Skeptis pada Media Sosial, Tantangan bagi Generasi Milenial

Muhamad Afifudin Alfarisi
Mahasiswa Graduate Institute of Philosophy
National Central University Taiwan
PPI Taiwan (ppidunia.org)

Perhimpunan Pelajar Indonesia
Kompas, 10 Des 2017

SEJAK kemunculan media sosial, orang kian ramai sign-up (mendaftarkan diri) dan menjadi bagian dari keluarga bernama internet.

Jargon “bagikan pikiran Anda” menjadi pertanyaan untuk menuangkan ide dan gagasan untuk menuliskan status.

Sejak itu pula orang suka menafsirkan sesuai kebutuhannya, tidak lupa pula meninggalkan jempol sebagai apresiasinya. Ruang bersosial direduksi dan dipersimbolkan dengan berbagai thumbnail. Orang masuk di ruang informasi dan saling membalas pesan pada kolom komentar, saling membalas pesan berbentuk perbincangan.

Menjadi keluarga bernama internet sudah tentu akan berkenalan dengan saudara-saudara di dalamnya, Google, Facebook, Instagram, Twitter. Aplikasi tersebut semakin sering memberikan umpan balik yang bagus dan terus menerus, setiap detik dan menciptakan kondisi tidak bisa lepas (addicted).

Kecenderungan tidak bisa lepas dari informasi dinamakan Fomo (fear of missing-out) adalah istilah “takut ketinggalan” informasi. Fomo menciptakan kecanduan informasi yang disediakan internet.

Pada segi kesehatan, kesenangan akan timbal balik itu dikerjakan oleh hormone dopamine dengan cara kerja memberi kesenangan terhadap suatu rangsangan, dan sekarang kesenangan dimunculkan dari internet.

Internet dan ketaksadaran global

Internet menghubungkan manusia di sini dengan manusia di sana, software dan aplikasi menciptakan komunitas baru bernama ketaksadaran global. Facebook dan piranti teknologi tidak membuat status atau keberadaan seseorang menjadi “meningkat”.

Sebaliknya, pemakaian software dan gadget akan menyamaratakan seseorang di lautan informasi, sebuah mesin yang tak terlihat, makhluk yang tak bisa dimatikan, bernama: internet.

Seringkali media sosial digunakan untuk kesenangan semata, tidak memiliki pemaknaan mendalam, akibatnya seorang hanya akan dinilai dari apa yang dia posting saja.

Generasi milenial tampaknya hanya akan menyusahkan perusahaan di masa mendatang. Indikasinya ada pada pendidikan mereka, terutama dalam komunikasi. Menurutnya, generasi yang disebut milenial merupakan produk dari komunitas yang tercipta berkat software dan aplikasi.

Generasi ini rupanya harus mendapat pendidikan pengelolaan data yang baik. Jika tidak, mereka tidak akan bertahan lama. Tidak sabar, suka berpindah kerja dan tidak bisa menjalin komunikasi merupakan ciri utama milenialis, merekalah pengguna aplikasi hanya sebagai alat.

Kebiasaan antiverifikasi

Membagikan informasi sebenarnya sangat lumrah, hasrat untuk membagikan tentu saja diimbangi dengan pentingnya informasi yang didapat dan diukur dari sisi manfaat dan keterlibatan pembaca. Share informasi merupakan soal keputusan individu, apakah akan melakukan tindakan share atau tidak.

Menemukan informasi yang benar memang harus diimbangi dengan kebiasaan membaca dan rajin mengikuti perkembangan berita. Berita yang bagus dan bermanfaat membuat kita sebagai pembaca merasa wajib untuk membagikan, dan hal tersebut sangat boleh.

Pada era kemudahan akses informasi sekarang ini, rasanya menemukan pembaca cermat juga susah. Misalnya saja, banyak pembaca yang hanya membaca judul dan deskripsinya saja lalu buru-buru mebagikan berita tersebut, padahal belum tentu kebenarannya.

Kondisi semacam itu nampaknya menjamur di kalangan pembaca cepat, menciptakan keadaan malas verifikasi. Orang malas memikirkan muasal tindakan, motivasi, dan bahkan behind the scene sebuah fakta.

Mereka, dalam bahasa Leonardo Da Vinci, tidak berpikir, tetapi menggunakan hasil berpikir orang lain. Tindakan manusia diperantarai (mediated) oleh pikiran internet. Kapitalisme akan berjalan lancar jika konsumerisme terus berlangsung.

Fomo, read only, dan ruang bebas

Awalnya Fomo terjadi karena takut ketinggalan berita saja. Seiring berkembangnya media sosial, masyarakat ikut takut ketinggalan timbal-balik akun media sosialnya.

Kemudahan membuat grup di media sosial sangat menguntungkan, selain gratis prosesnya juga mudah. Asal punya akun saja, seseorang bisa bikin banyak grup untuk bermacam kepentingan. Semua bisa dilakukan dengan sekali klik.

Logo Twitter
Logo Twitter(AFP PHOTO/LOIC VENANCE)
Kemunculan krisis keyakinan terlihat di dunia sosial media, orang-orang menjadi ragu dengan informasi apa pun. Belum lagi produksi informasi palsu (fake news) dan hoaks bertebaran di mana-mana. Kata Derrida, orang semakin tidak tahu bukan karena tidak adanya informasi, justru karena overload informasi itu sendiri.

Skeptis secara harfiahnya berarti pertimbangan atau keraguan, kemudian digunakan sebagai ragu-ragu untuk mendekati suatu pengetahuan tertentu.

Ragu-ragu muncul akibat berbagai faktor, seperti benda asing dan pengetahuan baru, lebih tepatnya karena suatu hal atau peristiwa yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Pada konteks informasi, ragu-ragu berguna untuk membuktikan fakta yang sebenarnya atau menelisik lebih jauh sumber informasinya. Sampai pada tahap tertentu, keraguan juga terlihat di jejaring sosial, terlalu banyak perbandingan dan pembandingan dan memutuskan diri untuk menutup perbincangan.

Fase awal read-only terjadi karena enggan untuk menanggapi, perasaan takut atau malas cenderung terjadi karena tiadanya keterlibatan pembaca.

Suasana berubah ketika ruang bebas yang diciptakan berakhir tanpa aturan. Grup Facebook dan WhatsApp banyak dibuat sebagai ajang bisnis dan lahan promosi, kadang pembaca hanya sebagai komoditi dagangan mereka.

Generasi milenial zaman now

Istilah milenial awalnya muncul pada tahun 1980-an sampai 2000, ditandai dengan banyaknya masyarakat pengguna teknologi. Mereka adalah konsumen informasi yang bervariatif, misalnya dalam penelitian Alvara.

Riset itu menunjukkan, kelompok konsumen berbeda-beda sesuai jenis informasinya, umur 15-24 tahun lebih menyukai pembicaraan yang terkait musik, film, olahraga, dan teknologi.

Hal itu berbeda dari usia 25-34 tahun, yang lebih menyukai topik perbincangan seperti sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan. Ragam kebutuhan informasi sudah menjadi konsumsi setiap hari, di situlah teknologi berperan sebagai jembatan informasi massa.

Internet merupakan sebuah penemuan besar dalam peradaban manusia sejak ditemukan dan dikembangkan oleh Robert Taylor pada 1960 hingga seperti sekarang ini. Kemudahan menggunakan akses dari “sini” ke “sana” menciptakan pola berkomunikasi berbeda. Asalkan sudah terkoneksi, kita bisa mencari apa pun di internet.

Indonesia punya istilah sendiri yaitu “Milenial Nusantara” yang dipopulerkan dalam buku Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandidan. Dalam buku itu disebutkan bahwa generasi milenial tidak bisa terlepas dari internet dan hiburan, keduanya menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Ia menjelaskan bahwa generasi milenial adalah seorang data scientist atau disebut pengelola data ilmiah. Hal itu karena creative, convidence, and connected menjadi ciri generasi tersebut.

Tantangan dan peluang milenial

Julukan milenial merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang. Sebagai sebuah tindakan yang menantang di zaman modern, generasi milenial ditantang untuk mampu mengontrol diri dari tenggelam di internet.

Hidup di rimba teknologi perlu untuk bertahan hidup, menjadi ada saja tidak cukup, harus menjalani berbagai spekulasi di belantara informasi.

Keuntungan generasi milenial lebih pada pengelolaan data yang sudah ada untuk kemudian digunakan lebih baik. Smartphone, laptop, dan perangkat terhubung internet internet of thing (IoT) sebaiknya menjadi alat yang berguna untuk kepentingan pengelolaan data.

Secara mendasar suatu informasi baru akan diproses lebih dahulu untuk dipahami, entah selanjutnya akan ditolak atau diterima, informasi tetap penting. Menjadi lebih verifikatif juga akan sangat bermanfaat untuk menyaring masuknya informasi dari sosial media.

Generasi milenial sedang bertumbuh beriringan dengan melimpahnya produksi teknologi. Pendidikan teknologi sebaiknya dijadikan kurikulum wajib sejak dini, asalkan dengan pengawasan yang bagus dan penggunaan tidak berlebihan.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s