Hantu disiang bolong atau Future Scenario ? : Catatan Kedua

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
SATURDAY, APRIL 7, 2018

Pada teman facebook saya janji akan membuat catatan tentang bacaan saya ketika membaca novel fiksi ilmiah berjudul Ghost Fleet: A Novel of the Next World War, P.W. Singer and August Cole yang diberikan seorang teman junior di ITB, Ketika saya sedang berkunjung ke Hangzhou dan Suzhou. Ketika itu saya sempat membuat catatan pertama.

Setibanya dari perjalanan, tgl 27/3/18 malam hari, esok hari rencananya saya mau menulis kembali. Tetapi Allah memiliki jalan yang berbeda dari rencana. Sehabis malam hari bercengkrama dengan saya di depan TV, pagi hari esoknya 28/3/18 mertua saya Prof Matthias Aroef, dipanggil kepangkuan Allah Pemilik Alam Semesta. Dalam usia 87 tahun. Cahaya dirumah saya padam seketika. Kami berduka.

Setelah prosesi pemakaman dan pembacaan doa bersama sama tetangga dan jamaah mesjid sebelah rumah selama tiga hari berturut turut, kini saya sempatkan kembali menulis apa yang saya baca untuk dishare pada para Sahabat. Mohon maaf jika ada kekeliruan.

Dalam novel Fiksi ilmiah “armada siluman ” atau Ghost fleet tersebut, Cole dan Singer menempatkan plot drama perang teknologi kolosal antara tiga negara adidaya, Amerika disatu pihak dengan China dan Russia dipihak lain.

Entah kenapa kali ini Amerika tidak diikat dalam persekutuan NATO yang melibatkan Eropa, dan Russia tidak mengikut sertakan Pakta Warsawa. Padahal novel nya berkisah tentang Perang Dunia ketiga. Meski begitu mereka mendeskripsikan apa yang ditulis dengan catatan kaki tentang istilah dan deskripsi teknologi yang digunakan dalam kisah ini.

Ada 350 catatan kaki dalam buku novel itu. Boleh dikata ini adalah novel ilmiah. Seperempat Fiksi menyangkut “frame work” dalam membangun plot dan counter plot. Sementara yang tiga perempatnya merupakan fakta kemajuan Iptek masa kini. Tak heran jika novel ini dianjurkan jadi bacaan wajib, tentang masa depan.

Beruntung dalam pidato di Universitas Indonesia di bulan September 2017, Pak Prabowo menjadikannya sebagai bahan pidato, untuk didiskusikan secara ilmiah di Universitas.

Sayang baru 6 bulan kemudian wacana tentang novel ini mengemuka. Muncul persepsi yang mungkin tidak utuh, dari pidato yang baik itu. Apalagi dibahas ditahun politik 2018. Seperti karet interpretasinya bisa mulur mungkret kemana mana.

Awalnya juga saya juga terperangkap dalam pandangan begitu. Saya sepenuhnya tidak setuju dengan konklusi yang diambil. Sebab Siapa yang nggak kaget ketika
disebut dengan terang benderang, Indonesia disebut terancam bubar tahun 2030.

Bubar ? Seperti tersengat kalajengking, saya terus bertanya Apa sebabnya tak ada hujan angin, muncul hantu disiang bolong Indonesia bubar ?

Padahal setelah membaca novel itu dengan seksama banyak hal menarik dan “lesson learned” bisa ditarik. Terutama bagi para ahli ekonomi, sosial politik dan teknologi di Universitas Indonesia tempat dimana Bp Prabowo berpidato.

Mungkin beliau ingin agar novel ilmiah itu dapat dibahas secara ilmiah dalam
ruang kuliah dengan pendekatan multi disiplin. Pastilah banyak “lesson learned” yang dapat dipetik dari pidato beliau. Menempatkan sebuah “concept” dalam “context” masa kini dan masa depan bangsa.

Singer dan Cole cukup mumpuni. Latar belakang kehidupan akademisnya luar biasa. Dalam mengolah bahan yang diramu sebagai novel juga cukup impressip. Kemajuan teknologi sistim senjata dan teknologi digital masa kini berhasil ia tempatkan dalam persfektip scenario masa depan geoplitik global 20 tahun mendatang. They are quite deserving of the accolades they’ve received on their first novel from the technology and forecasting perspective.

Judul “Armada Siluman ” diambil dari julukan armada cadangan angkatan laut Amerika. Navy Fleet berkode sandi “Ghost Fleet”, ini berbeda dari armada ke 7 atau armada kapal selam nuklir yang dimiliki Amerika. Armada Kapal induk dan Kapal fregat serta Kapal destroyer lainnya memiliki sistim persenjataan dan sistem komunikasi yang berbeda dari armada yang tampak dipermukaan.

Jika armada ke 7, misalnya memanfaatkan teknologi sistim senjata canggih berbasis teknologi digital, maka sebagai cadangan, Ghost Fleet berbasis pada teknologi konvensional analog. Armada kapal induk ini, sepertinya tidak menggunakan teknologi smartphone iphone atau Samsung generasi terakhir melainkan teknologi tilpon jadul ala Nokia dimasa lalu.

Teknologi yang digunakan di barisan Kapal induk Armada Siluman ini, Mirip dengan filsafat teknologi “back up “ dari system fly by wire pesawat Boeing 787 atau Boeing Airbus A350. Yang memiliki “back up systems” dengan jenis perangkat lunak dan jenis teknologi berbeda.

Tidak sepenuhnya digital melainkan “memiliki mechanical back up”. Sehingga seperti pesawat terbang , Armada ini tidak pernah kehilangan system kendali formasi patrolinya, bahkan ketika terjadi situasi emergency.

Seperti juga dalam sistem kendali terbang “fly by wire”, dalam keadaan emergency pilot selalu dapat membawa pesawat tersebut menemukan bandara cadangan terdekat dan mendarat dengan selamat.

Sebelum peristiwa utama novel ini dielaborasi, Singer dan Cole sengaja merujuk Indonesia. Mereka ingin menggambarkan peta geopolitik masa depan yang mereka prediksikan. Tidak sebagai konsep, melainkan sebagai hipotesa dalam bentuk dugaan dan spekulasi. Menjurus pada sebuah situasi imajiner yang mereka bayangkan bakal terjadi.

Sebagai suatu situasi imajiner, tentu probabilitasnya sama seperti kegagalan system kendali fly by wire pesawat terbang. Dalam satu juta operasi, kemungkinan terjadi satu kali. Dalam satu juta kemungkinan , apa yang disebut “fail state” oleh Cole dan Singer itu, bisa terjadi. Kemungkinan untuk terjadi Kecil sekali, akan tetapi tetap saja ada kemungkinannya. Sehingga “back up systems” sangat diperlukan.

Dengan kata lain sebagai perancang strategi masa depan, melalui novel fiksi iptek ini Cole dan Singer mengajak kita untuk tidak boleh mengabaikan segala kemungkinan scenario terjelek yang dapat terjadi. Hope for the best , prepare for the worst. Para ahli layak memikirkannya.

Ia mengajak, agar para pengambil kebijakan dimasa depan tidak kaget. Dan tanpa persiapan terjebak dalam situasi tak punya pilihan. Sebetulnya secara tersirat, dan bijaksana Pak Prabowo ingin mengajak para ahli yang hadir dalam acara itu untuk “berfikir ulang”. Ajakan restropeksi untuk memunculkan “food for thought”.

Emergency situation selalu menjadi bahan olah fikir para “think tank” Militer dan “policy formation”. Agar suatu Bangsa tidak terperangkap dalam lumpur masalah tanpa solusi. Pendekatan “what if scenario”, atau permainan debat dan dialog imajiner akan membawa kita pada olah fikir tentang suatu peristiwa terjelek terjadi bagaimana ? Hal yang normal dalam, pendekatan “game theory” dan model simulasi “war gaming”.

Kedua penulis membangun cerita dengan awal yang mepesona. Tembakan Salvo awal perang dimulai dengan cuaca geopolitik yang mirip “Perang Dingin” sebelum tembok Berlin Runtuh. Seolah Russia dan Amerika merupakan musuh bebuyutan yang tak pernah pudar dendam kesumatnya.

Seperti kisah cerita silat Kho Ping Hoo, diantara datuk kaum sesat seperti Lam Hay Lo Mo , Beng Kauw dengan pendekar putih dari yang selalu bertemu Jago Pedang Bu Tong Pay dan ilmu thi I ki beng dari Siau Lim Si di ruang pibu memperbutkan gelar Bu Beng Cu, Raja Pedang dunia Kangow.

“Both the authors paint a compelling scenario in which the simmering Cold War turns hot with the opening salvos taking place in outer space and continuing in cyberspace.”

Dalam novel digambarkan bagaimana, sebuah “virus malware” ditempatkan oleh seorang Astronaut Russia yang sedang berada di stasiun ruang angkasa bersama dengan astronaut Amerika. Malware ini merambat dari stasuin ruang angkasa masuk kedalam “Cyberspace” dunia maya, dan bersembunyi di “pelbagai chips semi conductor” yang terinstall dalam perangkat persenjataan militer Amerika Serikat.

Ketika malware ini diaktivasi, system komunikasi dan system senjata Amerika lumpuh. Pasukan disegala penjuru tak mampu digerakkan. Sebab instruksi dari Markas Komando macet ditengah jalan dan diinterpretasikan secara keliru.

Satelit yang memberikan peta tentang gerak gerik pesawat tempur lawan dan kawan yang terpenetrasi virus malware juga memberikan posisi GPS yang salah tempat. Ini memberikan “ruang maneuver” dan keleluasaan yang cukup bagi pasukan tempur China meluncurkan serangan cyber besar-besaran terhadap Amerika Serikat.

Malware yang disuntikkan ahli “cyber war Russia” berhasil melumpuhkan banyak sistem teknologi canggih milik Amerika dan sekutunya. Termasuk pesawat tenpur generasi terkini F-35 . Virus Malware ini sebelumnya telah disuntikkan dalam system perangkat lunaknya melalui microchip. Kebetulan managemen “outsourcing” untuk menemukan biaya rendah dalam pasokan persenjataan yang digunakan

Kementerian Pertahanan Amerika, telah dimanfaatkan secara cerdik sebagai sebuah “loop hole”, titik lemah untuk dieksploitir sebagai pemicu kerentanan sistem pertahanan.

Dalam novel dikisahkan bagaimana Perusahaan pemasok “micro chips” dan “perangkat lunak” sebelumnya telah dibeli sahamnya oleh China melalui metode akuisisi perusahaan cangkang. Akibatnya industry “micro chips’ dan “perangkat lunak” system persenjataan Amerika itu, kebobolan. Ada virus menyusup dibagian mata rantai pasokan komponen industry militer Amerika.

Serangan virus malware dan pasokan “microchips yang terinfeksi virus” ini kemudian juga sangat berpengaruh pada penggunaan senjata anti-satelit secara ekstensif. Perangkat Global Positioning System lumpuh dan beberapa jalur komunikasi dari satelit pengintai yang memberikan “early warning” terhadap pasukan militer Amerika, tentang bahaya serangan dadakan juga timbul tenggelam.

Ada jeda cukup bagi Pasukan tempur gabungan Tiongkok drone Rusia kemudian untuk meluncurkan serangan pangkalan militer AS di Okinawa. Kehadiran militer Amerika di Jepang dapat dinetralkan. Didukung oleh Rusia, Cina mampu menguasai Hawaii setelah pertempuran luar biasa. Dan China mendirikan Zona Administratif Khusus Hawaii, seperti Hongkong. Begitu kisah fiktip dikembangkan sebagai novel.

Melalui novel ini sebetulnya Cole dan Singer ingin sekali lagi menjelaskan bahwa keputusan yang dibuat dimasa kini, atas pilihan yang tersedia, hendaknya didasari oleh ekpektasi dan prediksi serta forecasting tentang apa yang bakal terjadi dimasa depan.

Perancang strategi masa depan tidak boleh ngawur, dalam membangun “content” atau substansi problema utama yang bakal dihadapi suatu bangsa. Menempatkan konsepsi scenario masa depan pada “context” percaturan geopolitik dan geoekonomi yang tepat.

Memprediksi tentang masa depan bukan soal mudah. Tidak gampang memproyeksikan apa yang bakal terjadi dimasa depan. Apalagi hanya atas dasar data statistik sepuluh tahun kebelakang untuk prediksi peristiwa yang bakal terjadi sepuluh tahun kedepan.

Di Era Disrupsi teknologi seperti saat ini, masa depan tidak selalu merupakan kontinuitas dari masa kini.

Mata rantai sebab akibat, yang berjalan liniear seperti kereta api Jakarta Surabaya yang selalu liwat distasiun yang sama, belum tentu terjadi dimasa depan. Semua prediksi atas dasar metode apapun selalu didasarkan pada asumsi, dan preskripsi tertentu yang muncul dari diagnosa masalah masa kini. Didalam tiap asumsi melekat persepsi, harapan dan juga kekecewaan subjektip yang mungkin lahir. Itulah yang menyebabkan ““Prediction is hard, especially if it’s about the future.”

Percobaan awal untuk memanfaatkan pendekatan sistematik memprediksi masa masa depan dilakukan tahun 1946. Ketika itu the Stanford Research Institute (SRI) mulai mengembangkan metode “forecasting”. Kemudian The RAND Corporation and Hermann Kahn, mengembangkan metode “scenario masa depan ” 1948.

Metode scenario ini merupakan upaya menginvestigasi pelbagai kemungkinan scenario masa depan yang bakal terjadi. Biasa digunakan oleh kalangan “perencana strategis di Markas Besar Pertahanan atau Angkatan Bersenjata”. Metode scenario ini kemudian dimanfaatkan oleh Royal Dutch Shell Corporation menjadi wahana perencanaan strategi korporat.

Tahun 1968, The Club of Rome lahir. Ini adalah lembaga non-commercial organization. Yang concern dengan “strategi pembangunan suatu bangsa”.Lembaga ini sangat terkenal ketika tahun 1970 an menerbitkan laporan berjudul :”Limits to Growth”. Batas Gerak Maju Pertumbuhan Ekonomi.

Buku Limits to Growth ini memprediksi masa depan hingga tahun 2100 an. Club of Rome menggunakan banyak metode forecasting, stochastics dan dynamic modelling nya Forrester dgn data yg akurat dan Mathematical equation yg sesuai dimasa itu.

Kesimpulannya mengatakan bahwa laju pertumbuhan pengembangan teknologi memiliki titik jenuh. Kemajuan dan konsumsi sumber daya yang muncul sebagai akibat mengejar pertumbuhan ekonomi, tak mungkin dipelihara terus menerus. Ada limitasi.

Tujuan utama laporan ini awalnya adalah untuk memberi peringatan dini tentang pentingnya “sustainability of economic growth”. Akan tetapi para pengkritik nya menyebut laporan ini hanya ingin menggelorakan “spirit pesimisme dan ketidak berdayaan”.

Sebetulnya pemanfaatan “science fiction” sebagai metode “early warning” tentang kemungkinan scenario masa depan bukan saja dimiliki Cole dan Singer. Pada abad 19, Julius Verne pernah melakukannya.

Biasanya terbitnya “science fiction” seperti ini akan menggugah para pemikir strategis di Universitas dan Pusat Pusat Penelitian untuk melakukan riset lapangan, dan membangun kelompok “think tank”. Seperti diperlihatkan pada diagram alir history of future studies yang saya kutip dari buku :”Using Trends and Scenarios as Tools for Strategy Development, karya Ulf Pillkahn tahun 2008.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s