Komunikasi Pengasuhan – Bicara Bahasa Rasa

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #52

“Ini pake Gar”, Ayah Tegar menyerahkan jas hujan setelah menepikan motor di bawah kanopi pohon yang cukup teduh. “Ayah ga pake? Nanti ayah basah”. “Gapapa, Ayah sehat”, jawab sang Ayah.

Pernah mengalami hal tersebut? sebetulnya hanya satu alasan Ayah Tegar memberi jas hujan pada Tegar : sayang. Perasaan sayang membuat Ayah Tegar memilih tindakan melindungi orang yang ia sayangi.

Ya, seringkali sikap dan perilaku seseorang cenderung didasari perasaan. Mungkin fitrahnya memang demikian. Mengapa kita pilih presiden A? Mengapa kita tidak bisa berhenti makan gorengan walau tahu gorengan adalah sumber kolesterol? Mengapa kita masih mau baca komik meski usia kita sudah dewasa? Mengapa kita mau berlelah-lelah terjebak macet ketika dalam perjalanan mudik?

Perasaan kita dikelola oleh bagian otak yang paling dalam dan paling terlindungi, sistem limbik namanya. Sistem limbik juga mengatur rasa lapar dan haus, serta mengelola motivasi. Dalam contoh kasus Tegar dan Ayahnya, perasaan sayang memotivasi otak bagian berpikir (neokorteks) untuk memilih tindakan berdasarkan perasaan sayang.

Apakah dapat terjadi hal sebaliknya untuk perasaan negatif? Bersama pengelolaan perasaan untuk emosi negatif? Ternyata perasaan negatif justru menutup jalur ‘informasi’ dari sistem limbik dan neokorteks. Pernahkah Ayah Bunda melihat atau mengalami bagaimana perasaan sedih, marah, benci, kesal, takut, atau perasaan negatif lainnya begitu menguasai diri dan akhirnya kita bertindak diluar akal sehat yang kadang membuat kita menyesal?

Ternyata, selain untuk mengelola emosi dan motivasi, Tuhan menakdirkan sistem limbik mengatur pengendalian organ vital tubuh kita. Jika perasaan kita sehat, sehat pula sistem limbik kita, sehat pula organ-organ vital kita.

Apa yang terjadi jika perasaan negatif tengah menguasai diri? ‘Informasi’ dari sistem limbik yang seharusnya diteruskan ke neokorteks akan diteruskan ke organ-organ vital tubuh kita. Beberapa organ vital tubuh kita adalah penghasil hormon adrenalin. Perasaan negatif tersebut akan memicu diproduksinya hormon adrenalin yang membuat jantung kita berdebar-debar, dan hormon ini juga membuat kita bersikap ‘flight or fight’ seperti saat kita berhadapan dengan anjing yang menyalak, kabur atau lawan.

Jika kita ‘kabur’, informasi akan tergenang di sistem limbik dan mempengaruhi kesehatan organ vital. Maka banyak sekali keluhan sakit dari orang-orang yang sedang stress, entah sakit maag, sulit buang air, jantung berdebar-debar, nafas berat, karena psikosomatis. Sakit yang dipicu oleh kondisi psikologis yang sedang dilingkupi perasaan negatif.

Jika kita ‘melawan’, informasi akan diteruskan ke batang otak sebagai tindakan refleks, artinya informasi tidak akan dibawa ke neokorteks untuk diproses baik buruknya, benar tidaknya. Itulah mengapa tindakan refleks selalu berupa tindakan diluar akal sehat. Tindakan refleks yang berasal dari perasaan marah dan benci seringkali merupakan berupa tindakan pelampiasan yang berdampak buruk.

Perasaan ibarat air, ia selalu membutuhkan penyaluran. Jika menggenang tak dialirkan akan menjadi sumber penyakit. Jika disalurkan dengan cara tidak tepat, akan menimbulkan bencana. Salurkan perasaan seperti kita mengalirkan air melalui parit.

Mari kita biasakan untuk bicara dengan bahasa rasa. Perasaan adalah hal yang perlu untuk didiskusikan. Kenali perasaan diri sendiri dan orang lain. Ajari anak kita untuk mengenal, mengelola, dan mengekspresikan perasaannya dengan tepat, tentu anak kita akan memulai belajar dari apa yang ia lihat. Perasaan yang sehat membentuk perilaku yang sehat.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s