Komunikasi Pengasuhan – Pola Komunikasi Keliru : Mengapa Bunda Marah Padaku

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #51

“Aduh Liiiii, sori gue telat”, ucap Rahma sambil mengambil posisi duduk. Ia terlambat 20 menit dari janjinya. Lili melengos sambil berucap ketus, “Nungguin anak lo nyeramahin sapa lagi?”.

Rahma tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. “Hahaha, lo tau aja. Bujang satu itu emang unik ya. Belanja dulu gue tadi. Pas lagi mau bayar, dia pamit sama gue katanya mau ambil susu kotak. Lama bener gue tungguin, gue susul lah. Eh, dia lagi nasehatin emak-emak pake wajah melas-melas ‘jangan dimarahin dedenya, Tante. Kasian dedenya’. Malu gue, abis minta minta maaf langsung cabut aja gue”.

Lili terbahak-bahak. “Bisa-bisanya ya anak lo. Lo kasih makan apa si? Emang kenapa tuh emak-emak?”.

“Menurut cerita anak gue sih katanya tuh anak rewel. Ibunya ga sabaran, tuh anak diancam. Makin rewel, dicubit. Nah, panggilan jiwa superhero datang menyelamatkan tuh anak, hahahaha”, Rahma bercerita.

“Eh, banyak lo ibu-ibu kayak gitu. Apalagi di tempat umum, malu lah ya kalo anak rewel. Jadi pengen anaknya langsung diem begitu sekali bujuk. Tapi ya namanya juga anak-anak, sumbu sabar mah emang mainan kesukaannya dia, hahaha”, Lili menimpali.

***

Saat anak merengek dan rewel bahkan tantrum di tempat umum, ada orangtua yang langsung menenangkan tanpa memvalidasi perasaan anaknya. Mulanya masih bisa tenang, tapi karena anaknya semakin tantrum dan khawatir mengganggu orang lain, kesabaran pun habis. Akhirnya emosi mengambil alih, muncullah perilaku mengancam, mencubit, atau marah!

Segala perilaku anak, umumnya didasari oleh perasaan mereka saat itu. Maka yang anak kita perlukan saat itu adalah penerimaan akan diri dan perasaannya.

Peluk dan belai anak kita sambil membaca bahasa tubuhnya, lalu tebak perasaannya. “Adek bosen ya?”, “Ngantuk?”, “Adek capek?”. Saat orangtua menebak perasaan anak, anak kita belajar mengenal perasaannya sendiri.

Kemudian ajak ia berdialog dan mendengar aktif dengan nada tenang dan penuh kasih sayang. “Ooo, adek capek. Kalo Adek capek, Adek boleh bilang sama Bunda. Kalo Adek menangis begini, Bunda tidak mengerti.”Proses ini membuat anak belajar cara mengelola perasaannya sendiri, cara mengekspresikan perasaannya, dan cara merespon perasaannya.

Kemampuan anak kita untuk menunjukkan emosinya masih terbatas. Ketika ia sedang merasa tidak nyaman, ia akan bersikap instant (rewel, tantrum) agar segera mendapatkan perhatian kita. Mengancam, mencubit, atau memarahi anak saat emosinya bermasalah hanya akan membuatnya bingung.

Pada saat anak dimarahi, sistem pertahanan dirinya akan memerintahkan batang otak untuk aktif dan bekerja. Mulanya sikap marah akan ditangkap anak bahwa dirinya tidak diterima dan dirinya tidak berharga. Namun jika terbiasa, batang otak bekerja dengan mekanisme melawan atau mundur teratur. Lihat ilustrasi artikel ini, hal itu adalah gambaran yang kita lihat sehari-hari bukan?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s