Menjadi Indonesia

Adriano Rusfi
February 22 at 10:39am ·

Bapak tua itu kulihat di panggung sedang bicara penuh semangat tentang Indonesia bebas korupsi, saat aku memasuki aula sekolah berformat teater dan megah. Seperti biasa, ia berbicara dengan logat Jawa Timuran yang begitu medhok…

“Kita harus membangun siswa yang anti korupsi, mulai dari perilaku yang paling sederhana… Kita harus membangun peradaban Indonesia melalui generasi dan regenerasi…”

Ah, setiap kali aku bertemu dia ada sebuah kobaran keindonesiaan yang luar biasa. Apakah dia pribumi ? Sama sekali tidak !!! Bapak tua berusia 73 tahun yang masih sangat enerjik dan segar-bugar ini seorang Hadhrami, keturunan Arab. Di sekolah yang ia dirikan, hanya ada sedikit keturunan Arab. Ia bahkan sesekali mencemooh oknum dari kaumnya sendiri yang berperilaku tak Islami.

Tapi, bukan kata-kata yang keluar dari ucapannya yang membuatku yakin bahwa beliau sangat Indonesia. Karena kata-kata bisa jadi hanya polesan bibir, akrobatik-retoris, tak keluar dari hati, hanya sebuah pencitraan. Ya, sebagaimana retorika nasionalistik yang sering diteriakkan di balik mimbar oleh seorang politisi-pengusaha bercambang lebat : begitu mempesona, retoris, agitatif namun hampa, kering makna dan spirit. Ia bicara dari otak, bukan dari hati.

Nah, yang membuatku yakin akan spirit keindonesiaan Pak Tua ini, adalah getar yang membuncah dari tiap kata yang keluar dari bibirnya. Ia memang beraroma Indonesia… Ia memang kental dengan aura kebangsaan… Ada ruh merah-putih dari kalimat-kalimat mimpi keindonesiaan yang ingin ia bangun… Tentunya tetap dengan sebuah aqidah bahwa di atas itu semua beliau adalah seorang Muslim. Ya, karena aroma, aura dan ruh tak dapat dibuat-buat lewat airmata buaya.

Tapi tetiba hari ini rasa dan pikiranku menerawang ke tempat lain, ke saudara-saudaraku yang lain, ke mereka yang berkulit kuning, berambut lurus dan bermata sipit. Aku sering kagum dan bangga kepada mereka : tentang jiwa wirausaha… tentang ketangguhan dan keuletan… tentang keramahtamahan… tentang mimpi yang mereka wariskan antar generasi… Aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku itu, sehingga sering aku sampaikan dalam ceramah, training, seminar, workshop atau beberapa kontemplasi yang kusampaikan.

Walau dengan lidah tercekat karena takut dituduh rasis, anti minoritas, radikal dan tak bhinneka, sungguh dengan tulus aku ingin bertanya pada mereka :

“Kapan kalian dapat menjadi Indonesia ??? Sungguh karena aku suka kalian… rindu kalian… ingin berteman dengan kalian… lalu berdiskusi tentang bangsa, tentang peradaban negeri, tentang anti korupsi… tentang kemiskinan dan penindasan… tentang ketidakadilan… tentang konservasi alam… Ya, tentunya tanpa hidden agenda, misalnya tentang hak dan supremasi minoritas. Kemudian, tanpa sekat batin kita bekerjasama dalam kebaikan untuk negeri dan kemanusiaan…”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s