Ayah Under Construction

Ario Muhammad
October 31, 2018

Sesaat setelah menyelesaikan tilawahku subuh tadi, DeLiang kembali dengan rutinitas belajar Quran bersamaku. Selama liburan waktunya disesuaikan dengan situasi. Biasanya, dia mengaji bersamaku setelah maghrib.

Bagi yang hidup di Indonesia, kemudahan akses madrasah dan TPQ di masjid-masjid dekat rumah memang sangat memudahkan untuk mengajari anak belajar Quran. Namun bagi kami di sini, sempitnya waktu & kesibukan kami yang sama-sama berkejaran dengan urusan kampus, mengharuskan kami mendidik DeLiang secara mandiri.

Di usianya yg sdh 6 tahun mngkn “terlambat” bagi ukuran anak-anak Indonesia yg sudah lancar membaca Quran. Namun, bagi kami, melihat DeLiang berhasil mengeja huruf demi huruf di Juz 1 setelah menamatkan Juz 30 adalah prestasi tersendiri. Kami mulai mengajarinya dari titik 0 hampir 2 tahun lalu hingga sekarang dia bisa membacanya.

Namun masalahnya bukan di DeLiang, dia bahkan tidak pernah sekalipun menolak saat kami mengajaknya belajar. Masalahnya ada PADAKU yang amat SANGAT TIDAK SABAR.

Pengalamanku yg tumbuh di tanah Maluku dengan pendidikan keras rupanya memberikan pengaruh trsendiri. Kami biasa dulu dipukul tangan atau kakinya dengan rotan saat belajar berkali-kali namun salah.

Kesabarankupun begitu. HABIS saat melihat DeLiang yg kesulitan mengingat hukum-hukum tajwid tertentu atau tertukar membaca BA dengan NUN.

Maka suara meninggi adalah jawabannya. Teriakanku kadang membuatnya sedih karena gagal. Dia terluka, akupun begitu. Kenyataan ini diperparah dengan pengalaman diriku yang begitu cepat belajar mengaji. Usia 5 tahun sudah khatam Quran besar. Ada perasaan tak rela anakku begitu lama meskipun tak pernah sedikitpun keluar dari bibirku.

Aku menyadari, menjadi Ayah dengan latar belakang keras sepertiku ternyata membutuhkan waktu untuk BELAJAR TENTANG KESABARAN. Belajar untuk mengontrol suara yg meninggi yang sudah menjadi adat kebiasaan kami orang Maluku.

Namun aku tak bisa belajar tentang SABAR jika tak terjun langsung mendidik DeLiang. Solusi terbaik setelah meningginya suara adalah dengan MEMELUK HANGAT, MEMINTA MAAF, & TERTAWA RIANG bersamanya kembali. Ini aku lakukan sambil membisikinya bahwa tdk ada niat untk melukai perasaannya. Aku ingin memastikan dia tak mnympn marah kepadaku.

Beginilah nasib AYAH UNDER CONSTRUCTION. Kamipun menggunung salahnya. Namun di saat yg bersamaan, kami tidak terlahir langsung menjadi seorang ayah yang benar.

Semoga turun langsung mendidik DeLiang, mengjrknnya Quran, Tauhid hingga Shalat mnjadikanku untuk lebih BERSABAR. Bersabar untuk mendidik dan membesarkannya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s