Outlet sebagai “Buffer Zone” dan Wahana Penyeimbang “Online Business”

Jusman Syafii Djamal
2 Jan 2018

Bandung tempat saya tinggal dikala mahasiswa dan ketika kerja di iptn tahun 73 sd 2013, merupakan salah satu paling kreatif di Indonesia. Seperti Bali sebagai pusat industri kreatif , small medium enterprise, kerajinan tangan dan kuliner , di kota ini penduduk ya memiliki imajinasi untuk selalu berupaya menciptakan produk atau proses produksi baru .

Tiap Hari kita bisa bertemu dgn karya cipta baru . Baik sebagai “derivative” atau turunan karya sebelumnya atau karya yg sama sekali baru. Di Bandung kita kenal pertama kali tentang istilah “outlet”.

Jalan Cihampelas pernah terkenal diseluruh dunia sebagai jalan tempat pelbagai merk denim da jeans dapat diperoleh dengan biaya terjangkau.

Di Bandung juga kita dapat memiliki sepatu kulit yang di”Taylor” sesuai selera kita, baik bentuk dan ukuran nya. Di Bandung kita juga dapat memilki jacket kulit dari Garut dgn Model dan jenis kulit sapi atau kambing yg dipilih sendiri.

Di Bandung masa lalu industri tekstil nya mampu mendominasi pasar Afrika, jauh sebelum tekstil china merajalela.

Sayang potensi itu kini terbelenggu oleh faktor internal dan eksternal.

Kini walikota dan gubernur nya hanya fokus pada pembenahan taman ini dan taman itu. Jarang terdengar ada kebijakan penciptaan lapangan kerja dgn menata ulang kawasan industri sepatu cibaduyut, industri tekstil yg membuang limbah nya ke citarum dan juga industri kulit serta perkebunan kopi. Ciweday dan kembang sebagai lumbung sayur dan buah2an terasa tdk disentuh policy yg pas. Dibiarkan jalan sendiri ?

Di Pemda kini kepala dinas yg alokasi anggaran nya tinggi mungkin pertamanan dan pekerjaan umum serta perhubungan. Kepala dinas perindustrian, perkebunan dan perikanan mungkin kurang anggaran. Fokus nya pada kegiatan hilir tidak pada Hulu problema kita yakni sektor pembangkit lapangan kerja.

Lapangan kerja untuk mereka yg dididik di pelbagai universitas di Bandung memang memerlukan perhatian kita semua.

Di Jepang di pinggiran kota Tokyo ada dua kawasan “outlet” yang ditata sebagai wahana peyeimbang bisnis online. Program “sales n marketing” dgn diskon besar besaran diatas 30% tak mungkin dilawan oleh cara belanja online yang hanya menawarkan diskon 20%. Kawasan ini dikelola oleh pemerintah lokal dengan pelbagai insentif fiskal yang dimungkinkan untuk itu.

Jika Hari minggu dan Hari libur kawasan ini penuh pengunjung. Mereka berbelanja dgn riang gembira. Tiap orang kelihatan memborong barang yg diperlukan. Orang Jepang yg dikenal hemat dan efisien dalam belanja terlihat antusias di outlet ini.

Toko outlet nya banyak menjual produk Eropa dan Amerika. Diselang selingi oleh produk “made in Japan”. Tetapi semua too makanan dan minuman nya merupakan hilir dari produk pertanian dan kuliner jepang. Tak dominan Starbucks ataupun mac Donald dan pizza.

Di Jepang outlet seperti ini juga digunakan sebagai “buffer zone” memagari agar produk import tidak merajalela dan masuk sampai kekampung kampung . Outlet menjadi penyaring kompetisi.

Melalui outlet seperti ini pendekatan “managed market” atau pasar terlelola diimplementasikan. Agar tidak terjadi Liberalisasi pasar yg merusak kekuatan dan fondasi Industri dalam negeri. Industri nasional kita yg hidup di Hulu sangat tergantung pada hilirnya.

Apa begitu ? Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s