Roadmap to Zero Accident : Better Safe than Sorry

Jusman Syafii djamal
February 23 · Public

Beberapa peristiwa kecelakaan bis pariwisata dan accident yang terjadi dalam pembangunan infrastruktur akhir akhir ini, saya jadi teringat diskusi saya dengan beberapa pakar engineering dimasa lalu, lima sepuluh tahun berselang tentang “product safety” dalam satu seminar. Saya diminta bicara tentang “Roadmap to Zero Accident : sebuah Lesson Learned”. Diskusi ini menyangkut topik tentang Keselamatan produk yang menjadi issue global akibat dari beberapa kegagalan menjaga kualitas produk pelbagai jenis industry. Dari industri jasa hingga industri manufaktur.

Isu “product safety” ini mencuat dari spectrum industri mainan anak anak, makanan hingga industri mobil dan pesawat terbang. Isu product safety muncul baik dari negara berkembang hingga negara maju. Dari produsen peralatan original atau Original Equipment Manufacturing (OEM) hingga perusahaan multinasional yang terkenal di dunia (MNC). Seolah tidak ada industri yang kebal problema dan risiko keamanan produk. Kegagalan produk memenuhi persayaratan yang ditetapkan seperti persyaratan safety, persayaratan emisi gas buang yang rendah, kegagalan memenuhi standard kualitas yang ditentukan sering menjadi fokus tatakelola organisasi dan manajemen puncak sebuah perusahaan.

Definisi safety dapat ditemukan jika kita merancang bangun produk rekayasa dan rancang bangun melalui Standard Militer, yakni dalam MIL-STD-882D, di mana keamanan didefinisikan sebagai “kebebasan yang dimiliki oleh konsumen produk atau pihak ketiga dari kondisi gangguan dan ancaman produk yang tidak berkualitas yang dapat menyebabkan kematian, cedera, penyakit kerusakan atau kehilangan peralatan atau properti, atau kerusakan lingkungan” (MIL -STD-882D 2000, hlm. 1-2).

Dalam 20 tahun terakhir semakin banyak studi tentang budaya keselamatan dan iklim kerja serta managemen tatalaksana proyek ditulis dalam literatur manajemen keselamatan. budaya keselamatan produk (Rollenhagen 2010; Svenson 1984; Van Vuuren 2000).

Istilah tentang FTA atau Fault Tree Analisis (analisis pohon kesalahan), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA analisis efek modus kegagalan), Preliminary Hazard Analysis atau PHA (analisis bahaya awal), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP analisis bahaya dan titik kontrol kritis ), dan prinsip manajemen tatakelola safety atau Safety Management Systems menjadi kosakata yang harus difahami oleh para perancang bangun produk dan pimpinan proyek bidang engineering.

Budaya keselamatan produk sejak awal harus terintegrasi dengan baik dalam arus kerja lapangan yang dilaksanakan.

Banyak contoh yang dapat dikedepankan. Diantaranya dapat ditelaah dari sebuah buku berjudul :”Responsible Product Innovation: Putting Safety First”, karya Andy Yunlong Zhu , Max von Zedtwitz dan Dimitris G. Assimakopoulos Springer International Publishing AG 2018.

Disana ditulis cerita tentang bagaimana pada tanggal 14 Agustus 2007, Mattel (perusahaan mainan terbesar di dunia) memperingatkan Product Saftey dari 18,2 juta mainan yang mengandung magnet kecil dan kuat yang dapat membahayakan anak-anak jika dilepaskan dan ditelan. Meskipun mainan mengikuti spesifikasi desain Mattel, barang yang diproduksi di China mengandung potensi bahaya. Akibatnya, “Made in China” dan pabrikan China untuk mainan anak anak yang mengandung magnet kecil ini, banyak dikritik di media.

Kasus produkct safety yang melibatkan industry China adalah formula susu bubuk melamin. Formula ini bisa menyebabkan susu encer dan menjadi lebih kaya kandungan protein. Akan tetapi konsumsi berlebihan formula susu melamin mengandung risiko kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Pada bulan November 2008, China melaporkan sekitar 300.000 korban. Enam bayi meninggal akibat kerusakan ginjal dan 860 bayi dirawat di rumah sakit

Begitu juga pemimpin industry otomotif seperti Toyota, General Motors, dan Volkswagen semuanya menderita masalah Product Safety selama beberapa tahun terakhir.

Toyota memiliki masalah dengan 12,8 juta mobil yang diproduksi antara tahun 2008 dan 2010 . Desain pedal yang cacat, menyebabkan pabrikan ini mengalami kerugian citra perusahaan dengan biaya miliaran dollar. Pada saat Presiden Toyota Akio Toyoda meminta maaf atas kesaksiannya kepada Kongres AS, harga saham Toyota telah turun sekitar 20% . Toyota kapitalisasinya merosot 35 miliar dollar AS. Kehilangan nilai pasar hanya dalam waktu 1 bulan.

Pada bulan Maret 2014, Toyota didenda 1,2 miliar dollar AS karena dianggap menyembunyikan masalah dan melindungi citra perusahaannya. Yang menyebabkan sejumlah korban tewas yang seharusnya dapat dicegah jika mereka lebih terbuka. Ini merupakan hukuman pidana terbesar yang pernah dikenakan pada perusahaan mobil dalam sejarah Amerika Serikat.

Pada tahun 2014, General Motors (GM) menarik hampir 30 juta mobil di seluruh dunia karena switch pengapian yang salah terhubung. Setidaknya terjadi 124 kematian. GM mengakui bahwa saklar pengapian diketahui telah salah disain atau rancang bangun setidaknya selama satu decade. Namun GM baru memutuskan untuk tidak menarik mobil tersebut sebelum tahun 2014.

National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) memberlakukan denda sebesar 35 juta dollar Amerika kepada GM karena menunda penarikan kembali mobil yang cacat, yang merupakan denda tertinggi yang dapat dipungut oleh NHTSA. Total biaya untuk recall mencapai 4,1 milyar dollar AS tahun 2014.

Kredibilitas Volkswagen sebagai produsen mobil yang andal mendapat pukulan besar pada tanggal 18 September 2015. Badan Perlindungan Lingkungan AS menemukan kendaraan “diesel bersih” Volkswagen melanggar Clean Air Act. Pembuat mobil Jerman telah dibuktikan telah memasang sebuah perangkat lunak yang memungkinkan mobil lulus dalam tes emisi dengan memberikan informasi keliru, sehingga membuat mereka tampak lebih bersih dari pada sebenarnya. Tapi begitu di jalan, mobil-mobil ini akan memompa oksida nitrogen polutan (NOx) hingga 40 kali ambang batas yang ditolerir oleh hukum lingkungan hidup.

Perangkat lunak saat diuji coba, dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan kontrol emisi dan mematikannya. Instalasi ini digunakan dimobil Volkswagen, Audi, SEAT, dan Skoda di seluruh dunia. Sekitar 580.000 kendaraan Volkswagen di Amerika Serikat dan hampir 10,5 juta lebih di seluruh dunia – ternyata sama sekali tidak memenuhi syarat “green rendah emisi”. Dalam 5 hari pengungkapan masalah menyebabkan CEO VW, Martin Winterkorn mengundurkan diri, dan beberapa insinyur diskors. Perusahaan menyisihkan 7,3 milia dollar Amerika, akibat kecerobohan ini.

Kasus lain adalah Galaxy Note 7, salah satu smartphone Samsung yang paling canggih. Diluncurkan tanggal 19 Agustus 2016, Samsung menghentikan penjualan telepon dalam waktu 2 minggu dan mengumumkan setelah menerima keluhan bahwa telepon tersebut menghasilkan panas yang berlebihan dan terbakar.

Sebuah recall resmi diumumkan pada tanggal 15 September 2016 oleh Komisi CPSC (Consumer Product Safety Commission) di Amerika Serikat, AS, setelah muncul 92 laporan tentang overheating telepon, termasuk 25 laporan luka bakar dan 55 laporan kerusakan properti.

Samsung menukar ponsel yang terkena dampak dengan versi terbaru menggunakan baterai dari pemasok yang berbeda. Namun, Samsung akhirnya menghentikan produksi perangkat ini tanggal 11 Oktober. Samsung akhirnya menarik kembali 2,5 juta ponsel Galaxy 7 di seluruh dunia. Dilaporkan bahwa setidaknya 112 ponsel Galaxy Note 7 terbakar pada bulan pertama penjualan. Credit Suisse menilai bahwa Samsung kehilangan setidaknya 17 miliar dollar pendapatannya akibat penarikan kembali produk ini, begitu catatan Wikipedia 2017.

Catatan diatas memperilhatkan betapa pentingnya kita kembali menyadari pentingnya upaya terus menerus untuk mengembangkan Roadmap to Zero Accident dalam setiap program pengembangan produk baik layanan jasa penerbangan, layanan jasa transportasi darat, laut dan kereta api maupn dalam pengembangan produk industry otomotive, produk mainan anak anak dan segala jenis produk makanan serta pembangunan infrastruktur berbasis teknologi tinggi.

Zero Accident mirip seperti kata kata dan definisi yang ditulis Wynand Serfontein tahun 2014: Zero Harm” is a “do not” target. “Do” targets are possible, while “do not” is often impossible.

The focus should be on aspects like “the best available and reasonable safety practices”, or “improved measures” or “better hazard/ risk identification.” These are things that can be done.

If you tell me “do not get injured”, I am going to ask you “How will I not get injured?” What will your answer be? If you do have an answer, I bet it will probably be a list of things I should DO.

Zero Harm adalah target ” jangan sampai terjadi”. Jika target berupa angka ditetapkan, biasanya hal ini dapat dilakukan, sementara target “jangan sampai terjadi” seringkali sukar dilakukan tetapi belum tentu tidak dapat dilakukan.

Fokus kegiatan untuk mencapai “Zero Accident” atau Zero Harm adalah seperti target yang dikembangkan oleh GE dibawah kepemimpinan Jack Welch tentang Zero Waste bermetode Six Sigma. Harus ada identifikasi pada aspek seperti “praktik keselamatan terbaik yang tersedia dan yang masuk akal”, atau “tindakan perbaikan” atau “identifikasi bahaya / risiko yang lebih baik.” Ini adalah tentang daftar hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya accident melalui Ketelitian, Keteraturan, Kecermatan dan Kedisiplinan untuk mengikuti standard kerja yang telah ditetapkan.

Jika kita mengatakan kepada diri sendiri “jangan sampai terluka”,ketika sedang mengenderai mobil atau memotong sayur, maka pasti kita akan berlatih menyetir yang baik atau berlatih puluhan jam untuk menggunakan pisau dapur dalam memotong daging atau sayur.

Kita akan selalu bertanya kepada para ahli yang memiliki jam terbang sebgai Chef atau Safety Driver “Bagaimana agar saya tidak terluka ketika menyetir atau memotong daging dan sayur ?” Apa jawaban para ahli ? Jika mereka memiliki jawaban,dan saya yakin para ahli pasti memiliki jawabannya. Maka apa yang ditulis dan dianjurkan dalam rekomendasi para ahli itu pasti akan menjadi daftar hal yang harus dilakukan.

Better Safe than Accident.
Mohon Maaf Jika ada yang keliru. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s