Parenting is about Wiring (Bag. 2)

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #32

Seorang anak laki-laki 7 tahun pulang di tengah hujan dengan pakaian yang dekil bercampur lumpur. Ia mengetuk-ngetuk pintu sejak 15 menit yang lalu, namun pintu rumahnya tak kunjung dibuka. Karena sudah kedinginan, ia memberanikan diri masuk. Siapa sangka, belum selesai ia mengepel bekas kakinya yang kotor, Sang Ibu keluar dari kamar mandi. 

Sontak Sang Ibu berteriak keras, “Duh Gustiiiiiiii.. yang bener aja, ini lantai baru Mama pel!!!”. Melihat wajah anaknya terkejut dan merasa bersalah, Sang Ibu langsung tersadar bahwa dirinya salah bersikap. Mulutnya komat-kamit membaca doa sambil meraih handuk kering dan menghantarkannya pada sang putra. “Maafin Mama ya Nak, Mama ga sengaja”, ucapnya sambil memeluk sang putra.

Pernahkah saat emosi kita secara spontan bersikap tidak semestinya kepada anak kita? Berwajah dingin misalnya, atau berteriak, mencubit, memukul? Namun setelah menyadari hal itu salah, kita sangat menyesal.

Mari kita ingat-ingat, apakah kita pernah mengalami perlakuan yang sama? Diteriaki, dicubit, dipukul, atau dikata-katai dengan kalimat yang tidak enak didengar oleh orangtua atau orang yang berpengaruh di hidup kita?

Apa kaitannya? Mengapa hal ini dipertanyakan? karena pengasuhan diturun temurunkan. Kita tidak ingin melakukan hal yang menyakitkan diri kita di masa lalu, namun masih tak sengaja mengulangnya secara spontan. Apa yang terjadi?

Seperti sudah kita bahas sebelumnya, bahwa pengasuhan adalah proses pembentukan wiring di otak anak kita. Kita yang di masa lalu berperan sebagai anak, juga sedang dibuatkan wiring mengenai ‘cara mengasuh’ dari cara orangtua mengasuh kita.

Semakin sering suatu informasi yang sama terbentuk menjadi memori, maka ‘kabel’ jaringan saraf di otak kita semakin kuat. Sehingga seperti ‘jalan tol’, mudah diakses dan cepat teringat untuk menjadi sikap. Otomatis. Spontan.

Jika kita saat masih anak-anak dicubit atau diteriaki, otak kita hanya merekam memori tersebut. Namun jika terbiasa dicubit atau diteriaki, memori dicubit atau diteriaki ini merambat melalui ‘kabel’ jaringan saraf di otak kita seperti mobil di atas ‘jalan tol’, sangat cepat membentuk reaksi. Reaksi yang seperti apa? Seperti apa yang kita lihat di memori yang dihantar : dicubit atau diteriaki. Sehingga, tanpa sadar kita mencubit atau meneriaki anak kita sebagai perilaku spontan. Tidak sengaja.

Tentu kita ingin menjadi orangtua yang lebih baik dari hari ke hari. Jika Ayah Bunda memiliki memori yang tidak menyenangkan di masa lalu, mari kita putus ‘kabel’ jaringan saraf yang terhubung ke ‘ruang’ memori tidak menyenangkan tersebut. Bagaimana caranya?

Lakukan 5 S : SADAR, SABAR, SYUKUR, SELESAIKAN, SAHABAT

• SADAR. Yuk kita introspeksi diri, kita sadari memori tidak menyenangkan apa saja yang kita miliki. Jika perlu, silakan ditulis, urutkan dan tentukan mana yang paling ingin Ayah Bunda putus ‘kabel’nya.

• SABAR. Mengingat memori tidak menyenangkan akan mengembalikan perasaan tidak nyaman kita. Mungkin kita akan merasa marah kepada orangtua, atau diri sendiri, atau keadaan, atau bahkan kepada Tuhan(?). Sabar adalah ‘gunting’ pertama yang kita butuhkan untuk memutus ‘kabel’ tersebut. Kuatkan diri kita dengan terus mengatakan pada diri sendiri bahwa Tuhan hanya akan memberikan cobaan sesuai kesanggupan hambaNya. Jika kita mengalami masa lalu yang tidak menyenangkan, artinya kita dipercaya olehNya untuk menerima dan menyelesaikan masa lalu tersebut. Kita membutuhkan sabar yang kuat karena pekerjaan ini tidak mudah.

• SUKUR. Ketika Ayah Bunda hidup hingga hari ini dan membaca tulisan ini, ada alasan yang sangat banyak untuk bersyukur. Bahkan kita perlu bersyukur karena melalui tulisan ini kita mendapatkan cara yang Tuhan berikan untuk membantu kita menyelesaikan masa lalu kita. Ya, kita memang punya 100 alasan untuk marah atau menyerah, namun sebelum melakukan hal itu, hitung dulu berapa jumlah alasan untuk selalu bersyukur dan maju ke depan.

• SELESAIKAN. Mari kita selesaikan satu persatu. Terserah kita akan menyelesaikan yang lebih mudah atau yang lebih penting. Kita sendiri yang merasakan kekuatan kita. Bagaimana cara menyelesaikannya? MaMaBi. Maafkan, Mohonkan ampunan bagi orang yang berkaitan dengan masa lalu kita yang tidak nyaman, dan Bicarakan baik-baik apa yang kita rasakan dan apa akibat perlakuannya, serta apa yang kita inginkan darinya. Memang sangat sulit untuk ikhlas, namun ada balasan yang sebanding dari Tuhan jika kita mampu menyelesaikan hal ini.

• SAHABAT. Setelah melewati 4 proses S sebelumnya, bersahabatlah dengan masa lalu. Berdamai. Bagaimana caranya? Ambil hikmah sebanyak-banyaknya dan jadikan pengalaman sebagai guru. Dalam suatu episode, TV nasional mengundang seorang korban kekerasan seksual yang kini menjadi pegiat dan aktivis pembelaan anak dari kekerasaan seksual. Orang yang pernah menjadi ‘korban’ sangat besar peluangnya menjadi ‘pahlawan’ karena ia berbuat bukan hanya karena ia tahu, tapi karena ia tahu rasanya.

Selesaikan diri kita, dan bersiaplah menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita.

Be a great parent!

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s