Vitamin A Untuk Si Gadis Kecil

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #30 – Peran Ayah

Anak perempuan yang tumbuh tanpa peran ayah, akan berbeda dengan yang tumbuh dengan peran ayah yang memadai. Tapi tidak banyak yang tahu apa saja bedanya. Oleh karena banyak dari kita tidak tahu, maka banyak keluarga yang secara sadar ataupun tidak sadar mengambil keputusan-keputusan yang menjauhkan ayah dari anak perempuannya. Ini tentu keputusan beresiko.

Iyanla Vanzant dalam acara TV Life Class : Daddyless Daughters, menjelaskan bahwa secara garis besar, anak perempuan yang tumbuh tanpa peran ayah akan merasakan 7 perasaan (7 Un’s) ini :

1. Unwanted (saya tidak diinginkan),
2. Unloved (saya tidak dicintai),
3. Unloveable (saya memang sulit untuk dicintai),
4. Unacceptable (saya tidak bisa diterima),
5. Unimportant (saya tidak penting)
6. Unattractive (saya tidak menarik),
7. Unworthy (saya tidak berharga)

Kita mulai dari yang paling dasar dan awal, ketika anak masih bayi. Ketika anak perempuan ini terlahir ke dunia, siapakah lelaki pertama yang dia kenal ? Ayahnya. Ayah adalah pembawa pesan pertama tentang laki-laki dalam hidup si anak perempuan. Seiring pertumbuhannya, anak perempuan akan belajar bagaimana sebenarnya sosok laki-laki itu, melalui ayahnya. Dia juga belajar bagaimana interaksi laki-laki dengan perempuan, melalui relasi ayah dengan ibunya, dan relasi antara ayah dengan dia sendiri.

Bagaimana pun karakter ayah, baik ataupun buruk, di alam bawah sadarnya anak perempuan akan mengeset karakter itu menjadi standar baginya dalam menilai dan memilih laki-laki dalam hidupnya kelak. Apa yang ayah tampilkan setiap hari pada anak perempuan, menjadi pesan berantai yang terus menguatkan pola pikir anak tentang standar laki-laki tersebut.

Ayah dengan fitrahnya sebagai laki-laki, mampu memberi arahan hidup, memasang prinsip, dan mengokohkan keluarga. Bagi anak perempuan, fungsi ayah ini sama seperti fungsi tembok bendungan. Tembok menjaga air di dalam, memberi batas dan ruang. Ayah pun demikian, menjadi penjaga anak perempuan melalui arahan hidup, prinsip dan nilai keluarga, serta kekokohan teladan. Anak perempuan tanpa peran ayah, akan seperti bendungan yang temboknya jebol, isi air keluar tanpa kendali, dan merusak fungsi dasar bendungan itu sendiri. Anak tersebut akan kehilangan koridor bergerak, sehingga emosi di dalamnya berpotensi lepas kendali dan mencari pegangan pada sesuatu yang salah. Kekosongan dalam jiwa anak ini juga memaksa anak ini tumbuh mencari-cari kasih sayang dari laki-laki lain, sehingga rentan menjadi korban laki-laki tidak baik.

Dampak ketiadaan ayah juga terbukti dari kondisi biologis anak perempuan. Dr. Bruce Ellis dari University of Canterbury meneliti 173 keluarga dan mencari hubungan antara kondisi ayah dengan pubertas anak perempuan. Anak perempuan tanpa kehadiran ayah, memasuki masa menstruasi lebih cepat daripada anak dengan ayah yang aktif terlibat. Pubertas yang lebih cepat ini dikaitkan dengan meningkatnya hormon feromon pada anak perempuan, hormon yang menarik lawan jenis secara seksual.

Psikolog, Sarah E. Hill dari Texas University menjelaskan ketika anak perempuan tumbuh tanpa kehadiran ayah, maka alam bawah sadarnya akan meyakini bahwa laki-laki akan pergi, pasti tidak akan awet lama dengan saya, maka semakin cepat saya menemukan laki-laki akan semakin baik. Meski pikirannya sama sekali tidak menyadari ini, tapi tubuhnya telah mengambil alih duluan dengan memutuskan untuk masuk masa puber lebih awal, hormon hormon wanita dewasa matang lebih awal. Matangnya tubuh anak perempuan terlalu dini, disertai kekosongan jiwa karena haus kasih sayang ayah, ditambah tidak adanya prinsip pegangan hidup, menjadikan anak perempuan bisa terbawa ke berbagai kondisi buruk, dan merusak fungsi dasarnya sebagai wanita, yaitu tiang agama dan tiang negara.

Maka kehadiran ayah dalam peran yang baik sebagai suami dan sebagai ayah menjadi tugas maha penting yang mampu menyelamatkan hidup anak perempuannya kelak. “Ayah, jadilah engkau panutan dan contoh bagiku, agar kelak aku mampu memilih laki-laki sebaik engkau untuk jadi pendampingku.”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s