Tetap Waras di Era Disruption

Ahmad Faiz Zainuddin
Bloomington
13 Nov 2017

Dalam kondisi mata dan otak tinggal 5 watt krn kurang tidur, Lagi2 saya dapat posting WA tentang betapa menakutkannya era Disruption, kali ini atas nama Nana Padmosaputro,

Yg kata beliau:
– menikah muda dan banyak anak itu berbahaya, karena persaingan dunia akan sangat mengerikan
– jangan bangga masuk universitas bermodal hafalan ayat (mungkin maksudnya hafal ayat2 kitab suci)
– pasar global dan tsunami Iptek bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa.
– dan statetemen2 lain yg intinya masa depan akan sangat mengerikan.

Saya ndak habis berpikir, ini siapa yg mulai kok banyak orang pada ketularan kesalahpahaman dan kegalauan masal yg salah kaprah.

Maka ijinkan saya posting lagi penjelasan panjang lebar.. semoga anda tidak ikut tertular virus panik dan salahpaham ini:

“Zaman Baru Memang Melahirkan Tantangan Baru, Tapi Juga Sekaligus Melahirkan Kesempatan Baru”

Dulu tahun 1964 sekelompok ekonom panik karena lahirnya “komputer”, dipimpin 2 peraih nobel ekonomi mereka bikin analisa panjang lebar dan memberikan surat peringatan ke presiden Amerika waktu itu, Lyndon Johnson agar waspada bahwa jutaan pekerjaan akan lenyap.

Diantara yg lenyap adalah jutaan petugas juru ketik dan para Akuntan junior. karena mereka akan digantikan komputer.

Dan 50 tahun kemudian, saat ini memang sudah tidak ada lagi jutaan pekerjaan juru ketik dan juru hitung, tapi lahirlah puluhan juta ahli komputer dng segala hal yg berhubungan dng komputer, dari software engineer sampai gamer dan coder.

Dan justru di Era kerjaan kelas rendah diambil alih robot dan komputer, maka ini saatnya semangat karena manusia jadi ter-upgrade martabatnya untuk hanya melakukan pekerjaan yg lebih “manusiawi” dimana komputer dan robot tidak bisa melakukannya.

Dan apakah pekerjaan yg lebih manusiawi itu?

Yg menggunakan kecerdasan emosi dan spiritual manusia.. bukan lagi kecerdasan otak dan kekuatan otot manusia yg ndak akan lagi bisa menandingi kecerdasan AI dan kekuatan otot robot yg better, cheaper, faster.

Maka justru saat inilah kita perlu memeluk erat kitab suci dan bergandengan tangan sesama manusia dengan sepenuh kasih, apapun perbedaan primordial kita (agama, suku, status sosial). Karena dngan begitu justru kecerdasan spiritual dan emosi/sosial kita akan melejit dan sanggup menaklukkan tanntang era exponensial abad ini (bukan sekedar era disrupsi yg hanya merupakan fase ke-3 dari 6 fase era eksponensial)

So guys, jangan takut atau galau apalagi khawatir dengan era disrupsi.. ini hanya tahap ke-3 yg bikin goncangan hebat, tapi semua ini akan berakhir indah menuju era “Abundance” di tahap ke-6, asalkan kita tetap setia pada kemanusiaan kita dengan selalu menjaga kewarasan kita lewat hubungan yg mesra dengan Tuhan dan sesama Manusia.

Singularity University menyebut tahap ke-6 (Abundance) ini sebagai: Era “The Have” and “Super Have”. Jadi diharapkan tidak ada lagi yg “The Have Not”.

Masih akan ada perusahaan2 besar yg mendominasi, seperti GAFA (Amazon, Google, Facebook & Apple), plus second tier kayak IMI (Microsoft, Intel & IBM) tapi akan sangat banyak perusahaan2 kecil yg ikut sejahterah.

Dan melahirkan jenis2 pekerjaan baru yg tidak pernah ada sebelumnya: diantara yg skrg sudah bermunculan dimana 10 tahun lalu tidak ada: Youtuber, Instaseleb, Buzzer, Drone Operator, dsb.

Dan anak2 kita akan mendapati jenis2 pekerjaan baru yg saat inipun belum ada. Dan ini jumlahnya diperkirakan 65%. Maka siapkanlah mereka untuk pekerjaan2 baru tsb. Yg intinya robot dan Artificial Intelligence tidak bisa melakukannya, atau manusia akan menjadi pelengkap yg mengendalikan 2 teknologi itu.

Bagaimana dng orang2 yg kurang berdaya (buruh2, dll)? Elon Musk dalam World Government Forum di Dubai kemarin, memberi solusi: maka Universal Basic Income (UBI) akan menjadi perlu.

UBI: semua orang usia 20-55 tahun akan dapat transferan dari pemerintah sejumlah biaya hidup minimal tanpa syarat tanpa kecuali. Tentunya ini hanya bisa dibiayai jika pekerjaan2 level bawah sudah bener2 diambil alih oleh robot dan AI. sehingga ada surplus produktifitas.

Maka untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, Orang tidak lagi didefinisikan berdasarkan jenis pekerjaannya. Pencarian makna hidup kita tidak lagi berhenti di pekerjaan atau karir.. dan perintah Allah dalam al-Quran bahwa Tujuan Hidup kita (pusat makna hidup kita) adalah Ibadah (bukan pekerjaan) akan bener2 terealisasi.

Btw, unt kecerdasan intelektual seperti hafalan dan logika sederhana, AI sudah melampaui manusia sudah lama. Dan sesuai Law of Moore yg trend selama 100 tahun terakhir tidak berubah, sekitar tahun 2035-2040, Komputer seharga 1000 dolar diperkirakan punya kecepatan processing melampui Otak manusia (10 Terabyte/second).

semoga demikian adanya.. intinya mari Tetap semangat dan Optimis sambil terus Meng-upgrade diri dan anak2 kita di bidang2 dimana Robot dan AI tidak bisa melampaui manusia: yaitu di Kecerdasan Spiritual, Emosi & Sosial.

Bismillah.. semoga kita semua selamat dan sejahtera dunia akhirat.. nothing to worry about if we are well prepered

Dan lagi2 saya ingin mengingatkan, (terutama menjelang tahun2 politik 2018-2019) dimana siap2 hoax akan meraja lela dari segala penjuru dan dari semua kubu, serta kebencian dan kesalahpahaman akan jadi komoditas utama:

“Dalam hidup yg tinggal separo hembusan nafas ini, jangan tanam apapun selain CINTA, jangan tebarkan apapun selain BERKAH”

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s