Menyemangati Anak

Harry Santosa

Seorang ibu bertanya
Bismillah……
Ustadz bgmn cara membangkitkan semangat anak2 usia 7 dan 10th dlm menjalani bln ramadhan.awalnya mrk punya kesepakatan dg ortuanya utk hafal jus 30 dan asmaul husna plus artinya.utk kakak setuju hafal jus 30 dg mumtaz maka hadiahnya 500rb,sedangkan adik hafalan asmaul husna plus artinya dg hadiah 125rb.tp bbrp hari ini kelihatan tdk bersemangat pdhl sdh di dorong/disemangati dg berbagai macam cara.Bagaimana cara mengembalikan ghiroh mrka ustadz?
Lalu apakah jk orgtua mengiming2 dg hadiah atau bhkn sedikit memaksa hal itu menyalahi fitrah anak?
_____________

Banyak orangtua langsung fokus pada target target amalan walau itu kesepakatan. Untuk memotivasinya biasanya dengan checklist yang diberi bintang atau iming iming hadiah atau ancaman hukuman. Padahal haditsnya jelas bahwa “sesungguhnya amal itu karena niat” , dan niat itu ada di dalam jiwa manusia.

Dalam riset modern tentang motivasi manusia, niat itu disebut intrinsic motivation atau motif dari dalam diri manusia. Di dunia barat, intrinsic motivation ini diteliti secara serius dan menakjubkan banyak orang, bahwa manusia ternyata bisa berkinerja tinggi jika itu berangkat dari jiwanya dan tanpa iming iming. Bahkan dalam riset ditemukan bahwa iming iming membuat kinerja dan kreatifitas kerja lebih rendah.

Itulah mengapa betapa pentingnya “Niat” ini dalam Islam, sehingga banyak buku klasik Islam selalu mengawali bab awal dengan Bab Niat. Sayangnya kita umumnya melihat “Niat” sebagai “bacaan atau lafazh menjelang ibadah ritual” bukan sesuatu yang luarbiasa yang perlu diriset lebih dalam karena mampu menggerakkan jiwa manusia.

Lawannya Niat atau intrinsic motivation adalah extrinsic motivation, yaitu motif yang dipicu dari luar diri manusia, misalnya hadiah, hukuman, rangsangan, stimulus, conditioning, drilling dlsbnya. Extrinsic motivation membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan berangkat dari dalam jiwanya sehingga tidak permanen.

Anak berhenti beramal jika hadiah atau hukuman juga berhenti. Anak yang terbiasa beramal tertentu karena pembiasaan, akan beramal robotik dan mekanistika, cenderung akan beralih kepads amal lain jika lebih menarik. Anak yang beramal karena pengkondisian, bisa berhenti beramal jika kondisi tersebut tidak lagi ada. Bukankah kita ingin anak beramal shalih secara permanen sepeninggal kita kelak?

Ghiroh atau Gairah adalah spirit yang berangkat dari dalam jiwa karena kecintaan yg besar, maka agar anak mau beramal dengan ghiroh yang hebat, haruslah berangkat dari cinta kuat, baik kepada Allah, Rasulullah SAW maupun Islam dan orangtuanya.

Di sisi lain anak mau beramal kalau itu relevan dengan sifat unik atau potensi uniknya. Siapapun akan bekerja dengan baik dan enjoy jika itu relevan dengan potensinya. Berikutnya anak mau beramal kalau ada reason atau alasan yang kuat secara mendalam, mengapa harus melakukan amal tsb.

Karenanya sebelum fokus pada target2 amal, maka
1. Bangun dulu cintanya yang besar kepada Allah, Rasulullah SAW, Al Quran, Al Islam dll dan kedua orangtuanya .
2. Kenali fitrah termasuk sifat keunikan anak anak kita sehingga kita tahu apa yang relevan dgn sifat uniknya
3. Ajak untuk menemukan keinginan terdalamnya dan menstrukturkan misi hidupnya agar memiliki alasan yang kuat untuk melakukan amal

Ingat bahwa anak kita punya jiwa, punya perasaan, punya keinginan, punya potensi dstnya, mereka bukan robot cerdas, memiliki fitrah di dalam dirinya yang perlu dikenali, dirawat, dikokohkan, disadarkan, dikuatkan dstnya, sehingga mereka memiliki peran peran peradaban terbaik kelak.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s