Transformasi Konfigurasi Perusahaan dalam Gelombang Perubahan Lingkungan Strategis

JUSMAN SYAFII DJAMAL·SUNDAY, FEBRUARY 11, 2018

Tiap perubahan memerlukan langkah adaptasi dan mitigasi. Alam semesta memberi pelajaran berharga yang bisa dipetik para perancang strategi perusahaan dalam menyusun langkah dan aksi korporasi menghadapi badai perubahan peta bisnis akibat kemajuan teknologi. Apalagi, dunia semakin saling terkait dalam interkoneksi, baik karena perdagangan, turisme, maupun industri manufaktur, dalam mata rantai pemasok dan nilai tambah yang melahirkan persaingan sangat ketat.

Contoh keunggulan serta kemampuan adaptasi dan mitigasi risiko atas perubahan lingkungan strategis yang mengitarinya ditunjukkan oleh alam semesta dalam dua jenis binatang, yakni bunglon dan amoeba. Pada kulit bunglon ada sensor penjejak perubahan temperatur. Sensor itu membuat binatang ini mampu menyelinap di antara pelbagai perubahan jenis warna lingkungan sekitar.

Saat berada di antara dedaunan, kulit bunglon berwarna hijau. Begitu pun saat Bunglon berada di atas tanah, kulitnya ikut berubah warna menjadi cokelat. Bunglon memiliki kemampuan survival dengan cara beradaptasi. Kemampuan inilah yang dapat menghindarkan bunglon dari terkaman musuh-musuhnya.

Analogi lain adalah amoeba yang bisa mengatur kepemilikan tentakel, dari sisi jumlah dan ukuran, sesuai dengan keadaan. Maskapai penerbangan perlu memetik pelajaran dari temuan Prigogine serta perilaku bunglon dan amoeba tersebut untuk melahirkan konfigurasi bisnis masa depan dalam lingkungan strategis yang cenderung berubah sepanjang masa.

Pemenang Hadiah Nobel Kimia tahun 1977, Ilya Prigogine, pernah melakukan eksperimen pencampuran dua atau lebih molekul kimia yang berbeda di laboratorium. Hasil pencampuran molekul dan reaksi kimia yang ditimbulkannya melahirkan jenis warna berbeda. Merah, kuning, hijau, biru, abu-abu, dan hitam, atau warna hasil pencampuran warna dasar tersebut. Hasil pencampuran molekul-molekul yang ditandai munculnya pelbagai jenis warna ini melahirkan prediksi apa yang dia sebut chemical clock atau jam kimiawi.

Berdasarkan termuannya, Prigogine mengusung tesis “self organizing in bifurcation point”. Dalam tesis ini, ia menyatakan bahwa, pertama, jika dalam suatu lingkungan dikembangkan suatu sistem yang terbuka dengan mekanisme umpan balik yang prima dan berkesinambungan secara iteratif dalam sebuah siklus berulang (an open systems with a series of multiple positive feedback loop) yang menimbulkan proses interaksi terus-menerus dari kumpulan dua atau lebih molekul anggota sistem tersebut, maka interaksi itu akan melahirkan stabilitas dan keseimbangan serta pertumbuhan energi.Kemunculan tiga faktor tersebut dapat melahirkan kemajuan bagi masing-masing molekul untuk bersinergi membentuk sintesis molekul baru. Terjadilah proses regenerasi.

Kedua, sistem yang terbuka dengan proses iterasi feedback dalam suatu siklus yang berkesinambungan akan menimbulkan energi yang menghalangi satu molekul untuk menelan molekul yang lain. Di sini akan terbentuk senyawa kimiawi baru yang memiliki tingkat energi dan titik ketidakstabilan yang berbeda dari sebelumnya. Sementara itu, tiap molekul masih memilki tingkat kemandirian fungsi dan tugasnya masing-masing. Sinergi antar-molekul melahirkan senyawa baru yang memiliki potensi alamiah berbeda dari sifat bawaan molekul sebelumnya.

Adapun tesis yang ketiga menyatakan bahwa senyawa baru memiliki kemampuan adaptasi sebagai wujud kesenyawaan akibat interaksi yang terjadi. Dalam keadaan tidak stabil, sifat alamiah tiap molekul sebagai unsur pembentuk senyawa baru tersebut menjadi penyangga agar setiap ketidakstabilan tidak melahirkan chaos atau ketidakberaturan yang menghancurkan hasil senyawa baru dari sistem terbuka yang dimaksud.

Temuan Prigogine itu kemudian melahirkan perspektif baru tentang fenomena transformasi konfigurasi perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang terus berubah akibat ketidakpastian dan kekacauan yang mungkin timbul.

Pertama, keadaan kacau atau chaos dapat terjadi sebagai buah proses sinergi dua atau lebih molekul pembentuk senyawa baru –dalam hal bisnis proses bersenyawanya dua maskapai penerbangan atau lebih dalam proses merger dan akuisisi– selalu dapat dikelola menjadi bentuk keteraturan dan keseimbangan baru (new stability and orderly point).

Di masing-masing perusahaan yang bergabung selalu tersembunyi kemampuan self organizing. Kekuatan ini menjadi daya adaptasi dan mitigasi risiko yang dapat dijadikan fondasi proses transformasi dalam struktur senyawa baru hasil penggabungan atau merger dan akuisisi.

Kedua, bersenyawanya dua konfigurasi perusahaan beserta elemen dan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya melahirkan kekuatan untuk bersinergi satu sama lain melahirkan senyawa baru yang memiliki mekanisme self organizing yang bersifat irreversible.

Sifat ini membuat masing-masing molekul atau unsur yang berpartisipasi tak mungkin kembali terpisah dan berdiri sendiri sebagai entitas otonom dalam senyawa baru tersebut. Proses self organizing ini akan melahirkan warna baru yang mungkin berubah dari warna sebelumnya dan bisa jadi lebih indah. Inilah yang kemudian melahirkan apa yang dia sebut chemical clock atau jam kimiawi perusahaan peserta merger dan akuisisi.

Perspektif Prigogine itu kemudian dijadikan pijakan untuk melahirkan konsepsi konfigurasi baru hasil transformasi konfigurasi lama, yang dikenal dengan istilah complex adaptive systems dan dissipative structure.

Keduanya adalah konsep konfigurasi perusahaan yang memiliki keunggulan serta kemampuan adaptasi dan mitigasi risiko terhadap perubahan yang terjadi. Konsep konfigurasi baru yang mampu melahirkan mekanisme lebih efisien dan melepaskan diri dari belenggu biaya tinggi dan boros (dissipative structure).

Temuan itu dapat digunakan sebagai analogi proses merger dan akuisisi. Satu pendekatan anorganik unduk memperbesar Bisnis volume dan EBITDA Perusahaan. Pendekatan yang membuat konsepsi Holdingisasi Perusahaan menjadi trend di tahun 90 an.

Pendekatan yang melahirkan proses transformasi General Electric ala Jack Welch. Merger Acquisition Boeing dengan Mc Donnel Douglas dan Pembentukan EADS yang menggabungkan seluruh industri Penerbangan dan Defence Industry Eropa dalam satu Konsorsium Airbus dan Aeronautical Defence Systems. Yang juga diikuti langkah Presiden Putin di Russia untuk mengintegrasikan kurang lebuh 125 perusahaan milik negara yang berfokus pada manufakture komponen pesawat terbang dan integrator menjadi satu disebut UAC. Penggabungan Sony-Ericson dalam Telekomunikasi.

Sementara kita terus bereda pendapat dengan proses Holdingisasi BUMN untuk membuat struktur BUMN kita menjadi raksasa seperti Temasek di Singapura dan Khasanah di Malaysia, Pertanyaan untuk kita sebagai Bangsa : langkah dan tindakan restrukturisasi organisasi seperti apa yang perlu dilakukan agar terbangun jaringan organisasi yang adaptip dan struktur yang disipatif yang mampu membebaskan diri dari pemborosan biaya dan melahirkan produktivitas serta efisiensi pada setiap perubahan siklus bisnis yang terjadi ?

Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s