Mapping Your Tallent

By : Igo Chaniago

Di sebuah koran nasional, ada sebuah artikel tentang penelitian yang mengejutkan, 87% Mahasiswa Indonesia Salah Jurusan! Demikian artikel yang ditulis oleh Rachmad Faisal.

Peter Drucker, seorang konsultan mengatakan : Banyak orang orang tidak tahu kekuatannya. Kalau ditanya, mereka akan melihat anda dengan pandangan kosong, atau mereka menjawab terkait pengetahuan, yang tentu saja merupakan jawaban yang salah.

Saya kira fakta ini memang benar, karena saya juga salah satu korban sistem pendidikan kita.

Ketika SD sampai SMA alhamdulillah ketrima di sekolah negeri, bahkan beberapa kali dapat rangking satu. Tapi setelah itu nasib petualangan pendidikan saya berantakan, pertama kuliah di UGM ambil jurusan komputer, karena itu zamannya yahoo lagi booming dan pengan belajar bahasa pemograman, ternyata pas kuliah pusing bukan kepalang, ga ngerti ngerti belajar java sciprt sampai puyeng dan tepar. Karena sering sakit dan ga masuk kuliah, orang tua menyarankan supaya saya mengikuti jejak sang kakak pertama yang telah sukses menjadi polisi. Alhamdulillah ternyata ga ketrima, karena ga lulus syarat administrasi karena waktu itu saya dibuatkan KTP palsu sebaga warga DKI pendatang yang . Mau nyogok ga bisa, kata kakak saya kapoldanya baru ganti dan sulit disogok. Tapi saya bersyukur sekarang ga ketrima jadi polisi, karena dari lubuk hati saya yang paling terdalam memang ga pengen jadi polisi.

Lalu lanjut lagi kuliah di UI, bukan Universitas Indonesia, Tapi Universitas Islam di pondok As’syafiiyah. Salah satu pondok terkenal di Bekasi yang melahirkan sosok KH. Rahmat Abdullah. Universitas ini milik Tuty Alawiyah, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era reformasi waktu itu. Bingung menentukan jurusan, akhirnya saya putuskan ngambil Jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi saat itu, karena yang terpikirkan saat itu saya ingin menjadi seperti kakak saya kedua yang saat itu kerja di bank asing yang sampai sekarang menjadi sponsor utama liverpool di Inggris. Bayangan saya waktu itu keren kalau kerja kayak kakak saya, gaji gede dan ngantor di gedung tinggi yang entah berapa puluh lantai di bilangan Sudirman yang bonafit. Ternyata cuma sampai semester tiga, patah lagi semangat saya. Karena di semester pertama, mahasiswa di kelas ada sekitar 40an orang. Semester kedua berkurang separuh jadi 20an. Dan semester ketiga tinggal 7 orang. Sebabnya waktu itu sang menteri sudah lengser, mungkin karena tidak ada dana, akhirnya tidak lagi mensubsidi mahasiswa yang kebanyakan dari Sumatra dan mereka terpaksa pulang ke kampung halamannya. Kuliah sekelas cuma 7 orang bikin ga semangat, kelas yang awalnya ramai jadi sepi. Dan ternyata nilai akuntansi saya tidak memuaskan, karena membuat laporan keuangan sering tidak teliti.

Akhirnya saya pindah kuliah lagi, ga jauh jauh pindah kuliahnya. Loncat ke kampus sebelah, nama kampusnya BSI (Bina Sarana Informatika) yang di tivi tivi iklannya pakai presiden Obama palsu yang tagline iklannya : Kuliah, di BSI aja. Di kampus yang baru, saya ngambil jurusan Bahasa Inggris. Alasannya sederhana, karena waktu di SMA Negeri 2 Malang, saya pernah menjadi Ketua English Study Club selama 2 tahun. Karena dekat dengan sang guru pembina eksul yang notabene beliau juga guru bahasa inggris yang dikenal killer. Entah karena nepotisme atau memang saya pinter bahasa inggris, nilai rapot bahasa inggris saya selalu bagus. Tapi sayangnya kuliah cuma 2 semester, saya DO dari kampus. Gegaranya saya debat dosen agama karena beliau memarahi sahabat sebangku saya di kelas karena memperdabatkan sebuah hadist hingga ketika debat beliau kalah argumentasi dan nangis lalu saya diusir dari kelas. Cerita ini cepat menyebar di seluruh kampus, dan ternyata ga cuma saya yang jadi korban, sang dosen yang juga tetangga saya di kompleks AU ini ternyata banyak juga mahasiswa yang tidak suka dengannya. Hingga saya yang waktu menjabat sebagai ketua LDK (Lembaga Dakwah Kampus) berkolaborasi dengan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) untuk melakukan makar dan demo supaya sang dosen dipecat. Ternyata pihak rektorat malah ngebelain sang dosen, saya dikasih nilai E untuk mata kuliah agama saya hingga saya DO. Bahkan di medio juli 2019 kemarin, saya dapat kabar dari alumni kalau rektorat juga membekukan LDK yang pernah saya pimpin dengan alasan terlibat dengan politik praktis. Karena memang LDK saya kebanyakan di isi oleh aktivitis dakwah dari partai yang berlambang padi dan bulan sabit.

Setelah itu saya sudah letih mau kuliah lagi hingga di sebuah kelompok pengajian, saya mak benduduk dipertemukan Allah dengan dokter bujang tua yang kebanyakan uang tapi bingung uangnya mau dikemanain dan setelah beberapa kali ngopi tifis tifis, akhirnya beliau mau memodali saya untuk membuat bisnis bimbingan belajar untuk meniru bimbel primagama yang saat itu sedang booming dan cabangnya dimana mana tapi kini banyak yang tutup dan pemiliknya sempat kena kasus hukum karena hutang piutang dan akibat dosa riba. Sejak saat itu saya gonta ganti bisnis hingga sekarang ini terjerumus di bisnis property.

Nah… itu intro dari kisah petualangan pendidikan saya. Fiuah… Intronya panjang juga yah. Hee 😅

Kembali lagi ke masalah tallent mapping, saya mengenal isitlah pemetaan bakat ini ketika 3 komunitas parenting home schooling di Malang saya kolaborasikan untuk mengundang founder dari temubakat. Namanya Abah Rama. Beliau bertahun tahun menjadi direktur di beberapa perusahaan nasional dengan gaji ratusan juta per bulan, tapi di usianya yang ke 53 beliau merasa lelah dan stress dengan pekerjaannya hingga setelah masuk ke “goa keajaiban” akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dan memulai pekerjaannya yang baru sebagai pengajar yang sesuai pasionnya.

Penelitian mengatakan bahwa :

95% ORANG DIDUNIA MERASA BAKAT ITU NGGAK PENTING

Bahkan ada sebuah peribahasa mengatakan :

Kesuksesan itu 99% ditentukan oleh kerja keras, bakat hanya berperan sebesar 1%.

Coba kita pikirkan, lebih penting mana antara bakat atau kerja keras?

Jika kita buat diagram kesuksesan, ada 4 rumus :

Tipe pertama : orang yang kesasar dan tidak tahu jalannya

Tipe kedua : orang yang tahu tujuannya tapi lambat jalannya

TIpe ketiga : orang yang cepat jalannya, tapi tahu tujuannya

Tipe ke’empat : orang yang tahu jalannya, dan jalannya cepat

Dari empat type diatas, maka pasti orang yang cepat jalannya dan tahu jalannya akan lebih mudah untuk sukses.

Allah berfirman dalam quran surat Al isra ayat 84 :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلا

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut syakilah-nya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya

Ketika Allah menciptakan makhluk, pasti Allah sudah tahu untuk tujuan apa mahkluk tersebut diciptakan. Sebagaimana manusia membuat suatu barang, pasti ada tujuannya. Misalkan ketika manusia membuat bis, maka tujuannya adalah untuk mengangkut orang dari satu tempat ke tempat lain lewat jalur darat. Tapi ketika bis ini digunakan bukan tujuannya, misalkan untuk mengangkut kambing lewat jalur laut pasti akan cepat rusak dan langsung tenggelam.

Maka kesimpulannya, apabila suatu produk digunakan tidak sesuai dengan maksud & tujuan pembuatnya maka akibatnya produk tersebut pasti akan tidak akan berfungsi maksimal, bahkan cepat rusak. Dan si pembuat produk, pasti tidak akan suka apabila produk ciptaannya digunakan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan.

Sehingga dari analogi di atas, silahkan anda menjawab 3 pertanyaan ini :

1. APAKAH KITA TAHU MAKSUD DAN TUJUAN KITA MASING-MASING DICIPTAKAN ?

2. APAKAH KITA TAHU TUGAS KITA MASING MASING YANG DIBERIKAN OLEH PENCIPTA KITA?

3. APAKAH MUNGKIN SELAMA INI KITA MELAKUKAN TUGAS YANG TIDAK SESUAI DENGAN MAKSUD TUJUAN DIATAS?

Maka sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana cara mengetahui apa yang pencipta kita inginkan?

Jawabannnya adalah dengan memetakan potensi unik apa dalam diri kita yang pencipta kita inginkan. Kenapa unik?

Karena dari jutaan manusia di bumi ini setiap orang adalah limited edition, bahkan orang yang kembar sekalipun pasti juga keunikan masing masing yang membuatnya berbeda. Potensi unik inilah yang kita sebut dengan bakat.

Memahami bakat ini untuk memilih jurusan, memilih karir yang sesuai “panggilan hidup”, memahami orang lain, membangun tim, dan juga menjadi pemimpin baik itu dalam skala kecil maupun skala besar. Ibarat kita mempunyai pisau. Maka jika kita sudah mengetahu bakat kita atau anak anak kita di usia aqil baligh, maka kita cukup mengasah sisi pisau yang tajam, maksudnya mendalami bakat yang sudah gifted dalam diri kita. Sehingga kita menjadi expert dalam satu bidang, bukan tahu banyak hal karena kita dijejali oleh banyak mata pelajaran tapi kita menjadi nothing. Akan sangat melelahkan jika kita mengasah sisi pisau yang tumpul dan akan membuang buang waktu sedangkan waktu kita terbatas.

Maka, 3 pertanyaan terakhir dari saya :

1. “APAKAH ANDA SUDAH MENGETAHUI FITUR UNIK DALAM BAKAT ANDA?

2. “SUDAHKAN ANDA BEKERJA SESUAI DENGAN PASION ANDA?”

3. “NYAMANKAH ANDA MELAKUKAN AKTIVITAS PEKERJAAN ANDA”

Jika jawabannya tidak, maka sudah saatnya saat ini anda untuk MAPPING YOUR TALENT!!! 😊
#fatherhood forum
#home education
#HEbAT community

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s