Wahai ”Avengers”, Bersatulah!

Oleh : Radhar Panca Dahana, Budayawan
Kompas, 6 Oktober 2018

Baiklah kita kini bermain dengan imajinasi. Bahkan, politik pun perlu imajinasi hingga di tingkat yang muskil, mokal-mokal, bahkan mungkin yang pop-hollywoodean atau keremajaan. Bukankah sejarah politik—dari aksi-aksinya, para tokoh utamanya, teori-teori yang dihasilkan—sesungguhnya menggambarkan permainan imajinasi semacam itu?

Hal yang tentu saja terlalu menarik diperhatikan: bahkan Presiden RI di forum internasional bergengsi, World Economic Forum (WEF) on ASEAN di Hanoi, Vietnam, beberapa waktu lalu, bermain dengan imajinasi nakal dan keremajaan. Ia membandingkan dirinya sebagai (bagian dari) “Avengers” yang melawan Thanos dari sekuel Avengers: Infinity War, film Hollywood produksi Marvel Cinematic Universe. Tanpa ragu, bahkan nada bercanda, sang Presiden menguraikan imajinasi poleksosbudnya itu di hadapan banyak pemimpin dunia yang hadir. Langka dan keren!

Namun, penjelasan imajinasi politik- ekonomi dari sang Presiden berkait dengan realitas dan konstelasi dunia mutakhir tidak sekeren itu: normatif belaka. Akan jauh lebih keren jika penjelasan itu diberi landasan religius/spiritual sebagaimana identitas atau jati diri utama bangsa Indonesia: bahwa, misalnya, keajaiban manusia yang padat ketakterdugaan karena tidak lain ia adalah insan atau makhluk yang “mewarisi” keajaiban penciptanya. “Avengers” pun dibumikan dari kenyataan fiksionalnya.

Namun, yang lebih keren dari itu adalah jika kita mau memahami sedikit lebih dalam misi dan pesan dari film yang berasal dari komik-komik Marvel itu. Misalnya, siapakah sesungguhnya Thanos, sang antagonis itu? Dari mana asalnya, apa kemampuan sebenarnya, kedalaman jiwa hingga tujuan hidupnya, atau kenapa ia memiliki nama itu? Tokoh atau karakter yang diciptakan oleh salah satu seniman/ penulis utama Marvel, Jim Starlin, itu dilahirkan saat ia muncul dalam komik The Invincible Iron Man #55 pada 1973.

Sejak 2012, Thanos muncul dalam seri film Avengers ataupun Guardians (of Galaxy). Dalam penampilan mutakhirnya di Infinity War, dia jadi antagonis utama yang karena cintanya pada Ibu Kematian membasmi habis bangsanya sendiri di Planet Titan, tempat ia lahir. Sejak itu, ia bernafsu jadi makhluk yang “mahakuasa” dengan cara mengumpulkan satu per satu, dengan segala pengorbanan, enam batu abadi, yang dapat memberi kekuatan mahadahsyat: menghancurkan setengah kehidupan di semesta dengan satu jentikan jari saja.

Buat apa ia memiliki ambisi menjadi “tuhan” itu? Karena, baginya semesta sesungguhnya sudah tak memiliki sumber daya cukup untuk menghidupi makhluk hidup yang ada. Jalan keluar: setengah kehidupan harus dihancurkan agar sisanya bisa survive. “Harus ada penderitaan sebelum kebahagiaan didapatkan”. Inilah inti moral dari kejahatan Thanos yang kemudian seolah jadi “kebaikan” berbasis pada moralitas purba di banyak adat atau bangsa dunia.

Moralitas yang dipelintir semacam ini muncul sebagai bagian dari temuan/pidato ilmiah di film saga lainnya, Mission Impossible: Fallout, dari seorang ilmuwan nuklir Skandinavia yang ateis dan setengah gila, Dr Nils Debruuk. Nuklir yang dirancangnya sekurangnya akan memakan korban sepertiga penduduk dunia di segitiga Kashmir, Pakistan, dan India agar kehidupan di Planet Bumi dapat tetap terjaga. “Demi kedamaian di bumi, perlu dirasakan kesengsaraan lebih dulu”.

Bukan kebetulan, apabila dua antagonis dalam dua film Hollywood itu memiliki “moral pelintiran” yang kongruen. Kita bisa mendapatkannya juga dalam semua genre hiburan visual-pop, mulai dari komik, cergam anak-anak, film animasi, action, horor, dan sebagainya. Moralitas yang berangkat dari logika kenyataan dunia saat ini, di mana 8 miliar penduduk bumi sudah tidak mampu lagi ditopang keberlangsungan hidupnya oleh sumber daya bumi yang ada. Bagaimana di masa depan, ketika penduduk dunia berlipat dua hanya dalam jangka satu dekade saja? Harus ada yang dikorbankan agar yang tersisa bisa melanjutkan hidupnya.

Apabila sumber daya alam di bumi ini dalam hitungan beberapa ahli hanya mampu menanggung secara ideal 3 miliar manusia di atasnya, maksimal 5 miliar, lalu berapa yang harus dikorbankan? Debruuk dan Thanos punya hitungan sama: separuhnya! Inilah “perang tak berkesudahan” yang sebenarnya: ancaman “Thanos” di kehidupan nyata, entah ia berupa negara, kekuatan berbasis nuklir, atau finansial yang gigantik. Mereka yang merasa kuasa dan merasa lebih berhak untuk menguasai bumi ketimbang mereka mayoritas yang minor dalam segala kapasitas dibandingkan mereka: sang Thanos.

Perlu diketahui, kata Thanos berasal dari bahasa Yunani, Athanasios, yang artinya “abadi”. Titan, planet satelit dari Saturnus, tempat ia berasal, juga bermakna “dia yang menguasai segala”, ras dewa. Bukan hanya metaforik, ia juga menjadi representasi dari segolongan manusia di bumi ini yang merasa dirinya di atas semua ras/bangsa, “menguasai segala” dan (kepentingan) dirinya (harus) abadi.

“Infinity war” dunia nyata

Maka, bila imajinasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam WEF on ASEAN di atas dikembangkan berbasis seluruh kemungkinan, dari etimologis, politis, teknologis, hingga environmentalist, ungkapan atau pidatonya di atas tidak lagi bisa dipandang main-main. Atau sekadar reaksi pragmatis dari kenyataan global yang penuh ketakterdugaan, seperti analis ekonomi yang menjadi penasihat ahlinya.

Bahwa jika Jokowi merasa dirinya—baik sebagai seorang manusia, pemikir, dan kepala pemerintahan juga negara—berada dalam situasi di mana ia sedang berada di medan perang yang ia sendiri tidak tahu kapan berakhirnya, saya kira ia memiliki alasan dan argumen yang cukup kuat, baik secara rasional maupun intuitif. Kita semua, dari kelas “rumput” hingga mereka yang jadi pemimpin negeri, sesungguhnya berada dalam situasi serupa. Perang ini, baik yang nyata maupun virtual, yang langsung maupun proxy, yang berdimensi politis, ekonomis, atau teknologis, sesungguhnya benar-benar terjadi. Dan, tidak ada yang tahu kapan ia akan usai: bagaimana hasil akhirnya, siapa menang dan menjadi pecundang, siapa untung dan dirugikan.

Bagaimana Anda bisa membantah kenyataan faktual tersebut jika setiap hari kita disodorkan data kerasnya dari sumber di seluruh dunia. Bumi ini, juga seluruh isinya, sesungguhnya mendapat ancaman keras, bahkan ancaman kehancuran permanen, semacam armagedon-dini, sebagaimana dipercaya banyak kelompok bahkan agama baru—dari “Thanos de Titan”. Bukan hanya kehancuran mulai dari kian langkanya energi fosil, bencana iklim, pemanasan bumi yang disengaja, perilaku manusia yang kian tak terbaca psikososialnya, juga teknologi senjata yang kian absurd karena kemajuan dan kecanggihannya. Apa tragedi terbesar di dalamnya? Jawabnya, tak lain, lenyapnya (sejarah) manusia beserta seluruh peradaban yang pernah diproduksinya.

Menarik bila Presiden Jokowi memasukkan dirinya ke dalam “golongan Avengers”. Golongan yang akan membalas semua perbuatan keji (sang Thanos). Seharusnya mungkin bukan “pembalas” (avengers) tetapi “pencegah” (the deterrent). Tetapi tak pentinglah nama, yang penting tujuan sama, lagi pula kebetulan nama pertama yang sedang populer. Jokowi adalah orang hidup dan nyata pertama, pemimpin dunia pertama, yang mendaftarkan diri dalam kelompok “Avengers”. Siapa berikutnya? Siapa yang ingin masuk dalam kelompok “Guardians” sebagai partner melawan Thanos?

Perang kita: “Avengers”

Anda boleh sepakat atau tidak dengan argumen—atau silakan katakan spekulasi—”imajinatif cum nyata” ini. Senyum mengejek juga tak apa. Namun, kalau dipikir sejenak, dengan data cukup di kepala, Anda bisa merasakan getar kebenarannya. Dalam konteks negeri ini, Indonesia, terutama situasi mutakhirnya yang sedang hangat oleh persaingan menuju Pemilihan Presiden (plus legislatif) 2019, di mana keberanian imajinasi sang Presiden—petahana dan kandidat presiden berikutnya—di atas mendapat tempat?

Pertama, dalam hemat saya, pernyataan yang tidak dengan main-main dia (Presiden) nyatakan, bahkan di forum formal internasional bergengsi, tak bisa dianggap remeh. Semua tentu dalam perhitungan yang cermat, walau dalam bahasa metaforiknya ia menggunakan sebuah karya seni (film) sebagai artikulator atau katakan alegori dari gagasannya.

Kedua, apa yang dinyatakan dengan serius tersebut, jika tak berkaitan dengan negara-negara yang hadir dalam forum tersebut, bisa dipastikan ia berkaitan dengan realitas multidimensional di negerinya sendiri, negeri kita ini.

Ketiga, bila demikian nalarnya, sudah bisa dipastikan kenyataan bahwa negeri kita berada dalam situasi yang berkarakteristik perang tak-berkesudahan (infinity war) adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah.

Keempat, dengan pihak mana sesungguhnya kita berperang? Hal ini tampaknya tidak dapat (perlu) dinyatakan secara gamblang/vulgar karena tentu saja tidak taktis. Peribaratan yang mengambil “Thanos” sebagai musuh kita bersama dapat ditafsir atau diurai sendiri-sendiri oleh setiap pihak. Hingga waktu (atau sang Presiden sendiri) satu saat akan membuka rahasia Thanos itu.

Kelima, bila sang Presiden sudah membuat keputusan untuk tak mau jadi korban, tak mau jadi penonton, tetapi menjadi bagian dari “Avengers” sebagai lawan Thanos, lalu posisi apa yang selayaknya kita ambil? Anda bisa putuskan sendiri.

Dalam filmnya, Thanos akhirnya berhasil mengumpulkan enam batu abadi itu dan dengan menjentikkan jarinya saja setengah kehidupan di semesta musnah. Termasuk lebih dari setengah “Avengers”. “Avengers” gagal total mencegah, apalagi mengalahkan Thanos. Dan apa yang didapat “makhluk abadi dari Titan” itu dari kemenangan antagonik, kemenangan moral yang sukses dipelintir itu?
Perhatikan penutup (ending) film tersebut: muncul sebuah gambaran bukit hijau dengan hutan permai di latar belakangnya, lalu kamera zoom-in ke tengah bukit permai itu, di mana terdapat sebuah saung bambu/kayu yang sangat tradisional. Pemandangan yang bisa Anda dapatkan di desa-desa Tasikmalaya, Tulungagung, atau Ubud di Bali. Apa yang tidak biasa? Di saung itu duduk dengan tenang, nyaman, dan senyum simpatik tersungging dari sang pemenang: Thanos!

Ternyata dunia “Tasik” macam itulah yang didambakan sang Pemuja Kematian. Apa yang muncul sebagai metafor atau hiperbola dari penutup macam itu? Apa sesungguhnya tujuan Thanos di alam nyata yang telah merasuki negeri dan bangsa ini, yang telah menciptakan invincible war di tengah kita?

Apakah Anda akan memuja Thanos de Titan dengan senyum simpatik dan bukit “Tasik”-nya? Atau bergabung dalam “Avengers” seperti Presiden Anda sendiri yang sudah memilih dan menetapkan dirinya? Segala keriuhan ini, semua keributan kampanye pilpres hingga hoaks di media massa, bahkan semua kesibukan hidup yang Anda jalani—entah sebagai apa—bukankah tujuannya hanya satu: Indonesia! Indonesia yang survive, berdaulat, dan berjaya.

Jadi, siapa pun kita, partai politik atau sukarelawan apa pun asalnya, jabatan atau profesi apa pun di belakang nama kita, tak bisa menolak realitas ontologis bahwa kita “orang Indonesia”. Jadi, mengapa tidak kita bersepakat, bersatu, atas nama bangsa dan negara yang terpatri dalam dada kita: bersatulah melawan Thanos!

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s