Komunikasi Pengasuhan – Begini Caranya Bicara Perasaan

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #57

Anak baru saja pulang dari rumah teman, membuka pintu dengan kasar, menutupnya dengan keras, berjalan dengan langkah lebar dan cepat, mukanya tegang dan merah, matanya melotot dan basah, bibir tajam, tangan mengepal. Langsung masuk kamar, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya.

Ibu bingung melihat anaknya seperti itu. Lalu bertanya, setengah teriak sambil mengejar anak “Kamu kenapa Dek ? Cerita dong, kalau kamu diem aja kan Mama ga ngerti !”. Anak tetap diam, masuk kamar, membanting pintu.

Kejadian yang umum bukan ? apakah komunikasinya berhasil ? Tidak.

Apa yang membuat komunikasi menjadi dead lock di kejadian tadi ? Ya, karena ibu mengabaikan bahasa tubuh anak. Saat anak datang dengan bahasa tubuh yang sangat jelas, maka kita bisa melihat bahwa emosi anak sedang sangat penuh. Yang dia butuhkan adalah ruang untuk menumpahkannya. Pikirannya kalut dan sulit mengurai perasaan sendiri, sehingga dia kesulitan untuk memberi respon yang normal.

Respon paling bijak yang bisa Ibu lakukan pertama kali adalah membiarkannya dulu. Tunggu emosinya turun dulu, sampai terlihat dia siap bercerita.

Setelah tiba saat yang tepat untuk memulai bicara, Ibu bisa mulai dengan tawaran pada anak, dengan nada tenang dan penuh kasih sayang “Adek kenapa ? Mau cerita sekarang ?”. Kalau anak menolak, Ibu bisa memberi tanggapan yang membantu anak mengenali perasaannya : “Masih marah banget ya Dek ? Baiklah, Adek bisa cerita ke Ibu nanti, kalau Adek sudah tenang”.

Bantu anak memahami, bahwa menunda bicara, adalah karena Ibu paham anak masih sangat marah, bukan karena Ibu kalah dan putus asa terhadap situasi ini. Sekaligus memberi pesan, bahwa bicara akan dimulai kalau sudah tenang. Pengendalian emosi menjadi penting sebelum memulai bercerita, karena komunikasi yang efektif, hanya bisa dilakukan dalam kondisi tenang.

Ketika anak sudah lebih tenang, bisa jadi anak masih keberatan bicara. Disini, ibu bisa memantulkan perasaan ibu sendiri, sekali lagi dengan tetap tenang. Misalnya : “Ibu merasa bingung karena Adek ga mau cerita apa yang membuat Adek marah”. Pastikan bahasa tubuh kita juga nyambung, yaitu bahasa tubuh bingung. Ingat bahwa respon seperti marah atau balik kesal ke anak, tidak akan ada gunanya, karena hanya akan mematikan momen peluang berkomunikasi.

Dalam komunikasi untuk menyelesaikan masalah, sangat penting untuk membahas dengan tenang dan memantulkan perasaan juga dengan nada bicara tenang.

Jika komunikasi sudah dimulai, Ibu bisa melanjutkan dengan mendengar aktif. Dan di akhir komunikasi, Ibu memberi apresiasi atas kesediaan anak bercerita, sekali lagi juga dengan cara memantulkan perasaan Ibu. Misalnya : “Ibu merasa lega karena Adek mau cerita semuanya ke Ibu. Terimakasih ya Dek :)”

Bayangkan betapa damainya dan kuatnya relasi yang akan terbentuk antara kita dengan anak kita, jika komunikasi kita dijaga sedemikian efektif dan penuh perasaan. Anak akan tumbuh bahagia dan matang karena perasaannya dipahami. Orang tua juga akan mendapatkan kepuasan batin yang berlimpah karena terhubung kuat dengan anaknya. Selamat memulai komunikasi yang menyenangkan 🙂

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s