Learning in VUCA Era

Eileen Rachman
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Kompas, 6 Jan 2018

KEADAAN sekarang dimana situasi diwarnai kompleksitas, dan pada akhirnya menuntut tua dan muda untuk belajar dengan cara yang cepat, tentunya membuat pimpinan perusahaan, dunia pendidikan cukup pusing, karena perbandingan antara waktu pembelajaran dan materi yang harus dipelajari tidak seimbang. Belum lagi, dengan percepatan teknologi ini hal yang baru saja selesai dipelajari bisa bisa sudah mulai usang, karena sudah tumbuh kebutuhan akan ketrampilan yang lebih baru. Kita harus menggunakan metode pembelajaran yang lain, karena bila tidak, maka ketrampilan yang ada pada individu selalu ketinggalan kereta. Kita ambil contoh keterampilan menganalisa data, agar kita dapat berinovasi, Big Data yang dimiliki perusahaan perlu dianalisa oleh seorang yang mempunyai campuran keterampilan matematik, statistik, tingkah laku manusia dan ilmu komputer. Sekarang, di seluruh dunia, ahli data ini sedang sangat dibutuhkan dan pasokan tenaga ahli campuran ini sangat minim. Jadi, keterampilan yang dibutuhkan juga semakin kompleks.

Metode pembelajaran yang konvensional, selalu percaya bahwa kemampuan individu itu harus dilatih secara berurutan. Contohnya, seorang petenis perlu trampil forehand nya terlebih dahulu, sampai betul betul menguasai, baru beralih ke backhand kemudian serve. Para ahli pembelajaran menyebut metode ini sebagai metode blocking berpola AAABBBCCC, yaitu memblock pembelajaran lain dan fokus pada keterampilan tertentu. Karena hal ini paling mudah dan simpel dilakukan, maka sampai sekarangpun kita masih mengalami sistem pembelajaran seperti ini. Bisa kita bayangkan betapa ketinggalannya kita dalam pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial ini.

Kita memerlukan cara untuk mempelajari ketrampilan yang kompleks. Banyak orang percaya pada practice makes perfect, dan sudah melakukannya. Tetapi sekarang, sistem pembelajaran yang diterapkan perlu dibuat dengan cara lebih mengkombinasi gaya gaya dan cara cara belajar secara simultan. Bahkan para ahli sekarang mengatakan bahwa metode campuran ini membuat otak bekerja lebih keras dalam mendapatkan informasi, berfikir lebih strategik dan terlatih membuat solusi yang lebih kontekstual.

Dalam terbitannya “The Interleaving Effect: Mixing It Up Boosts Learning,” seorang ahli Steven C. Pan lagi lagi menyatakan bahwa pembelajaran fleksibel harus dimulai sejak dini. Itulah sebabnya penggunaan berbagai bahasa dalam pendidikan pun saat sekarang dianjurkan. Jadi metodanya sekarang disebut metoda ABCABCABC. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pembelajaran dengan metode ini menghasilkan diagnosa kedokteran yang lebih akurat, para mahasiswa ilmu Hukum bisa menyelesaikan kasus legal yang lebih kompleks dan mahasiswa juga bisa menyelesaikan soal matematik dengan lebih cepat dan baik. Bahkan hasilnya lebih kuat dan bertahan lebih lama. Mengapa demikian?

Dengan bercampurnya informasi yang harus diolah otak individu, otak terlatih untuk membedakan konsep dan berusaha mondar mandir mencari informasi. Dengan metode lama, urat syaraf menjadi kaku dan tidak terbiasa lincah bergerak kesana kemari. Apalagi saat sekarang, disaat dimana kreativitas dan inovasi menjadi tuntutan jaman, otak yang lincah mencari berbagai solusilah yang berlu dikembangkan.

Melihat ‘BIG PICTURE’

Masih ingat permainan monopoli, yang melatih kita melihat posisi kita dan posisi lawan secara jelas. Taktik berwirausahapun terlatih sekaligus, tetapi juga pengalaman menghadapi unpredictables dimainkan disitu. Karena perkembangan profesi secara mendalam, kita bisa terperangkap dengan berfikir terkotak kotak, dan kadang tidak sempat melihat keadaan dari kacamata yang lebih jauh: the helicopter view. Karyawan yang memahami strategi perusahaan dan mengerti kemana arah perusahaan, biasanya lebih tahu dan mendorong untuk mencapai sasarannya. Kita tahu cerita klasik tentang tukang batu bukan? The first man, “I’m laying bricks.” The second man replied, “I’m putting up a wall.”But the third man said, enthusiastically and with pride, “I’m building a cathedral.”

Jelas jelas, pemahaman mengenai big picture lembaga atau perusahaan akan membawa ke kinerja yang lebih baik. Tetapi terkadang individu dalam organisasi, tidak bisa mendapatkan pesan dari manajemen puncaknya, atau tidak terlatih melihat visi perusahaan secara menyeluruh. Disinilah gamification bisa membantu individu.

Gamification : The Future Learning

Mengacu keberadaan permainan monopoli, simulasi pilot dan berbagai praktik pembelajaran yang tidak bersifat paper and pencil saja, kita melihat bahwa permainan ini bukan penemuan baru, bahkan sudah digunakan berabad abad. Namun, dengan keadaan yang sulit diterka ini, gamicication tampaknya bisa menjadi solusi pembelajaran.

Sudah sekitar 15 tahun EXPERD menerapkan kegiatan simulasi sebagai bagian utama dari pelatihan dan assessment. Dalam assessment kita mengenal roleplaying yang dibuat semakin kompleks dan riil, sehingga individu yang sedang diteropong kompetensinya terpaksa masuk dalam situasinya, berusaha mendapatkan gambaran keseluruhan, dan mencari solusi dari situasi yang kompleks.

Dalam penyelenggaraan pelatihan EXPERD sudah hampir tidak lagi menyelenggarakannya secara kuliah satu arah. Simulasi yang memudahkan imajinasi, belajar dari kesalahan strategi, mendapat umpan balik dari kerja tim, dari pihak eksternal dan dari teman sendiri serta mendapatkan logika dari jalannya bisnis, penting perencanaan dengan memperhitungkan segala aspeknya. Ini semua bisa dimudahkan bila kita melakukan simulasi yang mengimitasi situasi yang sesungguhnya di dalam bisnis.

Secara manusiawi, kemampuan kita untuk bermain sangat powerful. Game memenuhi kebutuhan manusia untuk merasa sukses, kompeten, mandiri dan belajar dari kesalahannya segera. Games memperkenalkan rasa bebas memilih, dan bertanggung jawab atas akibat perbuatan kita. Games adalah alibi interaksi kita. Ini sebabnya kebanyakan dari kita yang sudah pernah melakukannya, belajar banyak dari pengalaman ini, terutama dalam keterampilan bisnis, seperti business acumen, kewirausahaan, sinergi, berencana beserta eksekusinya.

“Experd Games and simulations can get close to reality, and create engagement and motivation – leading to people being more receptive to learning.” Demikian komentar salah satu peserta pelatihan EXPERD.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s