“Decision Making Science” : Menemukan jalan Bijak hadapi Dilemma — In Memoriam Prof Matthias Aroef

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
SATURDAY, APRIL 7, 2018

Ada karya Jaap Schaveling and Bill Bryan berjudul “Making Better Decisions Using Systems Thinking.” Buku terbitan palgrave macmillan 2018 ini, kembali saya ingat ketika dalam perjalanan dari Jakarta Bandung ditengah kemacetan mengantar jenazah Prof Matthias Aroef , jam 3 Pagi 29/8/18.

Mengapa ?

Ketika jenazah almarhum disemayamkan di rumah saya, banyak Sahabat dan kolega serta murid murid beliau hadir takziah. Karangan bunga silih berganti. Jika dijejer karangan bunga itu memenuhi jalan kiri dan kanan, menutupi puluhan rumah tetangga. Begitu juga di Aula Barat ITB, semua kolega Profesor dan Maha Guru ITB serta para dosen, alumni dan Mahasiswa banyak yang hadir

Karangan bunga juga menyertai. Kami keluarga Prof Mathhias Aroef, Arita (Anak tertua), Arwin Masiando dan Poppy Airina, seta cucu dan menantu hanya dapat berdoa dan sekaligus mengucap Innalillahi wa Innaillahi Rojiun. Semuanya kembali kepangkuan Illahi Rabbi, Pemilik Alam Semesta.

Para muridnya seperti Prof Kadarsyah, Andi Achmad, Syahril, Aburizal Bakri , dan generasi baru Teknik Industri dalam kehadirannya di rumah duka bercerita tentang mata kuliah dan keunikan beliau sebagai Dosen dan Guru Besar.

Awalnya Teknik Industri merupakan sub jurusan Departemen Teknologi Mesin ITB dan disebut Teknologi Produksi.

“Seorang Teknik Industri adalah seorang Productivity Engineer dimanapun dia berada.” begitu kata Prof Dr. Matthias Aroef Pendiri Teknik Industri ITB.

Seorang lulusan teknik industri adalah seorang yang berhadapan dengan sistem dan berfikir systems. Begitu yg terbaca di laman Teknik Industri ITB.

Alumni Teknik Industri memiliki kemampuan untuk merancang, mengimplementasi, maupun meningkatkan keunggulan suatu sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, mesin, material, informasi, dan energi.

Seorang Alumni teknik industri harus memiliki kapasitas inovasi untuk menemukan cara yang lebih baik dalam hal apapun.Kata kunci teknik industri adalah Peningkatan produktifitas, efektivitas, dan efisiensi, suatu sistem terintegrasi.

Fondasi nya adalah “System Thinking” dan “Decision Making”. Yang kesemuanya bermuara pada Masalah utama seorang Entrepreneur, Industriawan, dan Policy Maker, yakni menemukan cara yang tepat dan rational untuk mampu dan memiliki keahlian tentang bagaimana cara terbaik bercengkrama dengan dilemma .

Persoalan How to Deal with Dilemmas, What and Why Leadership should go hand in hand with Wisdom” adalah pokok bahasan dialog yg sering muncul ketika bicara ttg disiplin ilmu Teknik Industri.

Diperlukan Paradigma dan metode sistematis berkesinambungan Untuk menemukan jalan terbaik dan lebih baik dari problema bisnis , industri dan Bangsa yg dihadapi. Diperlukan mindset baru untuk Menjawab Tiga unsur pokok dilemmas yg sering muncul :

1. Dilemma dalam mengelola waktu dan alokasi sumber daya yang Terbatas. Mau berfikir jangka pendek atau jangka panjang. Berspekulasi dalam investasi atau membuat perencanaan sistimatik tahap demi tahap. Atau “Time Dilemma untuk menjawab pertanyaan Do you Make Short or Long-term Choices?”

2. Dilemma untuk memilih ruang lungkup bisnis dan portfolio. Mau General Trading atau Terfokus pada satu bidang jenis kompetensi teknologi. Mau ruang lingkup bisnis yang menyebar atau terpusat pada satu Mata rantai bisnis. Dengan kata lain berhadapan dgn Scope Dilemma: untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Do you Choose a Narrow or a Broader Scope?”

3.Dilemma dalam framework berfikir. Mau percaya pada fakta sebagaimana adanya atau ingin berspekulasi untuk menarik ruang kesimpulan atas data dan informasi yg dimiliki. Sedikit berada diluar jangkauan fakta dan masuk dalam arena fantasi imajinasi. Atau disebut Awareness Dilemma: untuk mampu berfikir rational berdasarkan fakta dan informasi akurat menjawab pertanyaan :” Do you Choose to Face the Facts or Take Refuge in Fantasies?”

Tiga dilemma ini sering muncul ketika Seorang Industriawan yang memiliki pabrik dan Kawasan produksi bertemu dengan banyak pilihan.

Mereka Selalu berada disimpang jalan. Selalu bertemu ketidak pastian.
Ada dilemma , kemana hendak melangkah. Dimakan mati Ibu, tak dimakan mati ayah.

Buah simalakama kata orang jaman dulu.

Seorang Industriawan dan usahawan pastilah berupaya mentransformasikan musibah menjadi berkah. Tantangan diubah menjadi “opportunities”, keluhan dan ketidak puasan pada hasil produksi hari ini dijadikan “elemen pembangkit spirit untuk berinovasi”, creative thinking yang muncul dari ketidak puasan akan kualitas, kecepatan delivery dan Tata letak mata rantai yg tidak efisien dikawasan produksi dibanding dengan kompetitor.

Fokus Bisnis ada pada upaya mengembangkan keahlian untuk meningkatkan EBITDA.
Yg timbul dari tiga arus besar ruang Revenue dari portfolio yang berada dalam bisnis Model yg berpijak pada “Economic of Scale” atau Economic of Scope atau Economic of Speed.

Begitu kurang lebih catatan yang sempat melintas dikepala ketika mengingat kembali dialog saya dengan Mertua, ketika malam hari nonton tv bersama dirumah. Ingatan yg mengalir seperti potret dikepala, sepanjang perjalanan menuju Bandung.

Saya dan isteri serta anak2 menumpang tinggal dirumah beliau sejak saya tidak lagi bekerja di IPTN. Isteri saya adalah anak pertama dan tertua. Ketika ibu mertua wafat tahun 1992, dan anak pertama saya Ayu Islamya lahir, waktu senggang beliau banyak dihabiskan untuk menggendong dan membesarkan Anak saya.

Karenanya sejak tahun 2004 beliau minta saya tinggal bersamanya. Tahun 2007 hingga wafat 28 Maret 2018 di usia 87 tahun , beliau tinggal bersama keluarga saya di Jakarta.

Beruntung dalam perjalanan ditengah kemacetan yang terjadi jam 3 Pagi, tgl 29/3/2018, vorreyder Polisi yang menuntun kami memiliki kecanggihan untuk ambil keputusan. Ketika masuk jalan tol tiba tiba kami terperangkap kemacetan. Polisi yg menjadi driver mobil voreyders didepan ambulan Jenazah terpaksa Ikut menunggu antrian. Klakson dan suara sirene nguing nguing lumpuh ditengah kemacetan.

Ada pilihan ikut antri atau ambil jalan tikus menyusuri jalan yang dipenuhi pasar tumpah dan pasar kaget.

Pak Polisi ambil jalan pintas, menyusuri jalan non tol yang ketika saya masukkan ke “google map”, komentarnya “unknown places”.

Disini proses sederhana “Decision Making” atasi dilemma kemacetan lalulintas di jalan tol jakarta bandung telah dimiliki pak Polisi, keputusan cepat dan segera yang lahir atas dasar pengalaman Lapangan ribuan jam.

Sebuah Berkah tersendiri bagi almarhum, keputusan cepat Pak Polisi ini berhasil menembus waktu, sehingga prosesi pemakaman yang terlambat setengah jam di Aula Barat ITB berhasil dituntaskan tepat waktu.

Diawali oleh Rektor ITB dan Prof Barmawi yang memamnggul keranda jenazah di Aula Barat ITB. Berakhir Jam 9 Pagi. Acara pemakaman selesai ditandai oleh Pidato Prof Barmawi mewakili Masyakat Teknik Industri, ditutup Upacara Penempatan Karangan Bunga Penghormatan Warga ITB oleh Rektor ITB Prof Kadarsyah di pusara nya yang berdampingan dengen pusara almrhum isteri Aida Tando yang wafat 26 tahun lalu.

Dari Prof Matthias Aroef, saya banyak minima ilmu. Terutama Decision Science untuk atasi dilemma yang dihadapi oleh setiap Policy Makers dan Decision Makers.

Suatu disiplin Ilmu “Decision Making” untuk bercengkrama dengan dilemma, memilih yang terbaik dari yang baik, atau memilih yang kurang jelek dari pilihan terburuk memerlukan metode. Apalagi jika menyangkut dengan investasi jutaan atau miyaran dollar. Diperlukan metode berbasis Iptek.

Diperlukan keahlian berfikir system, ketekunan untuk melakukan simulasi model bisnis, kecanggihan membangun skenario masa depan, keahlian mengotak atik operation research, war gaming theory, prisoner dilemma, what if scenario, feasibility study dan viability, logistics . Dan itulah yang yang dilahirkan oleh Prof Matthias Aroef tahun 1962 ketika kembali dari Amerika.

Prof. Dr. H. Matthias Aroef, MSIE, IPM lahir di Padang, Sumatera Barat, 20 September 1930. Beliau awalnya adalah seorang letnan satu , tentara pelajar yang kemudian merangkak dari bawah, bekerja sendiri membiayai sekolahnya, dan beruntung mampu menamatkan studi di ITB dengan nilai sangat baik.

Beliau mejadi generasi pertama yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 dan mendapatkan gelar Master Bidang industrial and engineering administration di Cornel University 1957 dan Doctor of Philosophy di Bidang industrial Engineering dari The Ohio State University Columbus. Doctor dalam Bidang Economic Planning diraihnya dari The New School of Political and Social Sciences New York.

Beliau sebagai orang Minangkabau yang selalu merantau kali ini beliau tidak sebagai pedagang atau businessman, tetapi melakukan perantauan di dunia akademis, “adventure in mind and soul”, bercengkrama denga ilmu Teknologi Industri, bergulat dalam menemukan jalan terbaik bagi Bangsa Indonesia dalam merubah problem menjadi solusi, merubah dilemma menjadi kesempatan baru berinovasi, merubah ketidak pastian dan turbulence times menjadi keunggulan dan daya saing.

Beliau selalu menggunakan cincin Cornel University yang menandakan kegigihan dan spiritnya untuk menemukan jalan terbaik menjadi yang terbaik.Beliau berhasil lulus dengan nilai terbaik. Cumlaude.

Selamat jalan Opa, Prof Matthias Aroef. Semoga khusnul khotimah. Allah memanggil kembali kepangkuanNya nan abadi. Terimakasih para Sahabat , Alumni ITB dan murid muridnya yang telah menaruh perhatian begitu besar pada beliau, selama hidupnya.

Mohon dimaafkan segala kehilafan beliau.

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s