Orang Tua yang Bahagia menciptakan Anak yang Bahagia – Bag 1

Yayasan Kita dan Buah Hati

Serial Parenting #36

Kita semua pasti ingin bahagia. Tak pandang kaya miskin, cantik atau cukup, sehat atau sakit, suku bangsa, agama, dan pembeda lainnya, setiap kita ingin bahagia menikmati kenyataan yang kita hadapi saat ini. Orang yang kaya, cantik, sehat, terpandang, bos dari perusahaan ternama, namun jika suasana hatinya dirundung kesedihan, amarah, kebencian, dendam, dimana pun ia berada seakan dunia menghimpitnya.

Menariknya, apapun emosi yang kita ekspresikan bersifat menular. Pernahkah Ayah Bunda bertemu dengan seseorang yang mengendarai mobil dengan ugal-ugalan dan ia bersumpah serapah ketika ia memotong jalan kita? Emosi negatif dari orang itu terlempar dan membuat kita kesal sekali. Pernahkah juga Ayah Bunda bertemu pemulung yang melemparkan senyum tulus saat kita berjalan berpapasan dengannya? Hati kita yang semula diliputi awan tebal pun perlahan menghangat dan terasa lapang.

Ketika menghadapi anak-anak kita, suasana hati kita sebagai orangtua juga sangat berpengaruh kepada anak kita. Bahkan, suasana hati ibu yang sedang hamil sangat mempengaruhi kepribadian dan psikologis anak kita hingga ia dewasa.

Namun, kita tidak bisa berharap kebahagiaan dari orang lain. Respon dan suasana hati kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Bagaimana caranya agar menjadi pribadi (orangtua) yang bahagia?

Biasakan untuk merenung, mengenal kembali diri sendiri yang paling dalam. Periksa diri kita apa penyebab dari setiap emosi yang kita rasakan. Lebih jauh lagi, apakah emosi yang sering muncul pada diri kita saat ini terkait dengan pengalaman masa lalu yang mungkin telah kita lupakan, atau kemarahan yang terpendam, atau kekecewaan yang mengerak. Seringkali luapan emosi kita yang tidak tepat saat ini akibat wiring dari ‘ruang’ memori yang menyimpan gambar tidak menyenangkan.

Temukan pola bagaimana diri kita mengelola dan merespon emosi kita secara spontan. Apakah sudah tepat dan semestinya. Ketika tubuh kita lelah biasanya emosi kita lebih sulit dikontrol. Bicara pada pasangan dan anak kita jika kita sedang merasa tidak nyaman sehingga bisa meminta waktu sejenak (time out) untuk mengelola emosi negatif kita. Jika kita tidak mengatakan pada mereka, kemungkinan terjadi kesalahpahaman bia semakin lebar.

Saat memanfaatkan time out, buang sampah emosi dengan melakukan hal yang kita sukai atau minimal berkacalah dan bicara pada diri sendiri bahwa kita berhak bahagia. Lihat betapa tidak sedap dipandangnya wajah kita ketika emosi kita negatif. Mulailah tarik nafas dalam dan tarik otot pipi kita, tersenyumlah. Penelitian membuktikan bahwa senyum palsu pun tetap memberikan perasaan yang lebih baik karena tarikan otot pipi mendinginkan batang otak yang mengakibatkan dilepaskannya hormon anti agresifitas (anti penyerangan).

Kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita, kita memiliki kebebasan untuk menciptakannya kapan saja kita membutuhkan. Betapa kita punya kuasa penuh atas diri kita bukan?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s