The Science of Positive Thinking

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #42

Sebut saja Manda. Dia adalah wanita muda yang aktif, pintar, bertanggungjawab, dan berwawasan luas. Ia menikah dengan Fahmi, pemuda yang supel, sukses dalam karirnya, dan memiliki banyak teman. Mereka berdua yakin dengan kemampuannya mengasuh anak. Mereka optimis akan dapat membesarkan anaknya dengan baik seperti orangtuanya mengasuh dirinya. Yup, everything’s gonna be ok.

Namun, setelah memiliki anak, Manda menyadari ternyata mengasuh anak perlu kemampuan lebih daripada yang ia lihat dari orangtuanya dulu. Zaman sudah berubah, tuntutan tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua di era digital lebih besar.

Untuk mengatasi kesulitan dan menghadapi tantangan yang muncul, Manda dan Fahmi aktif mencari ilmu pengasuhan. Mereka juga selalu merujuk kepada pemahaman spiritual mereka sebagai landasan. Mereka tidak mau tenggelam dalam situasi, mereka senantiasa berpikir positif bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

***
Menjadi orangtua itu.. menjadi master chef, perawat, terapis, dokter, konselor, ahli negosiasi, manajer, sahabat sejati, event organizer, psikolog, guru, role model. BANYAK!!!
Seandainya menjadi orangtua dibuka lowongan pekerjaannya, keterampilan atau gelar apa saja yang harus dipenuhi ya? Dan ajaibnya, kita semua mengerjakan pekerjaan itu BERSAMAAN. Ternyata jadi orangtua itu susah, rempong!!

Benarkah?

Tanggungjawab kita sebagai orangtua memang berat. Melelahkan jiwa dan raga, emosi dan fisik. Oleh karena itu, kita sangat perlu untuk Positive Thinking.

Barbara Frederickson, peneliti psikologi positif dari University of North Carolina membuktikan dalam penelitiannya. Ia membagi relawan dalam 5 kelompok, kelompok 1 dan 2 diberi tontonan yang mengeksplorasi rasa bahagia dan harapan, kelompok 3 diberi tontonan yang tidak begitu menggali perasaan (sebagai kontrol penelitian), sedangkan kelompok 4 dan 5 diberi tontonan yang mengeksplorasi rasa takut dan marah.

Setelah selesai nonton, para relawan diminta untuk membayangkan bahwa mereka ada dalam situasi yang sama dengan apa yang mereka lihat dalam film, kemudian mereka dipersilakan untuk menuliskan apa yang akan mereka lakukan saat mereka mengalami hal yang sama. Ternyata, relawan yang melihat film tentang kebahagiaan dan harapan menuliskan lebih banyak kemungkinan yang akan dilakukan daripada relawan yang melihat tentang rasa takut dan marah. Frederickson menyimpulkan bahwa pikiran yang positif akan memperluas pandangan dan pikiran kita dalam menerima sesuatu dan membuat kita lebih kreatif dalam membuat solusi atas sesuatu.

Pikiran yang positif juga membuat sistem limbik (bagian otak yang berfungsi dalam pengaturan emosi dan organ vital tubuh) lebih sehat, sehingga fungsi organ vital tubuh kita terjaga kesehatannya. Tubuh yang sehat juga diperlukan untuk menemani anak kita bermain bukan?

Kadang, masalah sehari-hari yang kita hadapi membuat kita kehilangan kendali. Manusiawi kok, asal kita segera mampu mengembalikan pikiran tetap positif. Bagaimana caranya?

• Merenung. Luangkan waktu 10 menit saja perhari untuk menarik nafas panjang, merenungkan apakah yang telah kita lakukan hari ini akan mengantarkan kita dan keluarga pada kebaikan di masa mendatang, apakah sudah sesuai dengan apa yang Tuhan amanahkan, berterimakasihlah pada Tuhan karena senantiasa memberi ilham dalam segala situasi yang kita alami, dan berterimakasih pula pada diri sendiri sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa saat ini.

• Menulis. Tulislah 1 hal atau lebih mengenai apa yang kita syukuri hari ini. Hasil penelitian kepada 90 mahasiswa yang dipublikasikan oleh Journal of Research in Personality menyatakan bahwa menulis pengalaman positif telah membuat seseorang memiliki suasana emosi yang lebih baik, lebih sedikit mengunjungi pusat kesehatan, dan lebih sedikit mengeluhkan sakit.

• Bermain. Jadwalkanlah waktu bermain. Kita membuat jadwal untuk rapat, acara mingguan, dan tanggungjawab lain dalam kalender kita, mengapa tidak menjadwalkan waktu untuk bermain. Orang bijak mengatakan, “free your inner child”. Izinkan diri kita untuk tersenyum dan menikmati kebahagiaan. Mungkin waktu bermain kita adalah waktu bermain bersama anak kita. Tantang diri kita untuk menjadi teman sepermainannya dan rasakan kebahagiaan terdalam yang muncul dari gelak tawa kita bersama anak-anak kita.

Tenang, karena menjadi orangtua adalah fitrah, sudah pasti Tuhan telah ‘mempersenjatai’ kita agar berperan menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita. Kapan-kapan kita bahas mendalam di topik lain mengenai hal ini.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s