Tiga Pilar Pertumbuhan Ekonomi : Desentralisasi Ekonomi, Kebangkitan Industri Nasional dan Pasar Domestik terkelola atau Managed

Jusman Syafii Djamal·
February 23, 2018

Tulisan ini merupakan sebuah Catatan Kecil tentang harapan di Tahun 2018 yang disebut tahun Politik. Sebab Pilkada serentak ada dimana mana.

Harapan agar ada Fokus untuk menciptakan kehidupan demokrasi yang semakin bersinar . Demokrasi politik dengan ritual pilkada setiap lima tahunan hingga saat ini, tidaklah cukup jika kita tidak menempatkan demokrasi sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat yang dijiwai hikmah kebijaksanaan untuk menciptakan Keadilan social bagi seluruh rakyat begitu kata para Pendiri Republik.

Pengalaman di banyak negara memperlihatkan bahwa Demokrasi tidak dapat berfungsi sebagai pembangkit kesejahteraan dan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa desentralisasi kekuatan ekonomi yang tumbuh berkembang di pelbagai kawasan ekonomi. Inti dari Demokrasi adalah distribusi kekuasaan dan kewenangan yang dilengkapi oleh “systems check and balances”, agar tidak terjadi monopoli kekuasaan di satu tangan.

Dalam buku Demokrasi Kita, Bung Hatta sebagai Founding Father telah memberikan arah tentang demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin Demokrasi Politik berkembang dengan baik tanpa demokrasi ekonomi.

Dalam banyak tulisannya Bung Hatta menegaskan keyakinannya , ia mengatakan :”bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan yang bertambah besar oleh karena seperuntungan, malang yang sama diterima, mujur yang sama didapat, pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.

Pada kedalaman filosofinya, demokrasi ekonomi Bung Hatta berisi gagasan tentang pola pengambilan keputusan sosial-ekonomi di tangan publik mayoritas .

Rasionalitas yang mendasarinya adalah pandangan bahwa hak politik yang penuh tidak dapat dimenangkan tanpa hak ekonomi yang penuh. Untuk menjamin tata kelola perekonomian yang demokratis dan memastikan distribusi yang pantas atas sumber daya ekonomi, kontrol politik dan hukum selayaknya dikembalikan kepada rakyat mayoritas. Hatta menegaskan bahwa rakyat tidak akan benar-benar berdaulat kecuali juga berdaulat dalam bidang ekonomi

Ini sebuah adagium yang kelihatannya dapat digunakan jika kita merenungkan makna demokrasi bagi kemajuan suatu bangsa. Sebab demokrasi adalah wahana bukan tujuan akhir. Sebuah wahana tak mungkin ia dapat bergerak seenaknya tanpa arah dan tujuan. Demokrasi bukan semata mata soal kebebasan berpendapat, bukan juga hanya suatu system yang bertumpu pada mekanisme pemungutan suara setiap lima tahun. Demokrasi harus ditempatkan sebagai pilar pencipta kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. .

Salah satu tujuan Industrialisasi di Indonesia yang dilaksanakan secara terus menerus dari sejak tahun 1970 hingga 2018 atau selama kurang lebih 48 tahun, adalah mengurangi laju pertumbuhan Kemiskinan dan kepincangan social. Serta menjadi wahana transformasi dan infrastruktur iptek pencipta nilai tambah agar kemampuan penguasaan teknologi dan wahana pembangkit lapangan kerja dalam masyarakat, dapat di wujudkan dalam realitas sehari hari.

Salah satu kebijakan yang dapat muncul dari alam demokrasi adalah konsistensi kebijakan industrialisasi. Dalam kerangka fikiran demokrasi ekonomi seperti disampaikan diatas , maka pembangunan kawasan industry Nasional yang kokoh dan kuat, menempati posisi strategis dalam kebijakan ekonomi selama 48 tahun ini. Suatu arah kebijakan ekonomi yang didasarkan pada preposisi utama :”Industrialisasi mustahil tumbuh berkembang tanpa perlindungan negara yang kuat dan terus menerus”.

Mengapa sebagai suatu bangsa kita terus menerus seolah kalah bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia dalam memproduksi barang dan jasa adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul dipermukaan. Solusi atas pertanyaan itu adalah “policy on trade and industrialization”. Kebijakan tata kelola mekanisme pasar dan tata niaga produk industry Nasional.

Tingkat industrialisasi dibatasi oleh luasnya pasar. Mengapa di abad 18, Inggris dan bukan Belanda yang menjadi pembangkit Revolusi Industri Pertama adalah karena kesuksesan Inggris dalam menciptakan pasar tekstil dan mata rantai pasokan bahan baku kapas di dunia pada abad ke-18. Yang membuat industry tekstil dan produk tekstil tumbuh berkembang.

Demikian juga mengapa Amerika Serikat dan bukan Perancis atau Jerman yang mampu menyalip Inggris menjadi negara adidaya ekonomi berikutnya adalah karena dukungan kebijakan pemerintah AS yang konsisten dalam menciptakan pasar barang produksi industry dalam negerinya di abad ke-19. Yang lahir menjadi penemu terbesar dunia seperti Thomas Edison dan raksasa industri seperti Andrew Carnegie, Henry Ford, JP Morgan, John D. Rockefeller, dan Cornelius Vanderbilt.

Di abad 21 yang disebut sebagai abad Asia, bukannya India melainkan Tiongkok yang berada diposisi terdepan untuk mengambil alih posisi Amerika Serikat di bidang manufaktur dan inovasi. Mengapa begitu ?

Ini semata mata karena pemerintah Tiongkok telah secara konsisten dan bertahap berhasil meproteksi pasar domestiknya dan menciptakan pasar raksasa bagi Industri Domestiknya. Pasar Tiongkok ini berapa kali jauh lebih besar dari pasar Amerika Serikat

Di Tiongkok muncul kesadaran para pemimpin politik nya akan kenyataan bahwa “Pasar ‘bebas’ tidaklah sepenuhnya bebas dari pertarungan kepentingan. Pasar adalah barang publik mendasar yang sangat mahal.

Ambil contoh proses pembangunan industri yang sedang berlangsung sejak masa 1978 di Tiongkok yang didorong tumbuh berkembang bukan semata mata karena keberhasilan untuk menciptakan “layer keahlian” manusia bersumber daya iptek dalam mengadopsi teknologi maju.

Meski pembangunan keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek merupakan prasyarat utama dari kemajuan industry nasional. Melainkan karena penguasaan teknologi oleh Manusia bersumber Daya Iptek, ditopang oleh pilar keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan pada upaya sistimatis berkesinambungan.

Kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk penciptaan pasar domestic yang kuat dan kokoh dalam melindungi produk yang dibuat di dalam negerinya sendiri, oleh manusia bersumber daya iptek yang bekerja di pelbagai sektor industri nasional nya.

Pengalaman Tiongkok dari sejak tahun 1978 hingga 2018, atau 40 tahun, menunjukkan bahwa Pasar untuk barang-barang industri yang diproduksi secara massal didalam negeri tidak dapat diciptakan oleh satu policy economy ‘big Push’ berupa kebijakan industry substitusi impor dan “export oriented economic policy” semata.

Tidak mungkin industry nasional dapat tbuh berkembang hanya melalui sebuah surat keputusan dan program deregulasi diatas kertas semata. Ada proteksi terus menerus yang dipimpin oleh pemerintah untuk memajukan Industri Dalam Negeri melalui pelbagai kebijakan ekonomi, industry dan perdagangannya.

Industri tak mungkin tumbuh berkelanjutan hanya dengan “shock theraphy”. ini hanya dapat dibuat langkah demi langkah dalam urutan yang benar dalam rangkaian urutan ‘shock therapy’ untuk menjebol dan membangun pasar domestic yang memihak pada produk dalam negeri.

Jika kita ingin memetik pelajaran dari Kebangkitan Tiongkok untuk supremasi ekonomi global yang tak terbendung , itu semata mata karena mereka telah menemukan dan mengikuti resep yang benar melalui sistimatika urutan penciptaan pasar bagi industry dalam negerinya.

Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan industry yang sebelumnya. Tiongkok mengalami tiga kali kegagalan dalam proses industrialisasi antara 1860 dan 1978. Sebab tidak dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan tata niaga komoditas dalam negeri.

Dengan kata lain Pasar domestik adalah kekuatan pembangkit industry. Tanpa pasar domestik yang terkelola dengan baik maka industry Nasional akan kehilangan mata air, sumber aliran revenue dan EBITDA yang cukup untuk tetap bertahan sepanjang masa.

Mohon Maaf jika terdapat kekeliruan dalam sharing tulisan kali ini.
Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s