Kampus dan Radikalisme

Adriano Rusfi
June 12, 2018

1983
Saya resmi menjadi mahasiswa, dan segera disambut oleh NKK/BKK ala Daoed Joesoef. Itu adalah konsep Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan, yang mengusung satu pesan : jangan jadikan kampus sebagai ajang politik melawan rejim Soeharto. Dan saat saya masuk kampus Jaket Kuning, Sang Mendikbud adalah Nugroho Notosusanto, sejarawan yang bersepatu lars. Ia juga terbitkan Wawasan Almamater : Institusionalisasi, Profesionalisasi dan Transpolitisasi. Pesannya sama : jangan coba-coba melawan kekuasaan.

Ah, ini pasti ulah Dipo Alam dkk yang mengganggu kenyamanan kursi malas kekuasaan pada tahun 1978. Maka kekuasaanpun segera naik pitam menggebrak : “Kalian Anti Pancasila !!!”. Angkatan kamipun terpaksa harus jadi korban : dilarang bergaul dengan senior, dan harus ikut Penataran P4 paket 100 jam. Penataran yang benar-benar menjemukan itu terlalu arogan meyakinkan kami, bahwa “Pancasila adalah kebenaran tunggal yang tak boleh lagi kalian pertanyakan !!!”. Kami, namanya juga anak muda, jengah bahkan muak mendengarnya. Mulai dari Mahasiswa Muslim garis keras hingga sekuler garis keras tiba-tiba sepakat di secarik kertas : mau muntah…

Mahasiswa diminta duduk manis di bangku-bangku kuliah. Ia harus fokus mendengarkan dosen… ujian dengan nilai A… segera lulus kuliah… kerja lalu menikah… Tapi api itu masih saja membara dalam sekam. Tahun 1984 meletus peristiwa Tanjung Priok, yang ditumpas bengis oleh Sang Murdenaar. Api itu padam, atau bersembunyi entah ke mana. Oposisi menjadi begitu senyap menyelinap ke bawah tanah. Begitu senyap… sehingga kaki-tangan kekuasaan pun ketakutan dibuatnya. Konon, Sang Menteri Agama marah pada Jenderal Pembunuh : “Anda terlalu keras”.

Tapi ini bak fenomena backdaft. Api itu hanya bersembunyi. Bahkan kini makin terakumulasi di peraduannya. Maklumlah, semua ventilasi dengan kasar disumbat : Mimbar akademik dibungkam, ulama ditangkap, demo dilarang. Dulu kepengapan itu sesekali diberi wadah katarsis, sehingga bara yang tersisa tak cukup untuk meledakkan sebuah tirani. Tapi sejak 1982 ventilasi itu tak ada lagi. Lalu, tahun 1997-1998 segalanya terjadi. Sumbat itu akhirnya tak mampu lagi tutupi marah. Mahasiswa ngamuk dan rejim tumbang. Dan pembuat segala skenario selamanya adalah Allah.

2018
Rupanya sejarah ingin diulang, tapi lucunya manusia tak kunjung belajar dari sejarah. Jargon Anti Pancasila kini muncul lagi, dan diperkeras dengan istilah ngeri-ngeri sedap : Radikalisme. Sebuah rejim sebenarnya baru berusia seumur jagung, tapi sangat pede mengusung tahta tirani. Tampaknya ia dikepung oleh lautan fatamorgana : bahwa ada jutaan pemuja fanatik yang siap mendukungnya. Dan entah oleh ulah siapa, ia bagai sedang diburu waktu : kalau tak sekarang, kapan lagi ? Ah, persis seperti kasus Ahok dan pendukungnya yang jumawa : kini, atau tidak sama sekali !!! Mereka menipu Allah, lalu Allah balas menipu mereka. Serasa telah menjadi naga, padahal hanya ulat bulu.

Maka, lagi-lagi mimbar akademik ingin mereka bungkam. Sejumlah kampus besar disangka terpapar Radikalisme… Beberapa dosen harus memilih : NKRI atau berhenti… Beberapa unit kegiatan mahasiswa harus ditutup… Beberapa kajian ilmiah harus dibatalkan dan berganti tema… Tampaknya mereka cukup pede bikin beberapa front sekaligus : versus ulama, versus masjid, versus ummat, versus mahasiswa, versus dosen. Tapi sebenarnya yang sedang mereka lawan hanya satu : AKAL SEHAT !!!. Terkesan terburu-buru mengejar waktu… Tapi itulah makarullah : Ketika Allah ingin mengakhiri sebuah kuasa ( = ajal), maka Dia membuat penguasa serba tergesa-gesa ( = ajal)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s