Membangun Jiwa Pemberani

Oleh : Ani Christina

Pernah nonton film 99 Cahaya di Langit Eropa, salah satu adegan yang bikin saya terkesan adalah ketika masa kecil Khan, sahabat Rangga yang asli Pakistan, meminta ijin ayahnya untuk ikut berperang bersama teman-temannya. Anak sekecil itu telah punya sikap pemberani untuk berangkat jihad. Luar biasa! Meskipun akhirnya sang ayah melarang karena berkeyakinan jihad dengan ilmu akan lebih ampuh daripada kekerasan, dan meminta Khan untuk menuntut ilmu daripada mengangkat senjata.

Bandingkan dengan anak-anak sekarang yang bilang tidak berani hanya untuk beli garam di toko milik tetangga, atau bilang takut jika disuruh berangkat ke sekolah sendiri dan minta antar. Bahkan beberapa masih sembunyi di balik mamanya jika ada banyak tamu.

Bahkan rasa takut ini menjalar hingga dewasa, tidak berani keluar malam karena takut ketemu penjahat, tidak berani ke dokter takut divonis sakit serius, tidak belajar sepeda motor takut jatuh, tidak berani berangkat jihad karena takut mati. Inilah sebagian rasa takut yang tidak sehat untuk jiwa seseorang. Mengapa tidak sehat? Karena dibalik rasa takut ini ada tipisnya iman, iman kepada Allah. Kenapa harus takut pada penjahat? Allah akan menjaga kita. Kenapa takut sakit, sakit ada waktunya, obat datang pada waktunya, sembuh juga datang waktunya. Kenapa takut mati? Semua yang berjiwa pastilah mati, semua ada waktunya. Ketakutan bisa jadi karena kita kurang percaya takdir terbaik telah menanti kita.

Syaikh Ulwan menyatakan bahwa sifat kedua yang perlu dibangun adalah pemberani, dan sifat yang perlu dihindari adalah penakut.

Sifat takut yang diwajibkan hanya takut pada Allah saja. Sifat takut pada anak-anak juga masih dimaklumi, karena rasa takut menjadi media untuk menjaga dan menjauhkan anak dari bahaya. Tapi jika rasa takut berlebihan melampaui batas kewajaran, hal ini bisa mengganggu kejiwaan.

Dari manakah datangnya rasa takut yang tertanam dalam diri anak ketika kecil, yang kita khawatirkan akan terbawa hingga dewasa, dari beberapa hal berikut :

* Kebiasaan orangtua menakuti anak dengan bayangan gelap, jin, atau makhluk aneh (misal: “awas genderuwo”; “itu lho ada wewe gombel”; “nanti ditangkap nenek sihir”; “hihihi…mak lampir”).

* Kebiasaan orangtua memanjakan atau mendikte anak secara berlebihan (anak manja jadi tergantung, jadi tidak berani kalau sendiri, anak banyak diinstruksi, banyak didikte jadi plonga plongo kalau tidak ada perintah, jadi takut jika tidak ada petunjuk).

* Kebiasaan orangtua membatasi anak hanya di dalam rumah saja, jarang keluar dari rumah. (Anak yang jarang ketemu orang banyak di luar rumah akan jadi tidak berani jika ketemu oranglain).

Itulah beberapa kondisi yg harus dihindari ortu agar anak tidak mudah menjadi penakut.

Apa sajakah yg bisa kita lakukan agar anak-anak kita tidak mudah jadi penakut, agar jadi anak pemberani? Berikut ini beberapa saran dr Syaikh Ulwan:

1. Mendidik anak-anak sejak kecil agar iman kepada Allah, agar semangat ibadah sejak kecil, dan tumbuh rasa berserah diri pada Allah tiap waktu. Anak yang bisa berserah diri, tidak akan takut pada cobaan, juga tidak mudah mengeluh atas kesulitan yg dialami. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat berkeluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan, maka ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, dan mereka tetap mengerjakan sholatnya” (QS Al Ma’arij : 19-23).

2. Memberikan kebebasan bertindak pada anak, memikul tanggung jawab dan berlatih menjalankan tugas-tugas, sesuai tingkat perkembangannya. Dengan dasar tuntunan Rasulullah berikut, “masing2 dr kalian adalah pemimpin dan masing2 dr kalian bertanggungjawab atas yg dipimpinnya” (HR. Bukhari & Muslim).

3. Menghindari aksi menakuti anak-anak ketika mereka menangis atau bertingkah dengan hal-hal semacam binatang buas, hantu, setan, atau jin. Karena yang sering ditakut-takuti akan menjadi anak yang lemah, padahal Allah tidak suka, sebagaimana sabda Rasulullah, “orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang-orang mukmin yang lemah” (HR Muslim). Bahkan yang disarankan adalalah mengenalkan secara bertahap apa yang ditakuti. Anak takut gelap, malah perlu kita ajak main-main menyalakan dan memadamkan cahaya. Anak takut air, malah perlu diajak main air.

4. Memberikan kesempatan bagi anak yang sudah punya logika berpikir, untuk bergaul secara luas. Karena yang punya pergaulan luas akan bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, dan kemudian akan tumbuh rasa kasih sayang, sehingga ada kebaikan dari pergaulan itu. Dengan bergaul luas pun, jadi punya wawasan luas dan tidak gampang khawatir atas persoalan-persoalan. “Orang mukmin itu adalah orang yang mengasihi & dikasihi” (HR Hakim & Baihaqi).

5. Menceritakan sirah nabawiyah tentang peperangan dan kisah heroik para sahabat agar tumbuh nilai keberanian dan kepahlawanan dalam diri anak. Sebagaimana saran sahabat Saad bin Abi Waqqash, “kami mengajarkan kisah-kisah peperangan Rasulullah kepada anak-anak kami, sebagaimana kami mengajarkan kepada mereka surat Al-Qur’an”.

Sedemikian penting membangun sikap pemberani pada anak agar punya kejiwaan yang tangguh. Dan sesunguhnya sifat pemberani itu selaras dengan keimanan, karena yang beriman kuat tidak akan mudah takut, kecuali takut pada Allah saja. Maka mari kita jadikan anak kita pemberani!!! 💪😃💪

# fatherhood forum Jatim
# HEbAT Surabaya

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s