Makna & Kesadaran

Adriano Rusfi
14 Sep 2018

Sekarang saya adalah penggiat gerakan Pendidikan Aqil-Baligh, agar lahir kembali pemuda yang sepenuhnya dewasa, produktif dan kontributif. Bukan generasi remaja : generasi jadi-jadian pasca abad 19 yang konsumtif dan destruktif itu.Tapi, apakah saya dulu juga terbentuk menjadi seorang pemuda mukallaf yang tak perlu lagi melewati masa remaja, pemuda yang berkeinsafan hidup tinggi, pemuda yang mendiri dan bertanggung jawab di usia belia, bahkan siap menikah dan memikul tanggung jawab keluarga di usia yang cukup dini untuk ukuran jamannya ???

Alhamdulillah… sedikit-banyaknya YA !!! Memang betul tidak persis seperti tuntutan ajaran Islam, yaitu paling lambat di usia 15 tahun. Saya baru bisa mencari nafkah sendiri di usia 21 tahun… Saya baru berani untuk meminang perempuan di usia 21 tahun… Saya baru menikah di usia 23 tahun… Dan baru mengontrak rumah sendiri di usia 24 tahun…Tapi, saya telah memikirkan nasib ayahbunda dan adik-adik di usia SD… Saya tertarik dengan persoalan kebangsaan dan politik di kala SMP… Dan saya mulai melalap buku filsafat di akhir SMP. Saat SMA, saya belajar berjuang untuk Islam…

Berarti orangtua saya secara sadar telah mendidik saya untuk menjadi pemuda aqil-baligh/mukallaf ?

Ternyata tidak !!! Begini ceritanya :

Saya adalah anak tertua enam bersaudara dari sebuah keluarga miskin, namun beruntung. Karena sejak kecil saya diasuh sebagai anak oleh kakak ibu yang kaya. Ya, sejak 7 tahun saya diboyong oleh Maktuo atau Budhe nan kaya ke Jakarta. Maka saya memanggilnya “Mama”. Beliau relatif tak mendidik saya, karena sibuk bekerja pagi-sore sebagai karyawati Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan. Apakah Beliau menempa saya dengan keras untuk menjadi lelaki tangguh ? Sama sekali tidak !!! Bahkan saya sangat dimanja : kebutuhan dicukupi, dan sekadar mencuci celana dalam sendiripun tak boleh. Menjelang usia 21 saya masih dikenal sebagai “mahasiswa dengan uang jajan besar”

Tapi “Mama” mengajarkan saya makna dan kesadaran. Tak bosan ia berkata : “Ayah,ibu dan adik-adikmu miskin. Kelak bantulah mereka”. Saya diberikannya uang jajan besar, tapi saya dimintanya untuk menyisihkan sebagian untuk dikirimkan pulang tiap bulan lewat wesel. Saya wajib berkirim surat menanyakan kabar ibunda tiap bulan. Mungkin itu yang membuat saya pandai menulis. Sering saya menangis membaca surat balasan ibunda. Suatu ketika “Mama” bercerita : “Mungkin saat ini ayah, ibu dan adik-adikmu hanya makan nasi dengan kecap”. Dan saat itu saya pun minta pada “Mama” untuk makan dengan kecap. Saat kelas 4 SD saya sering minta makan pakai kecap.

Sungguh, saya akhirnya tumbuh menjadi seorang perenung. Bahkan terkadang terlalu kontemplatif. Saat SMA saya aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Dan lagi-lagi saya diajari tentang makna dan kesadaran : tentang nasib ummat, tentang siswi yang dimusuhi gara-gara ingin menutup aurat. Saya sering marah dan menangis, membuat petisi kepada Kepala Sekolah, dan demo didepan Kakanwil Pendidikan DKI-Jakarta. Ketika kuliah, saya ikut tarbiyah. Dan lagi-lagi bicara tentang makna dan kesadaran : tentang keluarga sebagai tonggak peradaban Islam. Tiba-tiba saya ingin segera menikah, padahal belum bisa mencari nafkah.

Tentunya saya tak ingin mengatakan bahwa penempaan “bak budak dan tawanan” tak diperlukan agar seorang manusia mampu menjadi mukallaf selambat-lambatnya di usia 15 tahun. Bahkan sangat perlu dan wajib. Yang ingin saya bicarakan adalah hal yang lebih penting, yaitu pembentukan MAKNA DAN KESADARAN. Yang sedang kita hadapi, didik dan bentuk adalah manusia : makhluk yang punya hati, niat dan kesadaran. Bukan pembiasaan yang paling mereka butuhkan, tapi makna dan kesadaran yang sudah dapat ditumbuhkan saat usia 7 tahun.

“Setiap amal bermula dari kesadaran” (Al-Hadits)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s