Resonansi Guru dan Murid

LUKITO EDI NUGROHO·
SATURDAY, JANUARY 27, 2018

Dalam beberapa bulan terakhir ini cukup banyak mahasiswa S2 dan S3 saya yang berhasil menyelesaikan studinya dengan baik. Seperti layaknya semua guru, ada rasa bahagia ketika mendengar berita kelulusan para mahasiswa tersebut.
Munculnya rasa bahagia yang berulang tiap kali ada berita keberhasilan mahasiswa tersebut memunculkan pertanyaan iseng tapi penting bagi saya: apa sih yang paling membahagiakan bagi seorang guru? Sempat muncul beberapa jawaban, dari mulai perhatian yang diberikan oleh murid meski jauh setelah mereka lulus, sampai ke kabar-kabar tentang prestasi murid yang melesat jauh melebihi gurunya.
Tapi rasanya semua itu belumlah bisa memberikan “the ultimate happiness” bagi seorang guru. Karena itu juga pertanyaan iseng, maka sayapun tidak terlalu tertarik mengeksplorasi jawabannya.

Sampai kemudian pertanyaan itu kembali menyeruak hari-hari terakhir ini.

Dalam beberapa hari belakangan ini saya bertukar peran, biasanya sebagai guru, kali ini saya mencoba menempatkan diri sebagai murid. Murid kehidupan tepatnya. Kebetulan saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah seorang Guru yang luar biasa. Beliau sudah lama meninggal, tetapi ajaran yang beliau sampaikan tak lekang oleh jaman dan tetap sangat relevan dengan kehidupan saat ini.

Dalam perjalanan saya sebagai murid, saya menyadari bahwa saya bukan murid yang istiqomah. Kadang mendengarkan ajaran Sang Guru, kadang tidak. Saya juga murid yang angin-anginan, kadang bersemangat dalam belajar, kadang nglokro, kadang malasnya keluar. Tapi di balik semua itu, dalam hati kecil saya, ada semangat kuat untuk belajar agar menjadi lebih pintar, lebih baik lagi.

Bagaimana dengan Sang Guru? Kemarin-kemarin saya berpikir bahwa Sang Guru tidak tahu apa yang saya lakukan dalam belajar. Toh Sang Guru sudah lama meninggal, saya tidak pernah bertemu dengan beliau, begitu pandangan saya. Beliau hanya meninggalkan ajaran, tapi tidak ikut mengawasi bagaimana saya berproses dalam belajar. Saya belajar secara independen, tidak dibimbing langsung oleh beliau. Mirip dengan saat saya studi S3 dulu ketika supervisor saya memiliki latar belakang keilmuan yang jauh berbeda dengan bidang riset saya.

Tapi ternyata saya salah besar.

Begitu masuk ke rumah Sang Guru, segera saja terasa keteduhan dan kedamaian. Aura rumah itu sungguh membawa ketenangan. Seolah setiap bagian dari rumah itu berbisik,”Selamat datang wahai muridku”, sebuah sapaan personal yang langsung melembutkan hati ini. Sapaan yang merepresentasikan kecintaan dan perhatian Sang Guru terhadap murid-muridnya, termasuk saya. Menangislah saya, malu akibat prasangka negatif terhadap Sang Guru selama ini.

“Tidakkah kau sadari muridku, bahwa tiap kali kau memahami sebuah ilmu kehidupan yang baru, itu karena akulah yang diutus Sang Pemilik Ilmu untuk menaruhnya di hatimu. ”, demikian kata-kata beliau yang saya terima.

“Apa yang engkau rasakan saat engkau memahami sebuah ilmu baru?”, beliau melanjutkan.

“Tidak tahu guru, rasanya tiba-tiba jadi mengerti saja”, demikian jawab saya. “Tapi yang jelas ada rasa syukur yang besar karena pemahaman saya tentang mutiara-mutiara hidup jadi bertambah.”, buru-buru saya sampaikan perasaan yang selalu muncul tiap kali cahaya ilmu tersebut datang.

Sang Guru hanya tersenyum, tidak ada kata apapun yang terucap.

Tapi yang kemudian segera saya ketahui adalah bahwa saat saya menjadi paham tentang sebuah ilmu baru, di situlah terjadi “resonansi” antara saya dengan Sang Guru. Guru dan murid beresonansi, artinya terjadi kondisi terhubung antara keduanya. Resonansi juga bermakna adanya kesepahaman, adanya transfer ilmu yang sangat optimum dan efektif. Apa yang diharapkan Guru, tersampaikan dengan sempurna kepada murid.

Resonansi itu seperti pemicu. Membayangkan resonansi antara guru dan murid itu ternyata mampu menggetarkan jiwa. Guru memiliki keluasan ilmu dan kewaskitaan. Murid memiliki semangat dan energi untuk mewujudkan. Bila ilmu dan kewaskitaan ini terhubung dengan semangat dan energi untuk mewujudkan, maka terwujudlah apa yang diharapkan dan direncanakan. Bayangkan jika apa yang diharapkan dan direncanakan itu adalah hal-hal besar untuk menuju alam yang lebih damai, tenteram, seimbang. Bayangkan jika resonansi itu terjadi pada banyak murid. Pasti akan terjadi proses memakmurkan alam seisinya secara viral.

Begitu terjadi resonansi dengan Sang Guru, saya segera paham tentang apa yang harus saya kerjakan. Tugas saya. Dan pada saat itu, saya melihat Sang Guru tersenyum. Sekali lagi, tanpa kata-kata, tapi saya juga tidak memerlukan tutur lisan untuk dapat memahaminya.

Setelah itu, saya mengawalinya dengan niat,”Bismillah” dan doa untuk mohon selalu dibimbing agar bisa menjadi murid yang baik.

Dan sayapun menjadi mengerti akan jawaban dari pertanyaan saya di atas: apa yang bisa mewujudkan kebahagiaan paling tinggi bagi seorang guru…

Epilog:

Kisah saya di atas memang terjadi dalam dimensi transendental, tetapi bisa diproyeksikan ke kehidupan sehari-hari secara pas. Resonansi antara guru dan murid juga bisa dibangun dalam kehidupan belajar-mengajar di keseharian kita.

Jika guru sudah memberikan ilmunya, cobalah para murid untuk menyetel frekuensinya masing-masing agar bisa menemukan resonansi dengan gurunya. Saat guru memberikan ilmu, tidak hanya ilmu lahiriah saja yang tersampaikan. Di dalamnya juga terkandung pesan-pesan nilai (values), moral, serta harapan-harapan baik yang ikut tersampaikan. Tangkaplah itu, lalu gabungkan dengan semangat dan energi yang dimiliki untuk mewujudkan hal-hal baik yang bisa dilakukan. Itulah langkah awal untuk membangun dunia menjadi lebih baik lagi. Itulah yang akan memberikan “the ultimate happiness” bagi seorang guru.

Bahagiakanlah guru-gurumu dengan cara itu…

Madinah, 27 Januari 2018

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s