Nilai Tambah Individu melalui Online : Catatan Pertama dari Tiga Tulisan

JUSMAN SYAFII DJAMAL
JANUARY 30, 2018

Kemarin Sabtu dan Minggu, 27-28/1/2018 dalam perjalanan pulang pergi Bandung saya sempati membaca buku “In Where Good Ideas Come From”, karya penulis sains Steven Johnson. Ia menjelaskan tentang sifat alamiah dari peristiwa sejarah inovasi “di mana secara menarik dan elegan ia bercerita tentang kejadian penemuan produk teknologi dan ilmu pengetahuan. Dengan gamblang ia menggambarkan bagaimana proses kreatif muncul. Saya share sedikit cerita yang muncul akibat saya tergugah dengan fikiran masa lalu tentang kata nilai tambah.

Lingkungan kreatif , menurut Steven Johnson sering bergantung pada “jaringan cair” dari para ilmuwan dan engineer yang saling bercengkrama di sambil minum kopi di kampus kampus. Di mana gagasan yang berbeda dapat bertabrakan dalam konfigurasi pemikiran yang berlainan. Melalui interaksi informal ini, biasanya ide yang cemerlang muncul tiba tiba melalui proses tanpa sengaja, serba kebetulan. Masyarakat ilmiah atau Researcher biasanya yang sedang berupaya keras mencari jawaban atas satu masalah dan ternyata malah melenceng menemukan solusi dari masalah yang lain. Gagasan bernas sering muncul di tempat dimana tabrakan pemikiran acak mungkin terjadi.

“Lingkungan yang inovatif,” tulisnya, ” membantu warga akademik atau para perancang untuk mengeksplorasi segala kemungkinan spektrum pemikiran yang saling berdekatan, dengan lebih baik. Dalam lingkungan seperti ini ada kawasan pemikiran yang saling berasosiasi, dan gagasan yang ada saling bersintesa dan berevolusi untuk menghasilkan suatu konfigurasi pemikiran yang baru, yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang diprediksi sebelumnya.

Dalam lingkungan yang inovatif ekspose sampel variasi yang luas dan beragam baik yang terpapar dalam purwarupa mekanis atau gagasan yang berbentuk skema konseptual telah menimbulkan inspirasi dan mendorong cara baru untuk menggabungkan bagian-bagian yang awal nya terpisah menjadi jenis produk berbeda. Inovation is connecting dot kata Steve Jobs.

Pada hari-hari di awal World Wide Web, ketika Yahoo menjadi masih menjadi raja engine pencari sebelum kehadiran Google, medan online terasa seperti benua yang belum dipetakan, dan para pengguna Yahoo menganggap diri mereka sebagai penemu dan penjelajah. Kini Yahoo dan Google sebagai search engine ibarat kedai kopi di desa pantai, tempat para pelaut berkumpul untuk bertukar cerita tentang binatang aneh dan tanah terpencil yang mereka temukan di laut.

Pergeseran dari eksplorasi menjadi penemuan ke proses pencarian berbasis tujuan dalam search engine seperti hari ini melalui penggunaan Yahoo, Google dan You tube tidak pernah dibayangkan sebelumnya” kata seorang editor Yahoo di awal mula yang bercerita kepada wartawan John Battelle. “Sekarang, melalui online kita seolah mengharapkan segala sesuatu yang ingin kita temukan akan ada di sana. Mekanisme proses pencaharian seperti itu adalah sebuah pergeseran besar. dalam pola kita bekerja dihari ini”

Pergeseran dari Web yang berorientasi penemuan ke pencarian segala sesuatu jawaban atas pertanyaan dalam kepala melalui web dan online mencerminkan satu episode lain dari fenomena proses kreatif masa kini. Melalui online, Proses kreatif yang dilakukan dengan menelusuri jejak pemikiran orang lain, telah menghasilkan hal baru. Ada proses pembenihan silang yang terjadi melalui interaksi online dengan banyak pemikiran berbeda.

Proses mengambil sebagian atau keseluruhan gagasan seseorang yang kemudian disunting untuk digabungkan dengan gagasan lain yang berbeda nirip seperti proses penelusuran akar problema yang sering dilakukan oleh para ilmuwan dimasa lalu.

David Gelernter, seorang profesor dari Universitas Yale dan visioner superkomputer percaya bahwa pada awalnya komputer hanya akan melayani kita dengan baik saat mereka dapat menggabungkan logika yang hadir dalam mimpi kita ketika tertidur sebagai seorang ilmuwan. Salah satu masalah paling sulit untuk dibayangkan dimasa lalu dan paling menarik dari abad cyber ini adalah bagaimana dimasa kini, di zaman now, segala jenis mimpi dari setiap individu dalam bentuk celotehan celotehan tak ada ujung pangkal, dan hasil jepretan fotography atau unggahan video baik yang lucu maupun serius dalam youtube , yang ‘melayang’ ke jaringan online ” tulisnya.

Melalui pelbagai web yang tersedia dan unggahan content dalam youtube dan facebook ataupun tweeter, kita kadang-kadang dapat mengembara kepelbagai penjuru pemikiran orang lain. Seolah melalui web kita memiliki pasport bebas visa untuk menyebrang ke perbatasan pemikiran orang lain. Kita mampu berkunjung ke tempat-tempat yang sebelumnya tak di rencanakan untuk dikunjungi.

Melalui sentuhan pelbagai “click” mouse yang ada dalam genggaman, kita seolah mampu menemukan “expert” atau “pakar” diseberang lautan. Proses menyentuh tombol smartphone kini seolah seperti kunjungan ke laboratorium atau pusat pusat riset bertemu hasil penemuan orang lain, mendapatkan bantuan untuk membuka belenggu dari rasionalitas kita yang tertutup kabut , dan membiarkan pikiran kita mengembara dan bermetamorfosis seperti yang dialami saat kita tertidur.

Melalui interaksi online kita kini mampu menciptakan lingkungan kreatif, environtment kumpulan expert dan pakar yang cair dan gayeng dalam menyuburkan benih pemikiran yang kita punyai untuk berinovasi. Melalui jaringan online kini kita mampu meningkatkan kapasitas intelektual kita. Meningkatkan nilai tambah pribadi, dengan menguasai pelbagai pengetahuan, informasi dan data yang sebelumnya tidak kita mengerti. Empowerment dan Enhancement.

Sayang lingkungan yang cair dengan para expert dadakan di sosmed dan online itu, meski menarik juga memiliki “draw back”, kendala dialog akibet ujaran kebencian yang tak kunjung berhenti mengalir , “hoax” yang berseliweran datang dan pergi tanpa permisi ke jaringan kita. SIkap monolog mau menang sendiri, yang menyebabkan proses interaksi pemikiran untuk meningkatkan nilai tambah individu yang sedang terjadi, sering terhambat.

Tetapi Seperti kata lyric lagu nyanyian Khaled : On va s’aimer on va danser Oui c’est la vie. Semua orang boleh saling mencinta daan bernyanyi. Dalam rasa cinta pasti ada rasa cemburu dan benci yang datang silih berganti. Dan dan Itulah hidup. c’est la vie.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s