Tentang Fitrah

Harry Santosa

Pemikiran menang dinamis, namun makin lama makin tajam, meminjam istilah bang Ical yaitu “lingkar mekar”. Namun sepanjang titik tumpunya benar, kita tidak perlu khawatir “salah” ketika menjalani titik pacu selama melingkar mekar menuju titik tuju. Lingkar mekar ini sendiri adalah fitrah tumbuh segala sesuatu di alam semesta dan titik tujunya adalah peran dan adab

Ada 3 pendapat ulama ttg mutlaknya fitrah yang di bahas di bab awal dalam buku “Fitrah, the Islamic concept of human nature” karya prof Muhammad Yasien. Yaitu pertama Fitrah adalah bawaan lahir yang selalu baik dan benar (innate goodness), kedua bahwa fitrah ada yang baik dan ada yang buruk (ada fujur dan ada taqwa), dan ketiga fitrah sifatnya relatif. Namun pendapat yang paling dominan di kalangan ulama adalah yang pertama. (Kalau mau thesisnya penulis, saya share)

Namun setelah diskusi dengan ust Dr Adian Husaini, ttg konsep Ta’dib dan Adab dari Dr Naquib Alattas, dan kembali melihat kpd pemikiran peradaban Dr Malik Bennabi yang menjadi dasar pendidikan berbasis fitrah maka saya melihat bahwa fitrah dalam tumbuhnya memang perlu dikontrol, dan alat kontrolnya adalah Adab.

Adab sendiri berangkat dari nilai nilai yang diyakini dalam sebuah peradaban, dalam hal ini adalah Kitabullah. Karena kitabullah lah yang memandu 3 unsur peradaban yaitu manusia, tanah dan waktu (fitrah manusia, fitrah alam, fitrah kehidupan dan zaman)

Belakangan saya membuat proporsi antara Fitrah dan Adab utk tiap tahap usia dalam pendidikan. Karena, seperti Prof Naquib AlAttas katakan bahwa banyak yang menganggap Adab hanya etika semata. Intinya fitrah ditumbuhkan (tarbiyah) dan adab ditanamkan (ta’dib)

Yang menarik kemudian, setelah saya baca ulang pemikiran Ibnu Taimiyah ttg Fitrah, ternyata Beliau menyebut Kitabullah sebagai Fitrah Munazalah. Fitrah inilah yang memandu fitrah gharizah yang inherent dalam diri makhluk, termasuk manusia.

Lalu sejalan dengan hal di atas, saya membaca pendapat Dr Fahmi Zarkasiy, cucu pendiri Gontor, ttg fitrah, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang fitrahnya tumbuh sempurna sehinga ketika wahyu (Kitabullah) diturunkan, maka fitrahnya menerima wahyu dengan mudah. Karenanya beberapa Ulama yang mengatakan bahwa fitrah adalah kesiapan untuk menerima Islam.

Dalam tataran praktek pendidikan, hal di atas semakin menguatkan bahwa kita sesungguhnya tidak membutuhkan kurikulum baku dalam mendidik, bahkan ust Ferous menyebut bahwa kurikulum bukan di awal tetapi di akhir, yaitu Curriculum Vitae.

Jadi saya kira pendapat para SME di sini sejalan, bahwa dalam mendidik semuanya mengalir sesuai “kurikulum” Allah dalam semua aspek fitrah sehingga secara alamiah melingkar mekar menuju peran peran terbaik dengan adab mulia.

*Tugas kita hanyalah menemani merawat menumbuh menyadarkan mengokohkan fitrah kita dan fitrah ananda dengan menginteraksikan fitrah internal itu dengan fitrah alam dan fitrah kehidupan, kemudian memandunya dengan fitrah munazalah sehingga mencapai peran peradaban dgn adab mulia* 😊🙏

Selalu *semangat*,, *rileks* dan optimis🤩✊🏻

#NgobrolSantaiGrupKaderNasional
#DepokHEbATCommunity
#MembersamaiBangkitnyaFitrahOrangtua

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s