Semangat Gotong Royong dan “Trust Society” sebagai Pilar Pertumbuhan Ekonomi

Jusman Syafii Djamal
May 23, 2018

Sahabat lama saya di tahun 2007 yang kini jadi Sahabat di facebook bercerita di laman fb nya tentang bagaimana ia selalu dianggap sebagai intel. Sebab ia seorang Wartawan. Bung Etis Nehe ini mimang saya kenal memiliki rasa ingin tau yang cukup cermat dan telini. Jika bertanya girip Hercule Poirot tokoh detective dalam cerita novel. Jika tak hati hati kita pun bisa dibuat curhat tentang segala hal.Tetapi yang ingin saya buat catatan bukan tentang kehebatan sahabat saya ini, melainkan fenomena yang ia temui. Disetiap tempat seolah ia mencium bau saling curiga yang muncul tiba tiba dalam dialog. Seolah kita berada dalam suatu lingkungan tanpa “trust”. Mudah mudahan kesan itu tidak benar. Jauh panggang dari api.

Saya jadi ingat senuah buku yang ditulis oleh Fukuyama tahun 1995. Judulnya :”Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity”. Francis Fukuyama adalah ilmuwan sosial senior di Rand Corporation dan salah satu intelektual Amerika yang paling dihormati.

Dalam buku ini Fukuyama berpendapat bahwa kemakmuran ekonomi dan kesuksesan bisnis tidak dapat dijelaskan secara memadai hanya semat mata disebabkan oleh faktor kelimpahan sumber daya alam, kecerdasan intelek, atau keberadaan hukum dan lembaga yang baik.

Modal juga tidak dapat hanya diatribusikan pada kapital yg menggerakkan operasi rasional Bagi kepentingan bisnis dalam lingkungan pasar bebas semata. Diperlukan atribut lain berupa Modal Sosial untuk menciptakan jaringan kerjasama yg saling menguntungkan diantara entitas yg saling berinteraksi. Dengan kata lain kesuksesan bisnis dan kemakmuran ekonomi membutuhkan juga budaya untuk saling percaya satu sama lain, atau “community based on Trust culture”.

Perlu Ada rasa saling percaya dari para pihak yang berinteraksi dan kapasitas untuk apa yang disebut Fukuyama sebagai “spirit untuk secara spontan saling tolong menolong atau bergotong royong” .

Itu yang menyebabkan dimasa lalu sebagian besar perusahaan dan bisnisi atau ekonomi dimulai dalam lingkungan keluarga. Banyak Family Business yang tumbuh berkembang menjadi perusahaan raksasa. Sebab pada awalnya bisnis yang dikembangkan atas dasar modal finansial pribadi tidak mungkin dipercayakan pengelolaannya pada orang tak dikenal.

Awalnya tidak dikenal istilah tenaga kerja professional dalam bisnis keluarga. Ada ketidakmampuan untuk mengembangkan hubungan saling percaya di luar keluarga . Perancis, Cina, dan Italia Selatan termasuk contoh dari masyarakat “Low Trust society”.

Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat oleh Fukuyama dikategorikan sebagai masyarakat “kepercayaan tinggi” atau High Trust Society. Disini Ada penghormatan pada keanekaragaman suku bangsa dan variasi keahlian yang dimiliki orang perorang.

Bagi Fukuyama melalui riset yang ia lakukan ada kesimpulan yg kurang lebih bunyinya begini : Tanpa kepercayaan, hubungan, hanya terjadi jika dijaga dan dibebani mekanisme “reward and punishment melalui kontrak dan proses legalistik. Ada “Biaya transaksi” tambahan yang menyebabkan tidak muncul fleksibilitas dan pertumbuhan bisnis yang cepat.

Melalui buku ini Fukuyama, seolah melihat awan mendung bergantung di cakrawala Ada ancaman tanpa sadar yang muncul diam diam sehingga tumbuh benih saling curiga dalam masyarakat yang menyebabkan Trust Society berubah menjadi Low Trust Society. Padahal jika Tidak ada nilai bersama, tidak ada rasa saling percaya diantara elemen masyarakat , tidak ada kepercayaan pada dialog dan kekayaan budaya serta adat istiadat yang berbeda tidak mungkin ada bisnis yang tumbuh dan berkembang. .

Dalam era Digital Economy, ini Fukuyama bertanya :” Mungkinkah teknologi internet mampu memfasilitasi munculnya bentuk-bentuk baru kemampuan untuk saling berempati, kemampuan social yang menempatkan rasa saling percaya dan semangat bergotong royong itu tumbuh kembali. Revitalisasi “Trust Society”.

Sayang Fukuyama tidak memberikan jawaban dan tidak ada rekomendasi tetapi kasusnya benar-benar menarik untuk dicermati. Kelihatannya Fukuyama ingin mengisyaratkan kapad kita sebagai pembaca bukunya, bahwa jawaban nya bersifat unik. Solusi untuk Amerika, Jerman stau Jepang pasti berread tengan solusi untuk masayarakat Indonesia.

Kita tak perlu cari resep dari dokter negara lain, sebab hanya kita sendirilah yang dapat menğjawab apa kita mampu me Revitalisasi Semangat Gotong Royong yang merupakan DNA masyarakat Indonesia yang majemuk ini dan menjadikan Modal Sosial untuk membangun kembali “Trust Society” di Bumi Indonesia untuk memajukan kesejahteraan bersama

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s