Komunikasi Pengasuhan – Be an Ask-able & Accessible Parent

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #44

“Kapan-kapan main di rumah Tegar lagi ya”, ucap ibunda Tegar sambil mengantarkan teman-teman Tegar sampai ke depan pintu rumahnya.

“Iya tante, makasih banyak yaa”, teman-teman Tegar menyahut kompak.

Beberapa meter dari rumah Tegar, mereka bercengkrama membahas ibunda Tegar yang hangat dan menyenangkan. “Coba bisa tukeran Mama ya, aku mau deh punya Mama kayak Mamanya Tegar”.

Memangnya apa yang terjadi? Apa yang dilakukan ibunda Tegar sehingga mereka begitu betah bermain di rumah Tegar?

“Asyik kalo sama Mamanya Tegar, suka ketawa. Suka main sama siapa aja”

“Ga suka marah kalo kita mainnya kotor, malah bantuin beresin hehehe”

“Iya ya, begitu sampe rumah Tegar, kita semua dibukain pintu, bukan sama bibi”

“Iyaaaa.. trus bisa nanya apa ajaaaa.. gaul ya”

“Ga marah lagi kalo ditanya soal ‘beger’ –pertanyaan seksualitas”

“Aku suka iri deh sama Tegar, Mamanya suka peluk dan elus-elus kepalanya”

***
Bagaimana komunikasi Ayah Bunda dengan anak-anak kita? Apakah mereka suka bercerita apapun tentang pengalamannya di luar rumah bahkan yang menurut kita tidak penting sekalipun, atau bahkan bertanya mengenai hal-hal yang menurut kita tabu? Semoga begitu adanya. Itu penanda komunikasi yang dilakukan oleh Ayah Bunda telah membentuk ikatan hati yang kuat antara orangtua dan anak.

Bercerita mengenai keseharian dan bertanya hingga hal ‘tabu’ hanya dapat dilakukan anak kepada orang yang sangat dipercaya. Memang lidah kelu dan perlu putar otak lebih kencang ketika anak bertanya, tak perlu buru-buru memberi jawaban, namun pastikan ia akan terus bertanya pada kita orangtuanya.

Tantangan dunia saat ini begitu dahsyat. Jika bukan kita yang menjadi teman terdekatnya, bisa jadi ia berteman dengan dunia luar yang bebas nilai, tante TV yang mencontohkan hal tidak mendidik, paman Google yang memberi jawaban berlebihan tanpa melihat usia dan batasan pertanyaan, atau teman sebaya yang sama-sama dalam masa pencarian dan belum memiliki pemahaman yang utuh.

Jika kita perlu menjadi ‘mesin penjawab’ pertanyaan anak-anak kita, maka jadilah. Tunjukkan padanya bahwa ia aman bertanya apa saja kepada orangtuanya. Pertanyaannya mungkin akan satu saja, tapi diulang-ulang terus hingga 70 kali sehari. Bosen? Sabar adalah pembuluh darahnya orangtua, bukan? hehehe

Hal-hal teknis untuk menjadi orangtua yang dekat dengan anak, be an askable and accessible parent, akan kita bahas lebih mendalam di artikel selanjutnya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s