Komunikasi Pengasuhan – Karena Dua Lebih Banyak Daripada Satu

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #61

Mendengar aktif adalah cara orangtua memahami perasaan anak. Ketika orang tua mendengarkan sepenuh hati, dan tanpa penilaian, anak akan menangkap pesan bahwa diri anak itu penting bagi orangtuanya, bahwa perasaannya penting dan diterima.

Mendengar aktif paling diperlukan ketika anak sedang merasa penuh emosinya, baik emosi positif maupun emosi negatif. Anak perlu mengeluarkan dulu semua yang dia rasa, caranya dengan bercerita.

Setelah anak bercerita, hal pertama yang kita lakukan adalah validasi. Misalnya anak bercerita keluhannya tentang temannya yang usil, maka kita validasi dengan bertanya “Oh, jadi adek ga nyaman karena temannya usil ke Adek ?”.

Validasi ini penting, karena kita meng-crosscheck perasaan anak, apa tebakan kita tentang perasaannya benar atau salah. Dengan validasi, sebenarnya kita sedang memperkenalkan ke anak, bahwa emosi itu ada namanya, dan penting untuk anak mencari tahu sendiri, dia sekarang sedang merasakan emosi yang mana.

Setelah divalidasi, anak menjawab, dia akan lanjut bercerita. Dengarkan ceritanya, dan terus validasi. Misalnya Adek melanjutkan “Adek marah karena Adek ga suka diusilin !”. Kita validasi dengan bertanya “Ibu lihat Adek marah banget ya ? Kalau pake jari Ibu, 1 sampai 10, 1 kalau marahnya dikit, 10 kalau maraaaah banget. Nah Adek marahnya sampe segimana sih ?”. Anak berpikir lalu menjawab “mmm … delapaaaan !”.

Dengan cara ini, anak jadi tahu skala perasaan dia. Mengetahui sejauh mana perasaan sendiri, akan membantu anak mencari solusi menangani emosinya sendiri. Sangat marah dengan marah sedikit, tentu berbeda penanganannya.

Selain itu, dengan didengar secara aktif, anak akan merasakan komunikasi yang alami. Kenapa ? karena begitulah manusia diciptakan, diberi kapasitas mendengar dan mengolah perasaan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Untuk digunakan lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dengan mendengar aktif, orang tua menggunakan telinganya lebih sering daripada mulutnya ketika anak sedang berbicara perasaannya. Bayangkan betapa damainya perasaan anak, ketika seluruh emosinya tercurah dengan positif, ditanggapi dengan sepenuh hati dan tanpa penilaian. Anak yang terbiasa didengar akan tumbuh jadi anak yang peka dan bisa merasakan perasaan orang lain. Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa didengar dan dihargai, jadi dia tahu bagaimana caranya mendengar dan menghargai orang lain.

Tentu membahagiakan mendampingi tumbuh kembang anak yang bahagia dan percaya pada kita, orangtuanya. Gunakan dua telinga kita lebih sering daripada satu mulut kita, terutama ketika emosi anak sedang penuh. Dan bersiaplah untuk komunikasi yang menyenangkan 🙂

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s