Komunikasi Pengasuhan – Pola Komunikasi Keliru: Menghindari Bentakan

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #50

Pernah menerima bentakan? Apa perasaan Ayah Bunda? Bentakan yang pernah kita terima membuat hati kita tidak nyaman, kaget, dan bingung. Perasaan yang tidak nyaman seringkali membuat kita tidak bisa menangkap pesan dari kalimat yang diucapkan. Hal ini diperkuat oleh Michael Duke, psikolog pendidikan di Denbighshire County Council, “Ketika seorang anak sedang dibentak, mereka tidak mendengar apapun (isi pesan) yang dikatakan kepada mereka.”

Rachel Calum, profesor psikologi anak dan keluarga di University of Manchester mengatakan bahwa bentakan dan teriakan membuat anak ketakutan dan merasa terancam, sehingga mereka tidak dapat berkonsentrasi pada pesan yang diberikan. Ia juga mengatakan bahwa bentakan akan membuat anak memberikan reaksi ‘balasan’ : membentak orangtua.

Bentakan adalah salahsatu perilaku kekerasan emosi. Perilaku ini dalam jangka panjang berdampak menghancurkan kepercayaan diri anak, membuat anak jadi penakut, memiliki masalah dalam konsentrasi, dan bersifat agresif. Komunitas Adults and Children Together Against Violence menyatakan bahwa anak yang secara konstan mendapat bentakan hingga usia 4 – 5 tahun, akan menunjukkan perilaku agresif pada pergaulan sosialnya.

Studi yang dilakukan oleh psikolog dari Plymouth University in Devon menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan bentakan dan suara keras lebih beresiko terkena kanker, penyakit jantung dan asma. Bahkan teriakan kecil menyebabkan anak stres yang lambat laun dapat mempengaruhi kesehatan.

Tak hanya mengganggu perkembangan jiwa dan berdampak buruk pada kesehatan, bentakan dapat merusak otak anak. Demikian yang dikatakan Anne Karpf, psikiater anak ternama Amerika. Berdasarkan penelitian Harvard Medical School, bentakan dapat mengubah struktur otak anak secara permanen. Harvard tertarik melakukan penelitian mengenai hal ini karena munculnya berita tentang bintang film Friends, Jennifer Aniston, yang bermasalah dan tidak mau berbicara dengan ibunya karena kerapkali dibentak sejak kecil.

Sepertinya artikel akan sedikit lebih panjang. OK, tarik nafas sejenak. Siap untuk melanjutkan? Selanjutnya kita akan sama-sama belajar bagaimana agar Ayah Bunda memperbaiki diri ke depan.

Sadari bahwa pekerjaan pertama kita sebagai orang tua adalah untuk mengelola emosi kita sendiri. Karena anak kita belajar mengelola emosi dari kita, orangtuanya. Berempatilah ketika anak sedang mengekspresikan emosinya melalui perilaku yang kadang membuat kita emosi. Terima perasaannya. Menerima perasaan anak merupakan langkah pertama dalam belajar untuk mengelolanya. Setelah anak-anak dapat mengelola emosi mereka, mereka dapat mengelola perilaku mereka.

Berkomitmenlah untuk menggunakan suara lembut dan santun saat berbicara. Ya, ini sulit. Tapi siapa lagi orang yang bertanggung jawab mendidik diri kita menjadi lebih baik? Katakan pada anak kita bahwa kita juga sedang belajar, sehingga kita mungkin akan membuat kesalahan. Tetapi kita akan menjadi orangtua yang lebih baik dan terus lebih baik lagi. Memang tidak ada orangtua yang sempurna, begitu juga tidak ada anak yang sempurna.

Ingat bahwa anak-anak akan bertindak seperti anak-anak. Memang seperti itulah mereka! Mereka membutuhkan kesempatan belajar bagaimana sesuatu bekerja. Mereka perlu bereksperimen dan melakukan kesalahan sehingga mereka dapat belajar bertanggung jawab. Prefrontal Cortex (PFC) mereka belum sempurna berkembang, sehingga emosi lebih sering mengambil alih pikiran mereka saat melakukan sesuatu.

Kenali pemicu. Perilaku muncul dari diri kita karena dipicu oleh sesuatu. Temukan pola yang terjadi pada diri kita, dan kenali pemicu yang membuat kita berkata dengan nada tinggi atau membentak. Biasanya, orangtua tidak sengaja bernada tinggi atau membentak anak karena ia sendiri sedang merasa tertekan atau lelah secara fisik bertemu dengan tingkah anak yang tidak sesuai harapan.

Bekerja sama dengan pasangan untuk bergantian menemani anak bermain, terutama jika kita sudah merasa lelah. Selalu beri hak tubuh kita untuk istirahat agar kita bisa menjaga kestabilan emosi. Pandanglah anak kita dengan kaca mata yang baru. Bukankah perilaku ‘menyebalkan’ yang ia lakukan selama ini hanya karena keluguan dan kepolosannya?

Gunakan “jurus” 1-2-10. Ketika emosi sudah di atas kepala, mundur 1 langkah, tarik nafas dalam selama 2 menit, dan 10 menit untuk menenangkan diri : ubah posisi tubuh dan TIDAK BICARA. Kita juga pernah membahas tentang cognitive diary bukan? Ambil, tulis, dan nikmati waktu time out kita setelah bicara baik-baik pada anak. “Bunda sedang merasa tidak nyaman, Adek boleh main sendiri dulu ya. Bunda butuh menenangkan diri. Terimakasih Nak”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s