Pabrik di Masa Depan : Sebuah Catatan

JUSMAN SYAFII DJAMAL·TUESDAY, JANUARY 30, 2018

Kebetulan Hari ini seorang Teman memberikan “White Book” berjudul “Technology and Innovation for the Future of Production: Accelerating Value Creation” yang diterbitkan oleh World Economic Forum dan AT Kearney Maret 2017. Isinya menarik.

Buku putih ini diawali oleh cerita tentang bagaimana Pabrik yang telah lama memiliki tempat dalam imajinasi semua orang sebagai sumber kekayaan suatu bangsa. Di pabrik banyak manusia bersumber daya iptek menemukan jati diri nya sebagai professional yang diunggulkan. Karya cipta manusia bersumber daya iptek terwujud melalui proses produksi didalam pabrik.

Meski begitu tidak semua orang senang dengan pabrik. Ada yang menyatakan pabrik merupakan fasilitas yang padat, kotor dan berpolusi, di mana ribuan orang berketerampilan rendah bekerja. Bahkan ada yang selalu skeptis pada kehadiran pabrik. Setiap Industri yang memiliki pabrik selalu disebut tidak menghasilkan nilai tambah apa apa Tiap industry yang memiliki “principal” dan membangun mata rantai pasokan dan mata rantai nilai tambah berupa jaringan industry kecil dan menengah, selalu di”downgrade” sebagai tukang jahit semata.

Kebetulan ketika masih bersekolah dasar, ayah saya menjadi administrator perkebunan karet di kabupaten aceh timur. Dekat dengan rumah saya ada pabrik pengolah karet dalam bentuk latex menjadi “crumb rubber”. Tiap jam 9 pagi mobil berisi latex keluar masuk pabrik. Dan didalamnya ada deretan tangki dan deretan mesin untuk memproses karet menjadi crumb rubber. Yang saya ketahui semua buruh pabrik bekerja dengan riang gembira.

Begitu juga ketika tamat dari ITB jurusan Mesin Penerbangan. Sejak tahun 1982 hingga 2002, saya bekerja di Industri Pesawat Terbang Nurtanio, yang berubah nama menjadi PT Industri Penerbangan Nusantara dan kemudian ketika saya menjadi Direktur Utama tahun 2000 namanya diubah Presiden Gus Dur menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Industri dan Pabrik bagi saya merupakan wahana bagi professional Indonesia dan Industriawan kita untuk menunjukkan kapasitasnya kejagoannya dalam memproduksi pelbagai produk unggulan yang dicintai pelanggannya.

Pabrik merupakan sumber mata air Creativity dan Inovasi.

Pabrik dimasa depan akan berubah . Pabrik dimasa depan jauh lebih menyenangkan sebagai tempat bekerja. Pabrik akan seperti rumah sakit bersalin yang bersih, teratur dan steril. Alat kerja, alat peralatan utama berupa mesin mesin akan di layout sedemikian rupa sehinga mata rantai aliran kerja dari satu staisun ke stasiun lain akan terkoneksi mirip perjalanan dengan Kereta api cep, shinkanzen.

Di Tiap station kerja proses integrasi dan interaksi man-machine-materials and money, berupa operator mesin, bahan baku dan barang setengah jadi dengan mudah terjadi. Di Tiap stasiun ada modul sub assembly yang mengalir untuk mendapatkan sentuhan “finishing touch” agar sempurna. Semua berjalan Tepat waktu, Ikuti ritme dari Man Time ,and Motion yang bersinergi dengan manisnya.

Pabrik akan menjadi ruang kreatif yang lebih digital, virtual dan hemat sumber daya. Dalam era Internet of Things, pabrik akan menjadi lingkungan yang lebih kreatif baik dari segi ketersediaan informasi yang tersaji dipapan perintah kerja, maupun informasi berupa gambar teknis yang telah diubah menjadi digital dan menggerakkan spindle mesin secara otomatis. Masing masing equipment seolah mampu berbicara dan mengarahkan kerjasama satu sama lain.

Otomasi, simulasi, visualisasi dan analisis yang disajikan oleh deretan equipment dan alat peralatan utama dilantai pabrik, akan memebrikan kekuasaan lebih luas kepada manusia bersumber daya iptek untuk menjadi manajer. Mereka menjadi “the captain of industry” yang berorientasi untuk mewujudkan “roadmap to Zero Waste” dan “zero Emission”.

Menghilangkan limbah , meningkatkan efisiensi dan produksi. Terjadi peningkatan efisiensi dalam penggunaan material dasar atau raw material. Terjadi penghematan penggunaan dan konsumsi energi konsumsi. Diatas atap pabrik akan terpapar solar cell dan juga disetiap “rest room” atau kamar mandi akan terpasang perangkat cerdas untuk penggunaan listrik, air, dan segala jenis barang lebih tepat sasaran. Padat Teknologi, Hemat Bahan Baku Tidak Boros Energi.

Secara khusus, pabrik masa depan memiliki tiga karakteristik : Pertama : Semua perangkat rekayasa rancang bangun penghasil gambar teknis dari tiap komponen dan modul produksi akan terkoneksi dengan semua mata rantai prose produksi yang terjadi di “shop floor”, atau masing masing stasiun kerja. Semua proses kerja berjalan otomatis dan fleksibel; Tercipta pola hubungan baru diantara operator dan mesin yang digunakan ; dan struktur, lokasi dan skala pabrik akan jauh berbeda disbanding pabrik dimasa kini.

Proses digital yang saling terhubung diantara deretan equipment yang diinstall, otomatisasi dan fleksibelitas pemanfaatan alat peralatan utama yang didorong oleh penggunaan system tatakelola berbasi IoT dikombinasikan dengan analisis dan Artificial Intelligence akan meningkatkan efisiensi aset, mengurangi waktu henti dan biaya perawatan yang tidak direncanakan. Memungkinkan produsen menemukan sumber “value stream” baru dalam variasi produk yang dilayani.

Dengan menggunakan fungsi ujung tombak kembar teknologi digital berupa proses modelling, simulasi dan virtual reality, para perancang produk dan operator mesin mesin akan dapat memanfaatkan media interaktif secara virtual untuk mengoptimalkan desain, proses produksi dan bahan baku yang tersedia. Teknologi 3D Printing memungkinkan para engineer yang bekerja di dalam proses pengembangan produk baru , mampu melahirkan karya cipta yang menarik, dengan potensi tak terbatas. Mereka memiliki kebebasan untuk menciptakan desain produk baru dengan kemampuan fungsional serta kustomisasi yang lebih besar.

Tampaknya kita akan melihat “kumpulan pulau pulau poroduksi yang bersatu padu” di lebih banyak industry. Baik yang membuat produksi tradisional , heritage product maupun jalur perakitan yang tumbuh sebagai bagian dari masa lalu.
Di Indonesia Revolusi Industri Keempat mungkin tidak sepenuhnya dapat mengubah paradigma produksi pada tahun 2030. Akan tetapi sudah sepantasnya para industriawan yang concern pada keberlangsungan hidup industrinya dimasa depan,membahas semua “driver nilai tambah” yang pasti berubah drastis di lantai pabrik akibat kecepatan kemajuan teknologi digital di tahun 2018 ini.

Dimasa yang akan datang, sebut saja tahun 2030, 12 tahun dari sekarang tingkat kepuasan pelanggan akan menjadi driver utama yang dapat menentukan mati hidupnya sebuah pabrik. Pelanggan yang memiliki banyak pilihan akan selalu berorientasi pada pengingkatan kualitas produk, inovasi, dan kelincahan organisasi dalam melayani kebutuhan mereka.

Kemajuan teknologi yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri keempat akan mengurangi konsumsi energi hingga 20-30%, sementara lead time dapat dipotong 20-50% dengan mengintegrasikan IoT dan kemampuan analytics akibat pemanfaatan Artificial Intelligence dalam mengelola “Big Data” dalam setiap mata rantai operasi.

Dengan peningkatan transparansi, manufaktur dan desain produk akan menjadi jauh lebih responsif terhadap kejadian eksternal, perubahan dalam rantai pasokan dan permintaan konsumen.

Lokasi geografis Indonesia dan profesionalisme dari manajer pabrik dan engineer di Indonesia dalam proses acquisisi teknologi dan adopsi metode dan tata kelola industry yang baru, akan dapat menciptakan system produksi yang jauh lebih efisien dan produktip.

Pertanyaannya Pabrik Pabrik di Indonesia sudahkah mulai dibenahi , direvitalisasi dan dimodernisasi ?

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s