Diskusi Bahasa Ibu (Mother Tongue)

Wicak Amadeo
April 10, 2018

Sebuah diskusi dengan tema menarik dengan narasumber seorang Pendidik Hebat yang terbukti berdedikasi. Beliau pernah menulis sebuah tema yang sangat menggugah dan menginspirasi yaitu “Anak-Anak Karbitan”. Dalam diskusi berikut, akan dibahas tentang Bahasa Ibu (Mother Tongue).

Dalam laporan Center on the Developing Child (2007), ditunjukkan secara khusus bahwa efek pendidikan usia dini yang benar, terutama pengaruh penggunaan bahasa ibu, dapat meningkatkan kapasitas arsitektur otak anak, yaitu pada saatnya otak tersebut akan memberikan pengaruh baik dalam membentuk perilaku sosial dan emosi anak yang cerdas.

Di Indonesia kita memiliki permasalahan dalam pelestarian bahasa ibu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pernah memperkirakan bahwa dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75. Penyebab utama punahnya bahasa-bahasa tersebut adalah urbanisasi dan perkawinan antar etnis.

Ketika melihat generasi Indonesia pada tahun 1990 an, ditemukan bahwa mulai banyak keluarga yang tidak mengajarkan bahasa ibu. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa sebuah keluarga yang bahkan baik ayah dan ibu berasal dari satu suku dan tinggal di daerah namun mereka hanya mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.

Hal tersebut sangat disayangkan karena salah satu warisan kekayaan Indonesia adalah bahasa dan budaya kita. Keragaman yang kita miliki telah mewarnai perjalanan hidup berbangsa di bumi nusantara ini. Begitu pula bahasa dan budaya yang menunjukkan jati diri bangsa Indonesia. Sungguh hal yang memprihatinkan jika pada suatu saat kita mengalami bahwa penutur bahasa ibu di Indonesia menjadi semakin berkurang. Hal yang sangat menyedihkan apabila suatu saat kita kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia ataupun sebagai salah satu suku bangsa di nusantara. Sebagai salah satu unsur budaya, bahasa dan sastra turut serta membentuk adat istiadat, tradisi, tata nilai dan juga cara berpikir yang kemudian dianut oleh seseorang.

Salah satu arti penting pemahaman bahasa ibu sebagai pembentuk budaya adalah ketika orang tua menanamkan nilai-nilai dengan latar belakang budaya masing-masing, misalnya melalui kisah-kisah rakyat. Nilai-nilai tersebut akan dipahami seutuhnya hanya apabila seseorang mengenal dengan baik bahasa dan budayanya. Sebagai contoh, dalam sebuah cerita pewayangan, nilai budaya yang menjadi latar belakang dan logika berpikir salah satu tokoh tidak akan bisa dipahami seutuhnya apabila kisah tersebut disampaikan dalam bahasa Jerman.

Pemahaman bahasa dan budaya mau tidak mau harus berangkat dalam keluarga. Ayah atau Ibu dalam suatu keluarga yang saat ini masih menuturkan bahasa ibu (daerah) memiliki kewajiban moral untuk mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anaknya.

Dalam dunia pendidikan nasional, sebenarnya pemerintah telah cukup mendukung penggunaan bahasa daerah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. Namun demikian ada baiknya jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menerapkan kewajiban kepada setiap pelajar di Indonesia untuk menguasai setidaknya satu bahasa daerah. Hal tersebut dimaksudkan agar bahasa daerah tidak punah. Banyak kearifan lokal dan nilai luhur tradisional yang hanya tepat ditransformasikan lewat bahasa ibu. Karena itu, banyak kearifan lokal yang sirna bersamaan dengan pudarnya minat bertutur dalam bahasa daerah.

Menyadari pentingnya pelestarian bahasa ibu tersebut, UNESCO sebagai salah satu organ PBB telah mencanangkan setiap tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, karena menurut UNESCO unsur terbesar dalam kebudayaan adalah bahasa sebagai penopang tradisi lisan yang dapat mentransformasikan kesejarahan, pengetahuan dan peradaban secara turun temurun.

.

MOTHER TONGUE/BAHASA IBU

Oleh: Dewi Utama Fayza
Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Pengantar
🌐🌼🌼🌼🌼🌐
Saat ini muncul kecenderungan, sejak TK dan SD, anak dikenalkan bahasa asing sebagai penanda status sosial. Fenomena ini tumbuh bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia.

Indonesia dengan beragam suku dan budaya mulai Sabang hingga Merauke adalah himpunan kekayaan sosial- spiritual- material tiada hingga, yang selama ini telah diabaikan keberadaannya dalam pelayanan pengasuhan dan pendidikan. Anak-anak masuk sekolah dasar banyak dinolkan pengalaman belajarnya.

Beragam bahasa ibu sebagai bahasa pertama yang dikuasai anak manusia sejak ia lahir melalui interaksi sosial dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya, sesungguhnya merupakan investasi luar biasa yang harus kita perjuangkan dalam mengusung lahirnya kembali generasi emas.

Tercerabutnya anak-anak dari bahasa ibu mereka sebagai wujud pesan budaya yang mereka miliki akan memunculkan beberapa risiko, menghadang tumbuh kembang anak dalam proses pembelajarannya dan berdampak rendahnya budaya literasi.

Vygotsky mengatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah sangat mempengaruhi perkembangan mental individual anak, khususnya dalam perkembangan bahasa, membaca, dan menulis. Lebih lanjut Vygotsky menyampaikan bahwa pembelajaran yang berbasis pada budaya dan interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah pendekatan proses pembelajaran yang mengacu pada fungsi mental tinggi (Higher Order Thinking Skill) yang berdampak pada persepsi memori, dan berpikir anak.

Ida Wayan Oka Granoka dalam seminar budaya Parum Param di Bali (2013) dan dalam bukunya Reinkarnasi Budaya mengakui kehebatan bahasa ibu sebagai “Bahasa Ibu Sakti” yang memperkuat gerak bahasa anak menjadi menyempurna, karena peristiwa pemerolehan bahasa berasal dari rahim Ibu. Bukan dari lembaga bernama sekolah. Oka Granoka mengistilahkan gerak bahasa bayi dengan ibunya itu dengan istilah “Guttural-Palatal-Cerebral”.

Hal yang sama RA. Kartini memperjuangkan konsep bahasa ibu dalam membangun Konsep Keluarga sebagai Entitas Sosial yang melahirkan peradaban. Beliau menyampaikan dalam surat-suratnya. ”…dalam hariban si ibu itulah anak akan belajar merasa, berpikir, berkata-kata-kata” (awal tahun 1900 surat untuk Nyonya Ovink Soer).

Hal yang sama sebagai inspirasi, Jepang misalnya, memperkuat tradisi mereka mampu tegak gagah berdampingan dalam era globalisasi ini karena berkembang pesatnya gerakan ”kyo iku mama —ibu-ibu pendidik” yang mengusung konsep inti, lahirnya ”Mitsu no Tamashi”— masa-masa emas, di mana kaum ibu bertugas meletakkan pendidikan dasar semenjak janin berada di dalam rahimnya hingga bayi mereka usia tiga tahun pertama.

Program Generasi Emas Jepang untuk menguatkan kebahasaan alamiah kebahasaan, sosial, dan kognitif muncul beriringan dalam diri calon bayi sebelum lahir itu dikenal dengan “Mimi-Me-Te- Kokoro”. Sebuah program sensori-inderawi yang kaya dengan pembekalan agar calon ibu cerdas melakukan stimulasi kebahasaan dini.

Vygotsky dan Piaget dalam riset-risetnya yang berkembang kemudian menambahkan lagi bahwa “private speech” yang didampingi dengan verbal art dalam pengasuhan akan membawa anak mampu meraih ZPD “Zone of Proximal Development”.

Verbal Art melalui bercerita, menembang/lulluby, mendongeng, dalam pengasuhan ini sangat kental pada suku Aceh, Minang, Jawa, Sunda dan sebagainya, yang pada abad ke 19 melahirkan generasi emas di zamannya. Sebutlah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Natsir, Sjahrir, Hatta, Bung Karno, dan sebagainya.

Riset-riset longitudinal di PAUD menyatakan bahwa anak-anak yang mendapat perlakuan yang patut di sekolah dasar yang menggunakan BAHASA IBU mereka sebagai pengantar di kelas awal mampu merawat motivasi, minat belajar hingga jenjang pendidikan tinggi (minimal S1).
🌰🌰🌰
Strategisnya peran bahasa ibu bagi masyarakat pendukungnya, dalam kenyataannya bahasa ibu sebagai lokal konten (muatan lokal) harus tersisih manakala berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern.

Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing lainnya yang diberikan kepada anak di awal tahun masuk SD dengan pendekatan yang keliru dan tidak patut.

Sebagai contoh adalah masuknya muatan lokal Bahasa Sunda di wilayah Jabobedatek dikurikulum SD yang menumbuhkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

.

Pertanyaan – Jawaban

Pertanyaan 1
Apakah bahasa asing boleh diperkenalkan, misalnya sambil bermain? Boleh diperkenalkan bahasa lain sejak umur berapa?

Jawaban 1
Bermain itu cara yang amat ramah untuk kehidupan anak. Bernyanyi dalam berbagai bahasa yang kata-katanya “menarik” pendengaran anak. Dulu pernah ada lagu anak dari Jepang (80an) mulai awal hingga akhir kata-katanya hanya ” cincin ponpon”. Bahasa makhluk langit pun jika ada bisa kita kemas sebagai syair lagu atau dalam mendongeng. Itu menarik hati anak. Tetapi akan menjadi siksaan saat itu jika hanya terkait dengan aspek kognitif dan melupakan aspek afektif.

Pertanyaan 2
Baiknya penanaman bahasa ibu sampai usia berapa? Bila berkaitan dengan mulok (muatan lokal) atau bahasa asing bagaimana baiknya? Siswa SD kelas 1 sudah mendapat pelajaran tersebut.

Jawaban 2
Bahasa ibu (mother tongue) ditanamkan hingga anak memiliki kosakata hingga 8000 hingga 9000. Itu harus dimiliki saat anak usia 7 tahun atau saat di kelas 1 SD. Ini yang harus dipersiapkan ayahbunda di rumah dengan cara mendongeng, membacakan buku menjelang tidur, dan dengan percakapan sehari-hari.

Pertanyaan 3
Bahasa ibu yang paling tepat itu apakah bahasa indonesia? Apabila iya, kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan bahasa daerah? Selama ini komunikasi suami istri menggunakan bahasa jawa, karena keturunan jawa, besar di jawa tetapi sekarang tinggal di kalimantan.

Jawaban 3
Jika sehari-hari berbahasa Indonesia, itulah bahasa ibu, yaitu apa yang dibahasakan ibu sehari-hari. Saat ini, bahasa daerah hanya digunakan dalam rumah tangga atau keluarga yang masih kental adat istiadatnya. Jika di kota besar tentu berbahasa Indonesia. Jika bahasa jawa masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, maka bahasa jawa itulah bahasa ibu. Bahasa ibu adalah bahasa tutur ibu sehari-hari.

Pertanyaan 4
Jika kasusnya anak tinggal di luar negeri bagaimana? Mereka pasti terpapar dengan bahasa asing dalam kesehariannya.

Jawaban 4
Anak bagaikan spons. Cepat menyerap tetapi juga cepat lupa saat ia kembali ke lingkungan yang berbeda.

Pertanyaan 5
Tentang 8000-9000 kosa kata, apakah harus dicatat kembali kosa kata yang dimiliki anak? Atau ada trik mengetahui seberapa banyak kosa kata yang dimiliki anak?

Jawaban 5
8 hingga 9 ribu kosakata itu riset. Jika kosakata anak kurang dari sejumlah itu langsung diajarkan calistung secara akademik, maka minat membaca anak akan lenyap. Tidak ada tip dan trik untuk tumbuh kembang anak. Semua perlu proses!
Manusia hanya butuh 4 hingga 10% saja aspek kognitif dalam kehidupan ini. Sisanya mereka butuh domain Afektif, Sosial, Spiritual, Imajinasi. Itu yang sangat dibutuhkan anak. Sudahkah kita mengasah imajinasi anak-anak kita?
Itu terkait dengan emosi, perasaan, hasrat, minat/ passion, motif, empati, simpati, apresiasi

Pertanyaan 6
Apakah efek kognitif (siksaan bagi anak) ketika ada orangtua yang terlalu dini mengajarkan bahasa asing pada anak usia dini?

Jawaban 6
Anak-anak akan trauma. Trauma itu ada scorenya. Jika mencapai 300 maka anak harus dirawat psikolog dan psikiater. Jika hingga 150 saja, orangtua dan guru bisa menangani dengan cara bijak.

Pertanyaan 7
Apakah ada cara mudah mengukur score trauma anak bagi orangtua yang sudah terlanjur melakukan hal tersebut?

Jawaban 7
Trauma bahasa asing yang digegas pada anak masih bisa ditolerir. Yang perfect trauma pada anak adalah ayah bunda bercerai atau meninggal. Scorenya 100
Elkind meneliti tentang ini.

Pertanyaan 8
Ada keluarga yang menjadikan bahasa Inggris sebagai mother tongue padahal tinggal di Indonesia. Anak-anaknya masih balita dan sekarang mau diajarkan bahasa Indonesia tetapi anak-anaknya kesulitan. Bagaimana sebaiknya?

Jawaban 8
DNA nenek moyang bangsa kita sebagai bangsa penutur tidak bisa diganti dengan DNA Inggris. Harus dimulai dari awal. Bercakap, bernyanyi dengan bahasa Indonesia, melalui bahasa gambar (perceiving and drawing). Harus Rekonstruksi ulang.

Pertanyaan 9
Sehari-hari, sebagai suami istri, menggunakan bahasa indonesia. Namun, anak banyak belajar nyanyi, nari, games dan sebagainya dari youtube yang walaupun dengan pendampingan, kebanyakan berbahasa inggris. Saat anak klik dari referensi video yang ditonton, beberapa kali anak klik video bahasa arab, melayu, india, spanyol, rusia. Raut wajah anak terlihat berusaha mengerti. Saat hamil, sempat kagum dengan Gayatri, (16th, almarhumah), duta unicef dari Maluku yang menguasai belasan bahasa dunia. Apa plus minus kasus anak seperti ini?

Jawaban 9
Dalam konsep bermain, semua baik-baik saja. Mari kita gunakan Hi Tech dengan Hi Concept dan tak melupakan Hi Touch

Pertanyaan 10
Jadi yang dimaksud bahasa ibu, apakah isi dari yang ibu sampaikan kepada anaknya seperti moral, etika, nilai-nilai dan cara penyampaian yang benar, atau bahasa yang digunakan? Jika bahasa yang digunakan bahasa Indonesia, mengapa pelajaran bahasa Indonesia itu sendiri justru menimbulkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran?

Jawaban 10
Inilah yang sedang dibidik Pak Anies Baswedan sebagai Mendikbud. Kurikulum Bahasa Indonesia itu hampir 99% kognitif akademik, sehingga di TK, anak digegas membaca menulis berhitung, malah bimbel calistung untuk Balita marak di mana-mana. Saat masuk SD di tes pula. Itulah sebabnya lahir PERMENDIKBUD NOMOR 23 TAHUN 2015. Setiap hari membaca 15 menit buku bacaan non pelajaran
Anak-anak dicelupkan pada seni berbahasa. Guru-guru harus jadi role model membaca dengan cara reading aloud.

Pertanyaan 11
Anak usia 5 tahun enggan bermain dengan teman-teman asing di sekitar rumah: orang korea pakistan dsb. Dia pun tak mau bersekolah karena takut tak mengerti bahasa korea karena di lingkungan sekitar, ada beberapa keluarga Indonesia mungkin menyebabkan anak enggan bersosialiasi dengan warga lokal. Inginnya bermain dengan teman sebangsa saja, bagaimana baiknya?

Jawaban 11
Semua anak merasa tak nyaman dengan lingkungan barunya yang asing. Membangun trust itu tak mudah. Itu sebabnya disediakan sekolah khusus untuk anak Indonesia di Luar Negeri. Tetapi jika itu jauh ya “home schooling” saja.

Pertanyaan 12
Perfect trauma pada anak adalah ayah bunda bercerai. Ini sifatnya pasti atau hanya hasil Penelitian? Perfect berarti score 300 atau 100? Kalau mau cek bisa ke mana ya?

Jawaban 12
Itu riset David Elkind, pakar PAUD yg sangat terkenal. Score 100 itu bisa ditolerir jika tak ditambah dengan perlakuan berikutnya seperti anak dipukul, disiksa, ayah mabuk, ibu pacaran lagi. Score hanya sebagai skala, rambu-rambu menakar. Tidak ada timbangan untuk mengukur perasaan.

Pertanyaan 13
Anak-anak sering menanyakan definisi suatu kata indonesia, apakah dengan begitu boleh diajarkan bahasa asing? Usia anak 5th dan 6 th. Misalnya arti kata tembus.

Jawaban 13
Ada kamus Bahasa Indonesia yang tebalnya hampir sebantal. Itu bisa dijadikan pegangan. Mari gunakan kosakata padanan dalam bahasa Indonesia. Ketahuilah, kamus Inggris setiap tahun bertambah kosakatanya. Sementara Kamus Bahasa Indonesia bangkrut. Padahal bangsaIndonesia nomor 2 terbanyak suku bangsa dan bahasanya. Ini PR Kemdikbud berikutnya, menambah kosakata Indonesia ke Kamus Bahasa Indonesia. Setiap ayahbunda harus punya kamus Bahasa Indonesia, jika cinta Indonesia.

Pertanyaan 14
Keterkaitan antara bahasa ibu, dialek lokal dan kearifan lokal. Bagaimana agar penyampaian budi pekerti dan kearifan lokal melalui bahasa ibu dapat lebih cepat diterima oleh anak dibandingkan bahasa “lingkungan” dan bahasa “teknologi” yang semakin canggih yang bermuatan budaya dan bahasa luar yang tidak selalu baik?

Jawaban 14
Bahasa ibu itu Sakti, karena sejak di rahim sudah terjadi interaksi. Dongeng, siapa diantara kita yang masih ingat dongeng masa kecil? Bahasa ibu itu adalah kurikulum Bumi Pertiwi. Kurikulum Jagad Raya.

Pertanyaan 15
Sebaiknya, usia berapa bahasa asing dikenalkan? Bagaimana dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa alQuran?

Jawaban 15
Bahasa Arab berbeda dengan mengaji. Saya belajar bahasa Arab saat studi di Jepang bersama teman-teman Mesir, tetapi sudah belajar mengaji sejak 5 tahun lewat bermain untuk mengingat bacaan sholat. Bermain itu kata kunci. Tetapi bahasa Arab saya tidak maju-maju hingga kini. Berbeda dengan bacaan sholat dan mengaji. Kita bisa khatam saat usia 9 tahun.

Pertanyaan 16
Anak usia 5,5 tahun sudah lancar berbahasa ibu dan mulai senang “nggrundel” menirukan host tutorial lego di youtube yang menggunakan bahasa Inggris. Sesekali menanyakan arti kata yang diucapkan si host. Apakah sebenarnya anak sudah siap dikenalkan bahasa asing?

Jawaban 16
Anak-anak usia 5 hingga 7 tahun masih suka melakukan “private speech” seperti meniru omongan teman yang aneh dan jorok. Bagi mereka, itu hal yang unik dan mereka suka. Itu sebabnya virus ngomong jorok di sekolah cepat sekali menular. Mengenalkan bahasa asing perlu dengan cara yang “PATUT” jika anak suka dan gembira karena dengan cara bermain.

Pertanyaan 17
Jadi mana yang lebih baik jika orangtuanya berbeda suku dan bahasa, kita ajarkan dua-duanya atau pilih satu saja?

Jawaban 17
Pilih bahasa ibu karena yang punya rahim itu ibu. Ibu yang hamil, melahirkan, menyusui dan membesarkan. Di seluruh dunia hanya ada MOTHER TONGUE
Ayah cukup mendekap, membacakan buku dan kerja cari rezeki yang halal.

Pertanyaan 18
Adakah peran spesifik ayah yang bisa dijalankan dalam memperkaya khasanah bahasa ibu, selain mendongeng, karena kebanyakan ayah biasanya irit bicara.

Jawaban 18
Peran ayah mengajak anak bermain saat luang, membantu di ranah domestik, sumur, kasur, dapur. Ranah domestik ini terbunuh pelan-pelan karena ada pembantu dan babby sitter. Itu sebabnya domestik sains tak berkembang di Indonesia. Rumah tangga boros. Hedonis matrialis. Jarum pentul saja kita impor dari China. Ujung-ujungnya Papa minta saham. Rumah tangga bangkrut itu ya akan menumbuhkan bibit-bibit korup.

Pertanyaan 19

Dalam the Whole Language for Second Language Learners (1992), Freeman, Yvonne S Freeman, dan David E disebutkan bahwa signifikansi penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di sekolah sebelum bahasa kedua dikuasai anak akan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik bagi anak-anak di masa mendatang. Sementara realitasnya, murid-murid SD di perkotaan umumnya ialah penutur-penutur asli bahasa Indonesia, sedangkan bagi murid perdesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia. Kurang lebih 75% siswa TK dan SD di pedesaan bukanlah penutur asli bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa ibu di TK dan SD kelas awal menjadi sangat penting. Selain untuk menjamin kelangsungan pembelajaran, juga untuk mencegah gangguan perkembangan kognitif anak. Tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi ekstra dalam memberikan pelatihan yang memadai kepada para guru TK dan SD serta menyediakan buku teks yang tentu harus berbeda, atau sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan budaya setempat dalam mengantarkan anak-anak memahami bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.

Bagaimana dengan realitas ini Bunda Dewi?

Jawaban 19

Sepertinya kita di frekuensi berpikir yang sama. Saya jatuh cinta dengan The Whole Language sejak tahun 1998 saat ikut kuliah Prof Sabarti Akhadiah satu semester. Ini kegelisahan saya dan belum mampu membawanya hingga tataran kebijakan karena terkendala kepentingan. Ayuk kita berjejaring mengimplementasikannya. Saya punya buku tentang the Whole language cukup untuk jadi referensi. Nanti saya inbox. Salam literasi.

.

Penutup

Iqra’ bismirabbikaladzi khalaq
Maknanya sangat luas dan dalam. Mari terus kita belajar hingga ajal menjelang.
Selamat istirahat.

.

CATATAN

Pada tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa 90 persen bahasa daerah terancam punah pada akhir abad ke-21. Seharusnya, ini menjadi peringatan bagi setiap pemangku kepentingan budaya. Dari 746 bahasa daerah yang masih eksis, diperkirakan hanya akan tersisa sekitar 10 persen atau 75 bahasa daerah. Kemendikbud, saat menetapkan kurikulum 2013, tidak ada muatan lokal/bahasa daerah.

Pada 17 November 1999, UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Bahasa Ibu Internasional nyaris tak ada gaungnya. Padahal, sebagian besar anak bangsa ini mengenal bahasa daerah sebagai bahasa ibu (mother tongue). UNESCO—badan PBB yang bertugas di bidang pendidikan dan kebudayaan—menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional berdasarkan keprihatinan terhadap banyaknya bahasa ibu yang punah di atas bumi. Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh.

Beberapa pegiat sastra mencoba berjuang sendiri-sendiri melestarikan bahasa daerah. Di antaranya, bahasa daerah Jawa, Sunda, Bali, Banjarmasin, dan Batak. Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S Ekajati, dan beberapa tokoh lain melalui Yayasan Kebudayaan Rancage telah menginisiasi pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Hadiah Sastra Rancage diberikan setiap tahun sejak 1989. Buletin internal berbahasa daerah mungkin ada. Beberapa majalah atau koran berbahasa daerah masih mencoba bertahan, seperti majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Damar Jati, Mekar Sari, dan ANCAS. Dalam bahasa Sunda ada Cupumanik, Manglé, dan Ujung Galuh.

Majalah etnis Batak ada beberapa, tetapi menggunakan bahasa Indonesia. Tahun 2012, Saut Poltak Tambunan, seorang novelis, menulis kumpulan cerpen Mangongkal Holi dan novel Mandera na Metmet dalam bahasa Batak Toba. Ini sastra modern pertama berbahasa Batak Toba. Komjen (Purn) Posma L Tobing dalam pengantar buku Mandera na Metmet menulis, inilah konsekuensi dari modernisasi yang mendorong derap urbanisasi, pernikahan antar-etnis, industrialisasi, dan terciptanya masyarakat heterogen. Bahasa daerah juga semakin terpinggirkan oleh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang ”English heavy”. Apalagi, pendidikan dan transformasi ilmu pengetahuan nyaris tak ada yang diantarkan dalam bahasa daerah. Pendidikan bahasa lokal kerap dimarjinalkan dan tidak begitu menentukan dalam mengindikasi keberhasilan pendidikan.

.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s