Huru Hara Bencana di Indonesia, Masihkah Kita Abai dan Tak Belajar Darinya

Ario Muhammad, Ph.D (Peneliti Gempa dan Tsunami di School of Earth Sciene, University of Bristol-UK)

Huru-hara bencana di Indonesia sangat menggeliat setelah kejadian Lombok bulan Juli lalu. Orang-orang berbondong-bondong membagi tulisan di berbagai media. WhatsApp penuh dengan informasi kebencanaan. Tak sedikit dari informasi tersebut banyak yang berlebihan. Kalaupun benar, dilebay-lebaykan.

Sebulan berlalu, orang-orang Indonesia kembali lupa lagi soal bencana. Membicarakan hal-hal yang tak penting lagi. Dari artis, sepakbola Indonesia yang tak kunjung berbenah, sampe heboh menjelang pemilihan presiden tahun depan. Ribut dua kubu dengan berdebatan panjang tak henti-henti. Mereka melupakan lagi tentang pentingnya pendidikan bencana di masyarakat.

Tak berapa lama setelah mereda Lombok, Indonesia kembali dihantam duka. Palu, Donggala, Sigi dan beberapa area di Sulawesi Tengah mengalami goncangan hebat yang meluluh lantahkan kampung-kampung hingga dipukul rata tsunami setelah sesar Palu Koro beraksi.

Orang-orang heboh kembali. Huru-hara berlanjut lagi. Hampir semua masyarakat Indonesia berbondong-bondong mencari info gempa dan tsunami. Berita soal rawannya Jakarta dengan sejarah gempa terdahulunya, Surabaya yang “diam-diam” menyimpan bencana, hingga area Barat Sumatera yang sudah mahsyur sebagai negeri gempa dan tsunami kembali mengemuka.

Beginilah Indonesia, kita harus dihantam kejadian maha dahsyat baru sadar betapa pentingnya kehilangan saudara-saudara sebangsa dan setanah tanah air.

Beginilah Indonesia, kita harus disadarkan dengan kejadian ekstrim baru kembali mengingat Tuhan penguasa semesta alam.

Sayangnya, gempa & tsunami di Donggala-Palu bukanlah kejadian pertama di negeri ini. Tsunami Aceh 2004 adalah awal dibangkitkannya kesadaran negeri ini tentang bencana. Tercatat lebih dari 200rb orang meninggal di seluruh dunia. Para saksi mata yang masih hidup mengatakan seperti kiamat sedang datang menghantam bumi. Mayat-mayat bergelimpangan, wabah penyakit menyebar dan infrastruktur hancur lebur karena gempa dan tsunami.

Setelah itu apa yang terjadi?

Banyak bantuan datang dari luar negeri. Dari Singapura yang memberikan bantuan pemasangan GPS agar bisa merekam pergerakan bumi, hingga donor negara-negara luar berdatangan menyediakan tide gauge dan buoy demi deteksi dini tsunami.

Lalu kesadaran terhadap bencana setelah kejadian maha hebat itu apakah terus berlangsung?

Tentu saja tidak. Stasiun GPS yang terpasang dirusaki, buoy dan tide gauge juga dipreteli, hingga pengrusakan infrastruktur bencana lainnya.

Hidup berlangsung lagi seperti biasa. Seorang sahabatku yang pernah bekerja di LIPI menjadi saksi mata kerusakan alat-alat ini saat melakukan survey rutin ke wilayah pantai barat Sumatera. Antara prihatin, bingung dan malu.

Lepas dari Aceh lalu bersambung dengan gempa Nias 2005, Indonesia kemudian diuji kembali dengan runtuhnya Kota Padang pada 30 September 2009. Rumah-rumah hancur, fasilitas-fasilitas penting tidak beroperasi, hingga tentu saja ribuan nyawa menghilang begitu saja. Kejadian dahsyat di berbagai lokasi setelah 2004 belum juga menyadarkan kita sebagai bangsa, bahwa negeri ini adalah negeri bencana.

Lihatlah wilayah Sumatera sana. Bagian tengah Sumatera dari utara hingga selatan adalah daerah yang terlewat patahan Sumatera yang ditunjukkan dengan bukit-barisannya. Betapa luas area itu dan betapa banyak nyawa yang akan menjadi korban ketika bencana melanda. Di sebelah pantai baratnya, daerah Subduksi sunda siap bergeliat dan membawa gelombang tsunami menerjang pulau-pulau di Mentawai (terjadi tahun 2010) hingga pesisir barat Sumatera. Bengkulu, Muko-Muko, Painan, Padang, hingga Pariaman sana adalah daerah-daerah berpotensi terdampak tsunami yang besar.

Adakah buktinya?

Jangan kau tanya. Sejak tsunami 2004, area Mentawai yang berada di bagian Selatan Nias adalah “raksasa” sumber gempa yang menjadi primadona peneliti dunia. Saya yang saat ini sedang melakukan analisis risiko di sana, bertemu dengan banyak tulisan tentangnya. Soal bencana tsunami & gempa tahun 1797 & 1833 yang menghantam Padang, Pariaman hingga Bengkulu. Juga siklus gempa besar yang sudah ada sejak abad ke 12. Daerah ini menjadi ladang ilmu pengetahuan mitigasi bencana. Ilmuwan dari Cardiff yang kutemui beberapa bulan lalu mengurai kehebohannya. Para peneliti dari Singapura yang rutin memodelkan potensi gempa dan tsunami di sana juga rutin menuliskan tentang Mentawai sejak lama. Ilmuwan Amerika hingga Perancis sibuk datang ke sana untuk melakukan survey pengambilan data. Mereka berbondong-bondong belajar tentang Indonesia, sedangkan kita “duduk santai” menikmati temuan mereka.

Tak cukup hanya di Sumatera. Cobalah ke timur Indonesia. Ada Maluku dan Maluku Utara yang menyimpan potensi gempa dan tsunami hingga bencana angin topan yang juga sering datang menghampiri. Kep. Sula adalah salah satunya. Cerita orang-orang terdahulu sudah mahsyur menggambarkan kedahsyatan tsunami di sana.

Setelah kejadian berturut-turut dari Aceh (2004), Nias (2005), Padang (2009), lalu Mentawai (2010) apakah bangsa kita tercerahkan?

Tentu saja belum cukup.

Bukan cuma warga yang kembali tak peduli dengan bencana dengan merusak berbagai instrumen mitigasi bencana, pemerintahpun begitu. Kejadian maha hebat di Aceh dan Padang, belumlah cukup untuk menyiapkan perangkat-perangkat pendidikan kebencanaan di daerah-daerah pesisir dan wilayah yang dilewati sesar-sesar aktif. Kurikulum pendidikan tidak pernah memasukkan persiapan mitigasi bencana sebagai bagian dari proses pengajaran. Coba belajarlah dari negara-negara maju sana. Ada Amerika yang sudah punya kurikulum persiapan bencana terintegrasi dengan sekolah-sekolah. Jepang apalagi.

Tak usah jauh-jauh mengambil contoh Jepang dan Amerika. Lihatlah Kuba di Amerika Selatan sana. Kurikulum persiapan bencana Hurricane telah terintegrasi sejak lama. Apa akibatnya? Kejadian dahsyatnya hurricane tahun 1998 “hanya” menelan 4 korban jiwa. Bayangkan, dengan kejadian yang sama, jika terjadi di daerah dengan kondisi ekonomi yang sama dengan Kuba, maka kematian bisa mencapai HINGGA 600 orang. Pendidikan bencana alam adalah hal krusial yang harus ditumbuhkan sejak dini kepada anak-anak kita.

Haruskah kita menunggu “uluran tangan” negara lain untuk mendidik anak-anak kita. Seperti seorang perempuan Jepang yang pernah kutemui di pertemuan London Geological Society yang begitu sibuk melakukan pendidikan bencana di Filipina setelah kejadian topan dahsyat di negeri mereka. Atau seperti seorang akademisi dan praktisi dari Oxford University yang bercerita antusias denganku tentang pengalamannya menghabiskan puluhan bulan untuk mendidik masyarakat di Indonesia dan Filipina dalam membangun rumah tahan bencana.

Belum lagi betapa miskinnya data bencana di negeri kita. Masih segar diingatanku saat mencari data untuk keperluan analisis resiko tsunami di Sumatera Barat. Data topografi bawah laut dan daratan di daerah Sumatera dengan resolusi tinggi yang sangat dibutuhkan untuk analisis berkualitas begitu susah didapatkan. Di seluruh wilayah barat Sumatera, ternyata hanya Padang yang memilikinya. Itupun ada karena bantuan dana dari Jerman dalam sebuah proyek besar GITEWS (Germany-Indonesia Tsunami Early Warning System) yang merupakan kerjasama antara Indonesia dan Jerman. Padahal ada banyak kota-kota lain di peisisir pantai barat Sumaetra yang berpotensi diterjang tsunami besar. Tidak usah kau tanya di daerah lain. Di Jawa saja masih begitu sulit menemukan akses data ini.

Mengandalkan database dari konsorsium dunia?

Hasil analisis saya beberapa tahun lalu sudah menunjukkan bahwa data dari mereka tidak cukup bagus untuk melakukan analisis resiko dengan lebih teliti walaupun sudah ada hingga resolusi 30 m (DEM).

Maka jangan kau tanya tentang Palu, jangan kau tanya tentang Kepulauan Sula di Maluku Utara sana. Kita tak punya data berkualitas untuk membuat analisis resiko akibat gempa dan tsunami yang mumpuni. Saya tahu, pengumpulan data ini mahal, tak ada dana, bukan prioritas, tapi haruskah kita tersadarkan untuk memberikan perhatian saat ribuan orang merenggang nyawa?

Saya tidak tahu setelah Donggala apakah perhatian terhadap bencana semakin mengemuka ataukah tetap sama. Namun bagi siapapun yang membaca tulisan ini, ayo berbuat semampu kita. Jika anda seorang guru, bisa diselipkan tentang pengetahuan evakuasi saat gempa dan tsunami menerjang. Atau bahkan angin topan sekalipun. Negeri kita rentan dengannya. Tak perlu khawatir, banyak info di dunia maya yang memuatnya. Bagi para orang tua, bolehlah kau ajak anak anda bercerita tentang bencana agar mereka tahu tentang efeknya yang begitu masif bagi kehidupan kita. Tontonilah mereka video-video evakuasi kebencanaan agar mereka tahu apa yang harus dilakukan saat tsunami dan gempa menghantam.

Sebagai peneliti, sebenarnya saya malu akan diri sendiri juga dengan bangsa kita. Negeri kita adalah “syurga” riset mitigasi bencana. Namun masih sangat sedikit sumbangsih pengetahuan yang sudah diberikan oleh kami para peneliti indonesia kepada dunia. Paper-paper tentang Indonesia justru banyak ditulis oleh orang luar. Saya tahu banyak juga paper dari peneliti Indonesia, tapi jika kita bandingkan dengan negeri bencana lainnya? Sungguh, masih butuh kerja-kerja yang intensif untuk memperkaya pengetahuan kebencanaan di Indonesia.

Ini mungkin refleksi sederhana dari seseorang yang baru bergelut di dunia riset bencana gempa dan tsunami 4 tahun terakhir. Masih “hijau” dan tak tahu apa-apa. Tapi semoga menjadi pengingat bagi kita semua agar kejadian seperti di Aceh, Padang, Lombok, lalu Palu dan Donggala bisa kita kurangi resikonya.

Bristol, 2 Oktober 2018

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s