Indonesia Membutuhkan Revolusi Toilet

Oleh : Stevia Angesty, Co-founder Feelwell Ceramics (FWC)
Kompas, 19 November 2018

Buang air besar sembarangan bisa menghilangkan nyawa. Fakta membuktikan bahwa kebiasaan buang air besar sembarangan sudah mengakibatkan 150.000 anak di Indonesia meninggal setiap tahunnya. Lebih dari 84 juta masyarakat Indonesia tidak memiliki akses sanitasi yang layak.

Jumlah yang besar ini sama dengan 3,5 kali populasi Australia! Artinya, satu dari empat penduduk Indonesia tidak memiliki toilet.

Isu stunting saat ini menjadi topik yang dibicarakan di mana-mana, mulai dari pos pelayanan terpadu (posyandu) hingga ke berbagai instansi pemerintah.

Namun, sering kali kita menganggap bahwa masalah stunting adalah masalah nutrisi atau gizi, padahal 70 persen dari masalah stunting terjadi karena sanitasi yang buruk sehingga terjadilah parasitic infection dan diare. Sebanyak 31 persen kematian bayi usia 1-12 bulan terjadi karena diare yang disebabkan oleh kebiasaan buruk BABS.

Setiap hari ada 14.000 anak lahir di Indonesia dan lima ribunya memiliki potensi stunting. Stunting sudah menjadi isu utama di Indonesia, tetapi belum banyak yang berbicara mengenai toilet. Setelah seorang anak menderita stunting, anak tersebut tidak bisa sembuh dari stunting.

Stunting menghambat pertumbuhan fisik dan otak anak yang berdampak pada kondisi ekonomi dan sosialnya di kemudian hari. Pelajar yang menderita stunting memiliki IQ lebih rendah dan sulit mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik dibandingkan pelajar lainnya Mereka lebih mudah sakit.

Mereka banyak yang putus sekolah. Anak-anak ini mengalami stunting bukan semata-mata karena tidak mendapatkan gizi yang cukup, tetapi juga karena mereka sering mengalami diare berkelanjutan di 1.000 hari pertama kehidupannya.

Oleh karena itu, nutrisi yang ada tidak diserap oleh tubuh dan terkuras habis akibat diare. Otak mereka tidak berkembang dengan baik karena semua energi mereka habis terpakai untuk melawan penyakit-penyakit yang bisa dicegah.
Kesenjangan sosial rupanya sudah dimulai sejak bayi dalam kandungan.

Mayoritas ahli stunting berargumen bahwa meskipun nutrisi merupakan salah satu faktor penyebab stunting, intervensi paling efektif untuk mencegah stunting adalah dengan menyediakan sarana toilet bersih bagi masyarakat.

Fenomena BABS

Kita tak perlu pergi jauh dari pusat kota Jakarta yang dipenuhi gedung pencakar langit untuk melihat isu buang air besar sembarangan (BABS) ini. Naiklah kereta dari Stasiun Sudirman ke Bogor, kendarailah mobil melewati Kali Grogol, atau kunjungilah sebuah rumah susun di Jakarta Pusat, Anda akan melihat fenomena ini.

Di saat kita cuek dengan praktik BABS di lingkungan sekitar kita, kita secara tidak langsung juga ikutan cuek terhadap kesehatan keluarga kita. Karena kita hidup berdampingan, kotoran tetangga kita yang BABS akan mengalir melalui rumah kita.

Ketika teman-teman kita menganggap diare itu akibat dari masuk angin, secara tidak langsung kita membiarkan berlanjutnya praktik BABS. Diare diakibatkan oleh bakteri karena kurangnya sanitasi yang layak, bukan karena masuk angin.
Bayangkan berapa banyak uang yang sudah kita buang akibat “masuk angin” sejenis ini?

Sudah saatnya revolusi untuk membasmi BABS ini terjadi. Lebih dari 200 tahun yang lalu, Inggris mengalami wabah penyakit yang datang dari buruknya sanitasi, dan mereka mengatasinya hanya dengan revolusi toilet. Revolusi kita, perlu dilakukan dengan benar.

Daripada berusaha mendoktrin masyarakat Indonesia BAB di toilet “duduk” yang dianggap lebih modern, lebih baik kita fokus bekerja dalam membangun sistem penyaluran pembuangan yang baik, misalnya memastikan setiap toilet memiliki septic tank yang terpasang baik, dikuras secara periodik, dan tertutup (contained). Buang air besar (BAB) dengan gaya jongkok tidak kalah keren dengan gaya duduk, yang penting kotorannya tertampung dan tersalurkan dengan baik.

Kesadaran masyarakat

Presiden Joko Widodo secara terbuka berkomitmen untuk menyelamatkan dua juta anak dari stunting antara 2018 dan 2021 di “Aiming High”. Presiden sendiri menyatakan, “Menghilangkan stunting adalah prioritas utama bagi pemerintah kita. Pemerintah berkomitmen penuh untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini.” Salah satu cara termudah untuk membantu tercapainya tujuan ini adalah mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi yang diikuti dengan pembangunan sarana toilet yang baik.

Mengapa BABS tampaknya sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia? Mungkin karena kita melihat toilet sebagai sebuah bentuk kenyamanan, padahal kita seharusnya melihatnya dari segi kesehatan. Mayoritas dari kita memandang toilet sebagai hal yang sudah lazimnya ada.

Mayoritas dari kita juga pernah melihat orang-orang yang BAB di tepi sungai. Sayangnya, kita tidak melakukan apa-apa untuk mengubah hal tersebut. Kita diam saja. Dan akhirnya, masalah itu tidak hilang.

Jadi, bagaimana kita mengatasi masalah yang telah mendarah daging di dalam kehidupan masyarakat kita sehari-hari? Bisa jadi, salah satu cara terbaik untuk memulai diskusi adalah dengan berbicara tentang air minum. Lebih dari 50 persen air minum di Indonesia mengandung kotoran manusia.

Artinya, ketika kita menggosok gigi atau mencuci muka di pagi hari, kita sudah terancam dengan berbagai penyakit sanitasi. Lalu, bagaimana nasib masyarakat yang belum memiliki toilet, sedangkan di mana mereka mandi, mencuci baju, piring, dan sebagainya di sungai?

Masalah keterbatasan akses toilet di Indonesia berakibat langsung terhadap perekonomian negara ini. Indonesia kehilangan Rp 300 triliun per tahun hanya karena masalah ini. Tanggal 19 November merupakan Hari Toilet Sedunia. Sudah waktunya kita serius menangani masalah toilet di negara ini.

Bicarakanlah masalah sanitasi dan dampaknya terhadap lingkungan kita. Tegurlah teman yang tidak cuci tangan sebelum makan, dan ingatkanlah mereka yang sedang membangun rumah untuk memastikan adanya toilet yang sehat yang ber-septic tank.

.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s