Millenial : Apa dan Siapa ?

Jusman Syafii Djamal
11 Nov 2018

Kadang kita beda pendapat soal istilah millineal. Ada yang merujuk pada lifestye dan gaya hidup, ada yang mendasarkan diri pada usia atau tahun kelahiran. Yang puny pendapat millineal itu ifestyle kini mulai mencoba beradaptasi. Semua baju lama dibuang dan dandanan diubah ikuti zaman millineal.

Pertanyaannya apakah lifestyle model ganti baju ini akan meningkatkan daya produktivitas dan daya saing suatu Bangsa ? Apakah Era Digital , Millineal-ism itu akan hidup dalam fikiran atau hanya merembes seperti jamur ? Bersifat sementara ?

Oleh generasi millieal pakaian batik disebut sebagai pakaian kondangan. Hanya bagus jika digunakan di upacara pernikahan atau resmi. Karenanya jika diminta gunakan ke kantor gaya memakai batiknya juga berbeda. Tanpa kerapihan seperti yang dikehendaki pencipta batik.

Mereka lebih menyenangi gaya berpakaian ala Zuckenberg ownernya facebook atau Steve Jobs. Kaus dan blue jeans serta sepatu knickers. Hobby juga “offroad”, main bola, atau tennis dan gyms kemana mana dengerin musik melalui bluetooth dan smartphone tappa jeda.

Silaturahim tatap muka jadi “secondary”, kecuali “hangout” sambil duduk di cafe cafe. Urban style bercampur menjadi millideal life state.

Jika ini yang jadi trend terus tidak heran tahun 2020 Sarong, peci, tenun ikat,batik dan pakaian tradisional lain akan jadi penghuni musium.

Hal yang sama terjadi di Amerika. Banyak perbedaan definisi tentang millinieal dari para periset sosial. Akan tetapu Brooking Institute mencoba mendefinisikannya dengan usia agar mudah dianalisa berdasarkan angka statistik nya yakni :

The “millennial” label is applied to a generation with birth years of 1981 through 1997, which followed the “birth dearth” period of Generation X (born 1965-1980) , which was preceded by the baby boom generation (born 1946-1964).

Dengan definisi ini generasi millineal muda dibedakan. Meraka kini rata rata berusia dibawah 38 tahun. Di Amerika jumlahnya 75,3 juta. Sepuluh kali lipat jumlah penduduk Singapura. Negara Kota. Denna definisi itu kita menjadi lebih mudah mengintip kecendrungan generasi ini.

Generasi ini lebih “open minded”, terbuka terhadap perbedaan. Karenanya ia mampu menjadi jembatan dan fondasi kebhinekaan yang ada dalam sustu Bangsa. Ini yang ditemukan oleh periset di Brooking Institute.

Mereka juga memiliki “proficiency” atau kemampuan berbahasa Inggris yang kuat tetapi juga mudar belajar bahasa lainnya. Multilingual. Karenanya mereka seperti hidup menjadi “borderless Society”. Mereka tak lagi terkungkung oleh batas negara. Mereka mudah menjadi immigrant dan pencari kerja di negara lain.

Tetapi yang menarik generasi millineal ini ketika disurvey menunjukkan tanda sangat mencintai akar budayanya. Jadi pendapat yang menyatakan generasi ini tidak senang bidup didesa atau tijdak mau jadi petani dikampung sendiri tidak seluruhnya benar. Di indonesia saya fikir para ahli omu sosial perlu lakukan riset tentang ini agar policy maker tidak salah arah. Sebab ada paradox dalam persepsi yang muncul, yang mungkin berbeda dengan realitas yang ada dalam diri generasi ini. Dan ini tak mudah dijawab.

Generasi millineal sangat concern dengan lingkungan yang sehat dan bersih. Mereka mencoba menjauh dari dunia yang kumuh dan slump atau ghetto ghetto. Karenanya di Jepang , Korean Selatan dan Tiongkok aspirasi generasi ini didukung oleh program yang massif dan terstruktur untuk memunculkan Toilet dan wc umum yang bersih, sungai yang jernih bebas sampáh serta perawatan kesehatan serta “gym” tempat berolahraga yang menjamur. Sepak Bola, Golf, Tennis, Theather, Musik, programmer, software developer, startup company, menjadi Ladang mereka tumbuh berkembang. Maka muncul istilah ekonomi kreatip.

Yang menjadi akar dari generasi ini dan membentuk cara mereja memandang dunia adalah “cyber space”, digital technology. Mereka belajar segala hal dari google dan youtube. Googleism dan Youtube-ism jadi ideologi. , seolah semua hal bisa dipelajari disant. Generasi millineal memililiki keahlian untuk “searching” , surveillance dan data mining. Sayangnya ileum jurnalisme tentang 5 W tidak dikuasai oleh mayoritas. Karenanya mereka mudah percaya pada apa saja.Melalui Google dan Youtube generasi ini secara instant mampu jadi ahli trial and error atau kutak katik , atau Tinker dengan modal dua pertanyaan Apa dan Bagaimana dan tyda punga interest untuk melanjutkan pertanyaan ke arah hulu yakni Why, karenanya bakat Filsafati dan Thinker mereka perlu dikembangkan.

DI Indonesia sebetulnya kita tak membedakan perbedaan generasi melalui istilah millineal. Ahli Sejarah kita mengedepankan perbedaan lifestyle berdasarkan prosess transformasi yang terjadi melalui perjalanan dan kemajuan bangsa ini. Kita mengenal istila Generasi 45 Founding Father Generation. Kemudian Generasi Penerus Perjuangan angkatan 45. Dikenal istilah Angkatan 66 dan Angkatan 98. Baru kali ini ahli sejarah dan ahli politik kita terbawa trend di Amerika denken menyebut generasi muda tidak lagi pada spirit elan vital nya sebagai “agent transformation”, tetapi lebih menonjolkan istilah millineal sebagai pengubah gaya hidup. A life style phenomena.

Mohon Maaf jika Keliru. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s