Komunikasi Pengasuhan – Aku Mau Ini Sekarang!

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #49

Siapa diantara Ayah Bunda yang pernah pergi ke supermarket atau pasar dengan catatan belanja di tangan. Namun ketika pulang ke rumah, barang yang kita beli ternyata lebih banyak dari seharusnya karena barang diskon yang tidak ada di daftar belanja. Pernah? Pernahkah Ayah Bunda dalam kondisi bimbang ketika akan membeli sesuatu, “beli ga ya, beli ga ya, beli ga ya”. Rasanya hampir semua orang pernah ada dalam situasi ini.

Dalam suatu perjalanan edukasi, Tim Yayasan Kita dan Buah Hati menyempatkan diri pesiar mencari oleh-oleh untuk keluarga tercinta. Ada cerita lucu didalamnya, ketika salah seorang dari Tim berbicara pada dirinya sendiri sambil memegang kepala bagian atas alis kanan mata, bagian dimana Prefrontal Cortex berada. “Hilman, ayo pikirkan lagi, ini keinginan atau kebutuhan. Needs or wants. PFC ayo kerja, pikirkan, kita butuh atau kita ingin. Oh, cuma ingin, ayo simpan di tempatnya”. Melihat peristiwa itu, yang lain tertawa terbahak-bahak. Yang sudah mengambil 3 buah keranjang laundry pun, meletakkan kembali. “gue juga kayaknya cuma pengen, hehe”.

“Bun, adek mau beli es krim ya”, anak kita merajuk padahal 5 box es krim di rumah belum habis. Pada saat ini, kita punya kesempatan emas untuk menjelaskan kepada anak kita perbedaan keinginan dan kebutuhan. “Menurut adek, ini ingin atau butuh? Es krim di rumah kan masih banyak lho..”. Mungkin anak kita akan merajuk, merengek, bahkan menangis ketika keinginannya tidak dipenuhi.

Mengapa anak kita perlu membedakan keinginan dan kebutuhannya?

Anak kita perlu dilatih kemampuan berfikirnya. Pada saat akan memutuskan membeli sesuatu, ia akan memeriksa diri apakah ia membutuhkan barang tersebut. Saat proses memeriksa diri, ia akan memeriksa perasaannya sekaligus melakukan proses penimbangan keputusan. Ia akan belajar mengolah dan membedakan perasaan menginginkan sesuatu atau membutuhkan sesuatu.

Jika pada akhirnya ia batal membeli apa yang diinginkan, anak kita juga sedang belajar untuk menunda kepuasan. Ia juga perlu belajar mengatasi dirinya dari perasaan kecewa, marah, tidak nyaman, sedih, dan emosi negatif lainnya. Hal ini kelak sangat berguna agar ia mampu mengontrol dan mengambil kendali atas dirinya dari segala sesuatu.

Melatih anak untuk membedakan keinginan dan kebutuhan bukan hanya tentang melatihnya berhemat, keseluruhan proses ini mematangkan Prefrontal Cortex (bagian otak yang berfungsi dalam proses berfikir kritis dan pembuatan keputusan, bagian ini membedakan manusia dengan makhluk hidup lain) sekaligus sistem limbik (bagian otak yang berperan dalam pengelolaan emosi). Latihannya memang dari membedakan keinginan dan kebutuhan, namun kematangan otak yang diperoleh bermanfaat untuk setiap pengambilan keputusan dengan proses berpikir yang matang.

Kapan anak kita mulai belajar membedakan keinginan dan kebutuhan? Jika anak Ayah Bunda menangis bahkan tantrum ketika keinginannya tidak segera dipenuhi, mungkin Ayah Bunda sudah agak terlambat. Mendidik anak kita membedakan keinginan dan kebutuhan dapat dimulai sejak anak sudah dapat diajak berkomunikasi.

Selain memanfaatkan momen, mendidik anak kita membedakan keinginan dan kebutuhan juga dapat dilakukan dengan bermain gunting tempel. Kumpulkan beberapa eksemplar majalah atau koran bergambar, siapkan gunting, kertas kosong, dan lem. Bagi dua kertas kosong, bagian kiri dilabel “keinginan” sedangkan bagian kanan dilabel “kebutuhan”. Ajak anak kita menggunting gambar-gambar yang ada di majalah kemudian minta anak kita mengklasifikasikan mana benda-benda yang menjadi keinginan dan mana benda-benda yang menjadi kebutuhan. Tempel potongan gambar tersebut sesuai kolom masing-masing.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s