Fitrah, the Nature Character

Harry Santosa
April 19, 2018

Pembahasan karakter pada hari ini berkutat pada pertanyaan mendasar, yaitu apakah karakter itu dibentuk (nurture) atau apakah karakter itu dilahirkan (nature)? Jika kedua keduanya, dilahirkan dan dibentuk, maka pertanyaannya, mana yang dilahirkan dan mana yang dibentuk?

Dalam pembahasan bakat, misalnya, muncul istilah karakter kinerja dan karakter moral. Pembagian ini sebenarnya untuk memisahkan, bahwa karakter yang dilahirkan itu, jelas akan menjadi karakter kinerja, sementara karakter yang dibentuk itu adalah karakter moral yang diambil dari nilai nilai yang diyakini seperti Kitabullah dstnya.

Lalu pertanyaannya, apakah hanya bakat saja yang merupakan bawaan lahir? Lalu bagaimana potensi potensi yang dilahirkan (bawaan lahir) di luar bakat, apakah masuk wilayah karakter kinerja atau wilayah karakter moral?

Misalnya, bawaan lahir di luar bakat (personality) adalah seksualitas (sexuality), bawaan lahir sebagai lelaki atau sebagai perempuan. Apakah kelak ketika potensi kelelakian menjadi peran keayahan atau peran kesuamian, atau ketika potensi keperempuanan menjadi peran keibuan atau peran keistrian itu adalah wilayah moral? Tentu bukan. Seorang berkarakter lelaki sejati semestinya berkinerja tinggi sebagai lelaki, memiliki kompetensi untuk mengambil tanggungjawab sebagai lelaki kemudian sebagai ayah dan suami sejati, begitupula seorang berkarakter perempuan sejati.

Fitrah adalah karakter atau konstitusi atau potensi yang dipersiapkan untuk menjalankan peran peran di muka bumi.
Jika Allah berikan potensi untuk menjalankan peran sebagai professional atau enterpreneurs dalam bidang kehidupan di masyarakat, berupa fitrah bakat, maka Allah juga berikan potensi untuk menjalankan peran sebagai ayah dan ibu atau suami dan istri yang baik dalam pernikahan atau keluarga, berupa fitrah seksualitas. Menjadi ayah ibu sejati bukanlah moralitas, ia pun potensi yang sudah diinstal dan memerlukan aktifasi saja melalui tahapan pendidikan yang benar.

Begitupula Allah berikan potensi untuk menjalankan peran sebagai innovator untuk merawat dan melestarikan alam, berupa fitrah belajar dan bernalar. Allah juga berikan potensi untuk menjalankan peran sebagai pendamai dan pemulia peradaban atau memperindah peradaban, berupa fitrah estetika dan bahasa. Allah juga karuniakan potensi untuk menjalankan peran sosial dan kolaborasi dalam berjamaah atau berkomunitas, berupa fitrah individualitas dan sosialitas. Allah juga berikan potensi untuk menjalankan peran sebagai penyeru kebenaran dan Tauhid dalam keseluruhan perannya itu yaitu berupa fitrah keimanan.

Karakter karakter di atas adalah karakter yang dilahirkan (nature character) bukan karakter yang dibentuk (nurture character) atau bukan sekedar moralitas yang bisa ditraining dan diajarkan ketika besar, tetapi karakter yang ditumbuhkan dari dalam diri manusia (inside out) sejak anak anak secara bertahap. Itu karena sejatinya semua karakter di atas sudah diinstal sebagai konsepsi pada awalnya, kemudian menjadi potensi dan kemudian eksistensi dan kompetensi sebagai peran.

Sementara Nurture Character atau Moral Character tentu sesuatu yang bukan bawaan lahir, ia karakter yang dibentuk karena nilai nilai yang dianut namun harus tetap selaras atau bersesuaian dengan karakter yang dilahirkan karena sifatnya hanya memandu agar karakter yang dilahirkan itu semakin sempurna, indah dan berbahagia. Nilai nilai yang ditanamkan itu dalam Islam disebut Adab, sumbernya adalah Kitabullah.

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s