Ujian Nasional

Wicak Amadeo
April 4, 2018

Ujian Nasional paling sederhana dan paling murah adalah dengan menyediakan kertas kosong yang bisa digunakan siswa untuk :

1. Menuliskan apa saja (pikiran, perasaan, gagasan, dsb),

2. Melukis apa saja (tanaman, hewan, manusia, alam sekitar, dsb), atau

3. Membuat apa saja (misalnya origami).

Membayangkan Ujian Nasional zaman now dengan memanfaatkan Instagram, Twitter atau Facebook … para ahli di Kemendikbud yang termasuk generasi Milenial pasti merasa kuper dan kudet karena Fitrah Zaman mereka diabaikan dalam konteks Pendidikan. Interaksi yang tak interaktif dari Generasi yang berbeda di Kementerian.

Pada 16 Oktober 1996, saat capres Bob Dole dari Partai Republik menantang kursi kepresidenan AS yang dipegang petahana Presiden Bill Clinton, isu perbedaan usia menyeruak. Bob Dole merupakan veteran Perang Dunia ll yang berusia jauh diatas Presiden Clinton, yang berasal dari generasi Flower Power atau Daya Bunga.

Media ramai mempertanyakan apakah Senator Dole tidak: terlalu tua untuk menjadi presiden. Namun, Presiden Clinton saat itu menegaskan. “I can only tell you that I don’t think Senator Dale is too old to be president. lt’s the age of his ideas that I question”.

Pemaksaan gagasan usang dan tak sesuai itu juga yang kerap menjadi akar kebanyakan masalah pendidikan nasional. Ali bin Abi Thalib ra, sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus menantu menyatakan : “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”

Dalam ucapan itu terkandung juga sejumlah pesan.

Pesan PERTAMA mengingatkan bahwa penentu kebijakan pendidikan harus mampu merumuskan kecakapan apa yang dibutuhkan di masa depan, agar dapat membekali para siswa dengan kecakapan tersebut.

Sebaliknya, hindari membekali siswa dengan kecakapan basi yang tak relevan. Oleh karenanya, menjadi aneh saat mendengar pendapat pembelaan politisi pencetus Ujian Nasional, yang membandingkan soal 1950-an dengan soal matematika 2000-an. Terlebih lagi saat dikatakan bahwa soal 1950-an lebih susah jika dibandingkan dengan sekarang.

ltu dua disiplin dan masa yang sangat berbeda. Yang satu namanya berhitung, sedangkan yang sekarang bernama matematika. Selain itu, dalam kehidupan tahun 1950 belum ada kalkulator. Sedangkan sekarang, benda itu tersedia dan bahkan mungkin lebih murah dari harga sebungkus nasi. Frederich Schiller menyatakan bahwa suatu zaman tidak dapat dilihat dari perspektif zaman lain.

Matematika kerap dimaknai keliru sebagai keilmuan yang sudah tak berkembang lagi. Sekarang, kemampuan bermatematika dalam situasi sehari-hari jauh lebih dicari ketimbang berhitung. Merepotkan siswa dengan perhitungan ruwet nirmakna sudah bukan masanya.

Tampaknya para pemaksa kebijakan Ujian Nasional saat ini sedang berupaya memaksa dan memutarbalikkan arah jarum jam pada siswa. Karena kecakapan basi semata yang diujikan lewat ujian nasional, para siswa jadi menghargai kecakapan berhitung rutin dan berpikir tingkat rendah. Kebijakan sejenis ini telah merusak citra matematika yang sejatinya merupakan seni berpikir menjadi sekadar keterampilan berhitung.

Pesan KEDUA menyatakan bahwa perumus kebijakan pendidikan harus paham bagaimana cara siswa sekarang belajar. Perkembangan ilmu syaraf modern membantu memahami bagaimana siswa belajar. Siswa di SD kelas 1 sekarang sampai mahasiswa tahun ke-2 di pendidikan tinggi termasuk generasi unik, yang disebut Generasi Z.

Mereka belajar dengan cara sangat berbeda dengan gurunya apalagi dengan para penguasa pendidikan. Sudah sadarkah perumus kebijakan pendidikan bahwa warga asli dunia digital ini (digital native) lebih suka belaiar dari mesin, seperti video dan kegiatan interaktif ketimbang dari manusia langsung?

Jika para guru dan juga orangtua kebanyakan sekarang lahir saat dunia masih bergelimang dengan peralatan analog, seperti telepon kabel tetap, piringan hitam dan pita magnetik, para siswa sekarang justru lahir saat Gelombang DIGITAL itu sedang terbit dan merasuki kehidupan mereka.

Layaknya semua perubahan, gelombang digital berdampak baik sekaligus buruk. Generasi ini dikatakan sulit konsentrasi dalam waktu yang lama, enggan membaca buku, haus keberhasilan yang seketika, dsb.

Namun, mereka juga cerdas dan dikenal penggarap tugas banyak serta mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah apakah perumus kebijakan pendidikan sudah mempertimbangkan ini?

Pesan KETIGA menyatakan bahwa ketersediaan metode serta teknologi mutakhir dalam dunia pendidikan harus dimanfaatkan secara optimal, khususnya saat sekarang ini. Permasalahan utama pendidikan adalah keterbatasan mutu serta penyebaran guru di daerah terpencil dan sulit dijangkau.

ltu adalah 3 permasalahan abad ke 19 yang masih dihadapi bangsa ini sampai sekarang.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s