Technology Disruption Ancaman atau Berkah?

Jusman Syafii Djamal
January 10, 2018

Istilah Disruption Technology pertama sekali dikenalkan oleh Clayton M. Christensen di artikelnya yang berjudul Disruptive Technologies : Catching the Wave, tahun 1995. Dikerjakan bersama Joseph Bower. Artikel ini ditujukan untuk eksekutif manajemen yang membuat keputusan pendanaan atau pembelian merger akusisi perusahaan. Awalnya istilah ini bukan untuk komunitas riset.

Dia menjelaskan istilah Disruption Technology lebih lanjut dalam bukunya The Innovator’s Dilemma.Buku Dilema Innovator yang mengeksplorasi kasus industri disk drive yang dengan perubahan generasi produk nya yang cepat, mirip seperti tatacara pembenihan kempompong ulat yang kemudian berubah menjadi kupu dan juga lalat buah yang menjadi studi genetika.

Melalui penjelasan pada buku tersebut, daur hidup atau Lifecycle pembenihan produk baru dan inovasi kini berada dalam phase “clock speed” yang jauh lebih cepat Seperti ditulis oleh Christensen pada tahun 1990an.

Kemudian Christensen mengganti istilah teknologi yang mengganggu atau disruption technology dengan disruption innovation dalam bukunya Innovation Solution.

Karena ia menyadari bahwa teknologi memiliki proses dialektika. Teknologi sebagai solusi problema masa lalu pasti akan mengalami titik jenuh dan menjadi masalah dimasa kini, untuk diganti oleh teknologi yang lebih baru. Jadi teknologi secara intrinsik tidak pernah memiliki DNA sebagai virus penyakit yang menyerang dan mengganggu. Begitu juga teknologi tidak memiliki DNA untuk langgeng sepanjang masa.

Teknologi selalu berubah, mengalir bersama hadirnya problema dalam Masyarakat.

Model bisnis yang mengikuti perkembangan teknologi , biasanya yang memungkinkan kehadiran teknologi dalam bentuk produk atau layanan baru menciptakan dampak yang mengganggu.

Inovasi model bisnis yang memanfaatkan kecepatan pertumbuhan teknologi yang memiliki dampak “tsunami” atau penggoyah struktur bisnis dan landskap bisnis masa lalu dan masa kini. Yang terjadi Innovation Disruption bukan Technology Disruption.

Dalam artikel Harvard Business Review 2008 “Reinventing Your Business Model”. Konsep “Disruptive Technology” dijelaskan sebagai kelanjutan pola fikir meneruskan tradisi panjang dari para ahli yang mencoba mengidentifikasi perubahan teknologi yang secara radikal terjadi.

Ia menjadi disruption karena model bisnisnya melahirkan ekplorasi dan pemanfaatan kecepatan perubahan teknologi yang berjalan secara setingkat demi setingkat atau incremental innovation, menjadi eksosietem yang memiliki dampak satu aliran “diskontinuitas” dalam “Revenue Stream” lama.

Biasanya dalam studi inovasi oleh para ekonom, pemahaman tentang perubahan dan dampak radikal akibat pemanfaatan kemajuan teknologi ini melalui model Bisnis yang baru oleh perusahaan dan menenggelamkan pesaing pesaingnya yang dimanfaatkan sebagai wahana untuk mempengaruhi policy on technology.

Tujuannya adalah agar Negara tidak lagi berupaya mengalokasikan anggaran untuk membangun dan ikut cawe cawe dalam proses penguasaan teknologi dalam masyarakat. Lebih baik arena kebijakan penguasaan teknologi diserahkan sepenuhnya kedalam mekanisme pasar dan menyerahkan sepenuhnya pengembangan alat peralatan utama inovasi dan daya saing perusahaan ke tangan inisitip manajemennya di tingkat perusahaan atau kebijakan internal perusahaan. The best policy on innovation is no policy, kata sebagian penganut pasar bebas.

Pada akhir 1990-an, industri otomotif mulai merangkul perspektif “disruptive technology dengan menempatkan kata teknologi disruptip dengan tambahan kata konstruktif”. Jadi dikena istilah “constructive disruption technology”.

Proses atau teknologi yang merubah landskap rekayasa dan rancang bangun produk baru, secara keseluruhan harus “konstruktif” dalam memperbaiki metode manufaktur yang eksis. Jangan merusak tatanan dan tradisi masa lalu yang dengan susah payah dibangun setahap demi setahap. Boleh muncul gangguan, tetapi bukan diskontinuitas apalagi jadi tsunami bisnis.

Pemahaman tentang disruptive innovation berbeda dari apa yang mungkin diharapkan secara dramatis oleh para ahli. Yang selalu beranggapan bahwa kata disruptive itu berarti menjebol sama sekali fondasi yang lama dan menemukan segala sesuatu yang baru yang sebelumnya tak pernah dikenal.

Sebuah gagasan yang oleh Clayton M. Christensen disebut sebagai “hipotesis lumpur bagian yang menyeramkan” tentang dampak teknologi.Gagasan tentang “disruptive technology” sebetulnya memperlihatkan kasus sederhana dimana perusahaan yang mapan dan tadinya menjadi “leader”, tiba tiba gagal menuju etape berikutnya karena tidak “mampu bertahan secara teknologis” dengan keunggulan perusahaan pesaingnya.

Dalam hipotesis ini, perusahaan diibaratkan seperti pendaki tebing gunung yang berebut naik di atas pijakan yang kurang kokoh. Runtuh karena mereka berdiri diatas fondasi rapuh rana longsor atau tenggelam dalam Lumpur kemajuan teknologi ciptaan orang lain.

Perusahaan yang baik biasanya sadar akan posisi strategis dari inovasi. Namun lingkungan bisnis mereka tidak memungkinkan mereka mengejar ketertinggalan.

Ada banyak kendala baik internal maupun eskternal yang secara “inherent” membelenggu potensi inovasi yang dimiliki. Mindset para pimpinan yang terjebak dalam zona nyaman, dan selalu berkata tidak pada setiap ide baru. Atau kondisi ekonomi wilayah yang tidak memberikan “reward” bagi tiap inovasi, malah menambah kendala.

Dalam istilah Christensen, jaringan nilai perusahaan yang diterapkan, tidak menempatkan inovasi dan inisiatip serta daya kreativitas sebagai nilai tambah yang memadai.

Ada anggapan bahwa inovasi hanya mengganggu pertumbuhan perusahaan. Inovasi hanya menjadi kubangan lumpur yang menyebabkan perusahaan akan terseret tenggelam akibat alokasi anggaran yang berlebihan menuju sesuatu hasil yang tidak pasti.

Dalam persefektip Christensen :”disruptive innovation”, bukanlah konsep yang datang secara tiba tiba tanpa asal usul dan sebab musabab. Inovasi yang disruptip merupakan hasil dari satu “planning” atau perencanaan sistimatis berkesinambungan baik dalam bentuk produk baru atau layanan baru yang dirancang untuk satu tipe pelanggan baru.

Kata dan istilah “disruptive innovation” muncul sebagai satu upaya untuk membuka peluang terciptanya persfektip baru bagi para entrepreneur untuk menjajagi kemungkinan lahirnya pasar yang baru yang memperbesar wilayah pengaruh dari pasar yang selama ini telah dikenali dan jadi sumber pendapatan perusahaan.

“Umumnya, inovasi yang disruptive secara teknologi bukanlah satu loncatan quantum melainkan terdiri dari komponen off-the-shelf dari teknologi yang eksis yang disatukan dan disinergikan dalam arsitektur produk baru. Connecting dot kata Steve Jobs.

Christensen berpendapat bahwa inovasi yang disruptip biasanya justru muncul ditengah tengah “small medium enterprises”, perusahaan baru muncul, yang produk ciptaannya secara perlaban berhasil menggerogoti pasar perusahaan-perusahaan yang sukses dan dikelola dengan baik yang tidak responsif terhadap pelanggan.

Mengapa ? Sebab Perusahaan besar dan raksasa biasanya dikelola dengan penuh Rule and Regulation yang baik. Juga biasanya memiliki pusat penelitian dan pengembangan yang sangat baik dan lengkap para ahlinya. Akan tetapi model tatakelola pusat Riset ini biasanya lebih berfokus pada upaya mengadministrasikan alokasi anggaran, dan tidak berfokus pada upaya membangun ekosistem untuk lahirnya ide baru.

Perusahaan-perusahaan yang mapan ini biasanya terlalu yakin pada kesetiaan pelanggannya dan cenderung mengabaikan pasar yang paling rentan terhadap inovasi produk atau layanan baru.

Pasar yang eksis biasanya memiliki margin keuntungan yang terlalu kecil untuk memberikan tingkat pertumbuhan yang baik ke perusahaan yang mapan. Sehingga dianggap untuk apa diberikan perhatian dan investasi baru untuk dikelola dan dirawat.

Pada tahun 2009, Milan Zeleny — American economist of Czech origin, Professor of Management Systems Fordham University New York. He has done research in the field of decision-making, productivity, knowledge management — menggambarkan teknologi tinggi sebagai teknologi disruptip, dan membuat ia mengajukan pertanyaan tentang apa yang sedang terganggu.

Jawabannya, menurut Zeleny, yang terganggu adalah jaringan pendukung teknologi tinggi tersebut. Yang terganggu adalah “network” berupa mata rantai “supply chain” yang selama ini memasok komponen dan “revenue stream” berasal dari teknologi lama. Yang terganggu adalah jaringan pasokan lapangan kerja yang tercipta dari model bisnis sebelumnya.

Misalnya, Tesla memperkenalkan mobil listrik. Mobil listrik memerlukan jaringan pendukung berbeda. Misalnya selain jaringan pemasok komponen yang mungkin identic dengan mobil biasa, akan tetapi mobil listrik memerlukan industry batteray dan jaringan pemasok sumber tenaga untuk “mrecharge batteray yang sudah kehilangan dayanya”. Ia mengganggu jaringan pendukung untuk mobil bbm.

Dengan contoh yang disebutkan diatas dapatlah disampaikan beberapa catatan untuk klarifikasi istilah “disruptive innovation” atau “disruptive technology”, yakni :

Pertama : proses disruptive tidak serta merta terjadi. Tidak berlangsung seperti lahirnya Tsunami yang bergerak tanpa permisi ketika terjadi gempa dengan skala ricter tinggi, yang menyebabkan kita terkejut dan tidak siap sama sekali.

Disruptive Technology yang memiliki dampak pada perubahan landskap bisnis merangkak setahap demi setahap.

Hanya kelalaian dan rasa percaya yang terlalu besar menyebabkan kita memandang rendah dan menganggap remeh semua fenomena yang terjadi disekitar kita. Proses “denial”, pengabaian pada perubahan prilaku pelanggan yang tidak kasat mata, kurang diantisipasi dan tidak diresponse dengan baik. Yang menyebabkan kita tiba tiba kaget dan seperti ditelan gelombang perubahan.

Kedua : proses disruptive technology dapat dikelola dampaknya, jika secara bersama para ahli teknologi dan ahli ekonomi serta ahli ahli ilmu social mau bercengkrama, berdialog untuk menemukan strategi yang pas dari suatu Bangsa dalam menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Teknologi, bagaimanapun jenisnya selalu memiliki tiga wajah. Terjawantah sebagai produk, mewujud dalam proses produksi, atau tersinergi kedalam masyarakat menjadi bentuk interaksi hubungan sosial yang selalu berkembang didalam sistem. Tidak ada teknologi yang tetap sepanjang masa. Teknologi tumbuh berkembang. Bertahan, bermutasi, stagnan, dan menurun, seperti organisme hidup.

Ketiga : Siklus hidup evolusioner terjadi dalam penggunaan dan pengembangan teknologi apapun, pada dasarnya dapat diprediksi. Inti teknologi tinggi yang baru muncul dan akan mengganggu jaring dukungan teknologi yang eksis dapat juga dianalisa dampaknya. Menguntungkan dan tidaknya dapat diketahui. Langkah antisipasinya dapat direncakan dengan sistimatis dan berkesinambungan.

Keempat : Disrupsi tidak sama dan sebangun dengan “diskontinuitas”, tidak selamanya melahirkan krisis karena itu kita memiliki kendali untuk melakukan langkah pergeseran untuk menyesuaikan diri.

Kelima : Proses pergeseran lapangan kerja yang mungkin terjadi aklibat inovasi disruptip yang sedang dan akan terjadi dapat dikelola melalui perubahan tatacara proses edukasi, training ketenaga kerjaan, pengembangkan “merit system” para ahli, pengembangan “hirarki organisasi”.

Bidang keahlian yang akan menghilang, serta bidang keahlian yang akan muncul sebagai lapangan kerja baru, semuanya dapat diantisipasi.

Karenanya jika banyak istilah disruptip muncul dalam tulisan para Ahli, itu merupakan “wake up call”, alarm pengganggu kenyenyakan kita yang terlelap dalam kasur yang empuk, tertidur dan seolah setiap hari sama seperti hidup dihari kemarin. Kita lupa today is today and tomorrow is another day. Ada harapan yang terbuka hadir bersama Matahari esok ada kekuatan yang tersimpan dalam hidup dihari kemarin. Panta Rei, semua mengalir bersama perubahan zaman.

Saya share tulisan ringkasan buku lama Innovator’s Dilemma, yang pernah dibaca ini ini sebagai food for thought, jika ada yang keliru mohon dimaafkan.

Salam,

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s