Preman Lontong Soda Gembira : Model “Sharing Economy” ?

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
JANUARY 24, 2018

Tahun 70 an saya punya banyak Teman lebih Tua yang dikenal sebagai “preman” . Berkenalan dengan mereka dimasa itu menyenangkan. Sebab mereka marah jika saya terlena bermain main. Mereka bilang :”Yusman kau jangan ikut jalan tak berujung ini, sekolah dan belajar yang rajin. Bapak mu di gang macan langsa nanti kecewa kalau Kau ikut jadi luntang lantung seperti ini. Kau sekolah yang rajin. Kalau ada yg ganggu lapor saja sama abang.

Bergaul dengan mereka rasanya syur . Asal ada filem India yang baru atau film Clint Eastwood Janggo pasti nonton tanpa karcis alias gratis”. Tapi kalau mereka sudah bergelut tanpa ujung pangkal, badan pun ikut menggigil. Salah gerak ikut masuk Rumah sakit. Ketika itu mereka yang saya kenal di Medan itu adalah Abang abang baik hati berbadan kekar, yang sering jadi pelindung anak sekolah, Gadis cantik di kampung dan orang tua yang sudah lemah. Itu kenangan Tempo dulu. Entah sekarang. Ketika ke Medan saya coba bertemu lagi, mereka banyak yg sudah wafat diusia yang tergolong Muda.

Mereka disebut preman bukan karena keganasan nya dan kegaduhan yang ditimbulkan nya. Tapi lebih karena mereka habis lulus SMA tak bisa cari kerja. Hobby mereka memang latihan bela diri dan adu otot. Dikenal istilah Muka Seram Hati Roman. Galak tapi hatinya baik. Awalnya istilah preman lahir untuk menyatakan bahwa mereka adalah “free man” orang merdeka tak punya Tuan yang bisa mendikte. Mereka sering dan mudah saya temui didepan sekolah saya dan juga simpang jalan.

Ketika itu saya bertemu dengan dua type preman. Yg satu mereka sebut preman lontong. Istilah ini muncul karena ketika makan siang, mereka kurang duit untuk makan Sate padang atau Sate kacang komplit pake daging nya. Sate zaman old dagingnya memiliki potongan besar besar . Jadi satu porsi bikin kenyang. Begitu juga lontong nya. Kini tidak begitu lagi. Daging mahal jadi potongan sate dan rendang ikuti trend technology digital “miniaturisasi” dan “de scaling “, mengkerut ukuran nya.

Istilah Preman lontong muncul karena mereka punya teknik menghemat ongkos. Kalau makan sate padang mereka hanya pesan lontong dengan kuahnya saja. Harga potong separoh, lontong lebih banyak. Sementara yang lain memesan daging saja tanpa lontong . Yg pesan sate daging nya saja akan dapat bonus. Sate berdaging plus kerupuk jangek disiram kuah sate. Ketika makan , mereka berkumpul jadi satu . Ala kenduri cinta.

Membangun persahabatan senasib sepenanggungan dengan cara berbagi. Yang pesan lontong kuah sate. Bergabung dengan yg pesan sate daging dgn Bonus kerupuk jangek berkuah sate. Model makan berbagi ini yang mungkin jadi inspirasi “uber taxi” dan Arnbnb pencipta ekonomi berbagi atau “sharing economy”.

Yang punya asset mobil atau Rumah yang idle tak digunakan memanfaatkan ruang kosong dan tak terpakai dari asset yg dimiliki untuk dimanfaatkan oleh Pelanggan yang sedang pusing nunggu taxi yang tak muncul2 dan hotel yang penuh sesak.
Dengan “software aplikasi” yang memerlukan kenderaan bertemu dengan pemilik mobil yang sedang nganggur tak punya penumpang.

Klop. Mirip cara Sate bertemu lontong dalam ruang persahabatan di warung pinggir jalan yg bersih terjaga. Komplit sudah apalagi dapat tambahan kerupuk jangek dengan kuah sate padang. Hidup jadi nyaman. Dengan software aplikasi pemilik Rumah kosong dapat menawarkan kamar untuk dijadikan tempat peristirahatan Para pelancong. Turis ala jalan Sabang yg menumpang dirumah Rumah penduduk.

Di New York cara kerja berbagi ini melahirkan model bisnis sharing Economy yg dipeopori oleh Arnbnb dan Taxi Uber. Di Indonesia zaman dulu disebut Guest House dan taxi omprengan. Kini generasi tua yang hidup di zaman Now sering kaget dan merasa bisnis nya terancam akibat kehadiran model bisnis dengan software aplikasi. Padahal generasi zaman old sudah hidup dengan cara yang berdiri diatas prinsip dan metode yg mirip sama dan se bangun.

Model kerjasama Preman Lontong. Bekerja sama makan bersama, yang satu fokus pada lontong dan kuah. Yg lain fokus pada sate daging nya. Pemilik Kios sate juga gembira. Ada pembeli langganan yang hadir setia. Economic of scale muncul. Volume lontong dan sate memenuhi syarat break event point. Book. Topline dan bottom line neraca rugi laba masuk.

Cerita pengalaman masa SMA bersahabat dgn preman lontong dishare disini untuk memberi persfektip bahwa kita tak perlu terlalu hawatir dengan banjir teknologi digital. Yg bikin persepsi bahwa kita telah ketinggalan zaman dan dilanda tsunami software aplikasi yg meruntuhkan sendi sendi ekonomi tradisional.

Sebab dalam adat istiadat kehidupan keseharian kita sebenarnya tersembunyi spirit local wisdom. Mba Megawati Presiden kelima RI sejak tahun 2000 an telah mengajak kita semua untuk mulai membangun kembali spirit ekonomi gotong royong sebagai basis ekonomi berdikari. Dan kini diulang kembali oleh Presiden Jokowi. Fondasi Revitalisasi dan Modernisasi telah dirintis oleh semua Presiden RI, Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur dan Pak SBY. Continuous journey to build a Nation.

Di Medan masa lalu saya sempat mengenal kehidupan preman lontong. Makan siang dan malam berbagi lauk pauk di meja makan. Yang tak lengkap jika tidak ditutup dengan minuman segar. Soda gembira. Limun Bergas atau minuman bersoda yang dituang dalam gelas berisi susu kental manis.

Sate Padang atau Sate Kacang tambah Soda Gembira. Kenangan masa lalu yang menyenangkan. Prinsip Sharing Economy telah kita kenal sejak masa lalu. Yang perlu direvitalisasi dan dimodernisasi adalah infrastruktur iptek yang kita kuasai dan miliki. Infrastruktur yang berfungsi seperti roda gembira memperlancar dan memuluskan konektivitas diantara produsen – distributor – pemilik warung/pedagang dengan customer nya. Agar asset yg dimiliki meningkat value nya. Agar asset meningkat nilainya dalam proses bisnis dan value chain yang lebih canggih.

Apa begitu ? Mohon maaf jika ada yang keliru . Happy New Year 2018.
Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s