Ayahku Idolaku

Igo Chaniago

Kamis, 16 Agustus 2018 kemarin komunitas HEbAT chapter Malang, menyelenggarakan kajian parenting di Masjid Peradaban Asyafa’at dengan mengundang Ustadz Adriano Rusfi, psikolog dari UI dan konsultan pendidikan di sekolah Al Hikmah, sekolah percontohan terbaik di Surabaya.

Kami mengadakan kelas lukmanul hakim, sebuah kajian parenting khusus untuk para ayah. Alhamdulillah cukup banyak peserta yang hadir, meskipun acara kami adakan di hari kerja dan banyak para ayah yang bolos kerja karena ingin mengikuti acara ini. Sebenarnya kami ingin mengadakan di hari libur, namun hari sabtu atau ahad jadwal Ustad Adriano sudah penuh untuk berbagi ilmunya keliling indonesia sehingga hanya bisa mengisi acara di hari kerja.

Mengapa kami mengadakan kajian parenting untuk para ayah?

Karena bu Elly Risman, pakar pendidikan ini mengatakan bahwa Indonesia ini adalah fatherless country, negeri tanpa ayah. Dimana para ayah sudah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor, sibuk mengurus bisnisnya, atau bahkan ironisnya sibuk berdakwah sehingga tak punya kepedulian dalam mendidik anak. Para ayah berdalih dengan mengatakan bahwa tugasnya sebagai kepala rumah tangga adalah mencari nafkah untuk keluarga. Urusan mendidik anak itu tanggung jawab istri.

Benarkah tugas utama Ayah adalah mencari nafkah?

Ketika kita buka petunjuk hidup kita, yaitu kitabullah. Ternyata disana tidak ditemukan kisah kisah para ibu yang mendidik anaknya. Justru yang ditemukan adalah kisah kisah tentang Nabi Ibrahim yang mendidik anaknya, kisah Ali Imron mendidik anaknya, dan juga kisah seseorang yang bukan Nabi dan juga bukan pula Rasul tapi Allah abadikan kisahnya dalam mendidik anaknya, yaitu Lukmanul Hakim.

Di dalam Al Quran, yang ada adalah surat Annisa (wanita), tidak ada surat Ar Rijal (lelaki). Namun dalam surat Annisa dikatakan bahwa “Ar rijalu qowam ala nissa”, Lelaki adalah pemimpin kaum wanita. Jadi tugas utama seorang laki laki adalah memimpin. Maka jika laki laki harus memimpin keluarganya, dia harus bertanggung jawab dalam skala kecil mendidik istrinya, mendidik anaknya dan di dalam skala besar menjadi pemimpin dalam mendidik umat, karena berdakwah itu kewajiban seorang muslim.

Jadi mencari nafkah itu bukan kewajiban utama. Ketika Rasulullah menyampaikan ayat yang turun tentang perempuan dan anak anak, Rasulullah tidak menyampaikan langsung kepada mereka, tapi Rasulullah menyampaikan kepada para ayah, dan menyuruh para ayah ini menyampaikan kepada keluarganya.

Jika kita teliti membaca doa kebaikan untuk orang tua yang diajarkan Rasulullah yang redaksi doanya berbunyi :

Allahummaghfirli… waliwalidayya… warhamhumma… kamma robbayani… shoghiro…

Yang artinya : Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka, seperti mereka menyanyangi aku di waktu kecil

Doa ini adalah doa bersyarat, dikatakan dalam doa tersebut bahwa anak kita meminta kepada Allah agar dosa orang tua mereka diampuni dan Allah menyayangi orang tua mereka, dengan syarat “SEPERTI MEREKA MENYAYANGI AKU DI WAKTU KECIL”.

Para ulama menafsirkan kata “robbayani” ini dengan istilah selain menyayang adalah mendidik. Maka jika para ayah tidak mau ikut berperan dalam mendidik anaknya dan semua tanggung jawab pendidikan anak diserahkan kepada ibu, maka para ayah jangan berharap mendapat doa dari anak kita ketika kelak mereka dewasa dan kita sudah tua renta atau di alam kubur nanti.

Ketika sang ayah lepas tangan dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada ibu, maka akan terjadi beberapa hal, yang pertama adalah munculnya remaja galau.

Istilah remaja baru dikenal di zaman revolusi industri eropa, dimana waktu itu adalah puncak kejayaan ekonomi di eropa, sehingga industri butuh banyak para pekerja, dan para orang tua sibuk dengan pekerjaannya di pabrik, dan akhirnya dibuatlah sebuah tempat penitipan anak yang bernama “schole”, yang artinya waktu luang. Zaman dahulu sekolah hanya tempat penitipan anak untuk mengisi waktu luang mereka selama orang tua mereka bekerja, tapi seiring berkembangnya zaman sekarang ini sekolah bukan lagi menjadi tempat mengisi waktu luang anak anak, tapi malah menjadi kesibukan yang membuat pusing anak anak, dijejali dengan berbagai kurikulum yang belum tentu sesuai dengan minat dan bakat mereka, bahkan di era millenia ini banyak sekolah yang membuat program full day school, yang makin membuat anak strees dan kehilangan waktu luang mereka.

Dalam psikologi pendidikan ada istilah pedagogi, dimana ada perlambatan kedewasaan sehingga rentang antara anak baligh dan aqil semakin besar. Dalam undang undang pendidikan nasional tahun 1951, dikatakan bahwa anak usia 15 tahun sudah dianggap dewasa. Namun, belakangan ini banyak anak anak kita yang sudah baligh tapi belum aqil. Padahal aqil dan baligh ini seharusnya tumbuh bersamaan.

Baligh artinya sudah mampu menghamili, aqil artinya sudah mempunyai kematangan berpikir. Di zaman tahun 80-90an, anak anak perempuan rata rata baru baligh ketika usia 13-15 tahun. Tapi di zaman ini, anak perempuan usia 8-9 tahun sudah baligh.Seperti yang diberitakan di media massa, ada anak perempuan usia 9 tahun di Karawang sudah hamil, dan yang menghamilinya adalah temannya di SD yang sama, dan mirisnya si laki laki yang sudah baligh mampu menghamili ini baru berusia 10 tahun. Naudzubillah…

Dan sebaliknya, ada dosen di ITB mengatakan bahwa ada mahasiswanya yang S3 disebutnya belum aqil. Karena si dosen ini masih menegur si mahasiswa ini untuk membuat disertasi, mengingatkan ini baru BAB berapa, bangun tidur masih ditelephone mamanya, padahal ini mahasiswa S3 lho, bikin disertasi, bukan skripsi atau tesis. Bahkan ada mahasiswanya yang S2, ketika sidang masih didampingi orang tuanya, ketika sidang ga lulus, dosen pengujinya dimarahi, kenapa anak saya tidak diluluskan. (#tepok jidat)

Jika di usia 8-9 tahun anak anak sudah baligh, tapi sampai usia 24-25 tahun anak belum juga aqil. Maka ada rentang sekitar 15-17 tahun anak ini akan menjadi remaja galau. Dan BKKBN telah melakukan riset bahwa di tahun 2037 nanti, indonesia akan mendapat bonus demografi dengan pelonjakan anak anak usia ini, jika makin banyak remaja yang galau ini bertumbuh pesat, dan kita tidak segera sadar untuk membuat solusinya, maka ini bukan bonus demografi, tapi dissaster demografic.

Jika ini terjadi, kenalakan remaja akan semakin liar, narkoba semakin marak, bahkan yang membuat merinding, angka free sex akan meningkat cepat, sampai sampai di akhir zaman nanti disebutkan dalam hadits bahwa banyak orang yang melakukan zina di tempat umum tanpa malu dan orang di sekitarnya tidak peduli.

Itulah mengapa dalam pendidikan seksualitas berbasis fitrah, Allah sudah menginstall bahwa anak anak lelaki yang sudah dewasa harus didekatkan pada ibunya, dan anak anak perempuan dewasa harus didekatkan pada ayahnya. Karena ada porsi maskulin dan feminin yang harus seimbang. Dan ini hanya bisa didapatkan jika ayah dan ibu berperan, tidak bisa pendidikan anak seluruhnya menjadi tanggung jawab ibu.

Anak lelaki dewasa didekatkan ke ibu. Agar sisi maskulinitasnya bisa dibasuh dengan femininitas sekitar 25%. Karena seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus ia harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya, menjadi tempat berkasih sayang sekaligus tempat curhat baginya. Agar ia tak mencari sosok perempuan lain diluar rumahnya.

Dan sebaliknya, anak perempuan didekatkan ke ayah agar ia tersentuh sisi maskulinitas sekitar 25%. Agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, bisa tegar dalam mengelola perasaan, mempertahankan kepemilikannya, dan disaat yang sama ia harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya. Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar akan denan mudah menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

Di samping itu, jika tidak ada sosok ayah yang berperan, maka inilah yang menjadi sumber LGBT. Dan para predator LGBT ini semakin hari makin bertambah jumlahnya. Di negara negara barat, LGBT sudah dilegalkan. Maka di negara demokrasi yang berprinsip suara paling banyak dialah yang menang, para LGBT akan terus mencari korban selanjutnya hingga jumlah mereka bertambah besar, beberapa sudah menyusup di parlemen dan berusaha melegalkannya melalui undang undang di Indonesia.

Sadarlah para ayah sebelum semua ini terjadi…

Di atas tadi baru salah satu dampak jika para ayah tidak mau terlibat dalam mendidik anaknya. Masih banyak dampak dampak lain dan bagaimana seharusnya menjadi ayah idola yang insya Allah akan saya tulis di episode serial fatherhood selanjutnya. Semoga bermanfaat…
#fatherhood forum
#HEbAT community
#home education

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s