Islamic Knowledge Taxonomy

Harry Santosa
April 13, 2018

Seorang ahli filsafat barat bisa dengan keyakinan penuh mengatakan bahwa fiksi atau fictional itu positif, yaitu sebuah energi kreatif dan imajintif yg mendorong orang utk punya hope menuju tujuan akhir atau telos, itu adalah karena secara literature, definisi dan terminologinya clear, terlepas dari benar atau tidak. Kita terpaksa dan dipaksa ikut dalam terminologi yang mereka sepakati. Itulah kelebihan peradaban barat pada hari ini.

Hari ini ummat bahkan tergagap dan berbeda pendapat tentang hal hal yg esensial, misalnya makna adab dan akhlak, makna tarbiyah dan ta’dib, makna fitrah dstnya. Sependek yang diketahui, tiada rujukan atau referensi terminologi yang disepakati bersama. Walhasil di tataran praktis, masing masing mengambil kesimpulan sendiri tentang terminologi, sehingga selalu terjadi benturan dan kesalahan yg diulang yang sebenarnya tak perlu ada.

Sesungguhnya sebuah peradaban membutuhkan Taxonomy atas Pengetahuannya sendiri, karena taxonomy bukan hanya akan menentukan struktur pengetahuan, namun juga struktur berfikir, struktur inovasi bahkan struktur komunitas pengetahuannya dalam tataran praktis.

Tidakkah kita sadari struktur fakultas di kampus kampus itu berangkat dari atau sama dan sebangun dengan struktur katalog di perpustakaan? Lalu bukankah program studi di tiap jurusan dalam fakultas itu beserta mata kuliahnya adalah derivasi taxonomynya?

Bagaimana dengan Universitas Islam? Sependek yang saya telusuri, perpustakaan di kampus kampus Islam masih menggunakan Dewey Decimal Code/Classification atau Librarian Congress Code. Jadi jangan aneh apabila tiada mata kuliah Aqidah Islamiyah di Fakultas Ushuluddin, karena kita masih merujuk kepada taxonomy pengetahuan dari peradaban lain. Namun yang jelas dalam struktur pengetahuan barat, pengetahuan Islam disandingkan dengan sekte sekte kecil dalam cluster Agama.

Bayangkan sebuah peradaban besar seperti Islam, hanya disandingkan dengan sekte sekte. Maka wajar ketika para ilmuwan atau filsuf memandang Islam dan khazanahnya dalam pandangan yang sempit. Qordhova dan Baghdad bahkan Turki Utsmani pasti pernah punya taxonomy pengetahuan, namun ada dimana hari ini?

Sebuah peradaban memerlukan definisi dan terminologi yg clear untuk setiap kata yang penting dan mendasar agar memudahkan pendalaman, inovasi dan implementasi di tataran praktis. . Definisi dan terminologi ini bagian dari taxonomy pengetahuan. Peradaban besar selalu dimulai dari taxonomy pengetahuan yang jelas, sebagaimana ketika Allah telah siapkan semua sumberdaya di bumi untuk peradaban manusia, kemudian Adam AS ditempatkan di bumi, maka hal pertama yang diberikan kepada Adam AS adalah

“…wa ‘alama Adama asma’a (nomos) kullahaa (taxon)”

Dan Kami ajarkan Adam AS, nama nama (nomos) setiap segala sesuatu (taxon).

Karenanya sudah menjadi gairah peradaban Islam, selama berabad abad di masa lalu untuk membuat klasifikasi, klusterisasi pengetahuan untuk mempermudah generasi berikutnya mengembangkan dan mengkontekskan antar kluster pengetahuan, misalnya ilmu hadits, ilmu fiqh, ilmu sains dstnya. Perjalanan sejarah rupanya juga menghapus sebagian klasifikasi pengetahuan peradaban Islam.

Untuk mengembalikan peradaban Islam, maka para ulama kontemporer sudah sejak lama menyerukan dibuatnya Taxonomy Pengetahuan Islam yang independen. Islamization Knowledge sampai hari ini masih sebatas wacana. Dalam tataran praktis, misalnya Sekolah Islam Terpadu, sampai hari ini tak pernah berhasil menjelaskan apa yang disebut terpadu, kecuali akumulasi penumpukkan kurikulum akademis agama dan akademis umum yang membebankan siswa.

Kita mengutuki atau memuja ketika seorang filsuf mengatakan Kitab Suci itu Fiksi. Pertanyaannya, mengapa ia tidak mengambil definisi atau terminologi fiksi atau fictional dalam literature atau terminologi Islam? Mengapa tiada duel terminologi atau duel definisi yang seru? Apa karena kita tak punya? Atau kita lebih suka mengutuki atau mempesonai daripada membantu meluruskan atau membenarkan?

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s