Penguasaan Teknologi untuk Kelanggengan Pertumbuhan Ekonomi

Jusman Syafii Djamal
JANUARY 18, 2018

Saya Pernah punya pengalaman mendapatkan kehormatan diberikan titel Honorary Guest Professor dari Zheziyang Science Technology University. Universitas Teknologi Zhejiang (bahasa China: 浙江 工业 大学; pinyin: Zhèjiàng Gōngyè Dàxúe) ada di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Rektor Zhejiang University of Technology and Science, Cai Yuan Qiang memberikan langsung sertifikat penghargaan profesor di kampus universitas di Hangzhou, Jumat 4/3/2016. Universitas inidianggap sebagai salah satu universitas industri terkemuka di Cina daratan dan universitas terbesar kedua di Provinsi Zhejiang setelah Universitas Zhejiang.Teknologi, terutama teknologi kimia dan biologi, adalah core competency nya.

Selama tahun 1980an, dilakukan banyak inisiatip secara sistimatis berkesinambungan usaha untuk menjadi universitas teknologi yang komprehensif. Bukan sekedar sebuah perguruan tinggi teknologi. Mereka membangun network dan hubungan dekat dan luas dengan industri. Institusi ini telah mengalami pelbagai pengalaman pergantian nama sejak didirikan tahun 1910. Sepuluh tahun lebih tua dari ITB yang lahir tahun 1920. Parts of the National Zhejiyang University(1910~1949); Hangzhou Chemical Engineering College (1953~); Zhejiang Chemical Engineering College (1960~1980)Zhejiang Engineering College (1980~1993); Zhejiang University of Technology (1993~now).

Di Tiongkok gelar Profesor bukan jabatan eselon IVE seperti di Indonesia yang akan dicabut jika sudah pensiun. Sebab gelar Profesor melekat pada jabatannya. Posisi dan jabatan hilang gelar pun hilang. Di Indonesia juga berlaku hukum dan aturan tidak tertulis yang menarik. Gelar Profesor hanya berlaku diruang kelas. Kalau dipesta kawinan atau diruang seminar yang tidak berada dilingkungan akademis, semua Profesor malu menggunakan gelar itu. Dan mengikuti nasehat para empu dalam buku silat kho ping hoo, ahli silat yang mengaku tak bisa bertarung dan juga tidak bisa membaca. Bu pun su lu kwan cu.

Akibatnya jarang kita bertemu Profesor di Indonesia. Semua bersembunyi dibalik selimut. Tak mau menggunakan gelar nya ditempat umum. Yang banyak berseliweran titel pengamat dan sebutan lain , kadangkala pakai title Doktor atau PhD yang susah payah diperoleh di Pergururan Tinggi Terkemuka di Indonesia maupun internasional pun banyak yang malu menyebutnya. Takut dibilang sombong, akhirnya tak ada beda antara si gumarapus, si badu dengan PhD. Semua ingin level playing field yang sama.

Padahal dalam penguasaan iptek jenjang, job title dan grading memiliki value yang berbeda. Kita malu dengan value berbeda entah apa sebabnya.Di Industri Pesawat Terbang dikenal istilah Job Title and Job Grading System. Hirarki yang membuat proses sertifikasi pesawat terbang oleh Otoritas Penerbangan atas kehadiran sebuah gambar komponen dan analisa kekuatan struktur, misalnya mudah dilakukan.

Jika di Indonesia kata Profesor merujuk pada jabatan. Tidak begitu di Tiongkok, ketika saya mendapatkan gelar Honorary Guest Professor, Senat Guru Besar mengatakan ini “title” penghargaan kami atas pengamatan kami terhadap catatan riwayat keahlian dan pengalaman saudara dalam mencurahkan fikiran di Industri Pesawat Terbang selama 25 tahun dan ikut aktif dalam proses Penguasaan Teknologi Maju sebagai engineer berjenjang dari awal hingga puncak. Kemudian Rektor membuat acara yang menarik khusus untuk saya.

Pertama saya diundang di auditorium untuk memberikan keynote speech, tentang topik yang saya pilih. Kebetulan gelar Honorary Guest Profesor saya disematkan karena saya memiliki pengalaman bekerja sebagai professional perancangan pesawat terbang dan aerodinamika selama 25 tahun tanpa henti. Yang dianggap oleh universitas tersebut memiliki pengalaman bekerja sambil belajar dalam proses “transfer of advanced technology for innovation”.

Sebelum membaca keynote saya dan rombongan diminta hadir diruang Rektor untuk diberi paparan tentang “what is Zhejiyang Technology University”, apa core competencynya, apa visi dan misi serta tanggung jawab yang dibebankan Negara pada warga akademiknya sekaligus berapa anggaran belanja Riset dan Pengembangan yang dialokasikan negara pada mereka. Setelah itu saya diundang dalam beberapa kali jamuan makan untuk diperkenalkan kepada pada guru besar lainnya, dekan dan pimpinan bidang keilmuan serta dirjen pendidikan tinggi. Seolah untuk mengatakan :”welcome to be our honorary guest professor”.

Mereka ingin saya menshare pengalaman itu kedalam lingkungan akademis dengan cara berdialog dan berdiskusi setiap tiga bulan sekali.
Karenanya dalam acara penyerahan surat keputusan/certificate sebagai Honorary Guest Professor didedepan kurang lebih 450 mahasiswa dan para guru besar di auditorium , saya menyampaikan keynote speech dengan judul : “Technology Acqusition for Economic Development : Lesson Learned from 25 Years Experiences in Indonesia and China”.

Dalam paparan dua tahun lalu itu, untuk Indonesia saya ambil contoh penguasaan teknologi sejak tahun 1970 hingga 1995. Sementara untuk kasus Tiongkok saya kemukakan pengalaman akusisi teknologi yang dikembangkan atas inisiatip Deng Xiao Ping sejak 1978 hingga 2003.

Seperti juga Indonesia pada awal tahun 1970, pada tahun 1978 Tiongkok boleh dikatakan tidak memiliki hutang luar negeri. Seperti juga Indonesia pada tahun 1970, Tiongkok di tahun 1978 hampir boleh dikatakan belum menjadi “darling” dari investor asing.

Indonesia sebelum tahun 1965 merupakan negara yang Berdiri diatas Kaki Sendiri. Begitu juga China sebelum 1978 merupakan negara yang terisolasi dan menutup diri. Bung Karno dan Chou En Lai bersama Nehru menggagas Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Di Tiongkok Arus masuk investasi asing naik bertahap selama 12 tahun, menjadi $ 3,5 miliar pada tahun 1990. Tahun 2005 meningkat menjadi $ 60 miliar. Total arus investasi asing yang masuk dari tahun 1979 sampai 2005 , $ 620 miliar lebih. Pinjaman luar negeri Tiongkok relatif kecil. Total $ 147 miliar antara tahun 1979 dan 2005, sebagian besar berjangka panjang atau menengah.

Struktur utang yang terkelola dengan baik membuat perubahan kepercayaan investor asing., Republik Rakyat Tiongkok tidak pernah menunggak hutang luar negeri. Dan telah mengumpulkan cadangan devisa sebesar $ 1,2 triliun pada awal tahun 2007.Sebagai konsekuensi dari kebijakan yang berhasil pada periode reformasi 78, pendapatan per kapita Tiongkok meningkat 6,6 persen per tahun dari tahun 1978 sampai 2003. Lebih tinggi daripada negara Asia lainnya. Jauh lebih baik dibanding dengan Eropa Barat dan Amerika, yang hanya berkisar pada angka 1,8 persen per tahun. Empat kali lebih cepat rata-rata dunia.

PDB Tiongkok per kapita meningkat dari 22 menjadi 74 persen dari PDB dunia. Porsi PDB China terhadap PDB dunia meningkat dari 5 menjadi 15 persen. Ekonomi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Pertanyaan besarnya adalah berapa lama proses pengejaran ketertinggalan teknologi dengan cara Indonesia melalui pelbagai kebijakan sejak tahun 1945 hingga terjadi percepatan 1970-1995 dalam pelbagai Repelita dan Tiongkok sejak 1978, yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi atau “catch-up growth” dapat bertahan dan seberapa jauh bisa lebih dipercepat ?

Tingkok pada tahun 2003 masih merupakan negara yang relatif miskin. Pada tahun 2003 pendapatan per kapita hanya 17 persen dari Amerika Serikat, 23 persen dari Jepang, 28 persen dari Taiwan dan 31 persen dari Korea. Seratus juta orang masih berada dibawah garis kemiskinan, separuh jumlah penduduk Indonesia.

Negara-negara seperti Tiongkok dan Indonesia memiliki kapasitas untuk pertumbuhan yang tinggi jika mereka memobilisasi dan mengalokasikan modal fisik dan manusia secara efektif, menyesuaikan teknologi asing dengan proporsional disesuaikan dengan kondisi wilayah ekonominyadan memanfaatkan peluang untuk berfokus pada spesialisasi teknologi yang berasal dari proses integrasi melalui Global Production Network ke dalam ekonomi dunia.

Kemungkinan proses “catch-up growth”, akan berlanjut pada tahun tahun berikutnya. Namun tidak realistis untuk mengasumsikan bahwa lintasan pertumbuhan ekonomi dimasa depan akan setinggi pada tahun 1978-2003.

Seperti juga Indonesia pada priode 1970-1995, Pada periode 1978-2003 tersebut, Tiongkok mengalami peningkatan efisiensi alokasi sumber daya yang besar untuk pertanian, perluasan eksploratif perdagangan luar negeri dan percepatan penyerapan teknologi asing melalui investasi langsung luar negeri berskala besar.

Dalam keynote itu, saya mengemukakan pengalaman buruk Indonesia di masa krisis ekonomi 1997/98. Dimana proses penguasaan teknologi yang dilakukan pada tahun 1970-1995 dalam pengembangan industry manufaktur mengalami titik jenuh. Laju kemajuan ekonomi mengendur karena semakin mendekati batas teknologi.

Sehingga para pengambil kebijakan ekonomi ketika itu merasa percaya diri dan masuk kedalam strategi pembangunan negara industry maju yang berfokus pada sector jasa, Hilir dari industry dan tidak mau melakukan pendalaman struktur industry yang ada. Tidak lari ke hilir kearah pengembangan kemampuan Riset dan Pengembangan sebagai fondasi Inovasi. Melalinkan memutar arah pembangunan, melakukan “shifting” untuk menemukan ceruk lebih dalam sebagai pembangkit pertumbuhan ekonomi, dengan masuk ke industry jasa property dan perbankan melupakan industry manufaktur. Shifting to service industry lupakan industry manufaktur.

Hal ini yang saya perkirakan akan dialami Tiongkok pada periode 25 tahun berikutnya atau 2004-2029. Ketika itu saya mengutip analisa Banyak ahli yang berasumsi bahwa pendapatan per kapita akan tumbuh rata-rata 4,5 persen per tahun antara tahun 2003 dan 2030. Secara khusus, saya dalam keynote itu mengasumsikan tingkat 5,6 persen per tahun sampai 2010, 4,6 persen antara tahun 2010 dan 2020 dan sedikit lebih besar dari 3,6 persen per tahun dari tahun 2020 sampai 2030.

Pada saat itu, dalam skenario yang tampak dikemukakan banyak ahli, Tiongkok akan mencapai tingkat per kapita yang sama seperti Eropa barat dan Jepang sekitar tahun 1990. Saat mendekati level ini, kemajuan teknologi akan lebih mahal. Karena penguasaan teknologi yang awalnya dilakukan melalui proses transfer technology ATM, Ambil Tiru dan modifikasi atau imitasi digantikan oleh proses penguasaan teknologi melalui inovasi.

Namun, pada tahun 2030 batas teknologi akan dapat diterobos untuk bergerak maju. Jadi masih akan ada beberapa ruang lingkup kemajuan teknologi yang dapat dikuasai menjadi “engine for growth”. Untuk mengejar ketinggalan.

Dalam proyeksi yang muncul pada tahun 2003 di Tiongkok seperti juga di Indonesia tahun 1995 menjelang krisis ekonomi tahun 1997/98, saya menunjuk ada tiga masalah utama, yang dapat menghambat prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Salah satunya adalah kesulitan dalam mengurangi peran perusahaan milik negara yang tidak efisien. Sebagian besar badan usaha milik negara masih membuat kerugian besar. Mereka terus beroperasi dengan subsidi pemerintah. Kegagalan investasi dari hasil pinjaman masih harus ditalangi oleh bank bank milik negara.

Meski begitu saya perlihatkan bahwa pengaruh badan usaha milik negara di Tiongkok telah menurun secara signifikan. Pada tahun 1993, pekerjaan yang dikelola badan usaha milik negara di bidang manufaktur telah menciptakan lapangan kerja bagi lebih 35 juta penduduk Pada tahun 2005 jumlahnya merosot menjadi kurang dari 6 juta. Dengan kata lain peran perusahaan swasta dalam ekonomi china untuk menjadi sumber lapangan kerja meningkat sepanjang waktu.

Dalam perekonomian secara keseluruhan, pekerjaan yang dikelola badan usaha milik negara turun dari 19% menjadi hanya 9 persen. Pekerjaan yang sudah mampu dikelola oleh swasta secara perlahan dilepaskan dari genggaman badan usaha milik negara Tiongkok secara bertahap, dari 100%, menurun 60 % dan dibeberapa area hanya tinggal 20%. Dengan begitu masalah ketidak efisienan badan usaha milik negara ini, dimasa depan tidak lagi menjadi kendala yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Karena sector swasta nya telah kokoh dan kuat sebagai “agent of change”.

Masalah yang kedua baik oleh Indonesia maupun Tiongkok dalam priode 25 tahun tersebut adalah kelemahan sistem tata kelola keuangan negara. Pada masa reformasi 1978-2003 di Tiongkok terjadi pertumbuhan eksplosif tabungan rumah tangga dan monetisasi kegiatan ekonomi yang cepat. Tabungan diambil oleh sistem perbankan milik provinsi dan pemerintah pusat kemudian memiliki keuntungan yang besar dari proses monetisasi. Dana yang dihasilkan ini mengimbangi lenyapnya surplus operasional perusahaan negara dan penurunan penerimaan pajak akibat terlalu banyak insentif diberikan pemerintah daerah untuk menarik investasi kedaerah nya.

Selama periode 1978-2003, sebagian besar kredit macet yang baerada dalam neraca Bank Bank milik Pemerintah Tiongkok telah dihapus bukukan. Tiongkok telah menarik partisipasi asing di bank-bank pemerintah dengan penjualan saham di pasar saham Hong Kong dan Shanghai.

Dalam dua tahun sejak Juni 2005, lebih dari $ 60 miliar hutang telah diubah menjadi “equity”, melalui metode “debt to equity swap” yang di Indonesia dikenal dengan istilah Penyertaan Modal Negara dalam sistim perbankan. Beberapa bank asing diizinkan beroperasi di Tiongkok.

Masalah ketiga terkait dengan lemahnya posisi fiskal pemerintah pusat. Total pendapatan pemerintah turun dari 31 persen PDB pada tahun 1978 menjadi 10 persen tahun 1995. Basis pajak tsecara serius tergerus oleh sejumlah besar konsesi pajak yang diberikan oleh pemerintah provinsi dan daerah. Serta oleh penurunan pendapatan yang dramatis dari perusahaan milik negara. Penerimaan pajak naik menjadi 17 persen PDB pada tahun 2005. Namun porsi ini perlu ditingkatkan untuk memperluas kemampuan fiscal untuk perlindungan sosial , memperkuat fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Masalah keempat adalah persoalan keterkaitan antara pasokan energi dan ancaman lingkungan hidup. Yang telah muncul sebagai tantangan baru yang signifikan bagi perkembangan masa depan Tiongkok. Pasokan listrik naik sepuluh kali lipat antara tahun 1978 dan 2005. Ketersediaan listrik dengan harga yang sangat rendah telah mengubah kondisi kehidupan di banyak rumah tangga perkotaan dan juga munculnya kawasan industry penyedia lapangan kerja.

Namun, dampak lingkungan dari penggunaan energi di Tiongkok sangat merugikan karena ketergantungannya pada batubara sangat besar. Polusi akibat emisi karbon secara proporsional jauh lebih besar akibat pemanfaatan batubara dibanding minyak dan gas sebagai pembangkit listrik.Pada tahun 2003, 60 persen konsumsi energi berasal dari batubara. Sementara di Amerika hanya 23 persen, 17 persen di Rusia dan 5 persen di Prancis.

Boleh dikatakan delapan puluh persen listrik Tiongkok dihasilkan oleh pembangkit bertenaga batubara.Ini berarti bahwa rasio emisi karbon terhadap konsumsi energi lebih tinggi di China dibanding kebanyakan negara lain. Dalam skenario “A” IEA, China diperkirakan akan memancarkan 0,8 ton karbon per ton energi yang digunakan pada tahun 2030, dibandingkan dengan 0,63 di Amerika Serikat dan rata-rata dunia 0,60.

Batubara Tiongkok sangat kotor, partikel belerang dioksida dan jelaga yang dilepaskan oleh pembakaran batu bara telah mencemari udara di kota-kotanya dan membuat hujan asam yang turun disekitar 30 persen wilayah dari luas daratannya.Ada lebih dari 20.000 tambang batu bara dan hampir enam juta penambang dengan produktivitas sangat rendah dan kondisi kerja yang berbahaya.Beberapa ribu terbunuh setiap tahun dalam kecelakaan pertambangan.

Di Tiongkok utara ada beberapa lapisan batubara di dekat permukaan yang menyala terus menerus dalam api yang tak terbendung. Masalah lingkungan ini cenderung lebih besar di Tiongkok daripada di wilayah lain di dunia, karena lebih sulit dan lebih mahal untuk mengurangi peran batubara sebagai sumber energy listriknya.

Kepemilikan mobil juga meningkat dan cenderung menjadi elemen paling dinamis dalam konsumsi pribadi. Pada tahun 2006 ada sekitar 19 juta mobil penumpang yang beredar. Ada satu mobil untuk setiap 70 orang. Di Amerika Serikat ada dengan 140 juta mobil. Ada satu mobil untuk setiap 2 orang. Diprediksi akan ada 300 juta mobil penumpang di China atau satu mobil untuk setiap 5 orang pada tahun 2030.

Selain itu telah terjadi peningkatan efisiensi yang sangat besar dalam tata kelola energi yang digunakan. Pada tahun 1973 tercatat 0,64 ton setara energy minyak digunakan per seribu dolar PDB. Pada tahun 2003, telah turun menjadi 0,22 ton.Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan penurunan lebih lanjut menjadi 0,11 ton pada tahun 2030 dalam skenario yang mempertimbangkan kebijakan efisiensi energi yang diterapkan oleh pemerintah. Efisiensi energi lebih baik di China daripada di Amerika Serikat pada tahun 2003 dan IEA mengharapkan hal ini benar pada tahun 2030.

Dengan menceritakan pengalaman pribadi yang saya alami sendiri selama bekerja langsung dalam proses akuisisi teknologi, dan studi literature yang saya lakukan, dalam keynote speech tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi muaranya adalah kepercayaan pada kapasitas keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek yang dimiliki oleh Indonesia dan Tiongkok.

Saat memasuki periode Rencana Lima Tahun ke-13 (2016-20), ekonomi Tiongkok seperti juga Indonesia akan terus berkembang pesat menurut standar internasional.

Mengapa?

Sebab kedua bangsa Negara memiliki Manusia Bersumber Daya Iptek yang penuh daya juang. Hanya bedanya Indonesia memilih jalan Demokrasi, Tiongkok Tetap Negara Satu Partai dengan pembangunan ekonomi “One Coutry Two Systems”.

Meski pertumbuhan melambat secara bertahap, PDB per kapita Tiongkok akan tetap berada di jalur hampir dua kali lipat antara tahun 2010 dan 2020. Ekonomi Tiongkok akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan global di masa yang akan datang.

Sebagai penutup, saya menyatakan bahwa baik Indonesia maupun Tiongkok, masalah utama yang dihadapi dimasa depan adalah “the geography of inequality”, kesenjangan ekonomi antar wilayah. Kesenjangan pendapatan dan kehidupan antara Kota desa, urban rural, wilayah utara selatan, wilayah barat dan timur. Terlepas dari kinerja mengesankan ekonomi dan pengurangan kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya ,kesenjangan ekonomi masih muncul dipermukaan meningkat.

Pertumbuhan ekonomi telah lama didorong oleh akumulasi modal, didukung oleh tingginya tabungan.Namun, model pertumbuhan tersebut ternyata dapat menyebabkan misalokasi modal dan penurunan efisiensi investasi, dan kelebihan kapasitas di beberapa industri manufaktur dan sektor real estat, yang perlu diimbangi dengan upaya pemerataan.

Karenanya ilmu Regional Planning , Manajemen Science and Technology, Business Management Town and Village Enterprises yang dikembangkan dalam kurikulum harus dapat memberikan wawasan tentang pentinya peran Perusahaan dalam kawasan Industri untuk menjadi motor “akuisisi teknologi maju”. Dimasa depan “company” atau perusahaan akan merepresentasikan kekuatan suatu Bangsa dalam penguasaan teknologi untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bersama.

Saya kemudian menutup slide presentasi saya dengan pertanyaan : Mana jalan masa depan yang hendak kita pilih : China way or Indonesian Way ?

Semua Guru Besar tersenyum, dan saya pun harus berfikir keras kembali :”Indonesian Way” yang saya maksud itu jalan yang mana dan seperti apa wujudnya ??
Mohon maaf jika ada yang keliru. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s