Jembatan Ekonomi Kerakyatan Bernama Fintech

Oleh : Aldi Haryopratomo, Wakil Ketua Umum Bidang Inklusi Keuangan Asosiasi Fintech Indonesia & CEO Go-Pay

16 Agustus 2018

“SANUBARI rakyat Indonesia penuh dengan rasa bersama, kolektivitas”. Demikian bunyi salah satu kutipan sekaligus intisari pemikiran Bung Hatta dalam tulisannya Ke Arah Indonesia’ Merdeka yang dirilis pada 1932.

Jauh-jauh hari, Bapak Proklamator telah menegaskan bahwa syarat menciptakan kesejahteraan yang merata bagi rakyat Indonesia ialah sebuah ekonomi yang berdasarkan semangat tolong-menolong antarwarga masyarakat.

Sebuah semangat yang sudah mengakar dalam tradisi dan budaya Indonesia. Tanggung renteng, paguyuban, gotong royong, hanyalah sedikit dari banyak kata yang mencerminkan rasa kebersamaan yang kuat di Indonesia.

Salah satu bukti nyata tentang eksistensi tingginya rasa kebersamaan di Indonesia ialah arisan. Arisan ialah satu aktivitas yang tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu sekelompok orang yang sudah saling percaya.

Mereka menentukan jumlah setoran dan setiap bulan bertemu untuk melakukan kocokan pemenang. Setelah semua menang, arisan yang baru bisa dimulai kembali sehingga tali silaturahim tak pernah putus.

Tak cuma itu, arisan juga berfungsi sebagai jaringan pengaman saat keadaan darurat. Jika salah seorang anggota arisan masuk rumah sakit, meninggal, atau ada kebutuhan mendadak lainnya, ia bisa meminta kepada ketua arisan untuk didahulukan.

Berbicara tentang arisan, ingatan saya berkunjung ke Balai Desa Tambang Ayam di bantaran Pantai Anyer, Serang, Banten. Saya dikelilingi kurang lebih seratus ibu-ibu berkerudung warna-warni. Mereka berdandan dengan sungguh-sungguh karena akan menghadiri sebuah acara penting. Setiap Rabu sebelum zuhur, mereka turun dari berbagai desa di lereng gunung untuk hadir di pengajian dan ikut arisan bulanan.

Walaupun setiap bulan mereka arisan uang, untuk membeli barang seperti panci mereka masih menggunakan kredit sehingga harga bisa naik hingga dua kali lipat dari harga jika beli tunai. Dari sinilah cikal bakal Arisan Mapan, sebuah aplikasi arisan yang anggota kelompoknya arisan bisa memilih barang yang mereka inginkan di aplikasi, lalu bergiliran mendapatkan barang tersebut secara bergantian, tanpa membayar bunga sepeser pun. Kini Arisan Mapan sudah memiliki jutaan anggota, salah satu bukti bahwa dengan teknologi, ekonomi kolektivitas bisa menggabungkan daya beli penduduk.

Pilar penting

Sejatinya, kolektivitas dan kepercayaan tak hanya ditemui dalam aktivitas informal. Sejarah perbankan pun sesungguhnya bermula dari kepercayaan. Kata ‘bank’ berasal dari bahasa Italia banque atau banca yang berarti bangku. Bangku di alun-alun kota Romawi saat itu menjadi tempat para pemberi pinjaman pertama duduk. Memang, di sebuah masa yang hampir semua orang masih saling kenal, kepercayaan menjadi cara utama para bankir menganalisis risiko kredit.

Namun, kepercayaan antarindividu yang menjadi andalan perbankan zaman dahulu sulit dikelola manakala sudah ada jutaan nasabah seperti sekarang. Di dunia perbankan modern, nasabah menabung di bank yang mengelola aset keuangan secara gelondongan berbentuk pinjaman, asuransi, dan investasi lain. Uang inilah yang menggerakkan roda industri di sekitar kita dan bergantung pada kepercayaan nasabah terhadap institusi keuangan dan begitu pun sebaliknya.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sama halnya dengan negara di belahan dunia lain dan dengan sederet tantangan yang ada, Indonesia butuh sebuah jembatan yang mampu mengantarkan masyarakat mengakses fasilitas keuangan sebagai pilar penting menciptakan ekonomi kerakyatan. Di tengah zaman yang serba modern, teknologi finansial (financial technology/fintech) yang mampu menjembatani kepercayaan institusi dan orang-orang yang sebelumnya sulit mengakses fasilitas keuangan itu.

Hadirnya semakin banyak uang elektronik seperti T-Cash dan Go-Pay bisa menjadi jembatan tersebut. Pembayaran digital (digital payment) membantu pencatatan transaksi perdagangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus merapikan pembukuan mereka. Hal ini yang dapat mereka bawa ke institusi keuangan formal untuk mengakses pembiayaan. Uang elektronik juga memudahkan pelunasan pinjaman itu.

Jika belum lulus di standar perbankan, teknologi tetap memberikan pilihan bagi UMKM mengakses pinjaman dengan mudah, murah dan cepat. Kita kini mulai melihat pinjam meminjam (peer to peer lending) dan penggalangan dana (crowdfunding) yang menggunakan teknologi untuk membantu fasilitasi pinjaman, donasi, dan investasi langsung dari nasabah ke penerima.

Salah satu fintech lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, Amartha, misalnya, bisa memfasilitasi karyawan di Sumatra Utara untuk memberikan pinjaman usaha kepada seorang pedagang gorengan di Jawa Barat. Sebaliknya, fintech lending seperti Investree mampu memfasilitasi mahasiswa di Sulawesi untuk memberikan pinjaman kepada karyawan perusahaan di Jakarta.

Tak hanya pinjaman, teknologi juga telah mempersatukan masyarakat untuk saling membantu sesama. Melalui platform crowdfunding, Kitabisa, di mana pun kita dapat menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terkena bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sampai Juni 2018 penyaluran pembiayaan industri ini telah mencapai Rp7 triliun, tumbuh 173,4% jika dibandingkan dengan akhir Desember 2017 yang mencapai Rp2,56 triliun. Begitu pula dengan jumlah peminjam yang menikmati layanan ini, melonjak dari 259 ribu peminjam di 2017 hingga 1 juta peminjam di Juni 2018.

Peer to peer lending dan pembayaran digital ialah infrastruktur dasar yang akan memungkinkan lebih mendekatkan yang dibantu dan yang membantu, memperkuat rasa kebersamaan kita.

Melalui inovasi digital di industri keuangan, seorang di desa dapat ditolong bersama-sama tidak hanya dengan yang sedesa, tetapi juga se-Indonesia. UKM sekecil apa pun kini bisa akses layanan keuangan melalui fintech. Bisa dibilang, fintech menjadi salah satu senjata untuk melawan kesenjangan sosial. Fintech ialah jembatan menuju gerbang ekonomi kerakyatan yang diidam-idamkan Bung Hatta lebih dari 80 tahun silam.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s