet

Oleh : Stevia Angesty, Co-founder Feelwell Ceramics (FWC)
Kompas, 19 November 2018

Buang air besar sembarangan bisa menghilangkan nyawa. Fakta membuktikan bahwa kebiasaan buang air besar sembarangan sudah mengakibatkan 150.000 anak di Indonesia meninggal setiap tahunnya. Lebih dari 84 juta masyarakat Indonesia tidak memiliki akses sanitasi yang layak.

Jumlah yang besar ini sama dengan 3,5 kali populasi Australia! Artinya, satu dari empat penduduk Indonesia tidak memiliki toilet.

Isu stunting saat ini menjadi topik yang dibicarakan di mana-mana, mulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu) hingga ke berbagai instansi pemerintah.

Namun, sering kali kita menganggap bahwa masalah stunting adalah masalah nutrisi atau gizi, padahal 70 persen dari masalah stunting terjadi karena sanitasi yang buruk sehingga terjadilah parasitic infection dan diare. Sebanyak 31 persen kematian bayi usia 1-12 bulan terjadi karena diare yang disebabkan oleh kebiasaan buruk BABS.

Setiap hari ada 14.000 anak lahir di Indonesia dan lima ribunya memiliki potensi stunting. Stunting sudah menjadi isu utama di Indonesia, tetapi belum banyak yang berbicara mengenai toilet. Setelah seorang anak menderita stunting, anak tersebut tidak bisa sembuh dari stunting.

Stunting menghambat pertumbuhan fisik dan otak anak yang berdampak pada kondisi ekonomi dan sosialnya di kemudian hari. Pelajar yang menderita stunting memiliki IQ lebih rendah dan sulit mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik dibandingkan pelajar lainnya Mereka lebih mudah sakit.

Mereka banyak yang putus sekolah. Anak-anak ini mengalami stunting bukan semata-mata karena tidak mendapatkan gizi yang cukup, tetapi juga karena mereka sering mengalami diare berkelanjutan di 1.000 hari pertama kehidupannya.

Oleh karena itu, nutrisi yang ada tidak diserap oleh tubuh dan terkuras habis akibat diare. Otak mereka tidak berkembang dengan baik karena semua energi mereka habis terpakai untuk melawan penyakit-penyakit yang bisa dicegah.
Kesenjangan sosial rupanya sudah dimulai sejak bayi dalam kandungan.

Mayoritas ahli stunting berargumen bahwa meskipun nutrisi merupakan salah satu faktor penyebab stunting, intervensi paling efektif untuk mencegah stunting adalah dengan menyediakan sarana toilet bersih bagi masyarakat.

Fenomena BABS

Kita tak perlu pergi jauh dari pusat kota Jakarta yang dipenuhi gedung pencakar langit untuk melihat isu buang air besar sembarangan (BABS) ini. Naiklah kereta dari Stasiun Sudirman ke Bogor, kendarailah mobil melewati Kali Grogol, atau kunjungilah sebuah rumah susun di Jakarta Pusat, Anda akan melihat fenomena ini.

Di saat kita cuek dengan praktik BABS di lingkungan sekitar kita, kita secara tidak langsung juga ikutan cuek terhadap kesehatan keluarga kita. Karena kita hidup berdampingan, kotoran tetangga kita yang BABS akan mengalir melalui rumah kita.

Ketika teman-teman kita menganggap diare itu akibat dari masuk angin, secara tidak langsung kita membiarkan berlanjutnya praktik BABS. Diare diakibatkan oleh bakteri karena kurangnya sanitasi yang layak, bukan karena masuk angin.
Bayangkan berapa banyak uang yang sudah kita buang akibat “masuk angin” sejenis ini?

Sudah saatnya revolusi untuk membasmi BABS ini terjadi. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Inggris mengalami wabah penyakit yang datang dari buruknya sanitasi, dan mereka mengatasinya hanya dengan revolusi toilet. Revolusi kita, perlu dilakukan dengan benar.

Daripada berusaha mendoktrin masyarakat Indonesia BAB di toilet “duduk” yang dianggap lebih modern, lebih baik kita fokus bekerja dalam membangun sistem penyaluran pembuangan yang baik, misalnya memastikan setiap toilet memiliki septic tank yang terpasang baik, dikuras secara periodik, dan tertutup (contained). Buang air besar (BAB) dengan gaya jongkok tidak kalah keren dengan gaya duduk, yang penting kotorannya tertampung dan tersalurkan dengan baik.

Kesadaran masyarakat

Presiden Joko Widodo secara terbuka berkomitmen untuk menyelamatkan dua juta anak dari stunting antara 2018 dan 2021 di “Aiming High”. Presiden sendiri menyatakan, “Menghilangkan stunting adalah prioritas utama bagi pemerintah kita. Pemerintah berkomitmen penuh untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini.” Salah satu cara termudah untuk membantu tercapainya tujuan ini adalah mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi yang diikuti dengan pembangunan sarana toilet yang baik.

Mengapa BABS tampaknya sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia? Mungkin karena kita melihat toilet sebagai sebuah bentuk kenyamanan, padahal kita seharusnya melihatnya dari segi kesehatan. Mayoritas dari kita memandang toilet sebagai hal yang sudah lazimnya ada.

Mayoritas dari kita juga pernah melihat orang-orang yang BAB di tepi sungai. Sayangnya, kita tidak melakukan apa-apa untuk mengubah hal tersebut. Kita diam saja. Dan akhirnya, masalah itu tidak hilang.

Jadi, bagaimana kita mengatasi masalah yang telah mendarah daging di dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari? Bisa jadi, salah satu cara terbaik untuk memulai diskusi adalah dengan berbicara tentang air minum. Lebih dari 50 persen air minum di Indonesia mengandung kotoran manusia.

Artinya, ketika kita menggosok gigi atau mencuci muka di pagi hari, kita sudah terancam dengan berbagai penyakit sanitasi. Lalu, bagaimana nasib masyarakat yang belum memiliki toilet, sedangkan di mana mereka mandi, mencuci baju, piring, dan sebagainya di sungai?

Masalah keterbatasan akses toilet di Indonesia berakibat langsung terhadap perekonomian negara ini. Indonesia kehilangan Rp 300 triliun per tahun hanya karena masalah ini. Tanggal 19 November merupakan Hari Toilet Sedunia. Sudah waktunya kita serius menangani masalah toilet di negara ini.

Bicarakanlah masalah sanitasi dan dampaknya terhadap lingkungan kita. Tegurlah teman yang tidak cuci tangan sebelum makan, dan ingatkanlah mereka yang sedang membangun rumah untuk memastikan adanya toilet yang sehat yang ber-septic tank.

.

Kemalasan Beraktivitas Picu Berbagai Penyakit

Oleh : Anton Sanjoyo, Wartawan senior Kompas
Kompas, 14 Nov 2018

Pernahkah Anda menyadari bahwa kita hidup di negara dengan masyarakat yang malas bergerak, enggan melakukan aktivitas fisik sehingga dalam jangka menengah-panjang bangsa Indonesia akan mengalami darurat kesehatan secara umum?

Coba tengok aktivitas Anda dan masyarakat secara umum. Pernahkah Anda memperhatikan begitu padatnya jalanan, terutama di perkotaan oleh kendaraan bermotor? Coba lihat betapa orang-orang berebut parkir di lokasi yang berdekatan dengan pintu masuk di mal-mal atau pusat perbelanjaan hanya karena mereka malas berjalan kaki? Berapa kali dalam sepekan dan berapa lama Anda melakukan aktivitas fisik ringan sampai sedang?

Jika Anda sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sekarang coba tengok fenomena ini. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan kesehatan di Universitas Stanford, Amerika Serikat, Indonesia adalah negara dengan penduduk yang paling malas berjalan kaki. Studi yang diungkap oleh jurnal kesehatan Nature pada 2017 memperlihatkan, orang Indonesia rata-rata hanya berjalan 3.513 langkah per hari, jauh di bawah negara-negara di seluruh dunia.

Penelitian Universitas Stanford menggunakan data lebih dari 700.000 orang yang dikumpulkan dari 111 negara dengan fokus pada aktivitas perorangan secara berkelanjutan. Penelitian ini juga mengungkapkan kota-kota, yang sangat ramah terhadap pejalan kaki dengan melimpahnya moda transportasi massal dan jalur pedestrian, rata-rata mempunyai angka jalan kaki yang tinggi. New York dan Hong Kong adalah salah satu contoh kota yang masyarakatnya punya catatan jalan kaki paling tinggi.

Hong Kong yang merupakan bekas koloni Inggris memegang rekor negara dengan masyarakat paling aktif jalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari, sementara Rusia berada di peringkat kedua dengan angka 5.969 langkah per hari. Indonesia berada di kelompok terbawah dengan aktivitas jalan kaki terendah bersama dengan Arab Saudi (3.807), Malaysia (3.963), Filipina (4.008) dan Afrika Selatan (4.105).

Dalam penjabaran lebih lanjut mengenai penelitian ini, jurnal Nature mengungkapkan, pemerintah di negara-negara yang diteliti sebenarnya bisa memanfaatkan data-data penelitian ini untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kehidupan masyarakatnya. Kata kuncinya adalah “ketidaksetaraan aktivitas”. Tim Althoff, salah satu peneliti, mengatakan, semakin besar ketidaksetaraan aktivitas, semakin tinggi tingkat obesitas di suatu negara. Semakin tinggi tingkat obesitas, semakin rentan masyarakatnya terkena berbagai macam penyakit.

“Sebagai contoh, Swedia merupakan salah satu negara dengan celah terkecil dalam ketidaksetaraan aktivitas… juga merupakan negara dengan tingkat obesitas paling rendah,” papar Althoff seperti dikutip laman BBC.

Para peneliti juga mengaku terkejut saat menemukan bahwa ketidaksetaraan aktivitas dipicu oleh perbedaan jender, pria dan perempuan. Di negara seperti Jepang—dengan tingkat obesitas dan ketidaksetaraan rendah—pria dan perempuan menunjukkan tingkat yang sama. Namun, di negara seperti Amerika Serikat dan Arab Saudi di mana tingkat ketidaksetaraan tinggi, kaum perempuan melewatkan waktunya dengan tidak beraktivitas.

Penelitian WHO

Temuan para peneliti Universitas Stanford ternyata satu garis lurus dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis September 2018. Laporan yang ditulis lengkap oleh BBC ini menyebutkan lebih dari seperempat penduduk Bumi atau sekitar 1,4 miliar jiwa tidak melakukan aktivitas atau latihan fisik yang cukup yang berdampak langsung pada risiko terkena penyakit. Angka ini terus meningkat sejak 2001. WHO mengingatkan, ketidakaktifan ini meningkatkan risiko aneka problem kesehatan, seperti sakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

Negara-negara kaya dengan tingkat pendapatan masyarakat yang rata-rata tinggi seperti Inggris Raya adalah termasuk mereka dengan aktivitas rendah. Kelompok perempuan juga ditemukan kurang aktif hampir merata di seluruh dunia, kecuali di dua wilayah Asia.

Penelitian WHO ini mengoleksi data aktivitas dari survei di 358 basis populasi di 168 negara dan mencakup 1,9 juta jiwa. WHO menemukan, di negara-negara kaya (high income), termasuk Inggris Raya dan Amerika Serikat, proporsi individu tidak aktif telah meningkat dari 32 persen pada 2001 menjadi 37 persen pada 2016, sementara proporsi negara-negara pendapatan rendah (low income) stabil 16 persen di rentang yang sama.

Mereka yang dikategorikan kurang aktif adalah individu yang melakukan kurang dari 150 menit latihan fisik moderat—atau 75 menit latihan intensitas tinggi/berat—per pekan.

Para ahli menyatakan transisi di negara-negara yang lebih makmur terhadap berbagai pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak aktivitas fisik dan meningkatnya hobi masyarakat bersamaan dengan meningkatkan penggunaan kendaraan bermotor bisa menjelaskan mengapa terjadi fenomena peningkatan tingkat ketidakaktifan masyarakat.

Di negara-negara dengan pendapatan rendah, orang cenderung lebih aktif dalam pekerjaan, lebih banyak berjalan kaki atau menggunakan transportasi publik.

Para pembuat laporan untuk WHO ini memperingatkan, jika angka ketidakaktifan terus bertahan dengan kecenderungan periode 2001-2016, target badan dunia ini untuk mengurangi ketidakaktifan global hingga 10 persen pada 2025 akan mengalami kegagalan besar.

Jika melihat data yang dirilis WHO melalui penelitian The Lancet Global Health, Indonesia termasuk negara yang cukup aktif dengan tingkat ketidakaktifan di level 15-30 persen pada rata-rata orang dewasa. Angka ini cukup menggembirakan mengingat dari sumber penelitian lain yang dilansir jurnal Nature, rata-rata orang Indonesia paling malas berjalan kaki.

Uganda merupakan negara dengan penduduk dewasa paling aktif di dunia dengan tingkat orang dewasa yang tidak aktif hanya 5,5 persen. Sementara negara petro dollar Kuwait memegang rekor tingkat tidak aktif tertinggi dengan 67 persen orang dewasa.

Yang agak mengejutkan adalah Brasil, negara yang terkenal dengan tarian Samba dan kiblat sepak bola dunia dengan belasan ribu pemain profesional mereka melanglang buana di liga-liga seluruh dunia. Negara peraih lima kali gelar juara dunia tersebut terbilang cukup tinggi untuk ketidakaktifan di kalangan orang dewasa, yakni 47 persen.

Tentang Uganda, negara di benua Afrika tersebut, 70 persen penduduknya, terutama di pedesaan, bekerja di sektor pertanian yang membutuhkan tingkat aktivitas fisik tinggi. Abiasali Nsereko (68 tahun) misalnya, seorang petani di wilayah Luweero, sebelah utara ibu kota Kampala mengatakan, dia mulai bekerja di ladangnya pada pukul 05.00.

“Saya menghabiskan waktu selama delapan jam sehari dalam enam hari sepekan,” kata Nsereko kepada BBC. “Jika saya berhenti bekerja, kemungkinan besar saya akan jatuh sakit. Pada usia saya sekarang, saya nyaris tak punya satu pun penyakit di badan saya,” lanjut Nsereko membanggakan kesehatannya yang prima.

Namun, selain jutaan petani di Uganda seperti Nsereko, kecenderungan menonjol di kota-kota besar seperti Kampala adalah makin banyaknya orang dewasa yang melakukan aktivitas fisik di jalanan dan ruang-ruang publik. Meski jalur pedestrian dan taman-taman kota sangat minim di kota-kota besar Uganda, kecenderungan aktivitas fisik tersebut meningkat secara signifikan.

Di kota-kota besar juga tumbuh subur kelompok-kelompok kebugaran seperti yang terlihat di sekitar Stadion Nasional Mandela di Namboole.

Pada 7 Juli lalu, Presiden Yoweri Museveni mendeklarasikan Hari Nasional Aktivitas Fisik yang memberi sinyal kuat bahwa Uganda ingin mempertahankan diri sebagai negara yang masyarakatnya paling aktif di dunia. Hari nasional itu rencananya akan diperingati setiap tahun dengan berbagai kegiatan.

Jika melirik Uganda, Indonesia sebenarnya sudah jauh lebih maju dalam hal kecenderungan peningkatan aktivitas fisik masyakarat. Sejak zaman Presiden Soeharto, Indonesia telah mempunyai Hari Olahraga Nasional atau Haornas. Dalam satu dekade terakhir, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, menjalankan gaya hidup sehat dengan banyak sekali melakukan aktivitas fisik di luar ruang. Kegiatan lari dan bersepeda kini bahkan menjadi tren gaya hidup yang sangat disukai dari usia remaja sampai manula.

Namun, dalam Indeks Kesehatan Dunia, Indonesia masih tergolong rendah dan berada di peringkat 101 dari 149 negara. Pada laporan yang dirilis The Legatum Prosperity Index (2017) yang mengukur indikator kesehatan fisik, mental, infrastruktur kesehatan dan pencegahan penyakit, Indonesia masih tertinggal oleh sesama negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, bahkan Laos.

Faktor pola makan, konsumsi rokok, kebersihan, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat akan kesehatan, semisal pentingnya imunisasi dan vaksin, ditengarai menjadi berbagai sebab yang membuat indeks kesehatan Indonesia masih jauh dari harapan.

Rahasia Makna di Balik Nama dalam Label Makanan

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas, 30 Okt 2017

Barangkali bukan hanya saya yang hingga kini masih penasaran mengapa perasa buatan dalam label makanan ditulis dengan bahasa Melayu Malaysia: pe-ri-sa.

Padahal di Kamus Besar Bahasa Indonesia, perisa itu sebetulnya penyedap (atau yang membuat rasa enak). Jadi, jika dalam makanan buatan pabrik, karena rasa asli makanan hilang akibat proses industri, maka ditambahkanlah secara buatan rasa-rasa yang menggelitik lidah itu.

Agar tidak kentara bahwa semua itu permainan bahan kimia, maka ada cara mengakali bahasa label. Sehingga jangan harap konsumen sungguh-sungguh mendapatkan kebaikan buah mangga, dalam cairan atau bubuk yang berwarna seperti mangga dan rasa sintetik yang dimirip-miripkan seperti mangga.

Hal yang mirip-mirip serupa, terjadi dengan istilah ‘trans fat’ – yang secara viral publik menangkapnya sebagai lemak yang jahat dalam produk kemasan yang dimakan.

Prinsipnya sama: suatu zat yang di alam tidak pernah ada, hasil ‘iseng-iseng berhadiah’ ilmuwan yang mengubah minyak cair menjadi padat dengan menambahkan ion hidrogen.

Karenanya, istilah ‘(partially) hydrogenated oil atau fat’ merupakan indikator adanya trans fat. Dan orang Indonesia punya kesulitan mencerna maknanya. Nah, disitulah promosi industri berkibar.

Secara fakta, produk kemasan yang justru mengaku ‘bebas lemak trans’ tetap masih mengandung zat tersebut hingga 0.5 mg per porsi kemasan.

Di Amerika Serikat, statistik kesehatan menunjukkan lemak trans adalah penyebab 7000 kematian per tahun dan 20.000 kasus serangan jantung , lebih parah ketimbang lemak jenuh.

Statistik seperti ini hampir tidak mungkin diperoleh di Indonesia. Selain penelitinya akan dikecam habis-habisan oleh industri, dianggap perusak ekonomi negara yang sedang dibangun generasi milenial (yang senang mengasup lemak trans tanpa disadari).

Selain itu, tentu masalah klasik: siapa yang mau mendanai penelitian, jika tidak ada kepentingan?

Saya sempat marah besar membaca salah satu berita ‘edukasi online’ bagi para ibu, di mana seorang ahli mengajarkan anak diberi olesan selai kacang (peanut butter) sebagai penambah energi.

Cobalah membaca lebih banyak jurnal dan kajian lemak trans pada produk-produk buatan pabrik. Dan sedikitlah punya rasa bersalah menciptakan generasi masa depan dengan kecanduan rasa artifisial, plus risiko penyakit jantung dan pembuluh darah di usia yang masih dini.

Apa salahnya anak diberi menu lokal seperti telur pindang atau pepes ikan, ketimbang meniru anak bermata biru di negri orang?

Di negri di mana kentang sudah diujicobakan hidup di luar angkasa, istilah ‘hidden sugar’ alias gula tersembunyi dalam produk kemasan (lagi-lagi) sudah harus dipaparkan dalam label.

Sementara kita masih berkutat di level menjelaskan jumlah asupan gula per hari yang masih ‘dalam toleransi aman’. Saat orang-orang berduit di negri kita memburu produk-produk bertuliskan ‘sugar free’, orang di luar sana sudah ramai-ramai membuangnya (dan ditangkap di sini).

Saya masih ingat betapa sulitnya menjelaskan kepada pasien yang ngotot mengatakan coklat ‘berantioksidan’ yang dimakannya tiap hari, dengan harapan umur panjang, adalah bebas gula.

Gula tersembunyi masih belum dipahami bahwa mereka pun penyebab masalah besar di kemudian hari.

Sebutlah dextrose,maltose, sucralose, hingga high fructose corn syrup (di Indonesia diperlembut jadi gula jagung – seakan-akan begitu alami) bahkan madu – yang sekali lagi, kaya akan fruktosa.

Begitu orang secara nalar mengandaikan apa yang dia makan ‘lebih alami’ – maka istilah kebablasan akan mudah terjadi. Nasehat dokter ‘sesekali dikonsumsi’, tidak lagi dianggap sebulan sekali atau seminggu sekali, melainkan diasumsikan ‘sekali setiap kali makan’.

Yang lebih menarik lagi, dan rasanya hanya di Indonesia, produk kemasan dengan vetsin, micin, atau Mono Sodium Glutamat (MSG) ditulis dengan istilah Mononatrium Glutamat. Mulai dari yang mengaku sambal kemasan dan botolan hingga makanan kemasan yang dianggap camilan.

Bisa jadi publik dianggap masih begitu bodohnya untuk tidak bisa memahami bahwa sodium dan natrium adalah unsur mineral yang sama, bedanya hanya yang satu istilah berbahasa Inggris sedangkan satunya nama kimianya.

Sementara akademisi di luar sana gigih mengedukasi publik dan membuat mata melek, di negri ini justru sebagian orang pandai membela industri yang ikhlas membayar hasil ‘edukasi pro perusahaan’. Sementara yang pandai sungguhan dan jeli memilih untuk diam, ketimbang membuat masalah.

Alhasil pendapat keblinger sempat viral, yang menyatakan ASI dan MSG itu punya kandungan yang sama: asam glutamat.

Tepok jidat saja rasanya tidak cukup. Pemahaman ilmu yang hanya dikaji secara epistemologis tanpa menelusuri aspek ontologis menjadikan ilmuwan seperti kacang lupa kulit.

Begitu pula jika kajian aksiologis kedodoran, akhirnya istilah penemuan ilmiah demi ‘masa depan yang lebih baik’ bisa terpeleset menjadi ‘kebaikan masa depan segelintir orang’.

Sudah waktunya kita sungguh-sungguh melek, bahwa asam glutamat pada jaringan zat hidup, mulai dari ASI hingga otot, sama sekali berbeda sifatnya dengan asam glutamat yang dihasilkan oleh proses industri. Seperti halnya fruktosa pada buah mangga sungguhan, tidak sama dengan fruktosa yang dibubuhi dalam cairan yang ‘rasanya seperti mangga’.

Akhir oktober bukan hanya diperingati saat bangsa kita bersatu secara nasional, tapi juga momentum kita menjadi tuan rumah Asia yang pertama untuk suatu forum besar tentang pangan, Asia-Pacific Food Forum.

Semoga bangsa kita menjadi pelopor kebangkitan pangan asalinya, sebagai bagian dari ketahanan nasional, yang memberi kehidupan yang sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

Mengapa Dunia Pengobatan Selalu Menarik?

DR.dr. Tan Shot Yen, M.Hum.
Kompas.com – 16/10/2017

Sekali pun katanya sekolah jadi dokter itu makin hari makin sulit – bahkan setelah lulus pun masih (merasa) sulit menempatkan diri – faktanya pilihan profesi satu itu tetap laris manis. Minimal membuat calon mertua bangga. Aneh bukan, di mana magnetnya? Di mana kehebatannya? Ternyata banyak.

Daya tarik awalnya adalah jawaban murni seorang bocah yang baru saja mengumpulkan berbagai kosa kata untuk mengolah kalimat.

Seumur anak taman kanak-kanak, alasan mengapa ingin jadi dokter biasanya polos dan memang itulah tujuan utamanya: “supaya bisa menolong orang sakit”.

Karena ia pernah merasakan tidak nyamannya didera gatal atau demam. Hidung tersumbat sepanjang malam tanpa bisa tidur nyenyak, mendadak sembuh berkat saktinya campur tangan tante atau om dokter.

Begitu sudah mulai besar sedikit, biasanya alasan jadi dokter dimulai dari gengsi dulu. Bisa mengenakan stelan jas putih saja, mahasiswa kedokteran sudah merasa dirinya punya kasta lebih tinggi dari teman-teman seangkatannya dari fakultas lain.

Jas putih itu seakan punya kharisma dan pesona yang tak pernah luntur. Sehingga, profesi lain yang masih berbau kesehatan pun ikut-ikutan mengadopsi seragam yang sama. Jadi, apa yang dipakai sebagai penampilan pun sudah memberi ‘label khusus’. Siapa kamu, siapa saya.

Berikutnya, dari jaman sebelum ada sekolah dokter resmi, kebutuhan berobat sudah menjadi bagian dari hidup manusia rupanya, selain kebutuhan makan.

Bahkan sekarang lebih mengerikan lagi: akibat apa yang dimakan, maka bisa diperkirakan kira-kira bakal berobat dengan penyakit apa. Dan sebagian orang nampaknya tidak peduli lagi soal makan dan gaya hidup, selama obatnya tersedia jika sakit.

Sehingga, dunia pengobatan kian berkibar sebagai penyelamat kehidupan – pencipta pil ajaib dan tongkat murajab. Apalagi kian banyak jurusnya. Semakin banyak orang penasaran.

Dari yang ingin berobat hingga yang ingin belajar dengan pelbagai tujuan – termasuk mencari lahan cari uang.

Saat mata ajar etika dan keelokan profesi tidak lagi penting, tujuan utama seperti jawaban anak balita di awal tulisan ini kian kabur.

Nanti dulu. Dunia pengobatan tidak selamanya dipegang oleh dokter, bidan dan perawat. Masih ada lagi yang lain. Yang juga mengklaim berhasil menyembuhkan sekian banyak penyakit, walaupun pengetahuan resmi keilmuannya sebatas keterampilan turun menurun atau kursus yang tidak lebih lama dari kursus montir.

Sementara itu kondisi kehidupan sudah jauh berubah, jenis penyakit dan cara penularannya pun tidak sama seperti pertama kali keturunan mereka mengajarkan ilmu perobatan.

Penelantaran ilmu kesehatan komplementer selama berabad-abad membuat cara berpikir para praktisinya semakin tertinggal.

Belum lagi bicara soal etika. Sementara dapur di rumah terdesak harus tetap ngebul. Hukum ekonomi pun berjalan. Apalagi, jika bukan promosi superlatif jalan keluarnya.

Sementara itu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan para dokter dan aparatnya tidak selalu berjalan mulus.

Publik kian kritis. Bahwa ternyata obat satu tas plastik untuk hipertensi, kolesterol tinggi dan pengentalan darah bukan jaminan orang bebas stroke walaupun dokternya wanti-wanti seumur hidup obat tidak boleh lepas. Ternyata suntik insulin saja tidak membuang kemungkinan gagal ginjal.

Di waktu yang berjalan terus semakin cepat, upaya pencegahan alias preventif promotif tidak favorit, karena manusia sudah terlalu enak berbuat apa saja dan tidak ada tanda-tanda keinginan berubah apalagi keluar dari zona nyaman makan seketemunya, hidup semaunya.

Jujur, para dokter juga kalang kabut dengan ketinggalan ilmu perilaku dan komunikasi efektif. Apalagi jika antrean pasien membludak.

Akhirnya, muncul bahasa menakut-nakuti atau istilah ‘vonis dokter’ yang dihubungkan trauma pasien.

Lebih seru lagi saat media sosial dan penggiat teknologi informasi kerap melemparkan bola panas dan menciptakan opini publik tentang pelayanan kesehatan yang timpang – tanpa diklarifikasi duduk perkara sebenarnya.

Alhasil ketidakpuasan terhadap layanan medik membuat orang melihat ke belakang. Gayung bersambut.

Pendekatan ‘manusiawi’ dan uluran rasa percaya berhasil dibangun oleh ranah komplementer yang sudah punya kekuatan promosi tersendiri – walaupun diberi istilah cara ‘alternatif’.

Menjadi kian menarik karena diam-diam mereka meminjam banyak istilah kedokteran yang diolah dengan bumbu promosi.

Bergulir juga istilah ‘telah diakui melalui penelitian’ sebagai penambah konfirmasi rasa aman pasien. Pasien pun tidak peduli penelitian seperti apa dan validitasnya ada atau tidak.

Saat nyawa menjadi taruhan, dunia pengobatan semakin gemerlap dan menarik. Apalagi jika aturan masih belum jelas.

Amburadulnya etika semakin nampak saat para pengobat non medik kian nekad membuat klaim.

Bahkan, menyelenggarakan ‘seminar kesehatan’ lengkap dengan sertifikat yang entah gunanya buat apa – yang semoga bukan jadi modal kenekadan baru lagi ‘pengobat dadakan’ untuk buka lapak cari uang .

Di saat yang sama, pemerintah tidak mampu ‘multi tasking’. Seperti menambal genting bocor di mana-mana.

Urusan obat ilegal dan napza belum selesai, masih harus menangani hal yang semestinya sudah berjalan sesuai aturan (yang ada, tapi tidak pernah dibaca).

Apa yang kita lihat barulah sebuah puncak gunung es satu masalah dari beragam gunung es masalah lainnya.

Wajah kengerian apa yang akan terjadi pada bangsa ini baru akan nampak wujudnya sepuluh-dua puluh tahun mendatang.

Jika kita tidak sama-sama menyadari ada hal-hal yang segera harus dibereskan, maka dunia pengobatan akan selamanya babak belur walaupun tetap seksi.

Begitu seksinya sehingga mudah dilacurkan, menjadi iming-iming orang yang berharap akan kesembuhan atau minimal untuk hidup lebih lama lagi.

Paradigma Sehat sebagai Ujung Tombak Kesehatan Masyarakat

Nila Farid Moeloek ; Menteri Kesehatan
MEDIA INDONESIA, 04 Maret 2015

SEHAT merupakan salah satu sendi dasar kehidupan manusia. Di sisi lain, setiap orang punya hak dan juga tanggung jawab untuk hidup sehat. Dari sudut pemerintah, konsep Nawa Cita secara jelas menyebutkan untuk `meningkatkan kualitas hidup manusia’, dengan kesehatan tentu merupakan salah satu komponen utamanya.

Jika kita lihat indeks pembangunan manusia (IPM), nyatanya Indonesia di posisi 108 dari 187 negara. Dari penilaian IPM juga, berdasarkan lama sekolah yang saat ini, Indonesia mempunyai lama sekolah 8,14 tahun. Untuk kesehatan, peringkat Indonesia meningkat karena telah dimulai universal health coverage,dan penilaian ketiga ialah ekonomi yang sekaligus merupakan tantangan tersendiri bagi dunia kesehatan.

Dengan pemberlakuan Jaminan Kesehatan Nasional awal 2014, masyarakat yang tak mampu membayar iuran, mendapat bantuan dari pemerintah berupa bantuan iuran/PBI. Jumlahnya mencapai 86,4 juta dari data 90,7 juta orang tak mampu.Begitu juga dengan pemberlakuan Kartu Indonesia Sehat (KIS), jumlah penyandang masyarakat kesejahteraan sosial, bayi baru lahir, dan penderita pascarehabilitasi narkoba yang mendapat bantuan pemerintah menjadi meningkat.

Asuransi kesehatan (Askes) awalnya dibuat untuk PNS. Ketika itu, Askes, sebagai BUMN, mengembalikan dana kepada pemerintah jika premi tak terpakai. Askes juga melaksanakan pengadaan obat-obatan bagi PNS yang berobat. Selain itu ada juga asuransi yang dipunyai Asabri dan Jamsostek. Untuk kesehatan bagi masyarakat yang tak terkover dan tak mampu, dibuatlah Askeskin yang kemudian menjadi Jamkesmas oleh pemerintah pusat. Setelah otonomi daerah, asuransi ini berubah namanya menjadi Jamkesda. Kita sudah mengenalnya saat Presiden Joko Widodo menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, dengan membuat kartu Jakarta Sehat.

Inti dari semua ini seluruh masyarakat seharusnya punya askes sebagai payung ketika sakit, yang dapat mengakses ke layanan kesehatan. Bagi masyarakat mampu, mereka dapat tetap membeli askes swasta (private insurance).
Jaminan kesehatan Nasional (JKN) ditandai dengan KIS yang dikelola Badan Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS). Bagi PBI, data diperoleh dari Kementerian Sosial berdasarkan data BPS yang divalidasi oleh TPN2K. Data Askes, Asabri, dan kemudian bagi peserta mandiri yaitu peserta yang ikut masuk mendapatkan askes nasional. Total peserta saat ini berjumlah 133 juta jiwa.

Sistem ini baru berjalan 1 tahun dan masih banyak yang perlu dibenahi untuk kekurangan yang terjadi. Baik secara administrasi ataupun cara pembayaran ke rumah sakit ataupun layanan primer serta kerja sama dengan berbagai layanan kesehatan. Tujuan asuransi ini ialah asuransi sosial dengan sifat gotong royong. Diharapkan, iuran orang sehat dipakai untuk membantu membiayai yang sakit pada saat itu.Premi KIS, untuk kelas 3 Rp25.500, kelas 2 (Rp42.500), dan kelas 1 (Rp59.500). Untuk peserta PBI dibayar pemerintah Rp19.225.

Sebagai gambaran, pada Januari-Juni 2014, penderita gagal ginjal ada 889.356 orang dan menelan biaya Rp869.598.888.142.Untuk rawat inap penderita gagal ginjal sebanyak 138.779 penderita dengan biaya Rp750.610.932.614. Jika dibiarkan masyarakat jatuh sakit, biaya atas kesehatan akan semakin meningkat.
Sebagian masyarakat memang punya kemudahan akses akan berobat, seperti di Pulau Jawa. Sebagian yang lain harus diakui berada di daerah dengan geografis yang sulit, sehingga membuat tingkat berobat masyarakat masih rendah dan sistem pembiayaan belum optimal.

Masalah kedua, masyarakat belum menyadari adanya sistem dalam layanan kesehatan. Jika layanan primer dapat mengatasi sebagian besar penyakit saat dini, diharapkan, hanya sekitar 10%-20% yang ditangani di layanan sekunder dan lebih sedikit lagi di layanan tertier. Keadaan saat ini masih terbalik, banyaknya penderita yang perlu ditangani di layanan sekunder dan tertier.

Fakta kesehatan

Tantangan kesehatan kini amat beragam. Kalau dari sudut penyakit, Indonesia saat ini menghadapi beban ganda. Penyakit menular tertentu masih jadi masalah kesehatan, sementara penyakit tidak menular (PTM) sudah meningkat dan bahkan sudah lebih tinggi dari penyakit menular. Tahun 1990 penyakit tak menular sebanyak 37% menjadi 58% di 2010.

Penyakit stroke, kecelakaan lalu lintas, penyakit jantung iskemik, kanker, diabetes melitus, paru-paru obstruksi kronis, secara berurutan merupakan masalah saat ini dan berbiaya tinggi. Di samping itu masih terbebani pula oleh neglected tropical diseases dan new-emerging diseases, yaitu filariasis, kusta, cacingan, rabies, frambusia, leptospirosis, dan schisosomiasis.

Maraknya pengguna napza serta perilaku seks bebas masih menjadi beban bangsa untuk HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS rentan terhadap penyakit TB dan hepatitis C. HIV/AIDS termasuk penyakit menular langsung, juga termasuk TB, hepatitis, dan ISPA terutama pada bayi. Banyak lagi kejadian yang sering dialami seperti diare, demam berdarah, malaria, serta termasuk kekurangan gizi, atau malnutrisi.

Beban ganda mengenai gizi, obesitas juga meningkat paralel dengan kekurangan gizi. Jika dilihat negara kita dengan GDB meningkat, namun untuk kekurangan gizi pada ibu hamil menyebabkan stunting pada anak yang dilahirkan, dengan nilai rata-rata sebesar 37%, yang menyebabkan gangguan kognitif pada generasi mendatang.

Hal ini terjadi pada masyarakat kurang mampu dan akan menjadi siklus kembali dalam kehidupan mereka. Sebaliknya obesitas juga terjadi yang mengartikan masyarakat tak mengerti tentang berperilaku gizi seimbang. Walau telah dicanangkan 1.000 hari kehidupan dan scalling up nutrition oleh PBB, pengertian tentang nutrisi belum sepenuhnya diimplentasikan masyarakat.

Semua penyakit ini perlu menjadikan perhatian kita semua, karena berdampak pada kerugian ekonomi yang akan ditanggung negara dan tidak tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas. Selain penyakit atau dunia kesehatan kita amat dipengaruhi aspek lain, yaitu social determinant of health, antara lain perilaku, perubahan pola demografi, aspek sosio budaya, dan bahkan sisi ekonomi dan politik.

Hilangnya Isu Gizi Buruk

Oleh : Khudori, Anggota Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan
Kompas, 9 Mei 2018

Kampanye pemilihan kepala daerah di 171 daerah telah dimulai. Sayangnya, para calon umumnya hanya sibuk menebar janji-janji manis, bukan solusi nyata atas problem-problem mendasar dan laten di masyarakat.

Salah satu isu penting yang seharusnya disoroti para kandidat adalah gizi buruk. Memang sudah ada upaya memunculkan isu ini dalam debat kandidat. Tapi isu ini sering kali jadi periferi dan pemanis belaka.

Isu ini kalah seksi dibanding isu pendidikan dan kesehatan. Mengapa? Pertama, sasaran program gizi buruk terbatas: hanya warga miskin dan kurang gizi. Adapun kandidat dituntut pandai-pandai meramu program yang bisa menggaet dan mencakup semua pemilih. Kedua, penuntasan masalah gizi buruk memerlukan waktu lama, tidak cukup hanya satu periode kepemimpinan. Konsekuensinya, hasil program ini tidak segera terlihat. Ujung-ujungnya, tidak mudah bagi kandidat untuk mengkapitalisasi hasilnya.

Hilangnya isu gizi buruk ini sebetulnya tidak terlalu mengejutkan. Di level nasional, isu ini telah lama menghilang dalam program pembangunan. Apa yang terjadi dalam pemilihan kepala daerah adalah cermin kecil perpolitikan di tingkat nasional. Kejadian gizi buruk di Asmat, Februari lalu, hanyalah pucuk gunung es.

Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 mengungkap potret buram beban ganda dunia gizi negeri ini: prevalensi gizi buruk anak di bawah lima tahun (balita) meningkat menjadi 5,7 persen dari 4,9 persen pada 2010. Adapun prevalensi gizi kurang anak balita naik dari 13 persen (2010) menjadi 13,9 persen (2013). Anak stunting (bertubuh pendek) juga meningkat dari 35,6 persen (2010) menjadi 37,2 persen (2013). Pada periode yang sama, angka gizi lebih anak balita turun dari 14 persen menjadi 11,9 persen. Di sisi lain, perbaikan pendapatan memungkinkan warga mengkonsumsi kalori dan lemak melebihi kebutuhan tubuh. Namun, tak hanya mengalami kegemukan, mereka pun bisa menderita obesitas.

Gizi buruk memang kompleks. Namun faktor utamanya adalah kemiskinan. Saat inflasi tinggi, harga pangan terasa mahal. Warga miskin yang 70 persen pendapatannya untuk pangan harus merealokasikan belanja dengan menekan pos non-pangan, seperti kesehatan dan pendidikan, atau beralih ke pangan inferior guna mengamankan isi perut. Dampaknya, konsumsi energi dan protein menurun. Rendahnya kualitas asupan gizi berdampak panjang bukan hanya pada kesehatan, tapi juga produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.

Krisis gizi, tanpa kita sadari, mendorong lahirnya bencana sosial dan budaya yang amat serius. Bagaimana mungkin “bangsa kurang gizi” bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain? Bagaimana mungkin “bangsa kurang gizi” bisa kreatif dan mengemban tampuk kepemimpinan yang membawa negeri ini ke posisi terhormat di antara bangsa-bangsa di dunia?

Hilangnya isu gizi dalam kontestasi pemilihan kepala daerah harus dicegah dengan menjadikan gizi sebagai isu utama. Para kandidat wajib memastikan anak balita, ibu hamil, dan lansia memiliki akses terhadap gizi yang baik dan cukup. Negara harus hadir sebagai penjamin terpenuhinya hak pangan hingga di tingkat individu, seperti amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Hal ini dilakukan lewat beragam aksi: revitalisasi posyandu, bantuan pangan bagi anak balita dan ibu hamil, program tambahan makanan anak sekolah, subsidi pangan dan stabilisasi harga pangan, serta penganekaragaman pangan berbasis pangan lokal.

Pemilih harus jeli memilih kandidat. Bagi pendatang baru, komitmen terhadap isu gizi buruk harus diikat pada alokasi anggaran yang memadai. Bagi inkumben, selain berkomitmen, bisa dilacak anggaran riil selama ini yang dialokasikan untuk gizi buruk. Anggaran Pendapatan dan Belanja Provinsi Jawa Timur, misalnya, sebesar Rp 30 triliun pada 2017. Dari total duit itu, 50 persen habis buat belanja rutin, Rp 8 triliun untuk hibah, dan Rp 7 triliun ditebar ke 56 satuan kerja perangkat daerah. Bagaimana mungkin masalah gizi buruk bisa tertangani dengan baik jika komitmen anggaran tidak memadai?

Investasi di bidang gizi sifatnya jangka panjang. Sebagai pemilih, masyarakat harus menyadari pentingnya memilih kandidat yang menghiraukan kebutuhan mereka: punya program gizi yang jelas.

Menangani Anak yang Mengalami “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”

Bondhan Kresna W.
Kompas.com – 30/04/2018, 09:00 WIB

Tulisan pertama di kolom ini saya menceritakan pengalaman saya melakukan pendampingan pada remaja yang memperlihatkan gejala-gejala depresi.

Pada saat yang sama, saya juga melakukan pendampingan di sebuah sekolah dasar swasta pada seorang anak yang didiagnosa mengalami gangguan pemusatan perhatian (GPP). Apa itu GPP?

Nama kerennya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yaitu suatu kondisi dimana individu memiliki kesulitan untuk memfokuskan diri pada sesuatu, terkadang ada kasus yang disertai dengan hiperaktifitas, impulsif atau susah diam, bergerak terus, tidak capek-capek.

Diagnosa itu biasanya diberikan pada anak, karena gejala-gejalanya paling terlihat pada anak. Sebenarnya labelling ini dari pengalaman saya juga masih ada yang “protes” dan saya dapat memahami protesnya.

“Lha wong sudah biasa to, anak itu ya ada yang sering tidak fokus, ada yang gampang fokus. Ga usah dikasih label…”

Beliau yang protes ini tidak sepenuhnya salah. ADHD sendiri juga kemudian jadi label dan penyandangnya dianggap memiliki gangguan jiwa, padahal yang paling tepat adalah gangguan saraf. Tapi sebaliknya, label ini penting bagi psikolog karena bisa menentukan intervensi yang tepat untuk menanganinya.

Padahal individu dengan ADHD tetap bisa beraktifitas seperti biasa, bahkan banyak orang-orang sukses yang sebenarnya pernah didiagnosis ADHD. Contohnya miliarder Inggris pemilik Virgin Group, Richard Branson, aktor Hollywood Jim Carrey, Ryan Gosling, vokalis Maroon 5 Adam Levine, Justin Beiber, peraih emas Olimpiade dalam cabang atletik Simone Biles, dan banyak tokoh-tokoh dunia yang lain.

Jadi selama diberikan terapi dan bila perlu pengobatan yang tepat, maka tidak akan mengganggu perkembangan fisik maupun psikologis anak. Sebaliknya kalau didiamkan saja maka akan menjadi masalah yang serius sejalan dengan perkembangan anak, karena anak atau remaja jadi susah belajar. Akibat lain adalah lemahnya kontrol emosi.

ADHD sendiri bukan disebabkan oleh lingkungan, pola asuh, atau yang lain. Kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan, jadi gejalanya tidak bisa seratus persen dihilangkan, hanya bisa dikontrol dan dikurangi.

Menurut jurnal Pediatrics pada 2010, paparan pestisida juga meningkatkan resiko ADHD pada ibu mengandung. Selain itu resiko tinggi juga terjadi pada ibu hamil yang merokok atau meminum minuman beralkohol.

Balik lagi ketika itu saya mendampingi seorang anak berusia 8 tahun. Sebut saja namanya Roni. Roni sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Untungnya sekolah itu tidak membanding-bandingkan anak melalui ranking. Semua anak diapresiasi dan dihargai kelemahan dan kelebihannya.

Dalam satu kelas ada 20 anak dengan dua guru, tiga diantaranya berkebutuhan khusus termasuk Roni. Saya ditugaskan kampus untuk membantu mendampingi. Saya mulai dari kulonuwun, minta ijin baik ke pihak sekolah maupun pada orangtuanya saya mampir ke rumah.

Orangtua Roni cukup terbuka, memang saya diinterogasi singkat maksud dan latar belakang saya. Tapi kemudian mereka dengan senang hati menerima, dan saya sangat bersyukur selama proses penegakan diagnosa, pendekatan (building rapport), lalu kemudian terapi berlangsung dengan lancar.

Karena tanpa kesediaan dan keterlibatan orangtua secara aktif, semua jenis terapi psikologi pada anak tidak akan optimal. Bersedia doang juga tidak akan bermanfaat, tapi harus aktif kedua-duanya ayah maupun ibu. Orangtua diberikan pekerjaan rumah untuk memberikan terapi mandiri di rumah. S

eperti biasa, hal pertama yang saya lakukan adalah observasi di sekolah maupun di rumah. Untuk penegakan diagnosa saya meggunakan DSM (Diagnostic & Stastitical Manual of Mental Disorders), yang saat ini sudah sampai pada edisi kelima. Panduan diagnosa gangguan jiwa (yang didalamnya juga ada pedoman diagnosa gangguan syaraf) ini bersumber dari American Psychiatric Association (APA) dan di Indonesia diadaptasi menjadi PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa).

Dalam pedoman tersebut, untuk menegakkan diagnosa ADHD (kode F.90.0) ada gejala-gejala yang harus muncul secara konsisten (minimal 6 bulan) setidaknya 5 dari 9 gejala yaitu :

1. Tugas-tugas dikerjakan dengan tidak akurat, sering melupakan detail pekerjaan. Pada gejala ini ketika guru memberikan tugas menyalin tulisan. Tulisan Roni selalu ada yang tidak lengkap, kekurangan huruf. Misalnya diminta menyalin kata “Buku”, ditulis “Bku”

2. Sering memiliki rentang perhatian yang pendek, kesulitan untuk fokus. Roni tidak pernah bisa memberikan perhatian pada satu hal lebih dari tiga menit, setelah tiga menit atau kurang perhatiannya selalu beralih.

3. Sering terlihat tidak memperhatikan ketika diajak bicara. Ketika diajak ngobrol, Roni hanya melihat lawan bicara beberapa detik pertama, setelah itu perhatiannya selalu beralih meski tidak ada hal lain yang terjadi di sekitarnya.

4. Sering tidak bisa mengikuti instruksi, tugas-tugas tidak selesai dikerjakan. Roni jarang menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Misalnya diminta menyalin sepuluh tulisan, yang dikerjakan baru lima lalu berhenti.

5. Sering mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas yang berurutan atau merapikan pekerjaan. Roni jarang merapikan tugas-tugasnya untuk dikumpukan sehingga guru (shadow teacher) lebih sering mengambil di meja belajarnya dibandingkan Roni menyerahkan ke meja guru.

6. Sering menolak tugas-tugas yang memerlukan upaya mental, misalnya pekerjaan rumah atau pekerjaan tambahan. Roni jarang menolak tugas tambahan yang diberikan padanya

7. Sering kehilangan barang-barang Pribadi. Roni sering ketinggalan alat tulis di sekolah.

8. Sering tiba-tiba terlihat terganggu oleh sesuatu hal. Meski perhatian sering beralih, Roni tidak terlihat terganggu perhatiannya secara tiba-tiba.

9. Sering melupakan tugas-tugas harian. Roni sering diingatkan untuk melakukan tugas-tugasnya kembali setelah perhatiannya beralih.

Dari 9 gejala di atas, ada 7 gejala yang konsisten muncul dari beberapa kali observasi yang dilakukan selama satu bulan dan dikonfirmasi oleh orangtua maupun guru bahwa gejala-gejala ini sudah lama berlangsung, lebih dari 6 bulan.

Bahkan sejak pertama kali masuk sekolah. Sementara itu tidak ada satupun gejala hiperaktifitas yang muncul, sehingga diagnosa utamanya adalah Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) dengan taraf sedang (mild) karena apabila tidak diberikan intervensi akan berpengaruh pada perkembangan mental anak.

GPP meskipun tidak disertai gejala hiperaktifitas, masih sering didiagnosa sebagai ADHD lengkap oleh psikiater atau psikolog. Padahal dalam DSM ada tiga kode diagnosa untuk ADHD yaitu F.90.2 untuk dominan GPP dan hiperaktifitas, kemudian F.90.0 untuk dominan GPP saja, dan F.90.1 untuk dominan hiperaktif saja.

Efeknya cukup besar, karena gejala-gejala GPP yang sudah didiagnosa lebih dini tidak memerlukan pengobatan, cukup terapi perilaku. Biasanya obat yang diresepkan adalah Ritalin yang berfungsi menekan fungsi syaraf atau merk lain yang mengandung Methylphenidate.

Pemberian intervensi medis yang tidak tepat khususnya pada anak meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke ketika dewasa. Pemberian obat disarankan untuk diagnosis gangguan dengan taraf berat (severe). Itupun disarankan dengan kombinasi terapi perilaku.

Dalam kasus Roni, saya hanya akan menyarankan pemberian terapi perilaku. Ada banyak terapi perilaku, namun untuk kasus GPP pada anak salah satu yang cukup efektif adalah dengan token economy. Anak seusia Roni secara kognitif masih dalam taraf operasional konkrit menurut teori perkembangan kognitif Piaget, artinya bahwa anak memahami segala sesuatu secara konkrit apa yang dilihat atau didengar anak.

Beda dengan remaja yang sudah bisa melakukan abstraksi, pada kasus remaja yang sebelumnya pernahs saya tulis, saya menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pada anak terapi ini tidak akan efektif.

Token economy merupakan terapi yang sederhana, tapi membutuhkan konsistensi yang tinggi baik dari psikolog, guru, maupun orangtua. Sekali saja muncul inkonsistensi dari salah satu pihak, terapi akan berantakan.

Intinya adalah take and give. Memberi dan menerima. Makanya ada istilah “economy”. Anak akan dijanjikan sesuatu apabila dia melakukan sesuatu. Dalam hal ini Roni diminta melakukan hal-hal yang sedarhana pada awalnya, namun teratur dan konsisten. Misalnya sepulang sekolah Roni ditugaskan menaruh baju kotor dan kaus kaki di keranjang baju kotor dekat mesin cuci di rumah.

Total ada 5 tugas di rumah dan 4 tugas di sekolah untuk diselesaikan dalam tiga bulan. Setiap kali Roni berhasil melaksanakan tugasnya, ia akan mendapat sebuah stiker. Stiker ini bisa ditempel di buku token atau papan token. Saya buatkan stiker dan buku token warna-warni dengan gambar tokoh idolanya waktu itu Bernard Bear, dan mainan favoritnya, gambar-gambar mobil Hot Wheel. Buku ini dibawa oleh anak, kalau di sekolah yang memberi stiker guru, di rumah bisa ayah atau ibunya.

Ketika memberikan buku, saya, Roni, bu guru, dan kedua orangtua sudah sama-sama sepakat. Setelah sebelumnya sekitar dua minggu pendekatan ke Roni, main bola tiap sore di depan rumahnya.

Stiker dalam jumlah tertentu bisa ditukarkan dengan berbagai aktivitas kesukaan Roni. Misalnya dalam seminggu terkumpul sepuluh stiker, bisa ditukar dengan jalan ke minimarket beli satu hal yang diinginkan, jalan-jalan lihat mobil dan kereta api, atau yang unik dari Roni, dia senang sekali bila diajak ke bengkel melihat mobil diperbaiki.

Sementara dalam sebulan bila terkumpul 40 stiker bisa ditukar berenang di water boom atau nonton balap motor trail. Alhamdulillah, dalam tiga bulan Roni sudah mulai terbiasa menaruh baju kotor, menghabiskan sarapan pagi, dan tiga tugas lain. Sementara di sekolah rentang perhatiannya menjadi sedikit lebih panjang, tidak lagi ketinggalan alat tulis, dan mau menyelesaikan tugas yang diberikan.

Setelah itu saya serahkan semua stiker yang pernah saya buat, dan beberapa buku token cadangan. Mulai saat itu orangtua dan guru sendiri yang menjalankan terapinya, dengan tugas-tugas yang sedikit lebih sulit dari sebelumnya. Sekali lagi inti dari terapi ini hanya satu, konsistensi. Konsistensi akan membangun kepercayaan diri anak dan menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya sulit dilakukan.

Bahkan saat saya pamitan di rumahnya untuk menyelesaikan program terapi, Roni langsung bilang ke ayahnya nanti kalau sudah besar ingin masuk Teknik Mesin, kalau tidak bisa ya STM jurusan mesin, lalu ingin punya bengkel sendiri, ingin punya showroom mobil. Bahkan anak lain seusianya mungkin masih banyak yang belum tahu mau jadi apa selain pilot kata saya.

Ayah, ibu dan putra tunggalnya ini pun tertawa lebar. Tidak lama kemudian saya pun pamit, sambil mereka antar saya mengeslah motor saya…jeglek..jeglek..jeglek, honda supra saya memang kadang suka ngambek.

Saya meringis diketawain Roni. Lalu Bruum…akhirnya hidup setelah 12 kali starter. Saya pun tos dengan Roni dan senyum-senyum sendiri dalam perjalanan pulang sambil bersyukur bisa membantu mereka. Bahagia itu sederhana…

Kebiasaan Salah Menuai Sekian Masalah

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas.com – 28/09/2017

Tulisan ini memuat sekian banyak pengamatan yang bisa jadi luput dari kacamata awam, tapi begitu menggelitik jika dilewatkan.

Salah satunya pemandangan yang semakin marak di meja makan restoran: bayi-bayi atau bocah di kursi tinggi di meja makan sambil disuapi matanya terpaku pada layar ponsel.

Cara membuat ‘anak duduk tanpa bertingkah’ di saat makan yang dianggap praktis dan pintar oleh orangtuanya (apalagi pengasuhnya), yang tanpa disadari akan menuai perkara di kemudian hari.

Anak tidak diajar menjadi tertib di meja makan dan menikmati makanannya, melainkan justru pengalihan fokus yang menjadi pilihan.

Suatu hari, jangan marah jika anak yang sama di usia remaja akan lebih asik berkutat dengan ponselnya, sementara keluarganya di sekeliling meja makan dianggap bukan siapa-siapa.

Lebih parah lagi jika anak itu suatu hari juga jadi orangtua, yang sibuk sendiri atas nama pekerjaan yang ‘harus diurus via telepon pintar’ ketimbang berinteraksi dengan keluarganya di meja makan.

Ini bukan masalah sopan santun lagi, melainkan hilangnya penghargaan atas eksistensi manusia di sekelilingnya.

Juga bukan perkara pengalihan perhatian semata, tetapi ketidakmampuan menunda ketagihan dan kelekatan pada media ciptaan manusia, daripada ketertarikan pada manusianya sendiri.

[Baca juga: Bagian Otak yang Hilang Itu Bernama Nurani]

Ponsel yang tiba-tiba terselip, raib atau hilang sinyal menjadi malapetaka besar bagi seorang remaja belakangan ini, ketimbang orang tuanya tak pulang rumah seharian.

Mengerikan sekali jika kita mulai berhitung, berapa jam anak-anak berinteraksi dengan gawai dibandingkan dengan sungguh-sungguh berbicara, berdialog dan menatap sesamanya menggunakan seluruh panca indera dan empati.

Norma, etika, sopan santun, atau istilah unggah-ungguh belakangan ini menjadi hal yang begitu dingin jika tidak mau disebut ‘tidak dipahami’ sama sekali.

Jangankan terhadap orang lain, berbuat sopan dan menjadi hormat, memberi penghargaan terhadap diri sendiri pun jarang saya jumpai pada manusia milenial ini.

Kebiasaan makan seadanya, seketemunya, atau malah berjingkrak kegirangan saat kecanduan lidah ditemukan – disadari atau tidak – merupakan penyiksaan terhadap tubuh yang kebutuhan esensinya justru diabaikan. Jangan kesal saat penyakit pun satu per satu bermunculan sebagai kumpulan masalah baru.

Terlambat makan, makan ngawur, kurang tidur, kerap dianggap ‘tambahan keluhan’ di praktik dokter, bukannya menjadi fokus perubahan yang utama.

Tak heran jika temuan diabetes di hari pertama pun oleh dokter langsung diberi obat, padahal prosedur operasional yang benar bukan begitu.

[Baca juga: Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih]

Lebih celaka lagi, masih ada dokter spesialis yang menertawakan kemampuan pasien mengubah gaya hidup. Cobalah jadi pasien diabetes di negri maju. Tak ayal negri kita dikenal royal obat-obatan di kala sakit.

Dan kondisi ini pastinya akan semakin parah dan masalah kian menggunung bilamana situasi sebelum sakit tidak pernah mendapat perhatian.

Kebiasaan salah bermula dari pola asuh masa kecil

Kebiasaan mencari jalan pintas, solusi seringkas-ringkasnya, jika masih malu menggunakan kata instan, membuat otak berpikir pendek dan jiwa kehilangan ‘grit’ – jika meminjam istiilah profesor muda yang sedang naik daun, Angela Lee Duckworth.

Keuletan dan kegigihan jiwa dalam segala aspek kehidupan pun bukan karunia, apalagi wangsit instan. Melainkan, hasil dari pola asuh keluarga yang masih menghargai komitmen serta keutamaan.

Bahwa uang itu bukan segalanya, walaupun uang itu penting. Sehingga, amat tidak masuk akal jika ada manusia menjual harga diri demi uang apalagi status.

Begitu pula uang hanyalah wahana, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, digunakan bukan untuk merendahkan harga diri lagi, tapi justru meningkatkan kualitas diri. Sehingga, dari kecil anak terbiasa menabung bukan untuk membeli makanan melainkan buku bermutu, misalnya.

Di hari tua, punya pulsa dan kuota berlebih pun tidak dipakai untuk menyebar berita sensasi (hanya supaya kelihatan kekinian, tidak telat informasi) padahal akhirnya menuai kontroversi.

Tanpa disadari, seseorang bisa punya andil dalam menciptakan kekisruhan, kebodohan dan keterbelakangan cara berpikir.

Bayangkan jika kuota berlebih itu dipakai untuk mengunduh buku elektronik atau berlangganan jurnal teranyar!

[Baca juga: Kesehatan Salah Kaprah, Adakah Rasa Bersalah?]

Kebiasaan salah yang kerap tidak disadari juga terjadi saat kita menelan mentah-mentah informasi tanpa berpikir lebih cermat apalagi menelusuri kebenaran fakta.

Hal yang juga tidak serta merta kita dapatkan sebagai kebijaksanaan, tetapi sekali lagi: pembiasaan sejak kecil untuk berpikir bukan hanya rasional tapi juga runut, terstruktur dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, kebiasaan melempar batu sembunyi tanganlah yang dijadikan pola – mulai dari kebiasaan mencari kambing hitam hingga mengangkat bahu menampilkan raut muka, ”Wah, ndak tahu ya…”

Terbiasa mengatakan “saya tidak tahu” di era milenial ini, suatu hari akan menuai badai. Harga yang harus dibayar akan sangat mahal. Mulai dari kecerobohan mengurus diri hingga korbannya orang lain.

Ungkapan “tidak tahu” secara implisit mengandaikan banyak hal, mulai dari orang tersebut tidak punya tanggung jawab hingga keberadaannya tidak bermakna sama sekali di dunia ini.

Sayang amat jika suatu perusahaan atau instansi pemerintah menggaji karyawan yang kerap menjawab “tidak tahu”.

Banyak orang besar di dunia ini mendapat titik balik dalam kehidupannya justru saat mereka menyadari kebiasaan-kebiasaan salahnya dan langsung berubah sebelum menuai masalah.

Seperti yang pernah diucapkan Albert Einstein, kegilaan itu adalah saat di mana ada orang mengharapkan hasil yang berbeda, tapi dalam hidupnya ia masih mengulangi cara-cara yang sama!