Masa Depan Pekerjaan dalam Ancaman ?

Jusman Syafii Djamal
January 6, 2018

Dalam perjalanan ke Tokyo kali ini, saya menyempatkan diri mampir ke dua Toko Buku : Maruzen dan Tsutaya. Saya tartarik membeli dua buku Life 3.0 dan Raising The Floor. DIantaranya karena saya masih penasaran dengan fenomena mobil tanpa Supir, artificial intelligence dan masa Depan pekerjaan. Dalam tulisan ini saya coba share bagian yang sempat saya baca untuk disarikan. Belum dicerna dan diresapi, jadi saya belum punya opini dalam hal ini. Hanya deskripsi masalah. Pokok bahasan kata orang Universitas.

Banyak yang telah ditulis tentang kemunculan mobil tanpa sopir. Banyak versi yang dikembangkan oleh Google, Uber dan Tesla. Namun truk tanpa sopir cenderung akan diluncurkan lebih cepat. Kini tiap Individu dapat membuat pilihan sendiri tentang apakah mereka ingin masuk kedalam mobil tanpa sopir atau taksi tanpa supir. namun teknologi hemat tenaga kerja akan digunakan oleh bisnis lebih cepat,” kata Stern dalam buku Raising the Floor.

Yang membahas kebutuhan memperoleh lapangan pekerjaan dan pendapatan dasar ketika kini teknologi robotika telah memperlihatkan trend dapat menggantikan pekerjaan manusia.

Beberapa waktu berselang, saya pernah membaca koran the Guardian yang mecnceritakan bagaimana Raksasa pertambangan Rio Tinto sudah menggunakan 45 truk dengan kapasitas 240 ton untuk memindahkan bijih besi di dua tambang Australia.

Kata mereka biaya operasi jadi lebih murah dan lebih aman daripada menggunakan driver manusia. Pada bulan Mei 2015, truk penggerak diri tanpa sopir pertama kali melintas di jalan raya Amerika di negara bagian Nevada. Sebuah konvoi truk yang melaju melintasi Eropa menuju pelabuhan Rotterdam pada bulan April.

Konvoi tersebut menggunakan teknologi penggerak otomatis baru yang disebut peleton, yang menghubungkan truk yang menggunakan Wi-Fi, sensor, GPS dan kamera. Kendaraan yang berada didepan menentukan kecepatan dan arah, sementara yang lainnya secara otomatis mengarahkan, mempercepat dan memperlambat lintasan konvoi jika terlalu dekat.

Di San Francisco, mantan karyawan Google telah meluncurkan sebuah startup bernama Otto. Melayani jasa modifikasi untuk memasang peralatan navigasi dan “driverless car” kedalam kendaraan sehingga memiliki kemampuan truk tanpa driver hanya dengan $ 30.000. Upah pengemudi truk rata-rata sekitar $ 40.000 per tahun.

Potensi penghematan untuk industri angkutan barang diperkirakan mencapai $ 168 miliar per tahun. Penghematan tersebut diperkirakan berasal dari tenaga kerja $ 70 miliar, efisiensi bahan bakar $ 35 miliar, produktivitas $ 27 miliar dan kecelakaan $ 36 miliar. Tidak termasuk angkutan udara.

Dengan kata lain kini hanya peraturan, dan bukan teknologi yang menghalangi orang , untuk pergi dari belakang kemudi.Meskipun perusahaan angkutan truk cenderung melobi keras untuk melakukan reformasi hukum sehingga mereka dapat menghemat tenaga kerja dengan menggantinya dengan truk tanpa pengemudi. Morgan Stanley secara konservatif memperkirakan bahwa industri angkutan dapat menghemat $ 168 miliar per tahun dengan memanfaatkan teknologi otonom – $ 70bn datang dari pengurangan staf.

Selain penghematan biaya, armada truk otomatis dapat menyelamatkan nyawa. Kecelakaan yang melibatkan truk-truk besar menewaskan 3.903 orang di AS pada 2014, menurut National Highway Traffic Safety Administration.Dan 110.000 orang lainnya cedera. Lebih dari 90% kecelakaan disebabkan setidaknya sebagian oleh kesalahan pengemudi.

Pada tahun 2021, robot akan menghilangkan 6% dari semua pekerjaan di AS, dimulai dengan perwakilan layanan pelanggan dan akhirnya supir truk dan taksi. Itu hanya satu takeaway ceria dari sebuah laporan yang dirilis oleh perusahaan riset pasar Forrester.

Robot, atau agen cerdas ini mewakili seperangkat sistem bertenaga AI yang dapat memahami perilaku manusia dan membuat keputusan atas nama pemilik toko. Teknologi saat ini di bidang ini mencakup asisten virtual seperti Alexa, Cortana, Siri dan Google Now serta chatbots dan sistem robot otomatis.

Untuk saat ini, robot yang tersedia cukup sederhana, namun dalam lima tahun ke depan mereka akan menjadi lebih baik dalam membuat keputusan atas nama pemilik toko dalam skenario yang lebih kompleks, yang akan memungkinkan adopsi massal robot penjaga toko seperti mobil penggerak sendiri.

“Pada 2021 gelombang pasang seperti tsunami yang mengganggu lapangan pekerjaan akan dimulai. Solusi yang didukung oleh teknologi Artificial Inteligence akan menggantikan pekerjaan manusia. Dampak terbesar dirasakan pada transportasi, logistik, layanan pelanggan dan layanan konsumen, “kata Brian Hopkins dari Forrester.

Agen cerdas, secara virtual akan dapat mengakses kalender, akun email, riwayat penjelajahan ,daftar repetisi pembelian, dan riwayat penayangan media dari tiap pelanggan yang datang untuk membuat tampilan rinci tentang individu tertentu. Dengan pengetahuan ini, agen virtual dapat memberikan bantuan yang sangat berharga bagi toko atau bank yang selalu mencoba memberikan layanan pelanggan lebih baik.

Dimasa depan ketika Bel pintu berbunyi, mungkin yang datang pengiriman sepatu lari baru, dengan gaya, kita warna dan ukuran yang tepat, sama seperti kesenangan kita. Ia datang ketika perlu mengganti sepatu yang lama. Yang mengherankan kita tidak memesannya. Pembantu rumah tangga cerdas yang melakukannya, atas nama kita.

Di industri transportasi, Uber, Google dan Tesla sedang mengerjakan mobil tanpa sopir, sementara teknologi serupa merambat menuju truk untuk menggantikan driver manusia.Dan pengusaha biasanya sangat mudah terpesona oleh inovasi seperti itu. Kini pemanfaatan taxi uber Saja telah mampu menyebabkan pengemudi taksi dan omprengan tradisional Babak belur kehilangan pendapatan dan kemungkinan jadi penganggur. Mau Lindau Lapangan kerja, timbul persoalan kerja dimana.

Jika nanti robot dan artificial intelligence sudah Masuk ke “floor” industri, apa yang terjadi dengan para pekerja atau lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan ?

Buku Raising the Floor karya Andy Stern Ini adalah tanda peringatan dini dan saya fikir menunjukkan angin besar perubahan yang akan terjadi di masa depan. Kita perlu bersiap diri.

Andy Stern dalam bukunya :” Raising the Floor: How a Universal Basic Income Can Renew Our Economy and Rebuild the American Dream menambahkan. Ada banyak korelasi antara pengangguran dan penggunaan narkoba,” kata Stern. “Jelas dari waktu ke waktu, terutama di daerah perkotaan, kurangnya lapangan kerja adalah sumbu untuk menyalakan api kerusuhan sosial.”

Tantangan yang ditimbulkan otomasi hingga saat ini tidak dianggap cukup serius pada tingkat kebijakan.

“Politisi di Amerika lebih suka berbicara tentang mendapatkan gelar sarjana dan pelatihan keterampilan teknis serta transfer of technology. Hal-hal yang mungkin sudah terlambat lima sampai 10 tahun. Semua orang terkesima. Dan benar-benar belum punya rencana dan terus menerus berdebat tentang seberapa cepat masa depan Tsunami robot dan artificial intelligence itu tiba dipekarangan rumah sendiri. ” Begitu ujarnya.

Mudah mudahan di Indonesia kita tidak akan terlambat untuk antisipasi dan tidak terus sibuk membahas siapa jadi apa, dan hal hal yang terus membawa kita kembali ke hantu masa lalu. Penyediaan lapangan kerja dan Modernisasi industri serta Revitalisasi Pertanian, Perkebunan dan Perikanan kita merupakan soal besar yang masih memerlukan perhatian.

Mohon maaf jika ada yang keliru.

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s