Belajar “Game of Leadership” dari Seorang Maniak Golf

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
JANUARY 24, 2018

Pagi tadi Selasa 23 Januari 2018, tanpa sengaja saya minum kopi bareng bersama teman satu alumni ITB, kebetulannya usia lebih muda 5 tahun dari saya. Namanya Amrie Noor jurusan Arsitektur angkatan 77. Amrie ini saya kenal sangat gemar bermain golf, Mungkin dari sejak 20 tahun lalu. Teman temannya bilang ia termasuk kategori maniak. Kata yang Mungkin terlalu berlebihan sebagai julukan tapi sangat tepat diberikan padanya. Di Persatuan Golf Ganesha , tempat berkumpulnya alumni ITB hobby golf kita mungkin mudah bertemu orang seperti Amrie, Ultra, Jozua, dan banyak lagi yang lain yang Tiap hari rajin berlatih.

Saya minta izin untuk menulis dialog saya dengannya dalam laman facebook saya. Sebab mungkin ada hal menarik untuk dicermati. Terutama oleh generasi Anak Anak saya yang sedang termotivasi untuk belajar tentang “science of leadership”, Ilmu kepemimpinan di zaman now. Dia bilang :”apa yang mau ditulis bang”, ini kan cuma omong kosong saja. Saya bilang itulah kau, ada “Ilmu hidup” yang dikuasai tak mau dibagi. Dia ketawa, apa pula itu Ilmu hidup. Saya bilang Ilmu yang bikin kau bisa survive disepanjang masa. Man for all season kata saya.

Dia terkekeh dan bilang :”ah bang Jusman ini tak habis ku mengerti, apa Saja hendak ditulisnya. Terserahlah. Tapi sebetulnya aku sudah menulis buku Golf bang, tambahnya. Tapi tidak berkaitan dengan soal teknis, melainkan yang bersifat filosofis. “Ah inilah kau “:kata saya. Mentang mentang beranjak usia 55 an sudah mau bicara filosofis pulak. Ha ha dia ketawa. Kami pun berpisah sambil tergelak.

Ketika ngobrol dengannya, seolah tidak ada keraguan terbersit pada saya, bahwa golf jauh lebih sulit daripada ekonomi. Ia berceloteh tentang bagaimana pegolf papan atas berpenghasilan jauh lebih besar dari para ekonom top; Sehingga kini generasi muda Korea dan Jepang serta Tiongkok mulai menggunakan keahlian bermain golf sebagai sumber penghidupannya.

Kata Amrie,:”jangan lupa bang Pendapatan pegolf lebih tinggi dari Insinyur profesional juga”. Sebab Supply lebih tinggi dari Demand. Keahlian bermain golf pada puncaknya merupakan “barang langka”. Scarcity of Resources menentukan behaviour dari penawaran dan permintaan.

Memang, saya amati permintaan untuk menyaksikan pertandingan legenda golf seperti Tiger Woods jauh lebih tinggi daripada untuk mendengarkan ceramah seorang ekonom pemenang Hadiah Nobel seperti Milton Friedman. Seolah Tiger Woods mampu menciptakan lebih banyak nilai tambah atau lebih banyak kenikmatan untuk “penonton setianya” daripada murid Friedman, yang mendengarkan kuliah ekonominya.

Demikian juga, dari segi Ilmu ekonomi yang bertitik tolak dari tingkah laku permintaan dan penawaran atau supply and demand dalam menemukan harga sebuah komoditi, maka harga lebih tinggi biasanya diberikan kepada para pegolf profesional terbaik didunia, dibanding penghargaan kepada ekonom profesional terbaik. Seolah di sisi penawaran, sulit untuk mengembangkan keterampilan pegolf profesional daripada keterampilan seorang ekonom profesional, jadi pasokan pegolf lebih rendah. Padahal dalam realita melahirkan ekonom mumpuni jauh lebih sukar dimasa sekarang.

Ketika saya tanya tentang mengapa orang lebih mau membayar pegolf profesional lebih tinggi dibanding ekonom profesional, Amri bunya jawaban menarik. Dia bilang Pegolf memiliki terlalu banyak hal untuk dipelajari: secara teknis mereka harus berlatih 8 jam sehari, hanya untuk melatih posisi kepala agar selalu tetap menatap bola ketika bahu diputar kekanan kekiri dalam gerakan swing.

Begitu juga untuk membiasakan agar tekanan tangan yang menggenggam stick selalu bertegangan ringan. Latihan memukul dua ribu bola hanya untuk menjaga agar lengan kiri tetap lurus tak Bangkok kesana kemari ketika memukul bola, dan mempertahankan ritme bagaimana stick berhenti di atas , memindahkan berat badan dengan tepat sambil memutar stick segera dalam satu bidang. Amrie bercerita sambil matanya bersinar karena berkoyok (kata orang medan) tentang sesuatu yang disenanginya.

Tapi yang lebih utama saya dapat menganalogikan cerita Amrie tentang main Golf ini seperti seorang dosen teman saya yang menceramahi saya tentang pentingnya “power point”. Menemukan elemen substantif dalam sebuah presentasi.

Agar permainan lebih tepat sasaran Golf mengenal dua kata yang penting dijadikan Dakar paradigms nya yakni konsepsi tentang kata”Power and Direction”. Dalam presentasi ilmiah kita juga mengenal istilah yang terdiri dari dua kata kunci yakni Power and Point. Ada orang fokus pada Power tetapi lupa pada Direction atau abai pada “Point” utama yang jadi pock bahasan. Ada orang yang selalu berkonsentrasi pada “Point utama” atau direction arah menusu sasaran tetapi tidak memiliki “Power” atar kekuatan untuk menggerakkan badan dan fikiran kearah yang dituju. Sehingga dalam bermain golf ada tiga kemungkinan prilaku yang dapat diejawantahkan oleh para pemain.

Yang pertama pemain pemula yang semata mata mengandalkan pada kekuatan otot dan tenaga mereka masuk kategori Have power no direction. Ada pemain lama yang mulai memudar kekuatannya. Mereka masuk kategori Have direction and no power. Yang ketiga ini yang diimpikan oleh semua pemain golf, yakni memiliki kesampataan sekaligus kesasmitaan untuk menjalani setiap game dalam setiap etape hole secara crema, presisi dan tepat sasaran. Mereka termasuk kategori profesional dan maniac golf, Have Power and Have Direction. Punya arah dan Tenaga yang terukur. Dan yang keempat masuk kategori gawat darurat have both no power and no direction. Alias tak mampu bermain golf

Saya jadi ingat pada “science of leadership”, ilmu kepemimpinan, dan juga “science of decision making”, dimana interaksi diantara spektrum Power yang dimiliki atau kekuatan pengaruh yang dipunyai oleh seorang pemimpin pada masyarakatnya harus diimbangi oleh spektrum substansi atau Point and direction, arah kebijakan yang akan diambil. Atau yang dikenal dengen istilah visi dan misi.

Interaksi diantara Power and Direction ini yang melahirkan makna strategi, menemukan jalan terobosan menuju sasaran puncak . Sebuah kombinasi pemanfaatan “power” yang terukur menuju arah masa depan dan agenda implementasinya.
Sebuah Interplay antara Power and Direction of Strategy pada gilirannya akan merubah peta dan landskap papan catur masalah yg dihadapi setiap pemimpin. Leadership yg selalu berusaha membangkitkan potensi jalan terobosan baru . Selalu berupaya menemukan blue print tentang masa depan seperti apa yang hendak kita wariskan pada generasi muda kita.

Perbincangan dengan rekan yang lebih muda memang mampu membuat saya terkesima pada variasi pilihan hidup yang diambil oleh mereka.

Sebetulnya fenomena yang diamati oleh Amrie dalam “permainan Golf” juga saya temui pada profesi lain. Ini yang sering bikin risau saya. Saya melihat kecenderungan yang makin kuat betapa kita di Indonesia terus mengabaikan penghargaan pada ilmuwan Matematika, Fisika, Kimia dan mereka yang menggeluti dunia Keinsinyuran. Jika kecendrungan ini masih terus berlanjut, maka jangan heran jika dimasa depan tidak ada lagi generasi muda yang mau menekuni bidang keahlian sebagai ilmuwan eksakta Matematika, Fisika dan Kimia, serta profesi Insinyur. Dan daya saing kita hancur. Sehingga kehawatiran Bung Karno dan Bung Hatta dimana kita sebagai menjadi kuli diantara bangsa lain terjadi. Saya berdoa tidak.

Mungkin tanda tandanya kelihatan, ketika “girder yang ada dalam konstruksi beton LRT”, jatuh saat dipasang, saya tidak menemukan tulisan ahli ilmu bangungan Sipil yang menulis tentang sebab sebab teknisnya. Semua langsung setuju dengan pendapat pewarta yang berkesimpulan bahwa semua ini karena kerja terburu buru dikejar target. Padahal mungkin saja ada masalah lain yang bersifat teknis engineering dibalik peristiwa itu.

Karenanya kini ada banyak peristiwa yang membuat saya perlu untuk tidak cepat cepat mengambil kesimpulan. Paling tidak dari waktu berbincang tentang kegiatan olah raga golf dengan Amri, saya punya persepsi berbeda. Golf ternyata bukan seperti yang saya duga selama puluhan tahun, sebuah permainan yang hanya buang buang waktu dan bikin habis gaji ditelan ongkos yang membuat daya beli turun. Melahirkan kesenjangan.

Ternyata seperti kata orang tua di zaman old yang mengatakan bahwa “dibalik badan yang Sehat tersembunyi jiwa yang Sehat”. Kisah Berjalan Pagi, berjemur dibawah sinar Matahari, mengejar bola besanna kemari, bercengkrama setelahnya seperti yang saya temui Pagi ini dalam dialog sambil minum kopi Gayo di satu tempat pinggiran kota Jakarta, membuat saya terjaga.

Dan kini saya mencoba mulai mengerti mengapa generasi muda Tiongkok, Jepang, Korea kini berlatih ribuan jam dalam arena olah raga seperti Tenis untuk menjadi juara Wimbledon, Golf untuk menjadi juara PGA seperti Tiger Woods, Matsuyama, Oosthuizen, Fowler.

Saya share cerita omong kosong Pagi tadi, disini agar para sahabat fb saya mau meluangkan waktu untuk terus bersilaturahmi dan bercengkrama dalam dialog dengan sahabat pelbagai profesi , mendengarkan kisah cerita mereça yang mencintai apa yang dikerjakan saat ini, sebagai pengisi jiwa. Belajar dari pengalaman orang lain.

Agar kehidupan “online” yang menyita waktu tak menjauhkan diri kita dari pergaulan dunia nyata yang tetap menyenangkan. Dunia maya ada baiknya selalu terkoneksi dengan dunia nyata. Online business sangatlah perlu selalu memiliki sumber mata air pada kekuatan produksi di industri sektor riel. Agar keahlian produksi yang dikuasai Bangsa Indonesia tidak lenyap ditelan zaman.

Akhirnya apapun yg dilakukan Kita perlu belajar memahami pesan juara Golf PGA tahun 1997 Davis Love Jr yang bilang begini ;” Let your attitude determine your game. Don’t let your game determine your attitude.”

Mohon Maaf jika Keliru,
Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s