Revitalisasi Azas Cabotage?

Jusman Syafii Djamal
January 11, 2018

Tahun 2009 ketika Undang2 Penerbangan lahir muncul kesepakatan politik untuk mengedepankan azas cabotage dalam Tata kelola Bisnis Jasa Penerbangan dan Bisnis Jasa Pelayaran.

Azas ini bukan saja diterapkan di Indonesia tetapi juga di Amerika dan Eropa.

Azas ini memberlakukan larangan Bagi maskapai penerbangan berbendera asing atau kapal berbendera selain indonesia untuk mengangkut penumpang dan barang dari satu bandara dan pelabuhan domestik ke bandara dan pelabuhan domestik lainnya.

Malaysian Airline atau Singapore Airline misalnya tidak dibolehkan menurut undang undang untuk mengangkut penumpang atau barang dari Jakarta Medan , Medan Makasar atau Denpasar Sorong.

Rute domestik tertutup untuk maskapai atau pelayaran berbendera asing. Tujuan azas cabotage diberlakukan di Eropa, Amerika dan Indonesia adalah untuk penciptaan pasar domestik Bagi industri Jasa pelayaran dan penerbangan dalam negeri.

Kini ada kecendrungan kuat untuk meningkatkan jumlah turisme ke Indonesia. Semua pihak mendorong agar opensky policy di buka dan azas cabotage dilumpuhkan. Paling tidak kini setiap ibukota provinsi telah menjadi Bandara International. Begitu juga pelabuhan.

Biasanya jumlah bandara international dan pelabuhan terbuka untuk kapal berbendera asing di Negara lain seperti Amerika atau di Eropa yang dibuka bebas untuk maskapai penerbangan asing terbatas jumlahnya tidak melebihi angka 10. Indonesia 34 terbanyak diseluruh dunia. Dengan diikuti policy bebas visa.

Jumlah bandara international yang terbatas ini diterapkan oleh Amerika dan Eropa dengan tujuan melindungi kepentingan nasional nya. Agar rute domestik dan konsep hub and spoke menjadi kekuatan pasar domestik uang menguntungkan Bagi maskapai berbendera Indonesia.

Pembukaan selebar lebarnya izin Bandara Ingernsfional disatu sisi merupakan wujud nyata upaya membangkitkan industri turisme. Begitu juga untuk meningkatkan prestige Ibu Kota Propinsi.

Akan tetapi itu juga berarti, dalam dunia penerbangan kita telah membuka pintu lebar lebar agar terjadi persaingan bebas antara tiger airlines atau silk air dan xiamen china serta jet air dengan lion air dan Sriwijaya serta citilink diceruk Low Cost carrier. Mudah Mudah2an tidak untuk seluruh bandara.

Dan persaingan Antara China Southern, Cathay Pacifics, Emirate dan ANA dengan Garuda Indonesia diceruk pasar airline premium.

Sebuah kompetisi yang tidak terjadi di Eropa dan Amerika. Kompetisi di Indonesia memang jauh lebih terbuka dan lebih liberal dan lebih keras. Head to head. Kompetisi adu kepala kata Lester Thurow.

Bagi industri Jasa penerbangan dan industri jasa pelayaran di Indonesia perlu mulai memikirkan model bisnis yang berbeda ketika berhadapan Head to Head Competition dengan maskapai penerbangan dan industri Jasa pelayaran berbendera asing di wilayah udara dan samudera di Indonesia.

Produktivitas dan Efisiensi harus jadi ujung tombak. Tentu nya juga fikiran untuk menemukan Model aliansi dan merger acquisition harus dirancang jika tidak mau hilang ditelan zaman. Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Lion Air dengan membangun perusahaan patungan di Malaysia dan Thailand merupakan “counter action” yang patut diikuti jejaknya.

Begitu juga langkah Air Asia yang mengembangkan sayap nya untuk terjun ke rute domestik dengan mengembangkan anak perusahaan Indonesian Air Asia dengan saham mayoritas ditangan orang Indonesia menjadi model bisnis tersendiri.

Bandara Internasional adalah pintu gerbang Negara. Jika semua dibuka tanpa kendala, maka Di tiap bandara international kini perlu dibangun Border Protection berupa sinergi yang kuat Antara Institusi Imigrasi, Bea Cukai dan Quarantine.

Dikenal istilah CIQ, Custom Immigration and Quarantine agar kebebasan warga negara asing masuk ke wilayah Indonesia tidak berubah jadi ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan ekosistem kita.

Karantina untuk penyakit menular, buah buahan, sayur sayuran, binatang dan tumbuh2an yang dapat mengganggu kekayaan hayati dan biodiversity kini perlu jadi perhatian kita. Begitu juga ancaman lainnya.

Dengan tulisan ini mungkin saya ingin mengedepankan wacana agar kita kembali memperkuat keyakinan kita bahwa Azas Cabotage sebagai bagian dari upaya kita membangun kedaulatan dan kemandirian sebagai Bangsa sesuai amanat Undang2 Penerbangan No 1/2009 dan UU Pelayaran No 17/2008 perlu terus menerus diupayakan.

Revitalisasi azas ini perlu dilakukan. Ruang pembatas Bagi masuk nya industri jasa pelayaran dan industri jasa penerbangan berbendera Non Indonesia pada Rute domestik tetap harus dikedepankan.

Mohon maaf jika ada yg keliru.
Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s