Guru

Tidak semua guru mendidik dengan tulus dan segenap hatinya. Jadi, tidak perlu bersikap terlalu melankolis plus romantis dengan mengucapkan selamat hari guru dan terima kasih kepada SEMUA guru. Tidak semua orang yang berprofesi guru, memilih untuk menjadi guru. Sebagian orang, menjadi guru karena terpaksa, karena belum ada pilihan lain, belum kompeten untuk memasuki bidang lain, atau memang tidak kompeten di segala bidang. Entahlah. Karena itu, ada saja orang yang mengaku guru tetapi tidak ada contoh dan teladannya, sukar digugu apalagi ditiru. Sebagian bahkan memanfaatkan posisi dan jabatannya untuk mendapatkan keuntungan. Sebagian sibuk berkeluh kesah karena tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya.

Kepada guru yang seperti itu, kita tidak mengucapkan terima kasih, tetapi rasa berduka cita yang mendalam, karena dia (atau mereka?) menebarkan hal-hal buruk di lahan yang mulia (sekolah, tempat kursus, tempat les, atau tempat belajar lainnya). Atau bolehlah kita berterima kasih, karena mereka mengajarkan bahwa sikap, tutur, dan tindakannya tak patut kita tiru dan amalkan.

Namun, senantiasa ada guru yang sejati, guru yang mendidik dengan hati. Guru seperti itu mungkin ada di kejauhan, karena dia tidak peduli dengan hiruk pikuk keramaian retorika atau kata-kata manis sehari saja. Ada atau tidak ada ucapan terima kasih, dia tetap ada di koridor yang benar. Hatinya dan pikirannya dipenuhi hasrat untuk memberi dan berbagi. Dia kurang begitu peduli dengan orang-orang yang membawa bunga, kue, boneka, atau apapun benda yang akan musnah dalam sehari atau beberapa saat lagi.

Bagi guru yang seperti ini, hadiah yang abadi adalah perubahan batin, sikap hidup yang membaik, nilai-nilai luhur yang berhasil diadaptasi di dalam perjalanan hidup para murid. Murid yang menjadi buah pelayanan terbaiknya tidak perlu tampil dengan posisi atau jabatan tinggi, banyaknya nominal di rekening bank, atau senyum manis di media sosial yang belum tentu tampak di dunia nyata. Murid yang sukses dalam kesejatian adalah mereka yang berhasil melewati lembah air mata, berhasil melampaui badai hidup, yang tidak mudah menyerah di dalam pertarungan batinnya, dari hari ke hari.

Mau memberi ucapan terima kasih kepada guru? Tidak perlu di tanggal 25 November saja. Kapan pun bisa. Tidak perlu dengan benda, atau tutur kata belaka, apalagi yang sekadar basa basi. Cukup dengan ketangguhan dan ketegaranmu dalam menghadapi kehidupan, kesetiaan dan keteguhanmu dalam prinsip hidup, kejujuran dan kebaikan hatimu yang dapat disaksikan banyak orang. Hal-hal seperti itu sudah cukup membuat gurumu menghela nafas lega, bahkan ikhlas menutup mata di penghujung hayatnya.

25 November 2015

Henny Wirawan

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s